Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Heleh...


__ADS_3

"Dek... " Panggil Bagas. Aku yang semula memperhatikan percakapan para ibu pun menoleh kearahnya.


"Ya... " Sahutku. Ucapanku terjeda saat tanpa sengaja, aku melihat seseorang melintas di belakang Bagas. Seseorang yang menoleh kearahku dan melempar senyum sambil lalu...


(Author pov)


"Kamu enggak tidur di rumah saja kah?" Tanya Bagas sambil menatap Anna penuh rindu.


"Eng..." Anna kembali memfokuskan pandangan ke arah Bagas. Sekilas tadi dia mendengar Bagas mengatakan sesuatu, tapi karena fokusnya teralih pada seseorang di belakang Bagas, dia enggak bisa paham apa yang dikatakannya.


"Kamu merhatiin apa, sih?" Tanya Bagas yang merasa kalau perhatian Anna tidak tertuju padanya. Dia menoleh mengikuti arah pandang Anna tadi.


"Enggak, cuma..." Anna kembali menatap kearah pandangnya beberapa detik sebelumnya.


Anna kebingungan. Kemana orang yang barusan itu tadi pergi? Ia edarkan pandangan ke segala arah memindai keberadaan orang itu. Tapi semua arah tidak memungkinkan untuk menutupi keberadaan orang itu sedemikian cepatnya.


"Masa dia lari sih...?"


Gumam Anna pelan sekali, seperti berbicara pada diri sendiri. Tapi rupanya gumaman nya bisa di dengar oleh Bagas.


"Siapa yang lari?" Tanya Bagas lagi, ikutan mengedarkan pandangan ke seputaran rumah sakit.


"Eh... enggak... Tadi seperti ada orang yang lewat di belakang mas Bagas, tapi terus ngilang, enggak tahu kemana..." Sahut Anna. Kali ini fokusnya dia kembalikan ke Bagas.


"Mas tadi ngomong apa?" Tanya Anna.


"Eng... Kamu enggak tidur di rumah saja, dek..." Ulang Bagas.


"Yey, mana boleh... Katanya seminggu lagi kita mo nikah, kalau orang lain mah udah harus dipingit kan...?" Sahut Anna sok tahu.


"Iya... tapi aku udah biasa tidur bareng kamu, sekarang tanpa kamu kok jadi susah tidur aku, dek..." Keluh Bagas.


"Kok bisa?"


"Ya, bisa aja... habis enggak ada yang dipeluk sih...."


Jawaban itu spontan membuat Anna blushing.


"Bagas, ayo..." Panggil Darmawan pada anaknya.


"Inggih, pak...!" Sahut Bagas sambil menoleh sekilas kearah ayahnya. Ya, cuma sekilas, setelah itu dia langsung menghadap Anna lagi.


"Hati-hati ya. Nanti kalau udah masuk kamar telpon aku..." Lanjut Bagas pada Anna. Anna mengangguk lalu masuk ke mobil.


Mobil berjalan beriringan keluar dari rumah sakit. Sampai di persimpangan, mobil Bagas membelok karena arah tujuan yang berbeda. Anna memperhatikan mobil itu hilang di tikungan.


Anna menghela nafas panjang.

__ADS_1


So... here I am...


Pikirnya. Dalam kesendiriannya kali ini, Anna mulai merenung.


Dia merasa seperti Putri Aurora dalam cerita Sleeping Beauty.... Setelah tertidur lama sekali, kini dia terbangun oleh sebuah ciuman dari sang pangeran.


Setelah diingat-ingat, Bagas memang seoerti pangeran penyelamat dari mimpi buruknya. Bagas mau menerima Anna dalam kondisi yang tidak punya apa-apa, bahkan tanpa latar belakang sama sekali.


Jangan tanyakan tentang cinta. Anna tidak tahu apakah dia mencintai Bagas atau tidak Tapi yang pasti dia tidak mau melepaskan Bagas karena rasa terima kasihnya.


Ya, Allah... Semoga saja dia memang jodohku... Kalau memang bukan, maka hamba mohon, jodohkan hamba dengan suami hamba ya Allah...


Doa Anna dalam hati.


Mobil terus melaju, tak lama kemudian mereka sampai di hotel yang dituju.


Seorang greater segera menghampiri untuk memandu mereka check-in. Tidak ada yang perlu mereka turunkan untuk dibawa ke kamar selain tas tangan para ibu, karena mereka memang tidak berniat untuk menginap, jadi enggak bawa banyak barang. Baju ganti saja, ya... sudah mereka pakai untuk berganti sore tadi. Yang ada di mobil sekarang hanya baju kotor bekas dipakai tadi pagi.


Akhirnya, saat hampir tengah malam, mereka masuk ke kamar masing-masing.


Anna berbagi kamar dengan Yoga. Bukan karena untuk menghemat biaya tentu saja. Hanya saja Yoga masih mencemaskan kakaknya yang sempat pingsan tadi. Dia takut ada sesuatu terjadi saat Anna hanya sendirian.


Sesuai janjinya, Anna menelpon Bagas saat dia sudah masuk ke kamar. Tidak ada maksud apa-apa selain ingin memastikan kalau semua sudah aman pada tempatnya.


"Ya, sudah... sekarang adek tidur. Besok mas ke sana sebelum adek pulang... mau berangkat jam berapa besok?" Tanya Bagas.


"Kalau gitu, setelah adek bangun besok pagi, adek telpon mas, nanti mas ke sana... "


"Eng... Iya, mas." Jawab Anna.


"Ya sudah... sekarang tidurlah... sudah larut malam... Have a nice dream, dek."


"Iya, mas... "


"I love you..."


Anna kembali blushing. Seketika dia melirik Yoga yang tiduran di kasur di sebelahnya.


"Iya mas..." Sahutnya.


"Cuma itu?" Tanya Bagas seperti tidak puas dengan jawaban Anna yang berkesan biasa-biasa saja. Padahal Bagas sudah memberi salam penuh perasaan gitu.


"Oh, iya... ini Yoga menemaniku di sini..." Anna mengkode Bagas memberi alasan.


Bagas malah menjadi sedikit kesal jadinya. Dia yang biasanya memeluk Anna, malam ini harus rela tidak memeluknya. Eh, sekarang istrinya malah tidur dengan laki-laki lain. Duhh! Ingin memaki rasanya. Tapi dia juga sadar dengan kondisi Anna, jadi makian nya dia simpan sendiri.


"Ya sudah... selamat tidur... Wassalamu'alaikum"

__ADS_1


"Selamat tidur, Mas... Waalaikum salam."


Telepon terputus.


"Yoga..." Panggil Anna.


Tak ada sahutan.


"Yoga..." Panggil Anna lagi.


Tetap tidak ada sahutan. Kening Anna mengerut. Dia beranjak dari kasurnya melihat Yoga lebih dekat.


"Ishh... ternyata dia sudah tidur..." Kata Anna ngomong sendiri. Akhirnya dia kembali ke kasurnya dan bersiap untuk ikut tidur.


***


Pagi hari sekitar jam tujuh, Anna turun dari lantai kamar hotelnya. Niatnya mau sarapan sambil menemui Bagas yang tadi sudah di telpon dan bilang mau datang sarapan bareng.


Dia celingukan di area lobby. Pagi ini lobby tidak terlalu ramai orang, karenanya, dia cepat bisa melihat Bagas dengan kursi rodanya di sebelah luar lobby,


Posisi Bagas menyamping di sebelah pot besar.


Kenapa enggak masuk sih...? Atau dia memang mau berjemur...?


Pikir Anna.


Berpikir ke sana, dia lalu segera mendekati laki-laki itu. Tapi hanya jarak sekitar satu meter dari Bagas, Anna mendengar suara seorang wanita setengah terisak. Seketika dia melambatkan langkahnya.


"Mas ... aku enggak tahu, kalau keadaan sampean jadi seperti ini... maafkan aku, mas. Aku sudah bertindak bodoh waktu itu... Aku tahu, aku memang salah... waktu itu aku terbawa suasana, hingga mau pergi begitu saja mengikuti kemauan orang tuaku. Tapi sekarang aku sudah pulang..."


Anna kian mendekat. Dilihatnya seorang wanita yang tengah berlutut di hadapan Bagas sambil menggenggam tangannya.


Anna melihat Bagas menatap wanita itu dengan pandangan nanar. Pandangan Anna mendadak ikutan nanar. Seperti ada sesuatu yang mencubit hatinya.


"Mas... selama kita berpisah, aku baru sadar, kalau ternyata aku masih sayang banget sama sampean, mas... Aku mau memperbaiki hubungan kita mas..."


...✌...


...✌...


...✌...


...πŸ™πŸ™πŸ™bersambung πŸ™πŸ™πŸ™...


...✌...


...✌...

__ADS_1


...✌...


__ADS_2