Dendam Jane

Dendam Jane
Keputusan Jane


__ADS_3

Jane melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Entah mengapa hari ini terasa begitu melelahkan. Ia menghela nafas panjang.


Siapa sangka merayu Edric Harisson ternyata semudah ini. Dalam waktu satu bulan pria itu sudah menyatakan perasaannya kepada Jane.


Lihatlah Edric Harisson, sedikit demi sedikit aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapnku! Lalu setelah itu kau akan merasakan sakit yang sama seperti Vivian alami.


Jane bangkit berdiri, mengambil handuk kering dan berjalan menuju kamar mandi.


Ia menghidupkan penghangat air serta memasukan 'bath bomb' ke dalam bak mandi. Percaya atau tidak tempat yang selalu dapat memunculkan inspirasi baru adalah kamar mandi. Maka Jane berendam sambil memikirkan rencana selanjutnya.



Jane benar-benar menimbang tawaran dari Edric. Resiko apa saja yang akan ia hadapi jika Jane menerimanya. Walaupun Jane memang lebih diuntungkan, di sisi lain ia juga harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.


Ini tak ada apa-apanya di banding penderitaan Vivian Kaelee.


Jane memantapkan diri. Lagipula ia juga harus mencari tahu siapa wanita selingkuhan Edric.


Jadi keputusan apa yang akan di ambil Jane nanti?


***


Jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Edric baru saja menyelesaikan pekerjaannya, hari ini ia lembur.


Edric merapikan meja dan bersiap untuk pulang. Begitu sampai di ambang pintu, tiba tiba Samantha menghadangnya lalu mendorong tubuh Edric hingga masuk ke ruangan lagi.


"Apa yang kau lakukan?!"


Edric berusaha melepaskan lengan Samantha yang sudah melekat di pinggangnya. Namun Samantha semakin erat memeluk tubuh Edric.


"Ahkir-ahkir ini sikapmu sangat dingin terhadapku. Aku merindukan mu Edric.."


Samantha menengadah wajahnya untuk melihat wajah Edric. Tak ada senyuman seperti dulu lagi. Mengapa?


"Lepaskan tanganmu!"


"Tidak. Sebelum kau menciumku.."


"Jangan sampai aku bertindak kasar!"


"Lakukanlah jika kau mau.."


Samantha justru menantang. Tindakan yang salah. Edric menghempaskan tubuh Samantha dengan kasar hingga ia terpanting dan hampir membentur daun pintu.


Wajah Samantha terlihat syok.


"Aku sudah memperingatkan mu. "


"Apakah ada wanita lain selain aku?"


"Itu bukan urusan mu."


Dari jawaban Edric dapat dipastikan, tebakan Samantha benar adanya. Apakah ini ahkir dari hubungan mereka?


Tidak boleh begini. Samantha harus menjerat Edric Harisson lagi. Jangan sampai terlepas.

__ADS_1


Wanita Jal4ng! Kalau bertemu kau akan habis di tanganku!


***


Tiga hari terasa singkat untuk Jane tetapi juga terasa lama bagi Edric.


Dan sekarang waktunya telah tiba, Jane harus memberikan jawaban kepada Edric. Mereka sudah membuat janji bertemu di caffe setelah pulang kerja.


Caffe terlihat lengang karena ini hari biasa. Ternyata Edric sudah datang lebih dulu. Ia mengenakan setelan jas bermerek, berbanding terbalik dengan Jane yang hanya memakai kaos berkerah warna putih dan celana denim.


Untung saja Jane sempat berganti sepatu dengan hak tinggi sehingga menampilkan kesan semi formal.


"Sudah menunggu lama?"


"Tidak. Baru saja sampai."


Jane melirik ke arah cangkir kopi yang sudah setengah di minum. Seharusnya ia datang lebih terlambat.


"Mau kupesankan minuman?"


"Tidak langsung saja, aku akan mengatakan jawabanku."


Edric mencondongkan tubuhnya ke depan lalu memandang Jane dengan tatapan serius. Jane membalas tatapannya.


"Maafkan aku Edric, aku tidak bisa.."


Jane menunggu reaksi dari Edric.


"Apa alasanmu menolak.."


"Aku belum selesai bicara. Maksudku aku tidak bisa menolak tawaranmu.."


Hening sesaat.


"Kau sedang mempermainkanku Nona?"


"Sedikit.."


Mereka pun tertawa bersama. Hanya Jane yang berani memperlakukan Edric seperti itu.


"Lihat ! Wajahmu sudah memerah seperti monster yang siap menerkamku.."


"Ya. Aku akan menerkammu nanti sebagai hukuman.."


Ouw! Ancaman yang ambigu.


"Kapan aku dapat mulai bekerja?"


"Secepatnya, aku harus mempersiapkan meja kerjamu dan kau pasti juga harus berberes di kantor milikmu."


"Edric, bolehkah aku menerima pesanan dari pelanggan lamaku?"


"Tentu. Asalkan tidak menganggu pekerjaanmu.."


Hal seperti inilah yang tidak di sukai Jane jika bekerja di bawah perusahaan orang lain, ia harus menuruti peraturan yang ada tidak peduli atasanmu adalah kekasih sendiri. Jane menerima konsekuensinya.

__ADS_1


Langit sudah gelap, mereka telah banyak berbicara tentang berbagai hal. Edric mengantarkan Jane pulang.


Jadi sekarang Jane adalah kekasih Edric Harisson? Apakah nanti ia harus mempersilahkan Edric untuk berkunjung sebentar ke apartemennya?


Tidak. Itu terlalu cepat. Baru saja mereka resmi menjalin hubungan. Ia tidak mau di cap sebagai wanita gampangan. Mungkin Jane akan berinisiatif memberikan ciuman selamat malam, walaupun ia tak ingin melakukan nya. Itu lebih baik.


Mobil pun berhenti melaju, menandakan mereka telah sampai di depan gedung apartemen Jane.


Jane menarik nafas. Nah, ayo Jane lakukan sekarang!


"Terimakasih atas tumpangannya.."


Ia menarik kerah kemeja Edric agar mendekat lalu mengecup singkat bibirnya.


"Selamat malam.."


Ciuman kupu-kupu, bahkan Edric hampir tak merasakannya. Ia menahan tubuh Jane agar tetap berada di dekatnya.


"Itu kurang.."


Edric memperdalam ciumannya. Menyapukan lidah di atas bibir lembut Jane. Ia memiringkan kepalanya dan merengkuh bahu Jane. Mau tak mau Jane membuka mulutnya, membiarkan Edric menjelajah lebih jauh.


Orang lain akan menyangka mereka berciuman dengan penuh gelora. Padahal Jane sangat ingin menjauhkan dirinya dari Edric.


Nafas Edric memburu. G4irahnya telah muncul. Ia ingin melakukan lebih dari ini.


"Jane.."


Dibalik bulu mata yang panjang, tatapan Edric terlihat sayu. Jane cukup paham apa yang diinginkan Edric.


Sial ! Haruskah sekarang?


Bukan Jane, justru Edric yang bertindak terlalu cepat. Bagaimana cara menolak?


Sebuah lampu Blitz mobil berlawanan arah menyorot ke arah mereka. Seorang pemuda melongokan kepalanya dari jendela mobil sambil mengacungkan jari tengah.


"Hei bung! Carilah kamar hotel!"


Temannya yang berada di kursi penumpang ikut mentertawakan. Walaupun Jane merasa malu ia bersyukur dalam hati.


Bocah kurang ajar! Tapi kau juga telah menyelamatkan ku! Untuk kali ini kumaafkan..


Sedangkan Edric menatap tajam pada plat mobil pemuda itu. Ia menghafalkannya. Pemuda yang malang, mereka semua tak tahu sedang berurusan dengan siapa. Di kemudian hari mereka tak akan bisa tertawa serampangan seperti tadi.


Jane memeluk Edric untuk meredakan emosinya.


"Sudahlah, biarkan saja. Segera pulang kau pasti lelah.."


Edric hanya mengangguk karena ia masih marah.


"Sampai jumpa.."


Jane melambaikan tangan. Mobil Edric menghilang di pertigaan.


Fiuh! Mungkin kali ini Jane dapat menghindar, tapi tidak untuk lain waktu.

__ADS_1


__ADS_2