
Leon tak tahu bagaimana cara menghibur ibunya yang tampak terpuruk. Di saat Johana Kaelee membutuhkan teman untuk diajak bicara, Jane Ainsley justru menghilang. Nomor teleponnya juga tidak dapat dihubungi sama sekali.
Bahkan saat prosesi pemakaman ulang Vivian di laksanakan, Jane masih tidak terlihat batang hidungnya. Padahal masih banyak pertanyaan di benak Leon untuk Jane. Namun ada satu kiriman karangan bunga tanpa nama untuk Vivian. Mungkinkah dari Jane?
Jane juga tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya. Ia meninggalkan surat pengunduran diri atas meja kantor. Hal itu menimbulkan pertanyaan besar pada teman-teman satu divisinya.
"Aku kira Jane hanya mengambil cuti kerja, ternyata setelah mendengar informasi dari personalia ia mengundurkan diri.."
"Apa kau tahu alasannya? Bahkan aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal.."
"Aku juga tidak tahu. Nomor teleponnya sudah tidak aktif."
Gil Harisson juga tidak akan terlalu peduli apabila salah satu pegawainya ada yang keluar dari perusahaannya. Selain itu ia tidak tahu menahu bahwa sebenarnya penyebab utama kekacauan ini adalah Jane Ainsley.
Daniel Wynford pun bertanya-tanya kemana perginya Jane?
Sudah berulang kali Daniel mengunjungi rumah yang sempat ia tinggali bersama Edric tetapi rumah itu selalu tampak sepi.
Sangat disayangkan, padahal biaya pembangunannya tidak sedikit. Edric benar-benar berusaha memberikan yang terbaik untuk Jane tetapi wanita itu justru menusuknya dari belakang.
Apakah Jane Ainsley sudah merasa puas?
Sekarang Edric Harisson sedang mendekam di penjara atas kasus penggelapan uang dan tanah sengketa. Untuk permasalahan kematian istrinya ia di nyatakan tidak bersalah karena Edric memang tidak membunuhnya. Hanya saja Edric tetap menerima sanksi sosial dari masyarakat.
Apakah Daniel tak akan pernah bertemu dengan Jane lagi?
***
Satu tahun cepat berlalu, sekarang adalah bulan Desember. Hampir seluruh kota tertutup dengan salju putih.
Jane merapatkan jaket dan syal yang ia kenakan. Tangan kanannya menenteng sekantung belanjaan untuk persiapan makan malam. Saat ini Jane tinggal bersama neneknya di pinggiran kota Louisiana yaitu New Orleans.
"Di luar dingin sekali!!"
"Cepat masuk, aku sudah siapkan teh hangat untukmu.."
Setelah insiden peresmian proyek Hotel-Mall, Jane menghilang tanpa jejak. Jane membuang ponsel lamanya ke laut, lalu menjual mobil usangnya pada showroom. Ia hanya membawa beberapa barang yang dianggap penting saja.
Jane juga tidak memberitahukan keberadaannya pada siapa pun. Tidak pula mengabari orang terdekat. Neneknya, Lindsay mengira Jane sedang bosan tinggal di pusat kota kemudian memilih berlibur kemari.
Jane sempat melihat pemberitaan di televisi mengenai Edric Harisson. 'Kekasihnya' itu pada ahkirnya menerima hukuman penjara selama lima tahun. Jane tak kuasa menahan senyuman.
"Kenapa kau tertawa saat melihat berita Jane?"
__ADS_1
"Oh, tidak nek, aku tiba-tiba teringat dengan lelucon temanku.."
Sebenarnya sudah puaskah Jane menyaksikan Edric mengenakan baju tahanan?
Jawabannya adalah tidak. Jane masih ingin melihat Edric menderita lebih dari itu. Tapi ia cukup sadar diri tindakannya sudah merugikan orang lain seperti contoh Chara sekertaris Edric yang baru terpaksa di berhentikan masa kerjanya oleh Gil Harisson karena dianggap lalai.
Jika Jane melanjutkan rencananya, berapa banyak orang lagi yang akan menjadi korban?
Kuharap kau tidak marah kepadaku Vivian, berisitirahat lah dengan tenang di sana..
Berpindah ke New Orleans adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Jane butuh ketenangan batin dan juga ia harus menyegarkan pikirannya kembali.
Di sini Jane melamar pekerjaan menjadi pelayan restoran, walaupun tak sesuai dengan bidang profesinya sebagai desain interior Jane tidak mempersalahkannya. Ini hanya untuk sementara waktu. Jane juga harus mengumpulkan modal dari awal untuk membuka kantor jasa desain kembali.
Sekarang adalah ahkir pekan, restauran tempat Jane bekerja ramai pengunjung. Sepertinya Jane akan pulang malam.
"Jane, giliranmu untuk istirahat.."
"Baiklah.."
Jane melepas apron lalu berjalan menuju ke ruang loker untuk mengambil telepon genggamannya. Sudah ada dua pesan masuk. Pertama dari neneknya Lindsay dan yang kedua dari nomor asing?
Dahi Jane berkerut, di New Orleans Jane hanya memiliki teman kerja saja. Selain itu tak ada. Dan mereka tak mungkin datang bertamu ke rumah karena saat ini masih jam kerja. Lalu siapa?
Jane segera membuka pesan yang berasal dari nomor asing. Tangannya langsung bergetar hebat.
"Hai, Jane apa kabar? Aku sangat merindukanmu..
Nenekmu sangat ramah, ia menjamuku dengan banyak makanan.."
Dibawah pesan itu terdapat foto neneknya bersama dengan seorang lelaki. Walaupun sebagian wajahnya ditutupi, Jane sangat mengenalinya. Edric Harisson.
Jane segera berlari menemui supervisornya.
"Maaf! Bolehkah aku ijin pulang lebih awal?"
"Ada apa Jane? Wajahmu tampak pucat?"
"Nenekku, dia dalam keadaan tidak baik-baik saja!"
Lebih tepatnya nenekku dalam bahaya!
__ADS_1
"Apakah perlu kuantar?"
"Tidak. Terimakasih.."
"Baiklah, hati-hati di jalan! Setelah sampai segera kabari aku, jika perlu bantuan bilang saja!"
Jane mencegah taksi, tapi sialnya karena ini ahkir pekan rata-rata angkutan umum penuh dengan penumpang. Sekiranya selama lima belas menit Jane baru mendapatkan taksi. Ia segera memberitahukan alamat rumah nenek Lindsay dan menyuruh supir taksi mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Selama perjalanan Jane tidak dapat duduk tenang, ia mengigit bibirnya hingga lecet. Bagaimana bisa Edric ada di sini? Bukankah ia masih dalam masa tahanan?
Semoga Edric tidak berbuat macam-macam pada neneknya.
Begitu sampai di rumah, Jane langsung menghambur masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Nafasnya tersengal-sengal.
"Jane, kau sudah pulang, segeralah duduk. Temanmu sudah lama menunggu, mungkin ia bosan mendengar cerita dari nenek tua seperti ku.."
Nenek, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda! Ingin rasanya Jane membawa lari neneknya sejauh mungkin dari Edric.
Tatapan mata Jane langsung tertuju pada Edric Harisson. Mereka saling berpandangan cukup lama.
Benar! Pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu adalah Edric Harisson. Penampilannya sangat berubah. Pipi Edric menjadi lebih tirus. Rambutnya di biarkan sedikit panjang dengan kumis yang belum di cukur. Edric juga tidak memakai setelan jas mahal yang sering ia kenakan. Tubuhnya berbalut dengan jaket Hoodie hitam dan celana jeans belel.
Dan terakhir cara dia tersenyum, entah Jane merasa senyuman Edric menakutkan. Alam bawah sadarnya mengatakan dia pria yang berbahaya saat ini.
"Jane Ainsley! Terahkir aku melihatmu kau masih tetap saja cantik. Dan aku suka."
Tubuh Jane merinding.
"Oh! Rupanya kalian bukan teman biasa.."
"Nek, bisakah tinggalkan kami berdua saja.."
"Oke. Aku mengerti. Masa muda adalah masa yang paling indah, aku jadi merindukan kakekmu.."
Nenek Lindsey berjalan menuju kamarnya. Biarkan neneknya berpikiran seperti itu, yang terpenting ia tidak dalam satu ruangan bersama Edric.
Edric beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati Jane.
"Berhenti!"
"Apakah ini caramu menyambut kekasih yang sudah lama tidak bertemu?"
__ADS_1