
"Daniel.." Tanpa sadar Jane meneriakkan namanya.
Tidak hanya Daniel yang langsung melihat ke arah Jane tetapi juga temannya yang lain menatapnya dengan heran. Lily justru tertawa terbahak-bahak menyaksikan spontanitas Jane.
"Ada apa Jane?"
Jane berdiri lalu segera berjalan menghampiri Daniel, wajahnya memerah karena malu.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan.."
Apakah alasan Jane masih terdengar masuk akal? Namun temannya yang lain berusaha menahan kepergian Daniel.
"Kau saja yang pulang Jane. Biarkan dia di sini lebih lama."
"Benar, kami masih ingin mengenal lebih jauh rekan kerjamu ini."
Apa yang mereka katakan?!! Akulah yang membawa Daniel kemari!
Daniel pun beranjak dari tempat duduknya, raut kekecewaan terpancar dari teman-teman Jane.
"Maaf, aku harus mengantarkan Jane. Sekarang dia adalah pasanganku.."
Jane tertawa penuh kemenangan di dalam hati.
Tetaplah berharap teman, Daniel adalah milikku sekarang.
"Lily maaf aku harus pamit.."
"Aku mengerti Jane. Kabari aku tentang perkembangan hubungan kalian.." Lily berbisik menggoda Jane.
Semoga saja Jane belum terlambat. Ia tidak tahu apakah Daniel masih menyimpan perasaan kepadanya? Tetapi Jane juga tak dapat menyatakan rasa sukanya begitu saja.
Jane harus mencari waktu yang tepat. Mungkin dengan mengajaknya berkencan di ahkir pekan?
"Jane..Kau dengar aku.."
Jane berjengit kaget, sejak kapan wajah Daniel sedekat ini. Jane dapat melihat bulu mata Daniel yang lentik.
"Sabuk pengamanmu belum terpasang.."
"Oh! Ah, iya terimakasih telah mengingatkan..."
Mengapa Jane menjadi salah tingkah sendiri. Jane takut Daniel dapat mendengar suara detak jantungnya yang begitu keras. Aneh, ia tak pernah sekalut ini saat bersama dengan Daniel. Tapi kali ini berbeda.
"Jane, sabtu nanti aku ada janji dengan Amber, aku akan pulang lebih awal.."
Amber? Karyawan baru Tammy yang menjabat sebagai kepala outlet. Sejak kapan hubungan mereka menjadi lebih dekat. Jane ingat saat itu Amber pernah meminta nomor Daniel secara pribadi.
Apakah Jane telah kalah langkah? Jane tahu ia tidak berhak melarang Daniel pergi dengan siapapun. Mereka berdua tidak ada hubungan serius. Justru Jane yang telah bersikap egois, ia tidak pernah memberikan kepastian kepada Daniel. Jadi wajar jika Daniel lebih memilih berkencan dengan wanita yang jelas-jelas menyukainya.
"Baiklah, semoga ahkir pekanmu menyenangkan bersama Amber.."
Daniel menyadari nada bicara Jane langsung berubah. Ia menaikan sebelah alisnya. Apakah Jane cemburu?
"Amber hanya mengajakku mengunjungi outletnya. Ia mengatakan akan menunjukkan barang keluaran terbaru dan berniat memberikan diskon.."
Entah mengapa Daniel harus memberikan penjelasan kepada Jane. Dan itu memang cukup membuat Jane bernafas lega. Tapi kelegaannya seketika sirna saat Jane menerima pesan dari Tammy malam harinya.
Tammy: Jane aku ingin memastikannya sekali lagi, kau benar-benar tak memiliki hubungan apapun dengan Daniel kan?
Jane: Memangnya kenapa?
__ADS_1
Tammy : Kemarin Amber bercerita kepadaku bahwa ia akan menyatakan perasaannya pada Daniel ahkir pekan nanti..
Jane langsung menyemburkan air minumnya hingga membasahi sebagian pakaian yang ia kenakan. Untunglah Tammy tidak ada di sini.
S h1 t!
Jane: Benarkah? Aku tak tahu kalau mereka cukup dekat?
Tammy : Yeah, Amber bergerak cepat, setelah mendapat nomor teleponnya, ia selalu mengirim pesan kepada Daniel..
Jane mengigit bibirnya. Daniel tak pernah bercerita mengenai hal itu. Tentu saja, itu adalah urusan pribadi Daniel. Tapi mengapa dadanya terasa sesak. Jane tidak membalas pesan Tammy lagi. Ia justru mengamati kontak Daniel.
Haruskah ia menghubungi Daniel dan mengirim pesan basa-basi seperti yang dilakukan Amber? Lalu apa lagi? Melarangnya untuk tidak pergi di ahkir pekan dan langsung menyatakan perasaannya lewat telepon?
Konyol. Mengapa ia tidak melakukannya sedari dulu?
Pikiran Jane saat ini benar-benar buntu.
***
Seminggu ini Jane menyibukkan dirinya dengan bekerja agar pikirannya teralihkan. Hingga tanpa sadar ahkir pekan datang kembali.
"Kau tidak keberatan jika aku tinggal sekarang?"
Ah! Jane hampir lupa bahwa hari ini adalah janji kencan Daniel bersama Amber. Dilihatnya Daniel sedang mengemas barang miliknya.
"Tenang saja, segeralah pergi, Amber pasti menunggumu.."
Jane mengulas senyum palsu. Tangannya memegang pensil erat-erat.
"Terimakasih Jane, kalau begitu aku pergi dulu, selamat berakhir pekan.."
Jangan pergi kumohon!
Jane kenapa kau membiarkan dia pergi begitu saja?
Seperti yang sudah ia katakan, Jane hanya tak ingin dianggap egois, walaupun Daniel pernah mengatakan suka kepadanya, Jane juga tak berhak menyuruhnya ini dan itu. Tetapi Jane juga sedikit kesal kepada Daniel, jika memang suka kepadanya mengapa ia berpergian dengan wanita lain.
Apanya yang mau menungguku?
Jane malas pulang ke rumah. Pasti di sepanjang jalan banyak para muda-mudi berpasangan sedang menikmati ahkir pekan yang cerah ini. Seandainya Vivian masih hidup...
Tiba-tiba Jane merasa sangat kesepian.
Ayolah Jane, ini bukan waktunya untuk menangis. Mengapa ia menjadi sentimentil seperti ini? Apakah Jane sedang PMS?
"Daniel kau bodoh!"
"Jane.."
Hah! Apa ini? Sekarang Jane benar-benar sudah gila. Ia berhalusinasi mendengar suara Daniel Wynford.
"Kenapa kau terus muncul dan menggangguku!"
"Maaf kalau aku mengganggumu.."
"Eh?"
Jane menoleh ke ambang pintu, ternyata Daniel telah berdiri di sana. Mengapa ia kembali begitu cepat?
"Jane, apakah selama ini aku membuatmu tidak nyaman?"
Jane merutuki tindakannya yang gegabah. Ia berjanji dilain waktu tidak akan mengumpat sembarang.
__ADS_1
"Tidak! Kau salah paham!"
"Kalau kau merasa terganggu denganku, aku akan menjauhimu.."
"Sudah kukatakan kau salah mengira!"
Daniel terdiam. Ia menunggu Jane memberikan penjelasan. Jane menarik nafas dalam-dalam. Apakah ini waktunya untuk menyatakan perasaan?
"Daniel Wynford! Jangan pernah pergi berdua dengan wanita lain selain aku."
Daniel tertegun ia berusaha mencerna kata-kata dari Jane Ainsley.
"Aku merasa cemburu karena aku menyukaimu Daniel Wynford.."
Ahkirnya kata-kata itu keluar dari mulut Jane. Daniel masih berdiri mematung di tempatnya, ia takut salah mengartikan perkataan Jane. Sedangkan Jane sendiri sudah tidak sabar menunggu reaksi darinya, ia pun berjalan mendekat ke arah Daniel.
Kecupan lembut pun mendarat di bibir Daniel. Barulah Daniel tersadar, ia langsung memeluk pinggang ramping Jane dengan posesif.
"Aku tidak sedang bermimpi bukan?"
"Terserah kau menganggap apa.."
"Jane Ainsley, aku sangat menantikan datangnya hari ini.."
Daniel mempererat pelukannya dan menghirup aroma tubuh Jane dalam-dalam. Lalu ia berbisik lembut.
"Asal kau tahu rasa sukaku telah menjadi cinta.."
Daniel merengkuh rahang Jane kemudian menciumnya kembali. Ia meng-hi s ap bibir Jane layaknya permen kesukaan Daniel.
Ciuman mereka semakin intens hingga nafas mereka tersengal-sengal. Daniel seolah tidak ingin melepas pagutannya. Akibatnya bibir Jane menjadi sedikit bengkak.
Di sela-sela ciuman mereka, tiba-tiba Jane melontarkan pertanyaan.
"Mengapa kau kembali kemari, bagaimana dengan Amber?"
Daniel menyeringai lalu tertawa.
"Apa ada yang lucu?"
"Kau benar-benar wanita pencemburu.."
"Cepat jawab saja pertanyaanku!"
"Setiap kau menyebut nama Amber nada bicaramu berubah Jane. Aku sempat berpikir bahwa kau cemburu, tapi aku tak mau terlalu percaya diri pada asumsiku sendiri. Aku kembali karena kupikir lebih baik aku menghabiskan ahkir pekanku bersamamu.."
Daniel membatalkan janjinya dengan Amber. Ia berpikir alangkah baiknya Amber menunjukkan barang keluaran terbaru bersama dengan Jane. Lagipula Daniel ingin menjaga perasaan Jane dengan tidak pergi bersama wanita lain.
Jantung Jane langsung berdesir. Wajahnya bersemu merah. Ia sudah seperti remaja yang baru pertama kali mengenal cinta.
"Aku ingin mengajakmu menemui ibuku.."
"Menemui ibumu?"
"Ya, kali ini aku akan memperkenalkanmu sebagai kekasih bukan rekan kerja lagi.."
Tidak hanya tangannya yang menghangat karena berada di dalam genggaman tangan Daniel yang besar tetapi hati Jane juga merasakan hal serupa.
Ibu, Ayah, Vivian mungkin aku tak akan kesepian lagi. Aku telah menemukan pria yang tepat, bahkan ia rela mengorbankan nyawanya untukku. Semoga kalian dapat melihat kebahagiaanku ini.
~Selesai~
__ADS_1