
Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Jane. Begitu ia memasuki Bar, Edric Harisson telah duduk sendirian di bangku paling ujung menikmati minumannya. Keberuntungan yang tak akan datang kedua kali.
Entah Edric sedang bersedih karena kematian Vivian lalu mencoba menenangkan diri dengan minuman keras. Atau ia sedang merayakan kebebasannya.
Tahan Jane Ainsley! Tahan dirimu! Tarik nafas, keluarkan!
Jangan sampai ia melompat ke arah Edric kemudian langsung mencekiknya hingga mati. Walaupun itu memang keinginan terbesarnya.
Pasang senyuman seperti saat bertemu dengan klien penting.
"Kau tampak seperti baru saja kehilangan seseorang.."
Edric segera menoleh ke sumber suara. Ia menaikkan sebelah alisnya. Seorang wanita cantik yang tak dikenalinya tengah melemparkan senyum kepada Edric.
Jane menempatkan diri di samping Edric tanpa permisi.
"Aku sedang tak ingin di temani oleh siapapun." Jawab Edric dingin.
Kau pikir aku melakukan ini karena tertarik padamu?! Yang benar saja! Aku harus membuang harga diriku saat ini!
Bahkan Edric benar-benar tak mengenali Jane. Sahabat dari istrinya sendiri. Hal itu menjadi pertanyaan besar di kepala Jane. Antara Vivian yang tak pernah menceritakan dirinya kepada Edric? Atau Edric lah yang bersikap tak acuh pada Vivian?
"Aku tak akan lama di sini. Hanya ingin merekomendasikan minuman yang cocok khusus untukmu. Aku sudah memesannya, sebentar lagi akan datang.."
Benar saja tanpa menunggu lama seorang pelayan datang membawa segelas minuman.
"Satu gelas Negroni, silahkan.."
Jane menyodorkan minuman itu ke arah Edric.
"Nah! Cobalah! Minuman khas Itali ini sangat terkenal dengan rasanya yang enak. Aku yakin kau pasti suka.."
"Mengapa kau bertindak semaumu? Bahkan kita tak saling mengenal."
"Sudah kukatakan sejak awal, Karena kau terlihat begitu menyedihkan semenjak datang kemari seperti kehilangan seseorang. Aku ingin sedikit menghiburmu.."
Berani sekali wanita ini! Mungkin ia sudah tahu siapa Edric dan melihat berita di media sosial mengenai kematian istrinya sehingga dapat berbicara seperti itu.
Apakah Edric terlihat begitu menyedihkan? Padahal ia kemari untuk melepas penat dari kejaran para wartawan yang masih berusaha menggali informasi darinya.
"Sekarang aku akan pergi. Minuman itu sudah kubayar. Anggap saja aku mentraktirmu. Selamat menikmati.."
Jane meninggalkan Edric tanpa menoleh lagi. Aturan pertama jangan merayu terlalu berlebihan. Cukup tinggalkan kesan yang mendalam serta misterius. Orang pasti akan penasaran.
Dan Edric Harrison memang menjadi penasaran. Ia melirik gelas yang di berikan wanita tadi.
"Siapa dia?"
Edric pun meraih minuman yang bernama Negroni itu lalu mulai mencicipinya. Sensasi rasa pahit sekaligus manis bercampur menjadi satu dan meninggalkan aroma segar jeruk.
__ADS_1
Yah, Edric akui minuman ini lumayan enak. Tanpa sadar ia sudah menghabiskannya.
"Tidak buruk juga.."
Aneh. Untuk pertama kali Edric tertarik dengan seorang wanita. Ia pun bertanya kepada seorang pelayan untuk mencari tahu.
"Kau kemari!"
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Apa kau mengenal wanita yang barusan memesan minuman Negroni ini?"
"Maaf Tuan. Dia hanya pengunjung biasa seperti yang lain. Saya tak mengenalinya sama sekali.."
"Baiklah. Terimakasih."
"Sama-sama Tuan."
Edric mengetuk-ngetukkan jemari panjangnya di atas meja. Hmm, apakah mereka dapat bertemu lagi nanti?
***
Karena tidak ada pendekatan sama sekali dari Edric, Jane mengira ia telah gagal dalam rencana kemarin. Apakah pria itu berusaha mencarinya? Mungkin Edric menyangka Jane adalah orang aneh.
Di akhir pekan berikutnya Jane datang kembali ke Bar. Ia akan melakukan rencana kedua.
Tanpa di sangka Edric Harisson telah menunggunya. Saat Jane hendak memesan minuman untuk dirinya sendiri, Edric menghampirinya.
Jane menoleh dengan pandangan bingung.
Peraturan kedua ini saatnya bermain tarik ulur. Biasanya pria memiliki ego yang tinggi, apalagi Edric Harisson yang terkenal dengan sikap perfeksionis nya.
Jane akan berpura-pura tidak mengenali Edric seolah lupa atas pertemuan mereka diahkir pekan kemarin.
"Kau tak ingat aku?"
Edric benar-benar terusik dengan sikap Jane. Wanita ini yang mendekatinya terlebih dahulu lalu dia juga yang cepat melupakannya.
Edric sempat berpikiran negatif tentang Jane. Menyamakan dengan wanita lain yang berusaha merayunya sedemikian rupa sampai rela membuang harga dirinya sendiri hanya untuk dapat bersanding di samping nya.
Tetapi nyatanya Jane hanya menganggap Edric sebuah angin lalu. Hal itu membuat Edric semakin ingin menaklukkan Jane.
"Maaf. Banyak orang yang aku temui belakangan ini.."
Jane tersenyum.
Kau telah masuk dalam perangkapku!
"Aku pria yang kau anggap menyedihkan tempo lalu sampai kau mentraktirku segelas Negroni itu.."
"Oh! Ya aku baru ingat.. Sekarang kau terlihat jauh lebih baik.."
__ADS_1
"Berkatmu."
"Benarkah? Kau menyukai minuman ini? Sudah kukatakan rasanya sangat enak kau pasti suka.."
"Sekarang giliranku yang membayar minumanmu jadi aku tidak memiliki hutang budi lagi.."
"Terimakasih.."
"Siapa namamu?"
"Jane Ainsley."
Mereka mulai berkenalan dan berbincang ringan. Entah mengapa, Edric merasa cocok dengan Jane. Dapat dilihat dari cara ia berbicara, Jane wanita yang cerdas. Edric suka itu. Tak sia-sia sepekan ini Edric sering berkunjung ke Bar hanya untuk bertemu kembali dengannya.
Tak terasa waktu terus berjalan. Jane melirik jam tangannya.
"Aku harus pergi. Ada tempat yang akan ku kunjungi.."
"Mau kuantar?"
"Tidak perlu. Aku membawa mobil sendiri.."
"Aku ingin mengajakmu minum bersama lagi di lain waktu."
Jane tampak menimbang. Edric tak suka penolakan.
"Baiklah.."
Kemudian mereka bertukar nomor handphone.
"Sampai jumpa. Senang berkenalan denganmu.."
Begitu Jane jauh dari jangkauan Edric, senyuman di wajahnya langsung menghilang.
Jane tak tahu harus merasa senang atau sedih. Rencananya telah berhasil tetapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa bersalah kepada Vivian.
Maafkan aku Vivian. Caraku memang salah. Tetapi Edric Harisson harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya kepadamu. Semoga kau mengerti.
***
Ahkir-ahkir ini Samantha merasa ada yang berbeda dari Edric. Kekasih rahasianya itu menjadi lebih dingin dari biasanya. Bahkan ketika Samantha mencoba menggodanya, Edric langsung menepis tangannya.
"Aku lelah. Kau pulang saja.."
Apakah Edric sudah bosan dengan Samantha?
Atau ia punya kekasih yang lain?
Itu tidak boleh terjadi. Edric hanya miliknya seorang. Siapa pun wanita yang menjadi pengganggu hubungannya bersama Edric harus segera disingkirkan seperti istrinya.
Yang jadi masalah siapa wanita tak tahu diri itu? Samantha mengigit kuki jarinya yang terawat. Ia harus mencari tahu.
__ADS_1