Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Mau pulang...


__ADS_3

Makan pagi yang terlalu awal itu berakhir dalam keheningan. Aku membereskan bekas-bekas makan kami.


"Mas, mau kopi?" Tanyaku setelah selesai mencuci sendok-sendok bekas kami pakai. Piringnya tidak aku cuci karena aku pikir tidak kotor, tadi cuma buat alas saja, jadi cuma aku lap, lalu aku taruh kembali di rak.


"Boleh... " Jawab mas Bagas.


"Ayah mau minum kopi juga?" Tanyaku. Aku tidak tahu, apakah ayah boleh atau biasa minum kopi? Tapi daripada jadi masalah, lebih baik aku tanyakan saja.


"Ya..." Jawab ayah pendek dengan nada seperti orang malas. Keningku sedikit berkerut menyadari nada suara ayah.


Sebenarnya ada apa dengan orang ini? Kenapa seperti senewen gitu sih?


Tapi aku enggak berani tanya langsung. Aku cuma bisa diam berusaha bersabar. Ya... hasil dari sekian bulan jadi pelayan membuat aku terlatih untuk diam dan tidak terlalu kepo dengan masalah yang bukan urusanku langsung.


Aku merebus air untuk menyeduh kopi. Aku tahu, mas Bagas suka dengan kopi yang diseduh dengan air mendidih daripada air panas dari dispenser. Lebih matang katanya.


Kopi terhidang di meja. Mas Bagas mulai bekerja dengan ponselnya. Aku duduk bersama ayah. Sesekali aku bertanya tentang keseharianku bersama ayah dulu. Kata ayah, aku ini seorang anak yang manja... Semua apa yang aku minta selalu harus dituruti.


"Masa, sih?" Tanya ku enggak percaya.


Ayah mengangguk sambil tersenyum.


"Boleh...?" Tanya ayah tiba-tiba sambil merentangkan tangannya meminta pelukan.


EUH?


Sebenarnya enggak masalah kan kalau kami berpelukan? Dia kan ayahku. Tapi rasanya kok canggung amet ya.


Aku melirik kearah mas Bagas sekilas, tapi sepertinya dia berusaha untuk pura-pura enggak lihat, dan sok sibuk dengan ponselnya. Aku tahu, karena aku sempat melihat gerakan matanya saat dia mencuri pandang kearah kami.


Perlahan aku mendekat dan membalas pelukan ayah.


"Ayah rindu kamu, sayang..." Katanya lirih sambil mengusek-usek pipinya di kepalaku. Aku cuma mengangguk, tidak tahu mau bicara apa.


Aku memang rindu pada kehangatan suatu keluarga. Dan kalau tahu aku punya keluarga rasanya aman nyaman gitu... Tapi masalahnya, Keluarga ku yang mana aku enggak tahu.


Sekarang ini aku hanya bisa mengandalkan intuisi... Dan intuisi ku mengatakan kalau orang ini "aman" untuk dianggap sebagai ayah... Parah banget ya...


Saat kami berpelukan, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, tapi juga langsung dibuka dari luar.


"Assalamu'alaikum... selamat pagi semua... " Sebuah sapaan langsung menyusul menjeda kecanggungan ku yang berada dalam pelukan ayah.


"Waalaikum salam..." Sahut kami hampir bersamaan. Aku lega, punya alasan untuk melepaskan diri dari pelukan ayah.


Dari balik pintu muncul bunda Retno diikuti seorang wanita setengah tua yang tangannya sibuk membawa beberapa kantung kertas.


"Bagaimana kabarmu, mas...?" Tanya bunda pada ayah.


"Baik... jauh lebih baik..." Jawab ayah datar.

__ADS_1


"Syukurlah... ini bunda bawakan makanan untuk sarapan pagi..." Ujar bunda kemudian sambil menoleh kearah wanita yang mengikutinya tadi.


Aku yang semula memperhatikan interaksi ayah dan bunda ikut-ikutan menoleh kearah wanita itu. Begitu menoleh, keningku langsung berkerut. Kulihat wanita itu sedang menatapku dengan mata berkaca-kaca penuh haru.


"Neng Anna..." Gumamnya lirih.


Aku mengangguk sopan, karena aku tidak tahu dia siapa. Serta merta wanita itu meletakkan bawaannya dan langsung berlari menubruk ku.


"Neng Anna..." Katanya lagi sambil menangis. Aku menerima pelukan itu sambil bingung. Kutatap bunda, minta diberi tahu "siapa dia?"


"Anna, ini Bik Nah... orang yang membantu bunda merawat kamu sejak kecil..." Ucap bunda.


"Oh... Bik Nah... makasih ya sudah setia merawatku... " Ucapku sopan. Tapi bik Nah malah tambah keras nangisnya.


"Loh, bik Nah... kenapa? Saya salah bicara ya?" Aku jadi bingung mendengar bik Nah malah tambah keras nangisnya itu.


"Neng... Bik Nah muji syukur ten Gusti Allah, bisa bertemu lagi dengan neng Anna... Alhamdulillah. . ." Katanya sambil sesenggukan.


"Alhamdulillah, tapi kenapa bik Nah malah tambah keras nangisnya?" Tanyaku.


"Soalnya neng Anna bilang makasih sama bibik... "


"Memangnya saya enggak pernah bilang makasih ya?... Maaf... "


Seketika, bik Nah yang sudah reda tangisnya dan cuma sesenggukan itu kembali menangis.


"Ya... salah lagi ya?" Tanyaku bingung.


Lah...?


"Ma...af.... " Ucapku lagi tapi dengan nada fading.Takut bikin bik Nah nangis lagi. Bingung aku, gimana caranya menyampaikan kata maaf itu...


"Enggak apa-apa... Bik Nah bersyukur bisa bertemu lagi dengan neng Anna..." Katanya sambil kembali mengeratkan pelukannya. Aku tersenyum dan balas memeluk orang tua ini.


"Sudah-sudah pelukannya. Bik Nah, ayo makanannya ditata, biar bisa buat sarapan."


"Baik Nyonya... "


"Kami tadi sudah makan bunda... " Sahut ku hampir bersamaan dengan sahutan bik Nah, tapi mungkin tidak begitu terdengar, karena bertepatan dengan itu, terdengar suara pintu diketuk dan dibuka.


"Selamat pagi.. " Dua orang wanita dengan seragam berbeda masuk. Yang satu berseragam putih biru membawa alat-alat kebersihan, yang satu lagi berseragam putih pink membawa nampan berisi ransum pagi untuk ayah.


"Maaf kami boleh kami bersihkan ruangan ini sekarang?" Tanya salah satu dari mereka.


"Ya, bersihkan saja..." Ucap bunda.


Petugas berseragam putih biru lalu mulai bersih-bersih, sementara yang berseragam putih pink, setelah meletakkan baki sarapan untuk ayah, dia lalu pamit pergi lagi.


"Ayah, mau makan ransum dari rumah sakit...?" Tanya bunda dengan gaya sedikit mengoda pada ayah. Ayah mendengus.

__ADS_1


"Aku udah makan... " Kata ayah.


"Iya? Makan apa?" tanya bunda.


"Nasi pecel... "


"Nasi pecel dari mana?"


"Beli dimana tadi An? " Ayah bertanya padaku.


"Di restoran sekitar sini, bun." Sahut ku sambil menoleh sekilas kearah mereka. Aku tengah asik mencomoti potongan ayam dalam tumisan yang dibawa bunda dalam kotak bekal.


"Ayo makan, neng... Bibik sengaja bikin ayam kecap ini, waktu dikasih tahu nyonya, kalau neng Anna sudah kembali. Walaupun bibik enggak ikut, tapi neng Anna bisa makan masakan bibik lagi... Eh, alhamdulillah... nyonya malah ngajak bibik ikut...." Cerita bik Nah sambil kembali memelukku.


Aku cuma bisa meringis mendengarnya. Aku enggak mau dia kecewa kalau dikasih tahu, kalau aku enggak inget sama sekali sama dia. Tapi masakan ini memang enak kok...


"Makasih bik... " Kataku sambil menjilati jari yang tadi terkena bumbu.


"Neng Anna sekarang sedikit berubah ya... " Kata bik Nah sambil terus memperhatikan aku.


"Berubah gimana...?" Tanyaku sambil menatap bik Nah.


"Neng Anna sekarang kelihatan kalem... tambah ayu... tambah pintar bawa diri..."


"Maksudnya?"


"Iya... neng Anna sekarang enggak segan bilang makasih... maaf... " Jelas bik Nah. Aku termenung sesaat.


Emang dulu aku berandal ya...


"Aku mau pulang sekarang..." Ucap ayah tiba-tiba mengalihkan perhatian kami.


"Iya, nanti setelah pemeriksaan dokter kita segera ajukan untuk pulang..." Jawab bunda.


"Aku mau pulang sekarang... telpon dokternya segera... Jam berapa ini, dokternya kok belum datang... " Ayah mulai ngedumel.


Aku bertukar pandang dengan mas Bagas yang sedari tadi hanya jadi penonton segala drama kami. Kulihat salah satu sudut bibirnya terangkat sedikit menyunggingkan seuntai esem.


Beliau ini beneran ayahku kah?


Tanpa sadar aku ikutan mesem sambil geleng- geleng kepala.


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...

__ADS_1


...*...


^^^ Mudah-mudahan malam nanti bisa up lagi... 🙏🙏🙏 ^^^


__ADS_2