Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Kenangan 2


__ADS_3

Pintu aku banting terbuka. Kulihat seseorang yang aku kenal di sana. Mata kami sama-sama terbelalak. Hanya bedanya, dia terbelalak kaget. sedangkan aku terbelalak marah.


"Kamu....!!!"


Rasanya ingin ku ***** saja wajah itu.


Wajah milik seorang Jihan, temanku satu SMP. Wajahnya memang cantik, Dia juga pandai bergaul, dia orang yang selalu mendampingi ku.


Bisa dibilang, dia itu selalu siap mem backup setiap kelemahanku. Makanya, aku sempat sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengannya. Tapi sungguh, aku tidak berniat menjadikan dia backup untuk mendampingi tunangan ku!


Harusnya kan setiap orang juga tahu batasan. Sedekat-dekatnya orang bersahabat, masa iya mau berbagi pasangan. Berbagi makanan, pakaian bahkan uang sekalipun itu sudah normal. Tapi kalau berbagi pasangan mah NO WAY!!!


Sebenarnya aku sudah mempunyai firasat soal kedekatan mereka, tapi aku berusaha berfikir positif dan percaya pada mereka. Yang satu tunangan ku... yang satu lagi sahabatku ... Harusnya mereka itu bisa dipercaya, kan?


Tapi kalau lihat perempuan yang hanya berbalut handuk ada di kamar tunangan kamu, apalagi yang bisa kamu pikirkan. Apa dia hanya sekedar numpang mandi? Yang bener aja!


"Heh..! Kamu...! Ngapain kamu di sini..? Dasar orang enggak tahu diri...!" Maki ku kesal dan marah. Ku hampiri dia. Tanganku sudah siap menampar wajahnya, tapi ada tangan lain yang menahanku.


"Sayang, sabar sayang..."


"Sayang... sayang... Dasar bajingan kamu... Kurang ajar kalian berdua...!" Teriakku sudah mulai kalap.


Ramdan yang tadi menahan tanganku akhirnya jadi pelampiasan kemarahanku. Ku pukuli dia. Ku cakar wajahnya. Jihan berusaha melerai kami. Tapi buatku, itu adalah kesempatan untuk membalas sakit hatiku. Kemarahanku kini beralih pada Jihan yang ada dalam jarak jangkauan. Kujambak rambutnya penuh nafsu.


"Aargh..!" Seru Jihan kesakitan. Aku benar-benar sudah kalap rasanya. Mendengar teriakan Jihan seperti belum puas. Inginnya aku banting tubuh itu ke lantai. Tapi tangan lain yang lebih kuat lebih dulu mendorongku hingga jatuh terjengkang.


"Arghh...!" Aku dan Jihan sama-sama berteriak kesakitan.


Aku teriak karena pantatku sakit akibat terbanting ke lantai, sedangkan Jihan teriak karena rambutnya yang masih aku genggam ikut tertarik saat aku jatuh.


"Maaf... maaf..." Kata Ramdan agak panik karena kami berdua tersakiti.


Aku menatap matanya penuh luka. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau laki-laki yang selama ini aku kenal sebagai seorang yang penyabar dan penuh perhatian ini bisa selingkuh dengan teman dekatku sendiri.


Kulihat Ramdan mengambilkan kaos untuk Jihan dari lemari pakaiannya. Jihan menerima dan memakainya. Kaos kebesaran itu hanya menutupi tubuhnya sebatas paha atasnya. Tanpa terasa air mataku mengalir.


Sungguh, hatiku sakit. Aku ingat, kalau Ramdan juga pernah melakukan hal serupa itu padaku. Tapi bukan karena aku "numpang mandi" seperti ini. Waktu itu aku habis berenang, dan Ramdan memberikan kaosnya karena aku lupa bawa bathrob.

__ADS_1


"Say..." Panggil Ramdan sambil mendekat padaku. Tangannya terulur untuk membantuku berdiri. Tapi seketika kutepis tangannya.


"Jangan sentuh...!" Sentakku. Saat itu aku rasanya jijik disentuh tangan yang sudah menjamah tubuh lain.


"Say... Ini enggak seperti yang kamu pikirkan..." Katanya.


"Enggak mau tahu...! Udah, jangan banyak bicara lagi...!" Kataku. Lalu segera berusaha bangkit dan langsung melangkah pergi.


Sebelum meninggalkan kamar itu, aku sempat menoleh ke arah Jihan. Perempuan itu balas menatapku dengan pandangan yang aku sendiri tidak tahu apa artinya.


Beberapa lama aku sampai bingung mau ngapain. Mobilku terparkir di pinggir jalan. Enggak begitu aku perhatikan, dimana aku saat ini. Yang pasti dekat terminal. Suasana begitu Ramai oleh hiruk pikuk orang yang mau bepergian entah kemana.


Rasanya otakku sumpek sekali. Aku merasa menjadi orang yang paling merana, paling tersakiti, paling dikhianati... Bagaimana bisa, sahabat yang paling aku percaya malah selingkuh dengan tunangan ku sendiri?


Pasti selama ini mereka berdua mentertawakan aku di belakang ku. Hih! Rasanya amarah ini kembali mendesak hingga ke ubun-ubun.


Ditengah suasana hati yang enggak karuan itu, tiba-tiba perhatianku teralih pada suara tangis keras di dekat mobilku terparkir. Duh, rasanya pengen teriak saja rasanya.


Aku berusaha cuek dengan kebisingan itu, tapi dibiarkan kok enggak juga berhenti, tangisan itu malah tambah keras.


"Du'uh..." Keluh ku kesal. Aku segera keluar dari mobil dan mencari sumber kebisingan itu.


Tangis itu seketika berhenti. Tangis dari seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun. Anak itu langsung mengkeret di belakang tubuh seorang wanita yang kupikir itu ibunya.


"Maaf... maaf, mbak..." Ucap wanita itu yang sepertinya jadi kaget karena aku bentak.


"Kenapa, sih dia?" Tanya ku cuma sekedar bertanya tanpa benar-benar merasa kasihan.


"Maaf mbak... anakku ini lapar. Dia tadi minta cilok..." Terang wanita itu tanpa dilanjutkan.


"Lapar kok minta cilok... " Tukasku.


"Uangnya cuma tinggal seribu, cuma bisa beli cilok... " Lanjutnya.


Aku mendengus. Kutatap anak itu. Dia balik menatapku sembunyi-sembunyi dari balik tubuh ibunya.


"Ibu... mau makan..." Katanya mulai nangis lagi.

__ADS_1


"Sabar ya, nak... Kita tunggu bapak lewat..." Ucap wanita itu sambil sembunyi-sembunyi mengusap genangan air di sudut matanya.


Entah kenapa, melihat ibu dan anak itu membuat hatiku miris. Sesaat aku lupa dengan kesedihanku sendiri.


"Bapaknya sedang kemana?" Tanyaku dengan nada mulai melunak.


"Bapaknya sedang narik..." Jawab wanita itu.


"Sedang narik? Lah kapan baliknya?Anaknya keburu kelaparan itu..." Ucapku tanpa sadar menyalahkan. Orang lagi kerja kok ditungguin. Tau sendiri laju kendaraan umum itu seperti apa... Belum tentu satu jam bisa sampai disini.


"Kenapa enggak ditungguin di rumah aja... kasian anak itu, udah kepanasan, lapar..." Aku tanpa sadar kembali menyalahkan.


"Sebenarnya... bapaknya udah hampir empat bulan enggak pulang... dia... dia... punya istri baru..." Kata wanita itu lirih sambil menahan tangis.


DEG


Ternyata wanita ini juga korban selingkuh. Parahnya lagi, dia kini terjebak dalam pernikahan, karena merasa kasihan pada dua anaknya jika orang tuanya berpisah.


"Saya suka bingung, kalau anak-anak tanya, kenapa ayahnya sekarang jarang pulang... Selain itu, saya juga tidak punya pekerjaan tetap untuk bisa menghidupi kebutuhan anak-anak..." Cerita perempuan itu sambil bolak balik mengusap air matanya.


Sungguh, kalau tadi aku merasa menjadi orang yang paling merana sedunia... tapi setelah mendengar cerita wanita itu, rasanya deritaku itu enggak ada apa-apa nya.


Setidaknya aku tidak dikhianati dalam keadaan diberi beban anak. Lagi pula segel ku juga masih terjaga, jadi aku enggak rugi apa-apa selain waktu yang sudah ku habiskan bersamanya.


Yang ada, dia yang rugi... Aku enggak bakal membiarkan dia duduk tenang di singgasananya di perusahaan ku.


"Sudahlah... lupakan laki-laki seperti itu..." Kataku kemudian. "Hei, kamu... ayo kita makan... aku traktir kalian..." Ajak ku sambil berusaha mengembangkan senyum.


Anak itu menatap aku dan ibunya bergantian, sepertinya dia ingin ikut, tapi masih takut.


"Udah deh... jangan kelamaan mikir... jangan sampai aku berubah pikiran..." Kataku lagi.


Wanita itu tampak berpikir sebentar sebelum meraih anaknya dalam gendongan dan mengikuti langkahku masuk lagi ke mobil...


...❄❄❄bersambung ❄❄❄...


\=\=\= iklan 😅😅😅

__ADS_1



...Monggo silahkan mampir... 🙏🙏🙏...


__ADS_2