Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Pulang


__ADS_3

Semua sudah berkumpul di ruang tamu. Seperti biasa, pertama-tama mereka menanyakan kesehatan ayah selepas dari rumah sakit. Melihat kondisi ayah sekarang bukan seperti orang yang baru pulang sakit. Beliau kelihatan sehat-sehat saja. Kalau aku tidak menemuinya sedang terbaring lemah di rumah sakit kemarin pasti tidak akan menyangka kalau beliau memang baru sakit.


"Kepulangan Anna memang membawa keajaiban untuk mas Yudhis..." Ucap ibu. "Kita lihat sendiri kondisi mas Yudhis kemarin kan? Bandingkan dengan keadaannya sekarang... " Lanjut ibu.


"Iya... kemarin-kemarin dia enggak mau makan, makanya badannya langsung drop... " Timpal bunda.


"Sekarang pikiranku sudah tenang. Anakku sudah kembali dalam keadaan sehat, ya... walaupun dia sama sekali tidak mengingatku..." Ucap ayah membuatku merasa sedikit bersalah.


"Maaf..." Kataku.


"Ish... itu bukan salahmu... Yang penting sekarang... jangan pernah kamu pergi-pergi kemanapun tanpa memberi tahu kami kemana tujuanmu. Ayah tidak ingin kehilangan kamu lagi." Ucap ayah sambil menarik ku ke pelukannya.


Walaupun aku tidak memiliki kenangan apapun tentang ayah, tapi ucapan ayah sukses membuatku terharu dan menitikkan air mata.


"Terima kasih, yah... " Ucapku sambil balas memeluk laki-laki setengah baya itu erat.


"Tapi yah... aku perlu menyampaikan sesuatu... " Lanjut ku saat teringat rencana kami siang tadi.


"Mau ngomong apa?" Tanya ayah. Kami mengurai pelukan, tapi aku masih bersandar manja pada ayah... Ya, aku masih harus mengambil hatinya agar setuju dengan rencanaku.


"Emmm... mengikuti permintaan ayah agar kami menikah ulang, juga sesuai dengan rencana penyembuhan dari mas Bagas, maka besok mas Bagas mau pulang..." Jawabku


"Begitu?" Tanya ayah sambil menatap mas Bagas.


"Iya tuan... saya harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan saya ke Tiongkok, juga untuk acara pernikahan kami.. Saya harus membicarakan semua itu dengan orang tua saya..." Jelas mas Bagas.


"Hemmm bagus..." Komentar ayah.


"Mas Bagas mau ke Tiongkok?" Tanya Yoga menyela pembicaraan.


"Iya..." Jawab mas Bagas.


"Mbak Anna juga?" Tanyanya sambil menatapku.


"Maunya sih, gitu... tapi enggak boleh sama ayah..." Aku yang menjawab dengan raut merajuk.


"Anna...?" Panggil ayah dengan nada memperingatkan.


"Iya-iya... aku tahu... " Jawabku cepat, tapi masih dengan raut cemberut.

__ADS_1


"Tapi yah.. untuk besok, aku boleh ikut ya... Ya, setidaknya aku kan harus pamit sama keluarganya mas Bagas... "


Sesaat ayah terdiam berfikir.


"Baiklah, besok kamu boleh ikut..."


"Horeee... makasih ayah." Spontan aku memeluk ayah lagi sebagai ungkapan terima kasih. Mas Bagas sampai geleng-geleng kepala melihat tingkahku seperti anak kecil yang dikasih permen.


"Eits... ayah belum selesai bicara... " Potong ayah menghentikan lonjakan ku. Aku terdiam seketika sambil menatap ayah, menunggunya melanjutkan ucapannya.


Jangan-jangan ada syaratnya?


"Besok bukan cuma kamu yang akan mengantarkan Bagas... " Lanjut ayah. "Ayah juga akan kesana... Ya, setidaknya ayah harus mengucapkan terima kasih pada keluarganya, karena sudah merawatmu selama ini... " Lanjut ayah. Aku terpaku.


"Terima kasih, ayah.. " Kataku terharu.


Niat ayah untuk mengunjungi keluarga Darmawan dan menyampaikan rasa terima kasihnya, karena keluarga itu sudah mau menampung dan merawatku sudah menunjukkan, kalau ayah memang merasa bertanggung jawab pada ku.


"Kalau gitu aku juga ikut... Aku bundanya, aku juga merasa perlu untuk menyampaikan rasa terima kasihku..." Ujar bunda.


"Aku juga ikut, ya... Aku mau lihat, bagaimana tempat tinggal mbak ku selama dia pergi... " Celetuk Yoga ikut-ikutan.


"Ya... kalau seperti itu, kami juga mau ikut... " Sambut ibu sambil tersenyum.


"Boleh lah... sekali-sekali kita jalan-jalan jauh... " Sahut bapak.


Horeee... Sorak aku hampir bersamaan dengan Yoga saking gembiranya.


"Ya, sudah... kita semua pergi saja.. Nak Bagas, tidak apa-apa kan? Kalau kami semua mendatangi rumahmu?" Tanya ibu.


"Tentu tidak apa-apa... dengan senang hati kami akan menerima kalian..." Jawab mas Bagas sambil tersenyum. Aku juga tersenyum lega. Sampai sejauh ini semua berjalan dengan baik-baik saja.


***


Sesuai rencana, pagi hari ini, jam setengah delapan. Keluarga besarku sudah berkumpul. Bapak dan ibu sudah datang dari jam tujuh pagi, malah. Karena perjalanan akan berlangsung cukup lama, maka kedua ibu itu sudah menyiapkan segala macam perbekalan untuk diperjalanan.


Semula bapak dan ibu ditawari ayah untuk ikut bareng dengan mobil ayah. Tapi entahlah, mungkin karena merasa sungkan, bapak dan ibu memilih untuk tetap membawa mobil mereka sendiri. Akhirnya jadilah perjalanan ini bagai suatu konvoi dari tiga unit mobil.


Aku kagum dengan bapak dan ibu, mereka tidak merasa minder menggunakan mobil yang harganya terbilang murah jika dibandingkan dengan dua mobil lainnya.

__ADS_1


Mobil ayah itu, aku tahu harga belinya bisa mencapai 1-2 M per unit. Sungguh sangat mewah kan? Sementara mobil mas Bagas, harga barunya sekitaran 700jt. Untukku, mobil punya mas Bagas saja sudah terasa nyaman, enggak kebayang nyamannya naik mobil seharg hampir 2 M gitu? πŸ˜…


Kalau punya bapak.. mobil itu di kisaran 200-300jt. Tapi bapak tetap PeDe aja membawanya. Merk kendaraan itu memang tidak bisa membohongi orang yang memang paham otomotif. Tapi bapak sudah merawat dan membuat beberapa modifikasi di mobilnya, hingga tidak kalah nyaman dengan dua mobil lainnya.


"Bapak ini cuma tukang bengkel, enggak sanggup lah, beli mobil keren seperti punya ayahmu..." Ucap bapak saat secara tidak sengaja aku memperhatikan kondisi mobil bapak.


"Eh? Maaf bukan begitu maksudnya..." Ucapku sambil menutup mulut dengan tangan menyesali sesuatu yang sesungguhnya tidak sempat aku ucapkan.


"Yang penting kondisi mobil bagus, bisa dipakai jalan tanpa masalah." Kata Yoga menimpali. Aku spontan tertawa mendengarnya.


"Gimana mau ada masalah... orang tukang bengkelnya ngikutin terus..."


Ya kan? Bapak kan tukang bengkel mobil, jadi kalau ada rusak apa pun itu pasti enggak akan susah kan?


Mendengar ucapanku yang lain jadi tertawa.


"Mas... dokter Ridwan sudah dikonfirmasi? Nanti dia nungguin kita lagi..." Kataku pada mas Bagas.


"Sudah... Kemarin sore waktu kita check out kan, kita sudah ketemu dan mengatakan rencana kepulangan kita ini padanya... " Jawab mas Bagas.


"Oh, iya... Aku lupa, mas..." Kataku.


Akhirnya, dengan formasi mobil kami di depan, diikuti oleh mobil ayah baru kemudian mobil bapak yang dibelakang sendiri, perjalanan pulang pun dimulai.


* * *


Seperti saat perjalanan pergi kemarin, perjalanan pulang ini pun kami lakukan dengan santai. Kami banyak berhenti untuk sekedar beristirahat. hingga baru pukul dua siang kami sampai di rumah.


Kedatangan kami yang mendadak ini tentu agak mengejutkan untuk keluarga Darmawan.


Sebenarnya mas Bagas sempat mengatakan pada ibu Santi, kalau kami akan pulang bersama beberapa orang tamu. Tapi mas Bagas tidak mengatakan berapa jumlah tamunya dan apa hubungan tamu ini denganku.


"Assalamu'alaikum..." Salam kami.


"Waalaikum salam..." Sahut nyonya Supami bersama kedua menantunya. Kebetulan sekali nyonya Santi dan nyonya Yulia sedang ngobrol-ngobrol di teras, saat iring-iringan mobil itu masuk ke pelayaran parkir di depan rumah.


...🌹🌹🌹bersambung🌹🌹🌹...


\=\=\=

__ADS_1



...πŸ™πŸ™πŸ™β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™...


__ADS_2