Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Diary Anna


__ADS_3

"Ya... salam... pergilah sekarang. Kalau enggak jangan salahkan aku kalau berubah pikiran dan membuatmu tidak bisa keluar dari kamar ini... "


Kami tertawa.


Muach


Ku lemparkan ciuman jauhku sambil melangkah pergi.


Di luar kamar aku sedikit celingukan. Mencari seseorang... Siapa saja yang mungkin berada di sana. Enggak ada orang.


Kamarku katanya di atas... Langsung ke atas aja atau enggak ya...


Tapi baru saja kakiku menginjak anak tangga pertama, aku jadi ragu.. . Rasanya kok enggak enak banget ya.. . Menyelonong begitu saja, menjelajahi rumah yang ku rasa asing ini.


Akhirnya langkahku ganti arah. Aku pergi mencari bik Nah.


"Bik Nah.. . Bik Nah.. . ! Panggil ku.


Entah berada dimana bik Nah semula, tapi setelah aku serukan namanya, bik Nah nampak tergopoh-gopoh mendekat.


" Iya, non. Ada yang bisa bik Nah bantu?" Tanya bik Nah. Ditangannya ada selembar serbet, dan bik Nah me-lap tangannya dengan kain itu.


"Bik Nah sedang sibuk?" Tanyaku.


"Enggak juga.. Bibik sedang mengawasi anak baru menyiapkan meja makan." Jawab bik Nah.


"Oh..." Mendadak muncul gambaran bu Surti yang mengawasi kami sambil mengomel.


"Bik Nah enggak sambil marah-marah kan ngawasin nya?" Tanyaku iseng.


"Ya enggak lah, kenapa harus marah-marah..?" Bik Nah malah balik bertanya dengan bingung.


Aku tertawa begitu saja, tanpa berniat menjelaskan alasan kenapa aku tertawa. Ya, sepertinya memang cuma bu Surti yang doyan ngomel... 🤭😅


"Ada apa, neng?" Tanya bik Nah.


"Apanya?"


"Neng Anna panggil bibik ada apa?"


"Oh...iya. Semula saya ingin minta tolong bik Nah tunjukkan kamar saya, tapi kelihatannya bik Nah sedang sibuk ya."


"Owalah, sibuk apa toh.... Iya, neng. Tantu saja. Ayo bik Nah tunjukkan." Ucap bik Nah, tangannya memberi isyarat, memprsilahkan aku untuk melangkah bersamanya.


Ku langkahkan kaki menyusuri anak tangga mengikuti bik Nah dengan mata yang masih celingukan. Kali ini bukan mencari orang, tapi mengamati interior yang digunakan di ruangan itu. Beneran bagus. Aku enggak tahu, apakah aku yang dulu menyadari keindahan ini atau tidak. Tapi buat aku yang baru ini, penyajian interior rumah ini memang berkesan indah dan mewah. Sampai-sampai aku merasa minder sendiri berada di tempat ini.

__ADS_1


Anak tangga berakhir di suatu ruangan luas, dengan beberapa kamar di tepinya. Ruangan itu sendiri sepertinya berfungsi untuk tempat kumpul-kumpul keluarga. Soalnya selain luas, kelihatannya ruangan ini nyaman juga.


Ada home theatre besar di salah satu dindingnya. Sementara mini bar terletak di seberangnya. Ditengah, selain ada sofa besar, ada beberapa bantalan duduk tertumpuk di samping sofa.


"Itu kamar neng Anna..." Ucap bik Nah sambil menunjuk sebuah kamar yang berada di sebelah kanan dari sofa. Kamar yang tidak mempunyai jendela dari sisi ruangan ini.


Aku melangkah ke sana. bik Nah mengikuti di belakang ku. Setelah sampai bik Nah membukakan pintu untuk ku. Sesaat aku terdiam diambang pintu, mengawasi ruangan di depanku.


Ruang kamar itu indah dan luas, tapi ...



"Ini beneran kamarku, bik?" Tanyaku ragu.


"Lah iya... ini kamar neng Anna..." Sahut bik Nah yakin.


Kok seperti kamar anak kecil gini sih?


"Kok seperti kamar anak kecil?" Tanyaku akhirnya karena heran.


Kamar itu bernuansa pink.. enggak masalah sih soal warna, tapi pilihan interiornya kok girly banget. Enggak sesuai dengan bayangan yang ada dibenakku. Atau karakterku dulu seperti ini ya? Perlahan aku mulai memasuki kamar itu. Bik Nah mengikuti aku dari belakang.


"Ya... sebenarnya neng Anna sempat minta ganti dekor sih, dulu... tapi karena kejadian waktu itu, tuan enggak jadi mengganti dekorasi ruangan ini... Akhirnya dibiarkan saja ruanga ini seperti adanya saat ini." Jelas bik Nah.


"Kejadian apa?" Tanyaku.


Aku memperhatikan barang-barang yang ada di sana. Mulai dari single sofa di dekat pintu, di sampingnya ada walk in closet berdinding kaca. Hingga memperlihatkan deretan baju yang tergantung di dalamnya.


Aku cuma melongok sebentar keruangan itu, melihat kalau dinding sebelah dalam terdapat banyak pintu dan laci, aku memutuskan untuk membukanya belakangan. Akan memakan waktu lama kalau aku periksa isinya sekarang.


Dari walk in closet, aku beralih ke meja rias yang ada di sebelah kiri ruangan itu, merapat ke dinding. Semua barang disana tertata rapih dan bebas debu.


"Siapa yang membersihkan ruangan ini?" Tanyaku.


"Biasanya sih Imah... Neng Anna ingat Imah? Fatimah?"


Aku menggeleng. Bik Nah menghela nafas.


"Fatimah itu pelayan pribadi neng Anna..."


"Pelayan pribadiku? Dimana dia sekarang?" Tanyaku.


"Sudah hampir seminggu ini dia izin pulang kampung. Ibunya sakit..."


Ooooh

__ADS_1


Aku lalu mendekati meja belajar yang ada di samping meja rias itu. Meja belajar itu model meja belajar yang biasa diperuntukkan untuk anak kecil. Mungkin karena sudah lama tidak dipakai, jadi rak-rak yang semula ditujukan untuk tempat buku, sudah diganti dan diisi oleh boneka dan beberapa hiasan pajang.


Iseng aku membuka bufet di kaki meja itu. Disana baru terdapat tumpukan buku. Aku mengeluaran buku itu satu persatu. Penasaran, buku apa saja yang ada di sana. Ternyata isinya bukan buku pelajaran. Tapi beberapa komik, majalah dan juga buku catatan, serta.... diary!


Ini dia yang aku cari... Aku perlu apapun yang bisa menggali ingatanku...


Aku duduk dilantai, membuka lembar demi lembar tulisan tangan seorang anak kecil. Tulisan tanganku saat berumur dua belas tahun...


Entah berapa lama aku duduk melantai menghadapi diary pink milikku. Membacanya membuat aku tersenyum. Bukan karena aku mengingat kejadian yang aku tulis, tapi lebih karena membayangkan seorang anak menjelang remaja yang emosional menghadapi semua kejadian di hidupnya. Sepertinya aku yang berusia dua belas tahun ini adalah seorang ratu drama. Semuanya terbaca dari tulisan tangan yang ekspresif ini.


\=\=\=


"24 September 20xx...


Aku kesal, gara-gara ibu Sofia aku enggak jadi bertemu teman-teman. Padahal kami sudah janjian akan belajar bersama di rumah Daniel. Mana Daniel marah lagi sama aku... Dia bilang aku pembohong.


Aku sudah bilang sama Daniel, kalau ibu Sofia datang dan aku harus menemaninya selama dia di sini... Daniel enggak mau tahu, dia tetep bilang kalau aku pembohong.


Aku bilang soal ini sama ibu Sofia. Ibu Sofia bilang enggak apa-apa kalau aku mau pergi ke rumah temanku. Dia enggak keberatan aku tinggal. Tapi justru masalah datang dari ayah... Ayah enggak kasih izin aku untuk pergi.


"Ibu Sofia itu datang ke sini karena rindu sama kamu. Dia sengaja datang jauh-jauh ingin bisa ketemu dan ngobrol sama kamu... Kok malah mau kamu tinggal... " Kata ayah sambil marah-marah.


Aku kesal dong. Kenapa sih aku harus nemanin dia... Emang siapa dia? Sampai segitunya ayah menyuruhku menemaninya... "


^^^\=\=\=^^^


Sayang belum selesai aku baca, bik Nah mengingatkan aku kalau waktu makan siang sudah tiba.


"Neng, sudah ditunggu di ruang makan." Katanya sambil berjongkok tidak jauh dariku.


Aku mendongak mencari jam dinding. Jam setengah satu siang! Weh...! Sudah berapa lama aku duduk di sini? Karena teringat kalau mas Bagas yang enggak akan mulai makan kalau tidak aku temani. Akhirnya aku menghentikan bacaanku. Memberi tanda batas bacaan dan segera bergerak pergi ke kamar tamu untuk menemui mas Bagas.


"Tuan Bagas sudah diberi tahu dan sudah menunggu neng Anna di bawah." bik Nah memberi tahu.


"Oh... Iya. Makasih bik." Seruku sambil setengah berlari menuruni tangga.


"Hati-hati, neng...!" Seru bik Nah.


*


*


*bersambung*


*

__ADS_1


*


__ADS_2