Dendam Jane

Dendam Jane
Perlawanan


__ADS_3

Edric sempat terheran dengan perilaku Daniel. Belakangan ini temanya itu selalu memaksa Edric untuk bertemu. Entahlah, sikap Daniel sedari dulu memang selalu sulit di tebak. Kadang ia bertindak di luar nalar. Mungkin Daniel hanya ingin menghiburnya setelah keluar dari penjara?


Edric tidak terlalu memikirkannya. Ada yang lebih penting untuk di urus. Hari ini Edric akan mengunjungi rumah pendeta untuk membicarakan pemberkatan pernikahannya dengan Jane.


Namun di tengah perjalanan ketika Edric sedang menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, ia sempatkan untuk memeriksa kembali berkas yang harus di tunjukkan pada pendeta, ternyata terdapat satu kertas salinan yang tertinggal.


Terpaksa Edric harus memutar balik mobilnya menuju ke rumah lagi. Siapa sangka ia akan mendapati pintu rumahnya sudah dalam keadaan terbuka lebar.


Apakah ada perampok masuk ke dalam? Atau mungkin Jane Ainsley telah menemukan cara kabur dari sini?


Edric berjalan mengendap-endap agar keberadaannya tidak ketahuan. Samar-samar ia mendengar suara orang sedang berbincang di lantai atas. Untuk berjaga-jaga Edric segera meraih pistolnya.


Begitu sampai, Edric justru melihat 'pemandangan' yang mengejutkan, sahabat terbaiknya sedang bercengkrama dengan wanita yang ia cintai.


Sebuah pertanyaan besar muncul di benak Edric, sejak kapan mereka berdua menjadi akrab? Apakah saat mereka minum bersama waktu itu? Atau mungkin jauh sebelumnya lagi?


Edric mengeratkan rahangnya.


Edric sudah tidak dapat membendung amarahnya, ia bagaikan gunung berapi yang siap meledak. Jane Ainsley adalah miliknya seorang, Edric akan menyingkirkan siapapun yang berani merebutnya tak peduli orang itu teman dekatnya sekalipun. Ingin rasanya Edric melubangi kepala Daniel.


Maka Edric menodongkan senjata ke arah Daniel.


Daniel mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, ia langsung menghadap ke arah Edric. Sebisa mungkin Daniel menutupi Jane menggunakan tubuhnya sendiri agar tidak terkena tembakan.


"Edric bukankah tindakanmu ini sudah kelewat batas?


"Lantas kau akan menghentikanku?"


"Jika memungkinkan aku akan melakukannya.."


Edric tertawa nyaring mendengar jawaban dari Daniel. Sedangkan Daniel memandang Edric dengan tatapan aneh. Ia merasa tak mengenali Edric Harisson lagi. Temannya itu telah berubah.


Dahulu Edric adalah orang yang selalu bersikap tenang bahkan jarang menunjukkan ekspresinya secara terang-terangan. Namun sekarang Edric bertindak implusif tanpa di tutup-tutupi.


"Betapa heroiknya dirimu! Apa kau titisan malaikat?"


Edric mengokang pistolnya. Jane langsung tercekat. Apakah senjata api yang di pegang Edric kini benar-benar telah terisi peluru?


Suasana mulai menegang. Daniel tetap diam bergeming seolah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.


"Turunkan senjatamu Edric! Aku akan menuruti semua kemauanmu!"


Pada ahkirnya Jane yang mengalah, ia tak mau ada korban berjatuhan lagi akibat dirinya. Mungkin ini memanglah konsekuensi yang harus ia terima. Selalu ada timbal balik dalam segala tindakan, termasuk rencana balas dendamnya. Bukankah sedari awal Daniel telah mengingatkan Jane? Namun ia tetap keras kepala.


"Jane Ainsley! Tetap di belakangku!" Daniel mendebat.

__ADS_1


"Hahaha! Sulit di percaya, kau mengkhianatiku!"


"Mengertilah Edric, ini demi kepentinganmu juga!"


"Tutup mulutmu! Aku tidak mau mendengar saran dari seorang pengkhianat."


Tanpa ragu lagi Edric menarik pelatuk pistolnya. Peluru melesat cepat ke arah Daniel.


DORR!!


Suara letusan senjata begitu memekakkan telinga. Bau bubuk mesiu pun mengudara disusul dengan tumbangnya tubuh Daniel ke lantai. Jane berteriak kencang.


"Oh! Tidak! Tidak! Daniel!!"


Jane segera menghampiri Daniel, ia melihat darah telah merembes di pakaiannya..


"Bertahanlah!"


Jane mencoba menutupi luka tembak Daniel menggunakan tangannya sendiri, berharap darah dari luka itu akan berhenti mengalir.



"Larilah, aku akan mencegahnya." bisik Daniel.


Jane menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Airmata Jane berderai. Daniel justru tersenyum.


Bahkan dalam keadaan seperti ini pun Daniel masih dapat melontarkan candaan. Tetapi Jane menangis semakin kencang.


"Tidak ada waktu untuk drama!"


Edric berjalan mendekat. Tiba-tiba Daniel mencengkeram pergelangan kaki Edric hingga ia terjengkang.


"Pergi Jane."


"Kau masih saja bertindak seperti pahlawan kesiangan!"


Edric hendak menembak Daniel kembali.


"Bawa aku!!" Seru Jane.


Jane menyerahkan dirinya dan berusaha menghalangi Edric agar tak melukai Daniel lagi.


"Kau beruntung."


Edric menyimpan senjatanya kembali, kemudian ia mencengkram rambut Jane dan menyeretnya menuju ke mobil. Jane memekik kesakitan. Kulit kepalanya terasa perih seolah Edric mencabut seluruh rambutnya.

__ADS_1


Tak perlu menunggu hingga akhir pekan, sebaiknya Edric segera membawa Jane ke pendeta untuk melangsungkan ikrar pernikahan sebelum muncul gangguan lain.


"Bersihkan noda darah yang mengotori tanganmu itu."


Edric melemparkan sapu tangan ke arah Jane. Entah Edric akan membawanya kemana lebih baik Jane menurutinya. Semoga Daniel Wynford masih dapat bertahan dan menyelamatkan dirinya sendiri.


***


Beberapa menit setelah Edric membawa Jane pergi, dengan susah payah Daniel mengambil telepon genggam miliknya di saku celana. Matanya mulai berkunang-kunang karena ia mengeluarkan banyak darah. Daniel tak mengira bahwa Edric dapat berbuat nekad hingga mencelakainya seperti ini.


"Mom, Edric telah kabur membawa tawanan."


"S14l! Jadi temanmu itu memang benar-benar menjadi gila!"


Ibu Daniel, Rene Wynford, tak segan-segan mengumpat untuk para penjahat yang berulah. Hari ini ia meminta ijin berpatroli di jalanan bersama teman sejawatnya karena permintaan putranya.


"Plat nomor Edric adalah EH-428, lalu tolong kirimkan aku ambulans.."


"Kau terluka?!!"


Rene Wynford setengah berteriak karena terkejut. Teman di sebelahnya pun langsung memutar kedua bola matanya.


"Begitulah, tapi aku masih dapat bertahan, aku akan mengirimkan lokasiku.."


"Setelah urusan ini selesai, ku pastikan kau tidak akan bisa kabur dariku Daniel Wynford!"


"Maaf telah merepotkanmu kalau begitu selamat bekerja Mom.."


"Hei! Tunggu anak nak~"


Daniel segera mematikan teleponnya. Ia tidak mau ibunya semakin khawatir karena mendengar nafasnya mulai tersengal-sengal. Sudah dapat di pastikan Ibunya akan marah besar nanti.


Di dalam keremangan lampu yang menyala Daniel tersenyum tipis membayangkan reaksi Rene Wynford. Bagaimana ibunya akan mengomel tiada henti. Dan sangat di sayangkan kemungkinan setelah ini hubungannya dengan Edric tak akan pernah bisa kembali seperti semula.


Kelopak mata Daniel semakin berat. Kesadarannya mulai menurun. Samar-samar ia dapat mendengar suara sirine ambulan kian mendekat.


Bantuan telah datang.


Tim medis mendapati Daniel Wynford telah pingsan karena mengeluarkan banyak darah. Mereka segera memasang selang oksigen.


"Dia terkena luka tembak!"


"Kita harus segera mengeluarkan pelurunya!"


Daniel pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1



__ADS_2