Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Hukuman


__ADS_3

Usai perbincangan mereka di ruang perpustakaan, Bagas dan Nurul langsung menuju kamar. Kamar Bagas tentunya, buat apa Bagas ikut ke kamar Nurul? Buat bikin sensasi? Enggak mungkin juga kan?


"Hadiahmu sudah diberikan...?" Tanya Bagas saat mereka dalam perjalanan ke kamar.


"Eh? Waduh lupa...!" Sahut Nurul setengah terpekik pelan menyadari kealpaan nya.


"Gimana sih... tadi pamitnya mau nganterin hadiah, sudah menghilang beberapa lama, hadiahnya malah belum dikasi'in... " Komentar Bagas setengah menggerutu.


"Maaf, soalnya tadi waktu mau dikasi'in, Rara nya enggak ada. Udah gitu ada insiden Sulis sama Sasa lagi.. jadi lupa..." Ucap Nurul jadi merasa enggak enak sama Bagas.


"Sekarang hadiahnya ada dimana?" Tanya Bagas lagi.


"Ada di kamar... boleh saya ambil dulu, tuan?" Tanya Nurul sambil menoleh kearah Bagas.


"Enggak boleh!" Sahut Bagas cepat dan agak keras. Nurul sampai kaget menerima reaksi dari Bagas.


"Kalau enggak boleh ya sudah... enggak usah teriak juga kali...." Gumam Nurul sangat pelan pada dirinya sendiri, tapi ternyata masih bisa didengar oleh Bagas.


"Kamu ngomong apa?!" Tanyanya setengah menyalak.


"Eh...?! Enggak. Bukan apa-apa..." Jawab Nurul seketika. Sungguh dia barusan lupa kalau sedang berhadapan dengan majikannya. Dilihatnya Bagas menatap tajam kearahnya. Nurul seketika menunduk.


Kalau biasanya ada aturan tidak tertulis yang mengatakan wanita selalu benar... Jelas. Aturan itu tidak berlaku untuk dirinya. Karena ada aturan lain yang mengikatnya, yaitu... Majikan selalu benar. Selama statusnya masih seorang pelayan... selama itu juga orang akan selalu bisa membuatnya merasa, kalau dirinya yang salah.


Melihat Nurul menunduk takluk, rupanya Bagas merasa enggak enak juga. Akhirnya dia meraih tangan Nurul dan meremas nya pelan.


"Maaf, sudah bicara terlalu keras padamu. Aku cuma merasa, kalau perhatian kamu itu mudah sekali teralihkan....


Tadi kamu pamit mau kasih hadiah ke Rara, nyatanya kamu malah sibuk dengan anak kecil yang enggak ada hubungannya dengan kamu. Kamu lupa tujuan kamu sebelumnya...


Kamu bilang mau pergi cuma sebentar, nyatanya sampai acara kita selesai, kamu malah enggak muncul..."


"Maaf.... " Ucap Nurul lirih. Kali ini dia mengucapkannya dari dalam hati karena benar-benar merasa bersalah, bukan cuma karena aturan Majikan selalu benar.


"Mulai sekarang, aku harus membuatmu selalu fokus dengan apa yang kamu kerjakan ..." Ucap Bagas kemudian. Nurul mengangguk paham dan tidak merasa keberatan. Itu kan memang pekerjaannya sekarang... "Terutama fokus kepadaku." Imbuh Bagas membuat kening Nurul sedikit berkerut. Dia menatap Bagas, tangannya yang sudah meraih handle pintu untuk membukanya berhenti bergerak.


"Maksudnya apa ya, tuan?" Tanya Nurul.


"Pekerjaan utama kamu itu melayani ku... aku enggak mau kamu mengerjakan hal lain selain itu..."


"Oh..." Ucap Nurul lega. Lalu melanjutkan membuka pintu. Nurul mendahului masuk sambil mendorong pintu supaya melebar, agar Bagas tidak kesulitan untuk masuk.

__ADS_1


"Ah oh, ah oh...! Sudah... segera siapkan air mandi...!" Perintah Bagas setelah setengah mencela komentar Nurul. Nurul meringis mendengar celaan majikan sekaligus suaminya itu. Untuk celaan yang ini, dia sama sekali tidak merasa sakit hati.


"Baik tuan... " Sahut nya. Diapun segera beranjak ke kamar mandi.


Air mengalir deras dari kran. Tidak lupa Nurul mengatur suhunya supaya hangat dan nyaman untuk mandi. Dicelupkan separuh lengannya untuk mengecek suhu air itu...


"Sudah cukup... " Ucap Nurul pada dirinya sendiri. Setelah yakin cukup hangat, Nurul mengatur agar air keran mengalir kecil, supaya tidak sampai luber kalau harus menunggu tuannya siap mandi.


"Tinggal panggil tu.... " Ucapan Nurul terhenti, saat melihat tuannya ternyata sudah berada di pintu kamar mandi.


"Tuan... air mandinya sudah siap... " Ucap Nurul memberi tahu.


"Hem... " Gumam Bagas.


Nurul lalu mendekat ke arah Bagas. Dia ingat, kalau dia harus membantu Bagas menarik lepas celana yang dikenakannya. Karena itu, dia tidak segera keluar dari dalam kamar mandi.


Dia mengambilkan handuk untuk Bagas, untuk menutupi tubuhnya saat dia menarik celana itu nanti.


Bagas tidak ber reaksi. Tidak mengatakan apapun, tidak juga menerima handuk itu. Kening Nurul kembali berkerut. Dia jadi berpikir, apa yang salah?


"Tuan...?" Panggil Nurul memancing reaksi Bagas.


"Hem... " Sahut Bagas cuma bergumam, membuat Nurul enggak paham apa maksudnya.


"Hem... "


"Lalu, kenapa tuan tidak buka baju? Apa tuan akan mandi dengan memakai baju ini? " Tanya Nurul lagi.


"Apa kamu mau aku mandi dengan memakai baju ini? " Bagas balik bertanya membuat Nurul tambah bingung.


"Eng... " Nurul enggak tahu harus menjawab apa.


"Hari ini, aku mau kamu yang mandiin aku... " Ucap Bagas tiba-tiba.


"Hah?! " Nurul terkaget. Dia sampai melongo beberapa detik mencerna apa yang dikatakan tuannya barusan.


"Kamu menolak?" Tanya Bagas.


"Heh...??? Boleh menolak? " Nurul balik bertanya dengan ekspresi ngeri.


"Enggak!" Jawab Bagas tegas. "Itu hukuman kamu, karena kamu sudah pergi membiarkan aku menghadapi tamu-tamu itu sendiri... " Sambung Bagas dengan seringai liciknya.

__ADS_1


Beberapa saat Nurul menatap Bagas tak percaya. Dia berharap, kalau Bagas kemudian akan berkata... "Berhasil...! Kamu kena prank...! " Tapi beberapa detik berlalu Bagas masih tetap dengan ekspresi serius nya.


"Ini serius tuan...?" Tanya Nurul masih mencoba mengelak.


"Memangnya mukaku nunjukkin kalau aku sedang bercanda? " Bagas balik bertanya dengan kejamnya.


"Apa masalahnya? Kamu keberatan ngurusin aku? Bukannya kamu sendiri sudah menyatakan sanggup untuk ngurusin aku...?" Tuntut Bagas membuat Nurul bingung mau menjawab apa. Karena semua yang dikatakan memang benar. Hanya saja Nurul tidak pernah terbayang akan disuruh seperti ini...


Nurul tertunduk diam, dia beneran bingung. Mendapat perintah seperti itu rasanya seperti mendapat pelecehan. terhadap harga dirinya. Dia memang seorang pelayan, tapi enggak harus sampai seperti itu, kan?


"Nur... " Panggil Bagas kemudian dengan suara lembut, saat Nurul hanya terdiam kebingungan.


Nurul yang semula tertunduk mengangkat wajahnya menatap Bagas. Perubahan suara Bagas membuatnya berani untuk menatap matanya.


"Maaf, kalau sudah membuatmu merasa tertekan..." Ucap Bagas kemudian sambil meraih tangan Nurul dan menggenggamnya.


"Sekali lagi aku minta maaf ... Tapi bolehkah aku minta pelayanan dari istriku...?" Tanya Bagas kemudian, membuat Nurul tersadar akan posisinya yang lain terhadap Bagas.


Ya, sebagai seorang majikan, Bagas memang berhak memerintahnya, tapi tidak sampai ke urusan seintim itu. Tapi sebagai seorang suami, dia berhak memberi perintah seperti itu, dan adalah kewajiban untuk Nurul melaksanakannya.


Akhirnya, dengan sedikit berat hati dan rasa canggung. Nurul melakukan perintah Bagas. Dia membantu Bagas Bersih-bersih. Mulai dari melepas pakaiannya, memandikannya, melap tubuhnya dengan handuk sampai membantunya berpakaian... Semua dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Nurul berusaha keras untuk mengabaikan rasa malu dan jengah yang menyelimuti dirinya saat melakukan pekerjaan itu.


"Terima kasih... " Ucap Bagas saat Nurul sudah selesai memasang kancing terakhir di baju Bagas. Nurul cuma mengangguk.


"Mulai sekarang, kamu lakukan hal serupa tadi setiap aku mau mandi... " Ucap Bagas lagi membuat Nurul melongo bingung mau komentar apa.


Ini hukuman atau apresiasi dari hasil kerjanya ya?


"Emmm, satu lagi... Ternyata itu mu kecil juga ya... " Ucap Bagas dengan senyuman aneh, sambil menunjuk dada Nurul.


Nurul menunduk mengikuti arah telunjuk Bagas. Seketika dia menyadari apa yang dimaksud Bagas, saat dia melihat tonjolan yang tercetak dibalik bajunya yang basah.


"TUAAAAN....! " Pekik Nurul kesal.


Mendengar pekikan itu, seketika Bagas tertawa terbahak-bahak.


...🔆...


...🔆...


...🔆...

__ADS_1


...⏭bersambung⏮...


...🔆...


__ADS_2