
Episode ini mengandung konten dewasa. Diperuntukkan untuk umur 18 tahun keatas. Pembaca mohon bijak dalam menyikapinya.
Jane hampir lupa mengenai Edric Harisson. Tanpa sadar ia telah mengabaikan kekasihnya karena terlalu fokus pada pekerjaan.
Edric berjalan mendekat menutup jarak diantara mereka.
"Tuan Edric Harisson.."
Jane memastikan keadaan sekitar apakah ada orang yang melihat mereka berdua. Saat ini Jane tak mau rumor buruk terhadap dirinya semakin merebak. Untunglah sebagian karyawan sudah pulang, sehingga kantor sedikit sepi. Tapi Jane tetap harus waspada.
Jane menuntun Edric masuk ke dalam ruangan.
"Mengapa kau membawaku kemari?Ini sudah waktunya pulang, aku akan mengantarmu."
"Aku pernah mengatakan, ada hal yang harus kita bicarakan mengenai hubungan kita.."
Edric menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban dari Jane.
"Sebaiknya kita menyembunyikan hubungan ini dari orang lain.."
Tiba-tiba Edric memperangkap tubuh Jane ke dinding, seolah lengan kokohnya tidak memperbolehkan ia keluar.
"Kau malu terlihat bersamaku?"
Tersirat nada tersinggung dari suara bariton Edric.
Siapapun yang berpacaran dengan Edric Harisson dengan senang hati akan memamerkannya kepada publik. Tapi tidak dengan Jane, ia justru merasa dirugikan.
"Bukan begitu.."
"Lalu apa?"
"Mengertilah Edric, selain kau pemilik perusahaan ini kau juga terkenal sebagai publik figur. Aku tak mau kehidupan pribadiku di usik oleh paparazi lalu dijadikan pembicaraan khalayak umum.."
Yah setidaknya Jane memberikan alasan yang masuk akal. Namun yang sebenarnya Jane takutkan adalah keluarga Kaelee mengetahui bahwa ia dekat dengan Edric.
"Aku bisa membungkam mereka semua jika ada yang berani mengusikmu.."
"Edric please.."
Edric tampak menimbang permintaan dari Jane.
"Aku akan menurutimu.."
"Benarkah?"
"Tentu ini tidak gratis.."
Apalagi yang dia mau??
"Luangkan waktumu minggu depan untukku.."
Merepotkan saja. Jane harus mengatur ulang jam kerja serta waktu istirahatnya kembali. Kemungkinan besar ia akan sering tidur larut malam.
__ADS_1
"Itu hal yang mudah.."
"Ada lagi.."
Jane menelengkan kepalanya. Sudut bibir Edric terangkat.
"Cium aku."
Kata-kata yang dapat membuat Jane merinding. Tetapi Jane harus melakukannya. Jane sedikit berjinjit untuk menyamai tinggi Edric.
Ciumannya segera di sambut. Edric semakin menekan tubuh Jane ke dinding. Cukup lama Edric m3lum4t bibir Jane hingga kehabisan nafas.
"Mmm, Edric.."
Edric tak ingin menyudahinya, justru ia semakin bersemangat. Entahlah Jane seperti kokain. Sangat membuatnya kecanduan. Tangan kanan Edric mulai menyingkap rok yang dikenakan Jane.
Siall!! Jika tahu seperti ini, seharusnya aku memakai celana panjang saja! Aku harus segera menghentikan Edric!
"Edric, kita masih di kantor.."
"Kita lanjutkan di apartemenku.."
Oh Tuhan! Apakah hari ini waktunya? Sampai kapanpun Jane tak akan pernah siap jika bercint4 dengan Edric. Tapi Jane tak bisa terus menghindar. Edric akan mencurigainya.
"Baiklah, kau keluar terlebih dahulu menuju Basement, aku akan menyusul.."
Sebenarnya Edric tidak suka dengan permintaan Jane, tetapi untuk menyenangkan wanitanya terpaksa ia menyetujuinya. Apa yang harus di takutkan jika berhubungan dengan Edric?
BRAKK!
Jane menutup pintu mobil.
"Ayo jalan.."
Mobil Edric pun mulai melaju.
"Apa kau mengalami kesulitan mengenai pekerjaanmu?"
"Tidak. Aku justru banyak belajar.."
Belajar bersabar salah satunya..
Jane tidak akan menceritakan masalah rumor yang beredar di kantor serta perlakuan tim Desainer Interior yang mengucilkannya. Tunggu waktu nya tiba Edric akan mengetahui sendiri.
Selama perjalanan Jane berdoa di dalam hati ada hal yang tiba-tiba dapat menghentikan perjalanan mereka ke apartemen Edric seperti waktu itu. Sayangnya itu tidak terjadi. Keberuntungan Jane sudah habis.
Edric membuka pintu apartment menggunakan kunci kartu (cardlock).
"Silahkan masuk.."
Lampu sensor otomatis segera menyala begitu mereka masuk. Wow! Apartment kalangan elit. Ruangannya terlihat luas sangat berbanding terbalik dengan apartmentnya yang minimalis.
Jane sedikit bersyukur, Edric tidak membawanya ke rumah yang pernah ditinggali bersama Vivian. Jika ia ada di sana rasa bersalahnya akan muncul.
__ADS_1
"Mau makan malam terlebih dahulu?"
"Ya, aku lapar.."
Setidaknya ini dapat mengulur waktu. Jane pikir Edric akan memesan makanan di luar. Ternyata ia memasak sendiri!
"Perlu kubantu menyiapkan makan malam?"
"Tidak, kau adalah tamuku. Duduk manis di sana saja.."
Apa yang tidak bisa Edric lakukan? Sejauh ini ia terlihat sangat sempurna. Pantas banyak wanita yang tergila-gila padanya. Sosok Edric dari belakang sedang sibuk memasak dan memotong sayuran terlihat begitu seksi. Punggungnya yang lebar, otot-otot kekarnya yang merenggang setiap melakukan gerakan kecil sangat indah di pandang.
Aroma masakan mulai tercium mengunggah selera makan. Edric membuat stew daging. Ia menyajikan diatas piring lalu menyodorkan ke arah Jane.
"Makanlah selagi hangat. Maaf jika tidak sesuai selera mu.."
Apakah Edric berkata demikian untuk merendah? Rasa masakan nya lumayan enak.
"Aku sudah berhutang makan malam dua kali kepadamu.."
"Kau bisa membayar dengan hal lain.."
Jane menangkap tatapan Edric. Ia seperti singa kelaparan hendak menerkam apa saja yang ada di depannya.
"Bayaran apa yang kau inginkan.."
"Melanjutkan hal yang tertunda tadi.."
Pria ini benar-benar tak sabaran!
Jane meletakan sendok makan di atas meja lalu meraih segelas air putih dan menenggaknya sampai habis. Fiuh! Alangkah baiknya jika ia meminum sebotol anggur.
Jane mulai melepaskan kancing kemeja satu persatu hingga mempertontonkan br4 renda warna hitam yang ia kenakan. Jemarinya mengisyaratkan untuk datang mendekat.
Edric segera meraih pinggang ramping Jane. Miliknya sudah menegang.
"Kau tahu, aku suka br4 yang kau kenakan.." bisik Edric di telinga Jane.
Edric membopong tubuh Jane membawanya ke kamar utama. Jane terlihat sangat cantik berbaring di atas ranjang dengan rambut terurai ke bantal. Tanpa menunggu lama Edric melucuti pakaiannya sendiri dan langsung memperangkap Jane di dalam dekapan nya.
Mereka memulai dengan ciuman panas. Bunyi decapan begitu kentara di kamar yang sunyi. Nafas Edric memburu. Ia menciumi leher jenjang Jane dan mengecapnya setiap jengkal. Tangannya menelusup di balik brA lalu memainkan 'buah kecil' Jane dengan jemari.
Jane mendes4h. Tentu itu des4han palsu. Walaupun sebelumnya Jane sudah meminum pil pencegah kehamilan , ia harus mengingatkan Edric untuk memakai 'pengaman'.
"Edric jangan lupa pakailah k0nd0m.."
Untuk pertama kali seorang Edric Harisson melupakan hal yang sepenting itu. Bersama dengan Jane dunianya seolah mengabur dan hanya terfokus kepadanya. Jane membantu memakaikan pengaman dengan sedikit rangs4ngan.
Edric pun menyingkirkan cel4na d4lam Jane dalam satu tarikan.
"You're mine.."
__ADS_1