Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Cerita versi Bagas


__ADS_3

Author POV


Bagas menatap punggung Nurul yang melangkah keluar kamar. Saat Nurul sudah menghilang dibalik pintu, Bagas bergerak mengambil sesuatu di laci nakas disamping tempat tidurnya.


Bagas mengambil dua butir obat dari dua botol plastik kecil. tanpa bantuan air, dia lalu menelannya. Sesaat tadi dia merasa sedikit nyeri di bagian belakang lututnya. Tapi dia tidak mengatakannya pada Nurul, seperti dia tidak mengatakannya juga pada orang lain. Hanya Ridwan yang tahu masalahnya itu. Ridwan adalah dokter keluarga mereka. Selain itu Ridwan juga kakak kelasnya saat SMA, hingga hubungan mereka begitu akrab.


Berulang kali Ridwan menyarankan Bagas untuk ikut terapi. Tapi dengan alasan yang tidak dipahami nya, sama seperti keluarganya yang juga enggak paham kenapa, Bagas seperti enggan untuk melakukan terapi. Ada kesedihan bercampur marah setiap kali mereka berbicara soal terapi. Setelahnya Bagas akan kembali menjadi murung, lalu menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Karena itulah, semua anggota keluarganya tidak ada lagi yang berani menyuruhnya untuk terapi.


Hingga beberapa bulan yang lalu....


Saat itu hari sudah sore. Tuan Darmawan menelpon Bagas untuk konfirmasi kabar yang diterimanya, soal pembelian sejumlah lahan milik tetangga mereka. Bagas membenarkan berita itu. Bagas mengatakan rencananya untuk membangun sebuah kandang ayam baru, karena lahan yang dibeli memang berada di area persawahan, dan jarang penduduk.


"... Tapi tempatnya tidak terlalu jauh dari jalan desa, jadi enggak akan terlalu sulit soal transportasi. Baik Truk pakan ataupun mobil-mobil pelanggan ayam juga enggak akan kesulitan untuk menjangkaunya. .. " Terang Bagas.


Tuan Darmawan, setelah mendengar uraian Bagas setuju dengan rencana Bagas. Namun sebelum proyek pembangunan berjalan tuan Darmawan menyuruh Bagas untuk minta restu dari ibu sekaligus neneknya Bagas.


"Baik, Yah. Bagas kesana sekarang.... " Ujar Bagas saat itu.


"Gas, kalau kamu mau kesini... mampirlah ketempat Ridwan. Nenekmu minta obat sakit pinggang. Ridwan bilang baru bisa antar besok, karena dia masih di rumah sakit sampai malam..." Perintah tuan Darmawan.


"Yang lain pada kemana? Enggak ada yang bisa disuruh ngambil? " Tanya Bagas.


"Ada, tapi karena kamu mau kesini, kenapa enggak kamu saja yang ambil... kan, sekalian jalan..." Jawab tuan Darmawan.


Bagas paham. Akhirnya Bagas menyuruh sopirnya untuk melaju ke arah rumah sakit. Kebetulan, dia bisa sekalian minta obat pereda nyeri untuk kakinya. Pasca kecelakaan yang menimpanya setahun yang lalu itu, memang kondisi kesehatan Bagas secara umum sudah pulih, tapi rasa nyeri di kakinya masih suka datang sesekali membuatnya tersiksa.


Walaupun demikian, Bagas masih enggan untuk ikut terapi Itu yang sampai saat ini belum bisa dipahami orang lain, dia seakan pasrah menerima kesakitannya itu. Hanya Bagas yang tahu alasannya....


***


Sampai di rumah sakit, Bagas langsung menuju ruangan Ridwan. Obat yang dimaksud sudah disiapkan oleh Ridwan. Bagas hanya tinggal mengambilnya saja. Tapi namanya bertemu teman, Bagas tidak bisa cuma ngambil terus pergi. Beberapa saat mereka ngobrol dan berbasa-basi dulu. Kebetulan tidak ada pasien lain lagi yang harus ditanganinya, mungkin karena jam praktek memang sudah lewat. Hingga Ridwan bisa leluasa ngobrol dan memberikan beberapa tips untuk mengurangi rasa sakit.


Setelah beberapa saat ngobrol, Bagas lalu berpamitan untuk pulang, Ridwan mengantar Bagas sampai dipintu ruang kerjanya.

__ADS_1


"Jangan lupa, pil itu diminum setelah makan. " Ucap Ridwan mengingatkan. Bagas mengangguk.


Baru saja Bagas hendak menyahuti ucapan Ridwan, tiba-tiba ...


Aagh!


Dug!


Bruak!


Terdengar suara benda berjatuhan disusul suara orang yang marah-marah dan memaki. Secara naluriah mereka berdua menghentikan obrolan dan menoleh kearah asal suara.


Tidak berapa jauh dari tempat mereka, nampak seorang gadis sedang berlutut memunguti alat-alat kebersihan yang berserakan di lantai. Sementara seorang wanita setengah baya yang terlihat kaya, berdiri dihadapannya sambil mengusap-usap pinggulnya, sementara mulutnya masih terus mengomel dan mengumpat


"Maaf Bu, maaf saya sungguh tidak sengaja..." Ucap gadis itu sambil berlutut membereskan alat-alat kebersihan yang terserak di lantai. Saat sudah selesai memunguti peralatannya, dia lalu berdiri sambil terbungkuk-bungkuk memohon maaf.


"Ibu... ibu...! Kamu pikir aku ibumu?!" Sentak wanita itu pedas, lengkap dengan matanya yang melotot tajam. Wanita yang dimarahi hanya bisa terdiam bingung dan ketakutan.


"Ada apa ini... nyonya ada yang bisa saya bantu?" Sapa Ridwan. Matanya memperhatikan kedua wanita itu bergantian. Wanita yang sedang marah-marah itu melihat Ridwan yang memakai snelli, langsung saja mengadu. Mengatakan kalau gadis didepannya itu, telah membuatnya terpeleset dan hampir jatuh, gara-gara lantainya basah. Ridwan beralih menatap si gadis.


"Betul itu? " Tanyanya.


"Maaf dokter, saya memang belum selesai mengeringkannya. Saya benar-benar tidak melihat nyonya ini datang hingga tidak bisa memperingatkan ...." Ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


Ridwan menghela nafas.


"Nyonya, mohon maaf atas kelalaian pegawai ini, jika nyonya ada yang terluka, mari saya bantu obati... " Ucap Ridwan akhirnya.


Sang nyonya beberapa saat menatap Ridwan dan gadis itu bergantian. Amarahnya yang semula meledak-ledak sepertinya berangsur padam saat melihat senyuman Ridwan yang terlihat ramah, berwibawa dan begitu penuh perhatian.


"Ah, sudahlah. untung lukanya enggak parah, lagian, sekarang saya sedang terburu-buru... Kasih tahu OB ini, supaya kerja yang bener..." Ucap wanita itu masih dengan nada pedas, lalu dengan angkuhnya pergi meninggalkan mereka. Ridwan hanya tersenyum tipis melihat tingkah wanita itu.


"Kamu enggak apa-apa? " Tanya Ridwan pada si gadis, saat wanita angkuh itu sudah berlalu.

__ADS_1


"Saya enggak apa-apa, dokter... " Sahut gadis itu.


"Ya sudah, selesaikan pekerjaanmu, lalu kembalilah ke tempatmu... " Perintah Ridwan. Gadis itu mengangguk patuh.


"Terima kasih banyak dokter... " Katanya. Lalu dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Setelah itu, Ridwan kembali menghampiri Bagas yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka.


"Ada-ada saja.... " Katanya saat mereka telah berdiri berhadapan. Bagas cuma bisa tersenyum kecut menanggapinya.


"Kenapa kamu mau repot-repot minta maaf untuk perempuan itu? " Tanya Bagas iseng, sambil memperhatikan gadis yang masih terus bekerja.


"Kasihan... " Katanya. Lalu tanpa diminta meluncurlah seuntai cerita sedih dari mulutnya. Cerita tentang seorang gadis yang baru saja selamat dari sebuah kecelakaan tragis yang menimpa semua awak bus yang ditumpanginya.


"Cuma dia yang selamat... Entah bagaimana, dia bisa terpental agak jauh dari bus naas itu. Semuanya meledak. hancur. Sisa puing-puing sebagian terbawa arus sungai di bawahnya. ... " Cerita Ridwan.


Sepanjang cerita Ridwan, mata Bagas tanpa sadar masih terus memperhatikan orang yang mereka bicarakan, yang masih bekerja membersihkan lantai koridor, sambil bergerak menjauh.


"Keluarganya tidak ada yang mencari?" Tanya Bagas seketika ikut prihatin. Beralih menatap Ridwan, saat sosok gadis itu menghilang di tikungan koridor.


"Keluarganya entah dimana... dia sendiri tidak bisa pulang... "


"Kenapa? " Potong Bagas.


"Dia amnesia..." Jawab Ridwan membuat Bagas terhenyak.


.


.


👉bersambung👈


.

__ADS_1


__ADS_2