Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Ibu Nyonya


__ADS_3

Setelah beberapa menit berkendara, mobil mulai memasuki lingkungan pondok. Pak Mamat turun sebentar saat mereka akan memasuki gerbang, untuk memberitahu penjaga setempat tentang siapa yang datang bersamanya.


Sebenarnya mobil keluarga Darmawan sudah dihafal oleh para satpam pondok, tapi demi tertib administrasi, pak Mamat harus mengisi buku tamu yang sudah disiapkan di pos satpam itu.


Usai mengisi buku tamu, pak Mamat lalu membawa mobilnya melintasi gerbang pondok dan langsung mendekat ke gedung sekretariat pondok untuk menurunkan bungkusan kue yang mereka bawa, agar bisa didistribusikan oleh pihak pondok.


"Yang bungkusan kecil jangan sampai terbawa, Mat... " Terdengar suara nyonya Supami mengingatkan.


Pak Mamat mengangguk dan langsung menyisihkan bungkusan kue yang berbentuk kotak itu.


"Mboten Nya... "


"Bu, kita turun sekalian di sini saja yuk... biar mobilnya dibawa pak Mamat ke parkiran belakang... " Usul nyonya Santi pada mertuanya.


"Oh, iya. Mat, nanti kamu jemput kami lewat jalan yang di belakang pondok ya... " Sahut nyonya Supami sepakat, sekaligus memberi arahan pada supirnya itu.


"Inggih, Nya." Jawab pak Mamat paham.


Ya, rumah pengurus pondok memang mempunyai dua pintu masuk. Yang satu lewat lingkungan pondok, yang satu lagi lewat lingkungan perumahan yang ada di belakang pondok.


Nyonya Supami turun dari mobil dibantu nyonya Santi. Aku berdiri dekat mereka, berjaga-jaga kalau mendadak mereka memerlukan bantuan ku.


"Nur, ambil kotak kue itu... " Perintah nyonya Supami. Aku segera bergerak untuk mengambil kotak kue yang dimaksud. Kotak kue yang terbuat dari kerdus dengan plastik mika pada tutupnya, membuatku bisa mengintip isi dari kotak itu. Enggak cuma kue pukis saja ternyata, ada kue-kue lainnya juga.


Ada kue lapis, bolu pelangi, dan makanan lain yang terbungkus daun pisang. Aku tebak dari bentuknya, itu pasti kue nagasari. Nyem... enak betul kayaknya.


"Ayuk... " Ajak nyonya Supami sambil mendahului melangkah. Nyonya Santi mengiringi dan aku segera membuntuti sedikit di belakang mereka.


Kami menuju rumah yang sudah pernah aku kunjungi sebelumnya. Rumah tempat tuan Bagas mengucapkan akad pernikahan kami.


Seketika bayangan tuan Bagas memenuhi pikiranku. Ada debaran aneh kurasakan. Juga sensasi ciumannya pagi tadi, seakan kembali kurasakan, membuat bulu romaku meremang seketika.


Untuk mengalihkan perhatian, aku putar-putar cincin kawin yang disematkan tuan setelah akad nikah itu. Eh, kenapa mendadak aku merasa rindu ya sama tuan?

__ADS_1


Aduh... Jangan gini dong... Aku enggak mau jatuh cinta. Nanti kalau tuan tiba-tiba merasa tidak membutuhkan aku lagi, terus aku disingkirkan... apa berani aku menolaknya?


"Assalamu'alaikum..." Salam nyonya Supami menarik fokus ku kembali. Ternyata kami sudah mencapai ambang pintu yang terbuka lebar.


"Assalamu'alaikum... " Nyonya Santi sekarang yang bersalam.


"Waalaikum salam... " Terdengar sahutan dari dalam. Tak lama kemudian muncul seorang wanita muda dari balik pintu dalam.


"Loh, Bu Supami... Monggo bu, monggo silahkan masuk... " Sambut wanita itu lalu bergegas mendekat untuk mencium punggung tangan nyonya Supami dan nyonya Santi. Dia juga menyalami ku. Aku tersenyum senang, dia tidak menganggapku sekedar pajangan di sini.


"Silahkan duduk dulu, Bu... mbak... Sebentar nggih, saya panggilkan bu Nyai nya... " Ucap wanita itu lagi.


"Nduk, ini bawa masuk sekalian..." Kata nyonya Supami sambil memberi isyarat padaku untuk memberikan kotak yang aku bawa padanya.


Aku menyerahkan kotak itu yang diterima oleh wanita itu dengan penuh rasa terima kasih.


"Terima kasih banyak, bu... monggo silahkan duduk dulu. Sebentar nggih...." Katanya, kemudian dia berlalu dari ruangan itu.


"Oalah, alhamdulillah, kedatangan tamu agung, ini..." Ucap Bu Nyai saat mendapati kami di ruang tamunya.


"Assalamu'alaikum Bu Nyai... " Sapa nyonya Santi sambil berdiri dari duduknya.


"Waalaikum salam warohmatulohi wabarakatuh... " Jawab Bu Nyai sambil memeluk kami satu persatu.


"Monggo silahkan duduk mbak..." Bu Nyai mempersilahkan nyonya Santi untuk kembali duduk.


"Itu, Bu Nyai, kami tadi membuat sedikit kue-kue untuk acara istighotsah di mesjid, lalu tiba-tiba teringat dengan anak-anak pondok, jadi kami membuatnya agak banyak untuk mereka..." nyonya Santi memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak loh mbak, anak-anak itu pasti senang sekali menerimanya... " Ujar Bu Nyai penuh rasa terima kasih.


Di pondok ini, jatah makanan anak didiknya memang tidak kekurangan tapi tentu saja, makanan untuk anak murid sekian banyak itu tidak akan dilengkapi dengan kue-kue. Mendapat kiriman kue dari keluarga Darmawan ini tentu akan memberikan kebahagiaan tersendiri untuk anak-anak yang sedang belajar tirakat ini.


"Ndhuk, bagaimana kabarmu? Bagaimana juga kabar suamimu?" Tiba-tiba Bu Nyai beralih padaku, membuatku yang semula cuma mendengarkan sambil lalu sedikit terkejut.

__ADS_1


"Eh, alhamdulillah, saya baik bu Nyai, tuan juga baik, bu ... " Jawabku canggung.


"Masih memanggil suamimu dengan panggilan tuan? " tanya Bu Nyai dengan kening sedikit berkerut.


"Euh... ?" Aku bingung mau menjawab apa. Tuan tidak memintaku untuk merubah panggilannya. Refleks aku menatap nyonya Santi meminta pendapatnya.


"Begini bu Nyai... karena ada beberapa masalah intern di keluarga kami, untuk sementara perihal pernikahan ini memang masih dirahasiakan dulu. Karena itu, masalah panggilan juga belum berubah, karena takut membuat beberapa orang curiga..." Ujar nyonya Santi memberi alasan.


"Tapi ndhuk, kamu harus tahu. bukan kami tidak bersungguh-sungguh untuk mengangkatmu jadi menatu di keluarga kami... Semenjak Bagas mengucapkan akad nikah kemarin... sejak itu juga aku sudah menganggapmu sebagai anakku... " Lanjut nyonya Santi langsung padaku.


Aku terdiam haru mendengar ucapannya itu. Kutatap matanya mencari kebenaran kata-katanya. Aku takut, nyonya mengatakan hal itu karena berada di depan Bu Nyai, orang yang secara tidak langsung adalah ibu wali ku untuk pernikahan ku dengan tuan Bagas. Tapi sepertinya nyonya tulus mengatakan semua itu.


"Sini, ndhuk... " Ucap nyonya Santi tiba-tiba sambil merentangkan tangannya seperti ingin memeluk. Masih dengan rasa ragu aku perlahan mendekat. Tiba-tiba saja nyonya Santi merengkuh setengah menarik ku dalam pelukannya.


"Sepurane sing gedhe yo ndhuk..." * Ucap nyonya Santi lirih seakan merasakan keraguan ku.


*(minta maaf sebesar-besarnya ya...)


Tanpa terasa air mataku menetes. Sudah berbulan-bulan aku serasa hidup sebatang kara. Kini aku mempunyai seseorang yang mau mengakui ku sebagai seorang anak. Rasa bahagiaku begitu meluap, sampai tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.


"Terima kasih banyak, nyonya..." Kataku sedikit tersendat karena isak.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu ndhuk... karena kamu, Bagas punya gairah lagi untuk hidup. Dia sekarang mau berobat lagi untuk kesembuhan kakinya..." Ujar nyonya Santi sambil melepas pelukannya. Beliau menatap wajahku, sementara ibu jarinya mengusap air mata yang sempat membasahi pipiku.


" Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, jangan segan-segan untuk datang padaku... Insya Allah, aku akan membantumu sebisaku.... Dan kamu juga bisa mulai memanggilku dengan panggilan ibu..."


...®bersambung®...


...*®*...


...*®*...


...*®*...

__ADS_1


__ADS_2