
Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit mereka sudah sampai tujuan, karena apartemen Jane terletak tidak jauh dari tempat nya bekerja.
Apartemen yang sederhana namun nyaman untuk ditinggali. Kamar Jane berada di lantai dua dan menghadap ke arah jalan. Di depan balkon terdapat berbagai tanaman hias yang cantik.
Biasanya Jane suka duduk menghadap jendela melihat orang berlalu lalang sambil menikmati secangkir teh atau kopi.
"Ups, maaf sedikit berantakan karena ahkir-ahkir ini aku sangat sibuk jadi tak sempat membereskan ruangan.."
"Haha ciri khas Jane ya.."
"Aku mandi dulu, jika kau ingin minum ambillah di dalam kulkas.."
"Okay.."
Vivian merebahkan tubuhnya diatas sofa. Pikiran nya jauh berkelana..
Edric, kau ada dimana sekarang? Kenapa belum membalas pesanku sedari tadi..
Tak bisakah ia sekedar membaca pesan dari Vivian. Kecemasan Vivian kian menjadi ketika mengingat apa yang dilihat nya sewaktu berbelanja di Mall. Edric berjalan bersama wanita lain.
Apakhkah Edric berselingkuh?
Hanya membayangkannya saja langsung membuat Vivian merasa mual.
Tidak. Tidak mungkin. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja, mereka hanya melalui pertengkaran kecil. Setelah itu pun Vivian dan Edric kembali mesra.
TAK!!
Suara pintu kamar mandi di buka menandakan Jane sudah selesai mandi. Bau wangi sabun mulai tercium. Vivian segera memasang senyum di wajahnya.
"Sudah siap menghabiskan kue ini?"
"Aku ambilkan piring dan garpu dessert dulu.."
Jane berjalan menuju pantri mengambil apa yang ia butuhkan. Lalu mereka duduk bersama di ruang tengah.
Seperti waktu remaja, Jane dan Vivian akan berkumpul di salah satu rumah mereka secara bergantian. Mereka akan menggosipkan teman sekelas hingga saling bercerita tentang masalah percintaan.
Sekarang yang berbeda hanyalah status Vivian yang telah menikah.
"Kue ini enak sekali, terimakasih sudah membelikannya untukku.."
"Dari dulu kau memang suka makan makanan manis ya, kukira seleramu sudah berubah.."
"Aku tetaplah Jane Ainsley yang kau kenal.."
"Apakah Jane yang ini juga diam-diam sudah memiliki pacar tanpa sepengetahuan ku?"
"Jangan samakan aku denganmu yang tiba-tiba menikah tanpa bercerita terlebih dahulu!"
"Itu cerita lain, kau tahu sendiri pernikahan ini awal mulanya karena perjodohan.."
"Membicarakan tentang pernikahan, Apa kau tidak berencana memiliki seorang anak?"
Seketika Vivian terdiam mendengar pertanyaan dari Jane.
Anak?
Bahkan Vivian belum pernah memikirkan hingga kesana. Tiba-tiba dibenaknya terbersit sebuah bayangan ia sedang menimang seorang anak. Anaknya bersama Edric Harisson.
Kira-kira nanti lebih mirip siapa?
__ADS_1
Wajah Vivian merona. Jane langsung menggodanya.
"Hahaha pasti kau sedang membayangkannya, kau manis sekali Vivian!"
Tebakan Jane benar adanya.
"Mungkin pulang nanti aku akan membicarakan nya bersama Edric.."
"Aku tidak sabar menggendong anakmu yang lucu.."
"Seharusnya itu perkataan ibuku.."
Mereka pun tertawa bersama.
Malam semakin larut, pada ahkirnya Vivian berpamitan untuk pulang. Ia meminta Mike untuk menjemput nya.
Sesampai nya di rumah, lampu teras masih padam menandakan Edric belum pulang dari kantor. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Untuk kesekian kalinya Vivian melihat ke arah layar ponsel. Dan masih belum ada jawaban dari suaminya.
Vivian berniat mengirim pesan lagi.
Vivian Kaelee : Masih belum selesai? Jam berapa kau akan pulang kerumah?
Pesan terkirim.
Vivian melempar ponselnya ke atas ranjang. Mungkin dengan mandi akan menyegarkan kembali pikiran nya.
Beberapa menit berlalu, saat Vivian keluar dari kamar mandi ia mendengar suara televisi menyala. Vivian segera melangkah keluar dan memeriksa ruang santai. Edric sudah berada di sana tengah duduk di atas sofa.
"Kapan kau sampai?"
"Baru saja. Sesuai janjiku aku membawakan kue kesukaanmu.."
"Selarut ini?"
"Mengapa kau tak membalas pesanku.."
"Aku tidak sempat dan sedang fokus pada pekerjaan.."
Vivian merasa kesal mendengar jawaban dari Edric. Bagaimana pun dia adalah istri nya. Wajar kan jika ia ingin sedikit di perhatikan? Bukan di nomor duakan oleh pekerjaan.
"Hari Jumat lalu aku melihatmu berjalan dengan wanita lain di Mall.."
Vivian sudah tidak dapat membendung kekecewaannya tanpa sadar hal yang tak ingin ia bahas terucap begitu saja.
Raut wajah Edric berubah menjadi dingin. Rahang nya mengeras.
"Kau sedang mencurigaiku?"
"Kumohon Edric, katakan kalau itu bukan kau.."
"Aku tidak habis pikir, aku lelah bekerja siang dan malam dan kau menuduhku selingkuh?"
Jadi itu memang bukan Edric?
Perasaan menyesal mulai menghantui Vivian. Seharusnya ia tak mengatakan nya. Air mata Vivian mengalir membasahi pipinya.
Vivian memeluk Edric erat-erat.
"Maafkan aku Edric, aku tidak bermaksud begitu.."
Edric melepaskan pelukan Vivian.
"Berikan aku waktu untuk sendiri.."
__ADS_1
"Edric maafkan aku.."
Tangis Vivian semakin pecah. Tetapi Edric tidak memperdulikan nya, ia berjalan melewati Vivian.
"Aku akan tidur di kamar tamu.."
Vivian terpaku melihat Edric yang mulai menjauh. Hatinya terasa sakit.
Malam ini Vivian tidur sendiri. Ranjang terasa begitu luas dan dingin. Dengan perlahan Vivian mengelus bagian yang selalu di tiduri Edric. Ia menangis sesenggukan. Sarung bantal nya pun menjadi basah.
"Mengapa aku selalu melakukan kesalahan.."
Vivian meringkuk memeluk dirinya sendiri.
Besok bagaimana ia akan menghadapi Edric?
Apakah Edric akan memaafkannya seperti waktu itu?
Apa yang harus Vivian lakukan untuk dapat menyenangkan Edric kembali?
Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Vivian hingga membuat nya menjadi pusing. Lama-lama Vivian merasa lelah dan ahkirnya ia jatuh tertidur.
***
Mata Vivian menjadi bengkak ketika ia bangun dari tidurnya. Ini karena Vivian menangis semalaman.
Kurang empat puluh lima menit Edric berangkat ke kantor. Vivian bergegas turun dari ranjang lalu segera mencuci mukanya. Urusan mandi nanti saja. Ia harus membuatkan kopi dan sarapan pagi untuk Edric terlebih dahulu.
Vivian menyajikan roti panggang,telur mata sapi dan daging asap. Tidak lupa secangkir kopi tanpa gula kesukaan Edric.
Aneh, waktu semakin siang tapi mengapa Edric belum juga keluar dari kamar dan bersiap-siap untuk berangkat? Apakah ia masih tertidur?
Dengan perlahan Vivian mengetuk pintu kamar tamu.
TOK! TOK!
"Edric waktunya sarapan.."
Tidak ada sahutan.
Mungkin saja Edric sedang mandi?
Vivian menempelkan daun telinganya ke pintu. Ia tak mendengar suara apa pun.
Dengan ragu Vivian membuka pintu kamar.
"Edric maaf aku menganggumu.."
Sepi.
Ternyata tidak ada siapapun di dalam kamar.
Vivian langsung menghambur masuk.
Samar-samar tercium aroma sabun dari kamar mandi. Itu menandakan kamar mandi telah di gunakan. Tetapi Vivian tetap tak menemukan suaminya.
Tubuh Vivian merosot kebawah.
Baru disadari Edric sudah berangkat sejak tadi. Bahkan ia tidak mencoba membangunkan Vivian.
Edric masih marah kepadanya.
"Mengapa aku jadi begitu cengeng.."
__ADS_1
Dan lagi Vivian menangis sendirian.