
Pukul setengah lima pagi Vivian terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan ia turun dari ranjang agar tidak membangunkan Edric. Lantai terasa dingin. Tetapi Vivian harus menyiapkan sarapan pagi untuk Edric.
Vivian telah menyimpan makanan kemarin malam di dalam lemari pendingin.
Memanaskan makanan adalah hal yang mudah. Cukup masukan ke dalam microwave, tunggu beberapa menit dan jadi, kemudian sajikan di atas piring.
Vivian menggigit kuku jarinya yang terawat.
Bagaimana jika Edric marah lagi karena Vivian menyediakan makanan yang dibeli kemarin?
Sepertinya ia memang harus mengikuti kursus memasak.
Tinggal satu setengah jam lagi alarm Edric akan berbunyi. Sebaiknya Vivian mandi terlebih dahulu.
Tidak buruk juga mandi di pagi hari. Air hangat dari shower cukup membuatnya lebih tenang dan rileks.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Sepasang lengan kokoh melingkari tubuh telanj*ng Vivian.
"Edric, piyamamu jadi basah.."
"Aku tidak peduli.."
Edric mempererat pelukannya lalu menciumi tengkuk Vivian hingga mengeluarkan bunyi decapan.
"Maafkan aku..''
"Seharusnya aku yang meminta maaf telah berbicara kasar padamu."
"Tidak. Aku adalah istri yang buruk.."
"Sudahlah, lupakan itu.."
Edric melepaskan piyamanya. Lagi-lagi Vivian tersipu malu, milik Edric yang sedang bergairah terpampang begitu jelas.
Sadarlah Vivian, dia adalah suamimu, bahkan kau sudah pernah melihat milik Edric sebelumnya..
"Aku ingin melakukan nya disini.."
Vivian menganggukkan kepalanya tanda menyetujui. Edric mengangkat salah satu kaki Vivian agar ia mudah memasukinya. Er*ngan kenikmatan keluar dari bibir Vivian. Edric selalu dapat memuaskannya dengan cara-cara yang tak terduga oleh Vivian.
Dibawah air yang mengalir dari shower mereka bercinta hingga lupa waktu.
***
Sudah tiga puluh menit berlalu sejak Edric berangkat ke kantor, tetapi bibir Vivian masih mengulas senyum bahagia. Untung saja mereka cepat berbaikan.
Edric hampir saja terlambat karena percintaan mereka di kamar mandi tadi. Ia sarapan dengan terburu-buru. Bahkan sempat kebingungan mencari arlojinya yang sering di kenakan.
__ADS_1
Vivian tertawa ringan melihat sisi lain dari suaminya. Edric Harisson yang terkenal sangat perfeksionis di mata publik dapat menampakan sikap bertolak belakang di hadapannya.
Saat Vivian mengantarnya sampai ke depan gerbang. Edric berpamitan serta mencium kening Vivian dengan lembut.
"Akhir pekan nanti aku ingin mengajakmu menonton bioskop di pusat kota.."
"Aku tak sabar untuk menantikan nya.."
"See you my dear.."
Edric melemparkan senyum karismatik nya. Hati Vivian serasa meleleh dibuatnya.
Padahal masih ada hari esok untuk persiapan tetapi sekarang Vivian sibuk memilah pakaian yang akan di kenakan nya nanti. Ia ingin menampilkan yang terbaik di depan Edric.
Cukup lama Vivian berkutat di depan lemari. Seluruh isinya telah di keluarkan. Sebagian bertebaran di lantai lalu sisanya di atas ranjang. Pakaian nya memang terlihat banyak tetapi baginya tak ada satu pun yang cocok.
"Sepertinya aku harus berbelanja beberapa dress keluaran terbaru.."
Sangat di sayangkan Jane Ainsley ahkir-ahkir ini sibuk dengan pekerjaan nya. Jika tidak Vivian berniat mengajaknya jalan jalan sambil meminta saran.
Kalau Jane memiliki waktu senggang lagi, Vivian akan meminta traktir atas proyek yang sedang ia kerjakan.
Pada akhirnya Vivian pergi ke Mall mengunjungi beberapa butik ternama hanya bersama supir pribadi.
***
Vivian melepas lelah di salah satu caffe yang cukup ramai pengunjung. Tumitnya sedikit lecet akibat terlalu lama berkeliling menyambangi setiap butik dan stand yang ada di Mall.
Vivian telah mendaftar kelas kursus memasak secara online lalu mentornya akan mengadakan pertemuan tiga kali dalam seminggu. Semua itu demi menyenangkan Edric Harisson, suaminya. Jika nanti ia sudah mahir memasak, Vivian akan membuat kan makanan kesukaan Edric setiap hari.
"Ah, seandainya Jane juga ada disini pasti akan lebih seru.."
Vivian menghela nafas panjang sambil menikmati segelas Fruity Lemon Squash. Matanya menjelajahi keadaan sekitar.
Mall hari ini tampak lebih ramai, mungkin karena esok sudah ahkir pekan. Banyak orang berbelanja. Dari ujung sebelah kanan terdapat toko parfum yang sedang mengadakan diskon. Lalu di sebelah nya ada toko buku dan peralatan tulis. Edric suka membaca buku, setelah ini Vivian akan mampir kesana.
Kemudian...
Tunggu, tiba-tiba Vivian melihat sekelebat sosok yang begitu ia kenali. Baru saja Vivian memikirkan nya. Yah Edric Harisson suaminya sedang berjalan menuju lift. Dan dia tidak sendiri, melainkan bersama seorang wanita!
Mengapa mereka terlihat begitu akrab bahkan mesra?
Ingin rasanya Vivian segera berlari keluar untuk memastikan, tetapi ia belum membayar pesanannya. Terlebih banyak barang yang sedang ia bawa.
Vivian menggigit bibirnya.
Bukankah Edric sedang bekerja di kantor?
__ADS_1
Atau ia hanya salah melihat?
Haruskah Vivian menelepon Edric sekarang. Namun ia takut mengganggu pekerjaan Edric jika ternyata Vivian salah mengenali orang.
Memang sebaiknya Vivian bertanya langsung ketika Edric sudah pulang ke rumah nanti.
Tetapi malam harinya Vivian terlalu takut untuk sekedar bertanya. Ia hanya memperhatikan suaminya yang tengah duduk di meja makan.
Kali ini Vivian membuatkan Edric makan malam nasi goreng kornet yang sederhana, itu pun hasil dari kelas online tadi sore. Walaupun rasanya tak seenak seperti di restoran, namun tidak buruk juga untuk di sajikan.
"Ada yang ingin kau katakan ? Sedari tadi kau memandangku seolah aku ini alien.. "
Vivian tertawa kecil mendengar candaan Edric.
"Oh, ah tidak.. Aku ingin tahu pendapat mu tentang masakanku.."
Edric mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Hmm lumayan enak.."
"Benarkah?"
"Yah, aku tidak berbohong.."
Seketika hati Vivian yang mulanya merasa gelisah berubah menjadi senang mendengar pujian dari Edric.
Sudahlah, mungkin ia memang salah melihat. Vivian tak ingin memulai pertengkaran lagi. Suasana harmonis seperti ini jauh lebih menyenangkan. Alangkah baiknya tetap dipertahankan.
"Besok kita jadi menonton bioskop kan?"
"Tentu, besok mintalah Mike untuk mengantarmu kesana terlebih dulu ,aku akan langsung menyusulmu begitu jam kantor selesai.."
Edric melanjutkan makan malamnya. Ia menghabiskan nasi goreng buatan Vivian hingga tak bersisa.
"Karena kau sudah memasak, biar aku yang mencuci piring sekarang.."
Edric menyingsingkan lengannya.
"Terimakasih Edric, aku mencintaimu.."
"Tunggu aku di kamar dear.."
Edric mengerlingkan matanya sambil memberi isyarat. Wajah Vivian seketika memerah seperti kepiting rebus menangkap maksud suaminya.
Masalah tadi pun segera terlupakan dengan perlakuan manis dari Edric.
###
__ADS_1
Hai! Saya kembali.. 😊
Masih ada yang mengikuti kah 😅