
Ku tatap sosok bernama Murni itu dengan perasaan yang ditahan. Rasanya kok jadi sebel gitu ya berhubungan dengan orang ini. Padahal biasanya aku enggak pernah ambil perduli sama orang. Asal orang itu enggak menghalangi jalanku, biasanya aku EGP aja.
"Mak, ini kacang panjang nya..." Kataku mengalihkan perhatianku dan menyerahkan baskom kecil wadah kacang yang sudah selesai aku mutilasi.. π€ Aku enggak mau kalau nanti aku tiba-tiba marah-marah enggak jelas gara-gara seorang Murni.
"Iya Neng, makasih..." Kata mak Surip. Setelah itu aku bangkit dari duduk ku dan berniat kembali kekamar. Selain untuk menghindari Murni, (bukan karena takut ya... tapi cuma enggak mau ribut aja.) aku pikir sekarang mungkin tuan sudah bangun dan bersiap untuk mandi. Aku harus menyiapkan air mandi serta baju gantinya kan?
"Eh, mau kemana kamu?! " Tanya Murni saat melihat aku bangkit.
"Ke kamar... " Jawabku singkat sambil mulai melangkah.
"Eh, tunggu! " Katanya tiba-tiba sambil mencekal lenganku kencang.
"Ih...! Sakit...! " Seruku. Sebenarnya sakitnya sih enggak terlalu, tapi gerakan Murni yang mendadak itu benar-benar membuatku kaget hingga tanpa sadar aku berseru keras.
"Kamu mau ke kamar tuan?" Tanya Murni memastikan.
"Ya iyalah ke kamar tuan. Kamar mana lagi? Kamar kamu? Buat apa?" Sahutku asal.
"Udah aku bilang... urusan tuan itu urusan ku..." Ucap Murni penuh nada intimidasi.
"Tapi aku udah dapet perintah langsung dari nyonya supaya melayani tuan... " Jawabku bersikukuh.
"Melayani... melayani... emang kamu mau melayani tuan sampai urusan ranjang?! " Tanya Murni dengan nada setengah mengejek setengah menantang.
"Kalau perlu... kenapa enggak?" Sahutku jengkel. Padahal kalau dalam kondisi biasa mah, dapat pertanyaan seperti itu bisa ribuan kali mikirnya buat bilang IYA.
"Dasar...!" Makian Murni terputus, ketika tiba-tiba terdengar suara interkom berbunyi. Mak Surip yang sejak tadi terkesima oleh pertengkaran kami seketika tersadar dan segera meraih gagang interkom.
"Iya tuan... " Katanya. Sepertinya mak Surip yakin kalau yang menelpon itu tuan.
"... iya, tuan. Dia ada di sini... baik tuan, akan saya sampaikan... " Ucap mak Surip kemudian meletakkan gagang interkom sementara matanya mengarah padaku. Aku menatap mak Surip ingin tahu, ada apa tuan menelpon lewat interkom.
"Neng Nurul, ditunggu tuan sekarang..." Ucap mak Surip padaku. Seketika senyumku mengembang.
"Oh, makasih sudah diberi tahu, mak." Kataku pada mak Surip, lalu aku berbalik ke arah kamar. Ku lempar pandang sekilas ke arah Murni, dan melangkah meninggalkannya dengan dagu sedikit terangkat.
Walaupun cuma pelayan, boleh dong merasa sombong sedikit.... π
__ADS_1
***
Pekerjaan rutin dimulai. Menyiapkan semua kebutuhan tuan, sekarang fokus ku kesana. Urusan bersih-bersih kamar sekarang sudah diserahkan pada mak Surip (mak Surip yang tanggung jawab, tapi yang mengerjakan anak buahnya)
"Selesai sarapan kita ke kantor sebentar, lalu kita beli baju untukmu... " Ujar tuan memberitahu rencana kegiatan hari ini.
"Saya ikut ke kantor tuan? " Tanyaku memastikan. Soalnya agak bingung juga dengan kostum yang aku pakai sekarang ini. Memangnya pantas untuk dipakai ke kantor?
"Ya ikut saja, cuma sebentar kok. Ada yang harus aku cek dan tanda tangani. Kenapa?"
"Enggak apa-apa tuan, cuma saya takut tuan malu kalau mengajak saya ke kantor pakai baju begini..." Jawabku.
"Lah kamu malu enggak, pakai baju seperti itu? Atau kamu mau pinjam bajunya Murni dulu..."
"Enggak...!" Seruku memutus ucapan tuan. Ih, masa aku mau pinjam baju Murni. Lebih baik pakai baju ini, daripada pakai baju punya Murni.
"Enggak tuan... selama saya masih pakai baju, enggak masalah tuan ajak saya ke mana aja..." Jawabku lagi dengan intonasi menurun. Aduh, rasanya kalau ada bu Surti di sekitarku. Sudah berulang kali aku dapat peringatan gara-gara suka lepas kendali saat berbicara dengan tuan.
"Great...! Kalau gitu enggak masalah. Lagian kamu pakai baju apa aja tetep cantik kok... " Puji tuan tiba-tiba, membuat hatiku serasa melayang saking senangnya.
"Makasih... " Kataku. Aku merasa kok, wajahku mendadak terasa panas ya... πΉ Tuan tersenyum melihat aku tersipu.
"Siap tuan..." Sambut ku penuh semangat. Bayangan bu Surti... bayangan Murni... minggir! Aku enggak mau mereka merusak mood ku yang sedang baik hari ini.
Hari ini adalah hari yang paling indah sepanjang ingatanku.... ππ₯°
***
Seperti kata tuan, setelah sarapan, kami pergi ke kantor tuan Bagas. Aduh, rasanya seperti orang ilang deh. Masuk ke kantor yang megah itu, hanya dengan memakai celana training dan kaos kegedean... π€
Mulai dari pintu masuk, sampai lantai tiga gedung itu, semua orang yang kami lalui pasti memperhatikan aku. Ih, bukan ke ge-er an karena merasa diperhatikan, tapi karena tuan Bagas memang menarik perhatian semua orang yang dilaluinya, dan aku ada disisinya, otomatis perhatian mereka juga mengarah pada ku.
"Selamat pagi tuan... " Sapa seorang wanita, saat kami hendak masuk kedalam suatu ruangan. Dilihat dari posisi meja kerjanya aku menebak kalau dia itu sekretaris tuan Bagas.
"Pagi... Nugraha sudah datang?" Sahut tuan sekaligus bertanya.
"Rasanya belum, tuan... " Jawab wanita itu. Mendengar jawaban itu tuan Bagas cuma manggut dan bergerak untuk melanjutkan niatnya masuk ke ruangan di depannya. Wanita itu terlihat bergegas untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Tuan Bagas masuk. Aku juga otomatis mengikuti. Kudapati wanita itu mengikutiku dengan pandangan kepo nya. Kelihatan sekali dia bingung, mau menyapa, tapi lihat kostum ku seperti tidak layak di sapa, mau enggak menyapa, tapi melihatku berjalan di sisi tuan Bagas yang notabene bos besar nya... ha ha ha ingin tertawa aku jadinya kalau melihat ekspresi orang bingung seperti itu.
"Nur, coba... tolong ambilkan map kerjasama dari Perusahan Dirgantara di meja itu... " Perintah tuan.
Aku menoleh ke arah meja yang ditunjuk tuan. Meja itu ada di sudut ruangan, membentuk letter L jika disambung dengan meja kerja tuan. Tapi tuan Bagas tidak memilih duduk di meja kerjanya, mungkin karena kursi rodanya, membuat dia tidak leluasa untuk duduk di sana.
Aku bergerak kesana. Dari tumpukan map yang ada, aku mendapat map yang dimaksud tuan.
"Yang ini, tuan? " Tanyaku memastikan, sambil menunjukkan map yang aku bawa. Tuan membaca sekilas tulisan di atas map itu.
"Ya... ' Jawabnya. " Makasih... " Imbuhnya sambil tersenyum.
"Sama-sama tuan... " Sahutku dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan. Kamu tahu kenapa aku bahagia?
Aku berhasil melakukan pekerjaan (sederhana) itu dengan benar β π€
Tuan bilang IYA, bukan cuma HEM... seperti biasanya.
Tuan bilang makasih, sambil tersenyum lagi, He he he seneng banget rasanya.. π
Beberapa lama tuan fokus membaca isi dokumen dalam map itu. Aku cuma berusaha duduk anteng sambil celingukan mencari pemandangan yang bisa mengalihkan rasa bosan yang datang gara-gara tidak melakukan apapun.
Setelah beberapa saat, terlihat tuan menutup map yang dibacanya.
"Kamu tahu... hari ini akan ada rapat final untuk kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Dirgantara ini... " Ucap tuan tiba-tiba menarik perhatian ku... Noted ya.. PERUSAHAAN KITA... Kata-kata simpel yang artinya teramat sangat tinggi. Tuan benar-benar menganggapku istrinya! Tanpa terasa setitik air mengumpul di sudut mata. Aku benar-benar terharu dibuatnya.
"Aku enggak tahu, apa pekerjaanmu sebelumnya, tapi, coba kamu baca dokumen ini, dan coba kamu beri masukan tentangnya..." Ujar tuan sambil memberikan dokumen itu kembali padaku.
Aku menerima dokumen itu dengan kening sedikit berkerut. Ini bukti kepercayaan atau test kemampuan ya...? π€
.......
.......
__ADS_1
...πbersambungπ...
.......