
Jane segera menghubungi Vivian kembali setelah mendengar pesan suaranya yang terdengar begitu putus asa.
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.."
TUTT!!
"Kumohon angkatlah Vi.."
Namun sia-sia saja, berulang kali Jane berusaha menelepon Vivian, selalu yang menjawab operator.
Ada yang tidak beres.
Jane berganti baju ala kadarnya. Tidak peduli sekarang sudah larut malam, ia harus bertemu Vivian.
Ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil Jane meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Vivian yang di tinggali bersama Edric.
Sesampainya di sana rumah Vivian tampak sepi. Gerbang rumahnya terkunci. Entah penghuninya antara sudah tidur atau sedang pergi. Cukup lama Jane berdiri di luar menunggu ada yang membukakan pintu.
Jane tak patah semangat menelpon ke nomor Vivian. Walaupun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban satu pun. Hingga ponselnya berdering nyaring.
Panggilan masuk dari Johana Kaelee. Firasat buruk Jane kian menjadi, ia sempat ragu untuk mengangkat telepon itu.
"Halo Ma, ada apa?"
"Pulanglah kemari Jane.."
Suara Johana Kaelee terdengar serak seperti sedang menangis.
"Apa yang terjadi Ma?"
"Vivian..Vivian.."
Johana Kaelee tak sanggup melanjutkan perkataannya. Dari seberang telepon ia menangis sesenggukan.
"Baiklah aku segera kesana.."
Jane menutup telepon. Tangannya bergetar hebat. Ia berusaha menepis semua pikiran negatif yang bermunculan.
Ada apa dengan Vivian?
Lagi, Jane memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untunglah tidak terjadi hal hal yang tak diinginkan di tengah perjalanan.
"Ma, aku datang.."
Jane menghambur masuk ke rumah Johana Kaelee. Terlihat tidak ada siapapun.
"Ma?"
"Aku di sini.."
Johana Kaelee muncul dari ruang tengah. Matanya sembab karena menangis.
__ADS_1
"Dimana yang lainnya? Lalu Vivian?"
"Lewis sedang berada di rumah sakit bersama Leon..Lalu Vivian.."
"Ada apa dengan Vivian?"
Pertanyaan ini terulang lagi. Mata Johana Kaelee kembali berkaca-kaca.
"Vivian terjatuh dari atap gedung hotel dan di nyatakan meninggal dunia.."
Jane terpaku, ia seolah tak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Ma, ini bukan waktu nya bercanda seperti itu.."
Jane menyangkal jawaban dari Johana Kaelee. Tetapi Ibu Vivian hanya terdiam, terpancar kesedihan yang mendalam dari raut wajahnya.
Kaki Jane terasa lemas. Ia mendekati Johana Kaelee lalu memeluknya erat-erat dan ikut menangis.
Vivian mengapa kau pergi secepat ini? Banyak hal yang belum kita lakukan bersama. Bagaimana denganku nanti?
***
Memang benar ini adalah jasad Vivian Kaelee. Walaupun darah segar mengalir dari kepalanya hingga menutupi sebagian wajah, Edric dapat memastikan begitu melihat cincin pernikahan yang masih tersemat pada jari manis Vivian yang patah.
"Ini semua karena kau tidak memperhatikan kakakku dengan baik!!"
Leon Kaelee menuding Edric Harrison lalu hendak melayangkan tinju ke mukanya.
"Jaga sikapmu Leon! Ini hanyalah sebuah kecelakaan!!"
"Berhenti! Kau tak berhak berbicara, kalau kau menurut dari awal, tak akan ada kejadian seperti ini!"
Benarkah begitu?
Leon mengepalkan tangan menahan amarah. Tapi sampai ahkir pun ayahnya, Lewis Kaelee lebih mementingkan Edric daripada putrinya sendiri.
Bagaimana bisa anaknya meninggal dengan cara tak wajar, ia masih berusaha menjilat keluarga Harisson.
Seandainya Leon tak mengabaikan firasat buruknya ketika awal pernikahan mereka. Seandainya ia lebih tanggap terhadap perilaku aneh Vivian. Mungkin Kakaknya akan selamat.
Leon pergi tanpa sepatah kata pun. Ia butuh menenangkan diri.
"Maafkan atas sikap putraku. Mungkin ia terlalu sedih dan melampiaskan kepadamu.."
"Aku mengerti."
Polisi masih menyelidiki tempat kejadian perkara. Kematian Vivian Kaelee menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah ia mencoba bunuh diri atau ini memanglah sebuah ketidaksengajaan?
Bukti terkuat mengarah pada kecelakaan. Polisi menemukan bekas jejak kaki Vivian yang terpeleset di lantai yang licin. Dan menurut kesaksian beberapa orang, Vivian tampak tidak ada masalah belakangan ini. Ia baru saja mengunjungi rumah mertua dan kedua orang tuanya.
Satu hal yang menjadi pertanyaan. Mengapa Vivian bisa berada di atas atap gedung hotel? Apa yang ia lakukan?
__ADS_1
Edric telah bersiap untuk menghentikan skandal yang dapat merugikan reputasinya. Dengan alasan menjaga perasaan keluarga yang di tinggalkan, Edric melarang pihak kepolisian untuk mengoptosi mayat Vivian Kaelee. Ia juga akan menyewa pengacara jika kelak di perlukan.
Tinggal menghadapi para awak media yang akan mengorek informasi saat proses pemakaman Vivian esok hari. Sebelum itu Edric bergerak cepat menggugat hotel tempat dimana Vivian terjatuh. Beralaskan bahwa hotel tersebut telah lalai dalam pengawasan serta kurangnya pengamanan.
Inilah sosok asli dari Edric Harisson. Perfeksionis dan mendominan. Siapa yang berani melawannya?
***
Wartawan saling berdesakan meliput proses pemakaman Vivian Kaelee. Beberapa tajuk berita sudah muncul di media.
Meninggalnya Istri Konglomerat Edric Harisson
Vivian Kaelee Terjatuh Dari Atap Hotel Hingga Tewas
Lalainya Pihak Hotel Dalam Pengaman Bangunan
Beberapa kesaksian warga terjatuhnya Vivian Kaelee
Fakta-fakta Kematian dari Vivian Kaelee, Nomor Tiga Sangat Mencengangkan
Dan masih banyak lagi.
Tidak dapat di hitung sudah berapa kali Edric menghela nafas. Sesuai perkiraan dengan kematian Vivian akan membuat dirinya sibuk dan lelah. Ia harus pandai menjawab pertanyaan wartawan yang kadang menjebak.
"Bagaimana tanggapan Tuan mengenai kematian istri Anda?"
"Dia adalah istriku, tentu aku merasa kehilangan atas kepergiannya.."
"Sebelum ini apakah ada pesan terakhir yang dia ucapkan?"
"Perlu saya tekankan, Ini adalah sebuah kecelakaan. Pihak kepolisian sudah membuktikan."
"Mengapa Vivian Kaelee tidak bersama Anda waktu itu?"
Edric memberi isyarat kepada beberapa pengawalannya untuk membukakan jalan.
"Minggir, biarkan dia lewat."
"Tunggu Tuan masih ada pertanyaan lagi?!"
Edric tersenyum dingin. Tidak mengertikah mereka tentang privasi?
Untuk terakhir kalinya Edric melihat jasad Vivian Kaelee yang sudah di rias sebelum di kuburkan. Semua kamera langsung terfokus ke arahnya.
"Beristirahatlah dengan tenang di sana.."
Edric memanjatkan doa sebagai penghormatan terakhir.
Apa kau akan menghantuiku Vivian? Bahkan kita belum berbaikan dengan benar. Apakah sebelum ajal menjemput mu, kau sempat mengutukku?
Semua ini juga bukan keinginan Edric. Andai kakaknya Garrix Harisson masih ada di dunia ini, ia tak perlu mengalami ini semua.
__ADS_1
Kakaknya yang naif namun juga pernah Edric sayangi lebih dari siapapun. Kehidupan mereka akan baik-baik saja hingga saat ini jika Garrix tidak bertindak bodoh waktu itu.
Benak Edric berkelana mengingat masa lalu...