Dendam Jane

Dendam Jane
Puncak Perselisihan


__ADS_3

PRAKKK!!


"Aaaakkk!!"


Vivian berteriak kencang ketika Edric melemparkan benda kearah nya secara tiba-tiba. Untung saja benda yang di lempar itu tidak mengenai Vivian tetapi justru menabrak dinding hingga hancur berkeping-keping.


"Sudah ku katakan, berhenti lah merengek! Tidak bisakah kau membiarkan ku beristirahat!!"


Edric terbangun dari tidurnya. Ia langsung berdiri menghadang Vivian.


Vivian masih merasa syok atas tindakan Edric.


Tanpa sadar ia melangkah mundur menjaga jarak dari Edric hingga membentur dinding.


Sekarang di mata Vivian, Edric terlihat begitu menakutkan.


"Aku..aku ingin mendengar penjelasan mu mengenai itu.."


Vivian menuding bekas lipstik yang mulai memudar di atas dada bidang Edric.


Edric tertawa sumbang, ia menyugar rambutnya. Dengan sinis Edric menatap tajam ke arah Vivian.


"Memang nya kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Waktu itu kau seenaknya menuduh ku tanpa berpikir panjang dan sekarang aku benar-benar melakukan nya sesuai perkataanmu !"


Tubuh Vivian bergetar hebat. Ini bukan jawaban yang ingin di dengarnya. Tetapi bagaimana pun Vivian menyangkal, bukti sudah terlalu jelas di depan mata.


Mengapa Edric setega ini kepada nya?


Lalu sekarang bagaimana?


Apakah Vivian akan menuntut cerai?


Tiba-tiba terlintas dibenaknya raut kekecewaan kedua orang tua Vivian.


Lewis Kaelee dan Johana Kaelee begitu mempercayai Edric Harisson. Bahkan pernikahan ini atas kehendak kedua orang tua Vivian sendiri. Bagi mereka Edric adalah menantu yang paling ideal. Edric pria yang mapan serta cerdas dalam menjalankan bisnis. Suatu keberuntungan ia mau menerima Vivian. Lewis Kaelee berharap dengan pernikahan Vivian dan Edric akan meningkatkan pendapatan perusahaan mereka. Karena Lewis tidak dapat bergantung pada putra keduanya yang suka membangkang.


Terlebih ada bayi di dalam perut Vivian yang merupakan darah daging Edric sendiri. Ia tidak ingin melahirkan seorang anak tanpa ayahnya.


"Edric berhenti lah sekarang, aku tidak akan mengadukan kepada Papa.."


"Jadi sekarang kau sedang mengancamku?"


"Bukan begitu.. Aku hanya tak ingin masalah ini di ketahui oleh kedua orang tuaku.."


Edric menarik tangan Vivian dengan kasar agar mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Dengar baik-baik, aku tidak peduli kau melaporkan perbuatanku kepada keluargamu.. Asal kau tahu, tanpaku, kau dan juga orang tuamu bukanlah apa-apa. Bahkan aku bisa membuat perusahaan ayahmu jatuh di tanganku!"


Edric melepas cengkraman tangannya hingga meninggal bekas kemerahan di kulit Vivian.


Wajah Vivian pucat pasi, ia kehabisan kata-kata.


"Lihat betapa menyedihkan dirimu, kau hanyalah putri kesayangan mereka yang manja tanpa bisa melakukan apa pun yang berguna. Pantas saja orang tuamu menaruh harapan tinggi kepadaku!"


Edric meninggalkan kamar dan membanting pintu dengan keras.


BRAKKK!!!


Beberapa perabotan pun bergetar kecil.


Apakah tadi watak asli dari seorang Edric Harisson?


Rasa mual mulai menghantui, Vivian cepat-cepat berlari ke arah kamar mandi.


Vivian memuntahkan semua makanan yang ia santap tadi sore. Tubuhnya merosot ke lantai yang lembab.


Sakit sekali.


Berulang kali Vivian memukul dadanya karena merasa sesak. Lagi-lagi airmata Vivian mengalir tanpa bisa di cegah. Tangisannya pun pecah.


Mulai detik ini, pernikahan nya telah hancur.


***


Pikiran-pikiran negatif bermunculan di benak Vivian. Kemanakah Edric pergi?


Apakah ia tinggal di apartemen nya yang lain?


Atau kemungkinan yang paling buruk, Edric tinggal bersama dengan wanita selingkuhan nya?


Vivian cukup sadar ia harus tetap menjaga kesehatan demi janin yang ada di perutnya. Tapi karena perselisihan rumah tangga ini begitu menguras pikiran dan tenaga, ia jadi sulit tidur serta selera makannya menghilang.


Sampai sekarang pun Vivian tidak dapat memberitahukan perihal kehamilannya sendiri. Karena tidak ada waktu yang tepat untuk berbicara.


Tiap malam sebelum tidur Vivian selalu menangis.


Sungguh ia sangat tertekan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Berharap Edric akan berubah kembali seperti dulu.


Terkadang ia tersenyum sendiri mengingat kenangan manis bersama Edric.


Pada suatu ketika Edric pulang ke rumah lebih awal. Vivian merasa sangat senang. Apakah Edric ahkir nya menyadari kesalahannya?

__ADS_1


Vivian menyambut kedatangan Edric dengan senyuman lebar.


"Edric kau kembali.."


Tanpa membalas ucapan dari Vivian, Edric langsung melemparkan kertas di atas meja. Vivian menelan ludah takut jika itu surat cerai yang diajukan Edric.


"Ada acara sosial yang harus di hadiri Minggu ini, keluarga ku serta keluarga mu telah menerima undangan.."


Perasaan lega segera membanjiri, syukurlah bukan surat cerai. Kemudian Vivian mengambil kertas undangan itu untuk melihat isinya.


"Apakah aku juga akan pergi bersama mu?"


Edric mendengus kesal.


"Yah kau akan berangkat sebagai istriku."


Ahkirnya , Vivian masih diingat sebagai istri dari seorang Edric Harisson. Dan juga di acara ini Vivian pasti akan bertemu dengan ibunya. Betapa ia merindukan keluarga nya. Vivian tak dapat menyembunyikan kebahagiaan kecil ini. Ia memandangi undangan sambil tersenyum.


"Yang perlu kau ingat adalah kita hanya bersandiwara di acara itu."


Kalimat Edric mematahkan kesenangan Vivian dalam sekejap. Ia langsung menatap mata Edric.


"Apa maksudmu?"


"Tetap pasang senyumanmu itu di hadapan publik dan jangan sampai kau mempermalukan ku di depan para kolega ku."


Edric pun berlalu meninggalkan Vivian yang tengah terpaku di ruang tamu sendirian.


Ia salah mengira Edric telah berubah. Sikapnya semakin dingin kepada Vivian.


Aku terlalu bodoh tetap mengharapkanmu kembali seperti dulu..


***


Satu hari menjelang acara sosial di adakan, Edric benar-benar mempersiapkan diri dengan sempurna. Bahkan ia mengirimkan Vivian sebuah bingkisan berisi gaun keluaran terbaru dari desainer terkenal dan juga sepatu, tak terkecuali perhiasan mewah.


Kenakan saat acara sosial.


Itulah pesan singkat dari Edric yang tertulis rapi di selembar kertas bersama bingkisan nya.


Jika hubungan mereka baik-baik saja, sudah pasti Vivian akan merasa senang menerima hadiah dari Edric.


Sebenarnya Vivian sedang tak ingin bertemu banyak orang dengan keadaan seperti ini. Apakah nanti ia dapat bersandiwara dengan benar?


Bagaimana jika Vivian melakukan kesalahan yang tidak di sengaja?

__ADS_1


Apakah Edric akan langsung memarahi nya di depan umum?


Vivian belum siap menghadapi hari esok.


__ADS_2