Dendam Jane

Dendam Jane
Pameran


__ADS_3

"Tidak. Justru rasanya enak.."


Selama ini Edric tak pernah meminum kopi dengan campuran susu. Tapi ini berbeda Jane pandai meracik kopi, bahkan mengalahkan buatan Samantha. Rasa gurih susu bercampur pekatnya kopi hitam sangatlah enak.


"Aku hanya menambahkan susu segar steamed."


Jane memang memiliki alat steamed yang ia beli di pasar bekas bersama Vivian. Salah satu hobi Jane adalah berekspresi pada minuman.


Jane sedang memperhatikan Edric begitu menikmati kopi buatnya. Hampir saja ia memasukan obat tidur estazolam ke dalam minumannya. Jane pernah mengalami gangguan tidur parah, sehingga dokter meresepkan obat itu.


Terlihat sepele, obat itu tidak akan membuat Edric mati keracunan, namun jika digunakan pada waktu dan dosis yang tidak tepat hal itu bisa membahayakan nyawa.


Mungkin lain kali?


Sarapan dilalui dengan tenang. Edric berterima kasih kepada Jane karena telah menjamunya. Ia berharap setiap hari melalui pagi bersama Jane seperti ini lagi.


***


Tidak ada pemecatan pada tim desain interior yang lama. Hanya saja Edric memberikan peringatan keras kepada mereka. Ya setidaknya ini lebih baik daripada harus di pecat. Mereka masih membutuhkan uang.


Rumor pun berganti. Kini ada dua kubu antara memihak Jane atau Samantha. Karyawan yang dulunya memandang sinis ke arah Jane, sekarang memasang senyuman lebar di wajahnya. Mereka pun bersikap sangat ramah dan bersahabat.


Dasar munafik!


Tim desain interior yang lama juga sudah meminta maaf dan mengaku salah kepada Jane kecuali Yael. Ia memiliki caranya sendiri untuk berbaikan.


Setiap pagi Jane selalu dikejutkan dengan adanya satu gelas kopi panas diatas mejanya di sertai dengan sekotak donat atau cookies. Entah siapa yang memberikan. Apakah Edric diam-diam menaruhnya di sini?


Rasa penasarannya semakin menumpuk, maka Jane sengaja datang lebih awal dan memantau dari kejauhan. Ternyata Yael.


"Mengapa kau tak berikan langsung kepadaku?"


Yael terperanjat kaget.


"Mm..itu bukan dari aku. Tapi ibuku."


"Katakan terimakasih kepada Ibumu."


Yael hanya diam dan segera berlalu. Walaupun begitu Jane yakin ia akan menyampaikannya.


Satu masalah selesai. Lalu selanjutnya bagaimana?


Balas dendam terhadap Edric tidak semudah yang ia kira. Lawannya kali ini cukup kuat, Edric terlihat sempurna tanpa cela. Darimana Jane harus memulai selain dengan merayunya?


Ada benarnya kata orang. Jane terlalu percaya diri dan ia sudah terlanjur melangkah jauh. Pikirannya buntu.


Sebenarnya banyak rencana jahat di benak Jane untuk mencelakai Edric tapi idenya itu terlalu berisiko.


Jane mengetik nama perusahaan Harisson di pencarian internet. Selama ini pengembangan proyek Edric selalu berjalan lancar. Apakah Tuhan memang selalu menciptakan jalan yang lurus untuk Edric?


Jane terus mencari hingga ia membaca sepenggal judul artikel yang menarik perhatiannya.


"Ungkapan kekecewaan seorang wanita mengenai pembangunan proyek perusahaan Harisson ternyata memiliki riwayat gangguan kejiwaan"


Artikel itu ditulis sekitar satu setengah tahun yang lalu sehingga tertimbun dengan berita terbaru.

__ADS_1


"Apa ini?"


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Jane segera menutup halaman pencarian internetnya.


"Tuan Edric memanggilmu untuk datang ke ruangannya."


"Baiklah aku segera kesana.."


Pria itu bukan cenayang kan? Atau ia sedang diawasi?


Jane sudah mencari tahu dimana saja letak kamera pengawas pada perusahaan ini yaitu di setiap pintu ruangan untuk akses keluar masuk, sepanjang koridor dan beberapa ruangan penting yang perlu pengawasan ketat.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu hari ini?"


"Hanya tinggal mengoreksinya saja."


"Ikut aku melihat pameran furniture dan barang elektronik."


"Apakah ini termasuk job desk tambahan design interior? Mengapa tidak pergi bersama sekretaris anda atau tim purchasing?"


"Selain kau paham mengenai nilai barang, ini juga permintaan dari atasanmu."


Walaupun terkadang seorang desain interior memang harus meninjau langsung ke pasar, lagi-lagi Edric menggunakan jabatannya.


"Tidak kusangka ternyata anda tipe atasan yang mau terjun langsung ke lapangan."


"Apakah itu pujian atau sindiran?"


Percuma saja Jane meredam rumor di kantor dan berusaha mati-matian menyembunyikan hubungan mereka. Edric justru seolah menunjukkan bahwa mereka berpacaran. Meski beralasan karena tuntutan pekerjaan sekalipun, siapa yang tak akan curiga bila dua orang lawan jenis sering berpergian bersama.


***


Acara pameran terlihat ramai pengunjung. Banyak para pemilik toko furniture dan elektronik mendirikan stand di sana. Bahkan Tammy relasinya dulu juga mengikuti acara itu.



"Hai! Jane kau kemari bersama siapa?"


"Atasanku."


"Edric Harisson?? Kau hebat sekali Jane dapat masuk ke perusahaan sebesar itu. Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia sedang melihat stand barang elektronik.."


"Mengapa kau tidak mendampinginya?"


"Aku sudah meminta izin untuk menemuimu.."


"Bagaimana kau tahu aku ada disini?"


"Di dekat pintu masuk gedung terdapat papan pengumuman yang menampilkan denah pameran beserta nama stand."


"Tunggu sebentar, ada pelanggan ingin bertanya.."

__ADS_1


Tammy sibuk melayani pengunjung.


Tiba-tiba seseorang merangkul bahunya secara tidak sopan. Tanpa menoleh pun Jane tahu siapa pria yang berani bersikap kurang ajar ini.


"Jane lama tak melihatmu! Kau semakin cantik!"


Alex, kepala toko Tammy tidak pernah berubah sama sekali. Jane segera menepis tangannya. Walaupun begitu Alex tetap berada di dekat Jane. Malah terlalu dekat hingga Jane dapat merasakan punggungnya menyentuh bagian tubuh Alex.


"Alex bisakah kau.."


"Menyingkir darinya!"


Oh! Shiitt!!


Semua mata tertuju ke arahnya. Edric Harisson berjalan mendekat dan langsung mendorong tubuh Alex agar menjauh dari Jane.


Berani-beraninya pria tak tahu tata krama ini menyentuh wanita miliknya. Edric menggertakan gigi menahan amarah, dari kejauhan ia sudah melihat bagaimana tangan kotor itu menyentuh tubuh Jane. Sekarang Edric benar-benar ingin memukul pria itu hingga tulang hidungnya bergeser. Kalau perlu ia akan mematahkan pergelangan tangannya sekaligus.


Jane berusaha menenangkan Edric, ia menarik lengannya agar menjauh dari Alex.


"Disini terlalu banyak orang.."


Tammy menjadi panik karena sepertinya Alex membuat kesalahan yang fatal sehingga Edric terlihat begitu marah.


"Ada apa Tuan Edric.."


"Apakah dia karyawan mu?"


"Iya benar.."


"Jika ingin tokomu tetap buka sebaiknya segera keluarkan dia dari kantormu.."


"Hei! Bahkan aku tak melakukan kesalahan apapun."


Dasar bodoh. Jika aku jadi Alex, lebih baik aku menutup mulutku.


Mungkin ini akan menjadi pelajaran untuk Alex agar lebih menjaga sikap kedepanya. Ingat dengan pemuda yang mengendarai mobil sambil mengacungkan jari tengahnya untuk mengolok Edric yang hendak mencium Jane?(episode 24)


Edric telah menghafalkan plat nomor mobil pemuda itu. Sialnya mereka memang tak memiliki surat mengemudi. Mudah saja bagi Edric memberi hukuman kepada mereka. Ia melapor kepada polisi. Surat mobil langsung di sita dan mereka di kenai denda yang cukup tinggi karena dianggap membahayakan orang lain.


Padahal mereka dari keluarga kalangan kebawah. Orang tua mereka bekerja sebagai buruh dengan upah minim di tambah harus membayar denda.


"Pikiran baik-baik perkataanku Nyonya. Mungkin kau bisa meminta bantuanku untuk mencarikan karyawan baru yang lebih berkompeten."


Edric pun beranjak pergi lalu disusul oleh Jane.


"Maafkan aku Tammy.."


Tammy masih tampak bingung kemudian ia menoleh ke arah Alex.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?"


Alex pun berusaha menjelaskan dengan cerita versinya sendiri.


Yeah. Dari kejadian barusan, Jane bersyukur tak akan ada serangga pengganggu lagi. Ternyata berpacaran dengan Edric cukup berguna.

__ADS_1


__ADS_2