Dendam Jane

Dendam Jane
Naluri Tajam


__ADS_3

Suasana di sekitar kolam renang hotel terlihat sepi dengan pencahayaan yang remang-remang. Hanya beberapa lampu hias dari dasar kolam di hidupkan sehingga memberikan efek berkilau pada airnya.



Alunan musik jazz terdengar dari stereo yang terpasang di dinding. Edric melarang siapapun masuk ke dalam area kolam renang kecuali karyawan yang berkepentingan.


Begitu Jane datang, Edric tidak langsung menoleh kearahnya. Ia sedang menikmati satu gelas Negroni, minuman yang dulu di rekomendasi Jane saat pertama kali mereka bertemu.


Entah mungkin hanya perasaan Jane saja, aura Edric tampak berbeda. Terkesan mengintimidasi.


Ada yang salah.


"Kau ingin kupesankan minuman?"


"Aku sedang tidak ingin minum.."


"Lalu apa yang kau inginkan?"


Jane tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang di lontarkan Edric. Ia memilih untuk diam. Edric meletakkan gelasnya secara kasar hingga menimbulkan bunyi.


TUK!!


Dengan satu kali langkah lebar Edric mendekati Jane.


"Berdanslah denganku."


Dalam sehari sudah ada dua orang pria yang menawarinya berdansa. Tanpa menunggu persetujuan dari Jane terlebih dahulu, Edric langsung meraih tubuhnya.


Edric mencengkram pinggul Jane agar tubuh mereka tetap melekat erat. Ia seperti sedang menari dengan sebuah boneka tali. Edric mengarahkan semua gerakan dansa seolah tidak memperbolehkan Jane menari mengikuti alunan musik dengan sendirinya.


Jika saja Jane tidak pergi ke taman, Edric akan mengajaknya berdansa saat pesta tengah berlangsung. Sudah menjadi tradisi di acara ulang tahun perusahaan Edric bebas memilih wanita untuk diajak berdansa. Hal itu untuk memeriahkan suasana. Kapan lagi karyawan biasa berdansa dengan direktur utama. Orang-orang tidak akan tahu bahwa Jane dan Edric benar-benar berpacaran.


Siapa orang yang telah ditemui Jane saat berada taman? Bagaimana caranya agar Jane tetap berada disisinya? Rasanya Edric ingin mengurung Jane dengan sangkar yang ia buat sendiri.


"Aku ingin mengenalkanmu kepada orang tuaku."


Tubuh Jane menegang.


"Edric aku belum siap untuk itu.."


"Aku hanya ingin kita makan malam bersama."


Ajakan yang tidak terduga. Pria di hadapannya benar-benar berniat untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius? Siapa yang mengira Edric Harisson orang yang gemar berselingkuh memilih untuk mengikat dirinya pada satu wanita.


"Edric kau tak bisa memaksaku untuk hal itu"


"Mengapa?"


"Seperti kataku tadi, aku perlu mempersiapkan diri.."


"Apakah kau menganggap hubungan kita hanya selibat?"


"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau tampak marah akan sesuatu?"


Mana mungkin Edric mengatakan bahwa ia merasa cemburu hanya karena seutas benang yang kebetulan menempel pada gaun milik Jane. Jika dipikirkan kembali itu memang terdengar konyol.

__ADS_1


"Sudahlah, aku merasa lelah hari ini."


Jane memalingkan wajahnya.


"Aku akan mengantarmu pulang."


Jane mengangguk. Ia malas berdebat. Lagi-lagi mereka hanya diam dalam perjalanan.


***


Jane harus bergerak lebih cepat sebelum hubungannya dengan Edric semakin intens. Mengingat percakapannya waktu itu membuat Jane berpikir seribu kali. Ia akan diperkenalkan dengan kedua orang tua Edric? Pasti Gil Harisson tidak akan tinggal diam karena dialah juga yang mengatur perjodohan bisnis untuk anaknya sendiri.


Hari Minggu pun tiba, Jane mengira Daniel tak akan datang, tapi ternyata pria itu telah menunggunya terlebih dahulu.


Daniel bertanya di dalam hati apakah dulunya Jane adalah seorang model? Walaupun pakaian yang dikenakan Jane terbilang sederhana tapi terlihat sangat pantas ditubuhnya. Andai hubungan mereka tak serumit ini, Daniel akan bersiul menggodanya.


Jane mengenakan topi dan kaos putih polos, di padukan dengan jeans belel yang memperjelas bentuk b0k0n9nya lalu ia memakai sepatu kets dengan warna senada.


"Segera naik ke mobil."


"Kau yang menyetir?"


"Apakah egomu akan terluka jika seorang wanita menyetir untukmu?"


"Tidak."


Daniel pun naik kedalam mobil. Sebenarnya selama ini ia memang tak pernah membiarkan seorang wanita menyetir untuknya selagi Daniel dapat melakukannya sendiri. Tapi Jane sulit di bantah.


Jane menyewa mobil orang lain. Sebisa mungkin ia tidak begitu kentara meninggalkan jejak pribadi.


"Diam dan ikuti saja."


"Oke."


Mobil melaju mengarah ke rumah sakit jiwa Miracel. Begitu sampai Daniel menatap Jane dengan pandangan skeptis. Apa hubungan semua ini dengan Edric? Atau Jane yang memiliki gangguan jiwa? Mungkin kecenderungan Jane yang suka bertingkah mencurigakan termasuk kelainan?


Jane menghampiri meja resepsionis.


"Saya kemari untuk mengunjungi pasien yang bernama Mrs Nolan Merdiez. Tolong tunjukkan kamar rawat inap nya."


Resepsionis itu mengetikkan nama yang disebut Jane. Dahinya berkerut dalam memandang layar komputer.


"Mrs Nolan Merdiez sudah tidak dirawat disini satu tahun yang lalu."


"Apakah anda bisa memberitahukan alamat Mrs Nolan yang sekarang?"


"Apa hubungan Anda dengan Mrs Nolan?"


"Aku kerabat jauhnya."


"Maaf kami tidak dapat memberikan data pribadi pasien kepada orang lain. Anda dapat menghubungi Mrs Nolan secara langsung."


"Tunggu! Tolong lah ini sangat penting! Aku sudah lama kehilangan kontak Mrs Nolan."


"Maaf kami harus bekerja sesuai prosedur."

__ADS_1


Daniel menarik tubuh Jane dari meja resepsionis.


"Kau mencari Mrs Nolan Merdiez?"


Daniel cukup tahu nama itu, nama wanita yang pernah menjadi pembicaraan hangat di perusahaan Harisson.


"Ya seperti yang kau dengar."


"Mengapa kau mencarinya?"


"Aku rasa kau tahu orang itu?"


"Sebenarnya apa kepentinganmu mencari Mrs Nolan? Itu tidak ada hubungannya dengan kau yang diam-diam menggeledahi rumah yang akan kau tinggali sendiri sampai kau tak ingin Edric mengetahui itu??"


"Semua ada hubungannya. Bukankah kau ingin tahu jawabannya?"


Entahlah, siapa yang sedang melantur?Jane Ainsley atau Daniel Wynford. Ia merasa mulai gila.


"Apa yang sedang kau rencanakan untuk Edric Harisson?"


Kata-kata itu bagaikan peluru yang melesat mengenai tepat sasaran. Daniel Wynford benar-benar memiliki naluri yang tajam. Kini Jane dihadapkan pada dua pilihan, menyerah dan membiarkan Daniel mengadukan kepada Edric atau mengajaknya bersekutu?


Pilihan kedua mungkin cukup sulit, karena Edric adalah teman Daniel.


"Mari kita cari tempat lain. Ini bukanlah pembicaraan yang remeh temeh."


***


NB:


Menulis episode kali ini benar-benar menguras emosi. Kenapa?


Bukan karena jalan ceritanya.


Jadi ada hal yang bikin jengkel dengan aplikasi noveltoon (bukan bermaksud menjelekan platform ini)


Seperti biasa saya menulis, jika ada kesibukan saya jeda dulu. Biasanya nih, otomatis tulisan akan tersimpan (jadi draft) kalau keluar aplikasi (bahkan sebelum keluar pun kalau berhenti mengetik akan ada tulisan "menyimpan..").


Awalnya nulis 84 kata. Terus saya lanjut sudah dapat 230. Saya mau buka google cari cari info atau gambar, masuk ke apk noveltoon dan ternyata.... gak nyimpen balik di 84 kata.


Sempat mikir mungkin sinyalku kebetulan jelek. Ya sudah saya ketik lagi toh masih ingat. Dapat nih 406 kata. Setelah keluar lalu mau lanjut lagi, Lahh tetep gak nyimpen balik 84 kata.


Itu gak cuma sekali dua kali sampe empat kali ngetik ulang bahkan sampe 700 an kata hilang harus ngulang lagi (karena ada telpn juga atau bales email) 😭 gak berani keluar kluar aplikasi noveltoon. Kepala ini puyeng mikir/nginget kata-kata tadi udah bagus kok diinget kayak beda sama tadi.


Mungkin pada tanya kenapa gak di salin?


Ya karena awalnya ngira yang bermasalah sinyal, trus ada telpn mendadak.


yang terakhir ini disalin kok 😢


Waktu mau di upload jeng jeng



Ada tulisan analisa data gagal 😢😢😢😢( untung sudah di salin)

__ADS_1


__ADS_2