
"Tuan benar-benar serius mengambil saya jadi istri tuan?"
"Lah... kamu pikir aku tadi bersumpah di depan siapa mau main-main soal pernikahan?" Tuan balik bertanya lagi dengan nada seperti tersinggung. Reflex aku membungkuk, meraih tangan tuan dan menciumnya
"Maaf... sungguh saya mohon maaf tuan... saya tidak pernah berpikir seperti itu... saya hanya...." Aku tak tahu apa yang harus aku katakan.
"Maaf... " Ulang ku takut-takut sambil menatap tuan penuh permohonan.
Perlahan tuan tersenyum dan kemudian membelai kepalaku.
"Aku tahu maksud mu..." Katanya membuatku lega. "Justru karena hal itu... sekarang sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus meluruskan masalah ini... agar kedepannya tidak terjadi salah paham."
"Kita berdua punya alasan masing-masing untuk memulai pernikahan ini... tapi setelah kita menikah... kita harus mempunyai alasan serta tujuan yang sama untuk melanjutkan suatu pernikahan... kamu paham maksud ku?" Tanya tuan tiba-tiba menarik fokus ku yang sempat buyar gara-gara merasa telapak tangan tuan membelai punggung tanganku yang ternyata masih mengenggam tangan tuan.
"Euh?"
Tuan menghela nafas panjang mendapat reaksi seperti bingung dariku seperti itu.
"Apa ini karena idealisme atau suatu kebodohan, hingga aku mau menikah denganmu... " Katanya pelan seperti berbicara pada diri sendiri.
"Tuan... apa tuan menyesal menikahi ku... " Tanya ku ragu dan takut.
"Entahlah... Apa aku boleh menyesal...?"
"Tidak...!" Seruku tiba-tiba. "Jangan, tuan... jangan menyesal... " Pintaku.
"Kenapa?" Tanya nya.
"Karena saya tidak menyesal, dan saya tidak ingin jadi janda dalam waktu sehari... " Ujarku sambil menatap tuan penuh permohonan.
Lebih dari tidak ingin menjadi janda... Aku lebih tidak ingin diabaikan dan hidup sendiri.
"Sekarang tuan adalah tujuan hidup saya... Kalau tuan meninggalkan saya... saya tidak tahu harus apa dan harus kemana...β Lanjut ku.
Kulihat tuan kembali tersenyum lembut padaku. Tangan yang tadi membelai punggung tanganku kini berpindah membelai pipiku.
" Ya... anggaplah ini suatu kebodohan... tapi aku tidak pernah berniat untuk meninggalkanmu..." Katanya, membuat senyumku seketika mengembang.
"Terima kasih, tuan." Ucapku lega. "Ya... memang ada sih, orang pintar yang bilang kalau ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu alam dan kebodohan manusia... Dan saya bersyukur untuk kebodohan yang ini... " Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Kenapa?"
"Karena kebodohan inilah, akhirnya tuan memutuskan untuk menikahi saya ...."
Mendengar jawabanku, tangan tuan yang semula membelai pipiku tahu-tahu menjepit hidungku...
"Awww...! " Seruku spontan menarik wajah menjauh.
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku bodoh?!" Salak tuan. Seketika aku menggeleng. Aku tidak bermaksud mengatakan kalau tuan bodoh... tapi bukannya tuan duluan tadi yang menyebut-nyebut soal kebodohan? Hadeuh.. Kenapa juga pake ngomong seperti itu??? π€¦ββοΈ
"Tuan... tuan itu pandai sekali... Buktinya dari sebegitu minimnya alasan seseorang untuk bisa menerimaku, tuan bisa menemukannya..." Sahut ku akhirnya agak ngawur, karena aku sendiri bingung untuk memperbaiki ucapanku tadi.
"Kamu itu..." Ucap tuan sementara tangannya bergerak seperti mau menjepit hidungku lagi. Reflex aku kembali menjauh.
"Tuan, jangan jepit hidung saya seperti itu..." Pintaku.
"Kenapa? Masa sakit?" Tanya tuan.
"Enggak sakit sih tuan... tapi saya takut hidung saya nanti seperti Petruk..."
"Kan bagus, jadi mancung... "
"Ya, kalau mancung nya seperti Petruk sih, bukannya bagus tuan..." Ucapku sambil sedikit merengut. Masa iya, wajahku ini hidungnya seperti Petruk... Aduh...! Amit-amit deh...!
Aku meringis... tuan tertawa... Dan kamu tahu? Aku baru menyadari, ada lekukan kecil di pipi tuan, membuat wajah tuan yang memang sudah tampan itu terlihat begitu sempurna. Dia tidak hanya terlihat tampan, tapi dengan tawa yang berderai itu menciptakan suatu ketampanan yang absolutely manusiawi untukku.
Ya Tuhan... benarkah dia itu suamiku? Sulit sekali rasanya untuk dipercaya. Ingin aku berteriak pada dunia... Memberitahu semua orang, kalau dia milikku... dia suamiku! Bolehkah aku berbangga hati dengan hal itu?
"Sini... " Perintah tuan.
"Sini... kemana?" Tanyaku bingung. Rasanya aku duduk sudah dekat dengan tuan, tapi tuan suruh aku KESINI... kesini kemana lagi?
"Sini... Aku ingin kamu duduk di sebelahku..." Katanya sambil menarik pelan tanganku yang entah kapan sudah dia genggam. Aku menurut. Kini kami duduk bersisian dengan rapat. Aku menunduk, tidak berani menatap wajah tuan. Dengan telapak tangan saling bertaut, walaupun tanpa saling memandang, kami lanjut berbincang.
Aku terdiam. Bingung mau ngomong apa. Masa mau ngomong 'ENGGAK BOLEH'. Katanya suami istri, masa mau peluk aja enggak boleh? Tapi kalau mau bilang 'BOLEH' kok rasanya seperti aku yang kegatelan ya? π€π
Tuan menarik ku untuk berbaring bersamanya. Aku berbaring kaku, bahkan rasanya aku malah keseringan menahan nafas, gara-gara tuan tiduran sambil memelukku, tapi sepertinya tuan tidak perduli. Dia terus memelukku hingga tertidur pulas. Aku masih sempat mengamati wajah tampannya, merasakan hembusan nafasnya menyentuh leher dan pundakku. Berusaha meyakinkan diri kalau semua ini nyata, bukan hanya khayalanku semata.
Entah sampai berapa lama aku larut dalam pikiranku sendiri tentang kenyataan dan harapan yang kini aku miliki, hingga kemudian aku ikut tertidur.
* * *
Pagi hari, seperti biasa aku terbangun saat suara pengajian sayup-sayup terdengar dari masjid di kejauhan. Agak terkejut, saat merasakan ada sesuatu yang menumpang di bawah dadaku. Rupanya itu tangan tuan yang melingkar di perutku. Otakku seketika bekerja, mempertanyakan, kenapa tangan itu bisa ada di sana? Dan saat menemukan jawabannya, tanpa terasa senyumanku mengembang. Aku sampai harus menghela nafas agar bisa meredam kebahagiaan yang membuncah di dada.
"Ya Allah, terima kasih... akhirnya aku tidak lagi sendiri... " Aku bersyukur, karena sekarang aku punya suami yang akan menjagaku dan menemaniku selamanya. Aku memang belum begitu mengenal tuan, tapi bolehkan aku berharap kalau dia akan menjadi haluan hidupku?
Perlahan aku beringsut, berusaha membebaskan diri dari rengkuhan tuan. Aku harus bangun untuk bersiap menghadapi hari baruku sebagai seorang istri...
Seperti biasa, aku bersih-bersih dan bersiap untuk sholat. Karena tidak membawa mukena, aku sholat dengan memakai pakaian putih yang aku pakai kemarin... baju pengantin ku... π€ Tapi setelah sholat, aku kembali mengganti pakaianku dengan pakaian punya tuan yang aku pakai semalam.
Selesai sholat, aku lihat tuan masih lelap. Karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan di kamar, akhirnya aku putuskan untuk keluar kamar sekaligus mencari ide, apa yang harus aku lakukan sepagi ini...
Aku melangkah kearah dapur, ada mak Surip sedang bersiap untuk masak. Aku mendekat.
"Selamat pagi, mak... " Salamku. Mak Surip yang sedang menyiangi sayuran mengangkat wajahnya untuk menoleh kearah ku.
__ADS_1
"Pagi juga, Neng... " Sahut mak Surip.
"Sedang apa, mak? Tanyaku sambil duduk di sampingnya.
" Mau bikin sayur lodeh... " Jawab mak Surip.
"Aku bantu ya... " Ucapku sambil meraih untaian kacang panjang dan mulai mengeksekusinya dengan cara menariknya hingga menjadi potongan yang jauh lebih pendek... (padahal namanya tetap kacang panjang... π ).
"Neng enggak apa-apa di sini?" Tanya mak Surip sambil menatapku seperti cemas.
"Memangnya kenapa?" Aku balik bertanya. Aku enggak ngerti, apa bahayanya kalau aku ada di sini?
"Maaf, neng. Sebelumnya mak Surip mau tanya, hubungan neng Nurul sama tuan Bagas...?" Tanya mak Surip menggantung.
"Oh... itu. Saya itu dipilih nyonya Supami untuk melayani tuan Bagas..."
"Oh, jadi kamu itu pelayan... " Ucap seseorang memotong jawabanku. Seketika aku dan mak Surip menoleh kearah asal suara.
Di sana, melewati ambang pintu dapur, terlihat Murni melangkah mendekat. Aku agak terkejut melihat pakaian yang dikenakannya. Dia hanya memakai gaun daleman yang setahuku, biasanya cuma buat rangkepan baju luar. Gaun itu terbuat dari kain sutra halus dan lembut, tapi cukup tipis kalau dipakai begitu saja. Dan lagi... Aduh, itu belahan lehernya kok rendah sekali. π²
"Bagus juga nasibmu bisa jadi pelayan tuan Bagas..." Katanya lagi, lalu duduk di kursi dapur yang cukup tinggi. Gaun yang panjangnya cuma sebatas paha itu dipakai duduk pasti tersingkap, hingga pahanya terekspos hampir ke pangkalnya.
"Heh?! " Reaksiku bingung gara-gara salfok dengan gaun itu.
"Sudah disuruh apa saja kamu sama tuan?" Tanya Murni seperti menginterogasi aku.
"Eng... ya, biasa aja... bersih-bersih kamar, nyiapin air mandi dan pakaian ganti..." Jawabku jujur.
"Di sini, kamu enggak usah melakukan itu. Itu pekerjaanku sebagai asisten pribadinya... kamu boleh kerjakan pekerjaan lain. Urusan tuan Bagas biar aku yang urus... " Perintah Murni begitu saja, seakan aku ini bawahan dia.
"Wah... enggak perlu, mbak. Biar saya saja... " Ucapku keberatan. Ini orang maksudnya apa? Ngelarang aku melayani suamiku... Kalau melihat dari cara dia berpakaian, Jangan-jangan....
"Mbak Murni, mbak memang tinggal disini atau memang kebetulan sedang menginap di sini?" Aku balik bertanya.
"Aku tidak tinggal disini, tapi aku sering menginap di sini. Apalagi karena tuan sering membutuhkan bantuanku saat malam..." Jawab Murni sebegitu jumawa nya, memberi kesan kalau dia sudah seperti penghuni tetap rumah ini. Seketika terbayang olehku, sosok Murni, berpakaian seperti itu berkeliaran dengan bebas dirumah ini, melayani kebutuhan tuan Bagas.... Suamiku?!
Hu'uh
Salah enggak sih, kalau aku tiba-tiba merasa kesal dan tidak suka padanya?
.... ...
.... ...
.... ...
...πbersambungπ...
__ADS_1
...π‘π‘π‘...