
"Apakah Anda mengetahui alamat ini?"
Daniel yang baru saja membeli sekotak roti donat dan sedang berjalan pulang menuju ke kantornya kembali tiba-tiba di hentikan oleh seorang wanita berkacamata hitam. Wanita itu menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat.
"Kebetulan aku bekerja di sana, kau bisa mengikuti.."
"Benarkah?!"
Wanita itu melepas kacamatanya, ia memberikan senyuman terbaik. Kapan lagi ia dapat berjalan beriringan bersama dengan pria seseksi Daniel. Siapa sangka Jane ternyata menyembunyikan pria setampan ini.
Begitu sampai wanita itu segera menghambur ke arah Jane.
"Jane! Bagaimana kabarmu?"
Tidak hanya Jane yang terkejut dengan kehadiran teman semasa kuliahnya yang begitu tiba-tiba, Daniel pun mengira bahwa wanita itu adalah seorang pelanggan biasa.
"Lily, mengapa kau bisa ada di sini? seperti yang kau lihat sekarang kabarku baik-baik saja.."
Mereka pun saling berpelukan.
"Aku telah mencarimu kemana-mana, kau pindah apartemen dan mengganti nomor telepon tanpa mengabariku terlebih dahulu, kemudian ada yang memberitahukanku bahwa kau membuka usaha di New Orleans.."
"Mencariku?"
"Ya! Aku dan yang lainnya akan mengadakan reuni, tentu saja kau harus ikut hadir.."
Lily menyodorkan surat undangan reuni. Ia juga meminta nomor telepon Jane.
"Aku akan memasukanmu ke dalam grup alumni nanti.."
"Terimakasih.."
Jane membolak-balik kertas undangan yang ada di tangannya. Reuni universitas di adakan dua minggu kedepan.
"Kau harus datang dan ajak dia serta.."
Lily mengerling ke arah Daniel Wynford. Oh! Jane baru ingat kembali, mengapa tadi Daniel bisa bersama dengan Lily saat datang kemari?
"Apakah kalian saling mengenal?"
"Tidak. Kami bertemu di jalan saat aku menanyakan alamat kantormu.."
"Daniel bukan alumni dari universitas kita.."
__ADS_1
"Jadi nama pria itu Daniel ya, nama yang bagus! Aku yang akan bicara."
Dari dulu Lily memanglah orang yang suka bersikap spontan, rasa percaya dirinya melebihi Jane sendiri. Jane melihat Lily sedang membujuk Daniel untuk datang ke reuni mereka. Entah apa yang di katakan Lily, pada akhirnya Daniel menyetujui ajakan tersebut.
"Lihat! Dia mau datang ke acara reuni! Aku yakin dia akan memeriahkan suasana!"
Jane langsung melemparkan pandangan ke arah Daniel seolah memberi pertanyaan "Mengapa?"
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, perjalanan dari kota New Orleans menuju ke kota Louisiana membutuhkan waktu selama tiga jam. Aku menunggu kedatangan kalian di acara reuni nanti.."
"Hati-hati di jalan, maaf telah merepotkanmu.."
Lily mulai beranjak pergi seraya melambaikan tangannya. Setelah temannya itu tak terlihat lagi barulah Jane angkat bicara.
"Kau bisa menolak bila tak ingin menghadiri acara itu.."
"Aku akan datang karena telah di undang.."
"Daniel.."
"Jane Ainsley aku ingin menjadi pasanganmu di acara itu.."
Daniel menatap Jane dengan intens. Jane pun terdiam. Untuk kedua kalinya Jane melihat Daniel tampak begitu serius.
Sejauh ini mereka selalu bersikap layaknya teman dekat. Daniel tidak pernah melewati batasannya. Ia benar-benar menghargai privasi Jane. Hal itu justru menimbulkan kenyamanan tersendiri bagi Jane Ainsley.
"Bukan begitu.."
"Lalu?"
"Aku hanya sedikit terkejut karena kau tampak begitu serius! Baiklah mari ke acara reuni bersamaku.."
Bagi Daniel jawaban Jane Ainsley adalah sebuah ajakan kencan. Dapat di perkirakan seminggu ini wajahnya akan selalu terlihat senang.
***
"Lihat primadona kita sudah datang!" seru Lily girang.
Serentak beberapa pasang mata melirik ke arah pintu masuk. Jane berjalan beriringan bersama dengan Daniel. Tak dapat dipungkiri, Daniel pun langsung mendapat perhatian dari sebagian wanita yang hadir.
"Siapa pria yang ada di sebelahnya? Apakah pacar Jane Ainsley?"
"Kudengar dia hanya rekan kerja Jane.."
Lily menyeringai mendengar celotehan para teman-temannya. Tebakan Lily benar adanya, Daniel Wynford akan membuat suasana pesta semakin ramai, dengan daya tariknya itu siapa yang tidak akan terpesona?
__ADS_1
Sudah berapa wanita yang berusaha mencari perhatian pria itu. Tetapi Lily juga cukup sadar bahwa mata Daniel hanya terfokus pada Jane seorang.
Hanya saja dari dulu temannya itu selalu mengabaikan perhatian-perhatian dari lelaki yang berusaha mendekatinya.
Yah, Jane Ainsley punya alasan tersendiri. Semasa kuliah Jane cukup populer di kalangan mahasiswa lainnya. Selain Jane memiliki kecantikan alami, ia juga cerdas serta berpendirian kuat. Tak jarang banyak yang berusaha mengakrabkan diri dengan Jane.
Adakalanya Jane justru merasa terganggu dengan perhatian orang-orang di sekitarnya. Jane tidak ingin terlihat terlalu mencolok dan berharap menjalani masa kuliah dengan normal. Ia juga lebih memilih berkencan dengan pria yang biasa saja di bandingkan dengan pria yang sering menunjukkan eksistensi dirinya.
Sungguh aneh, biasanya wanita lain akan memanfaatkan kecantikannya semaksimal mungkin. Tetapi Jane berbeda, itulah mengapa Lily suka berteman dengannya.
"Hei Jane! Selamatkan priamu dari para penjajah itu!" Lily memperingatkan Jane.
Jane terkekeh geli menyaksikan Daniel kebingungan menjawab satu persatu pertanyaan dari temannya yang lain.
"Tunggu sebentar lagi, aku harus mengingat wajahnya yang tampak kesulitan seperti itu.."
"Aku bertanya-tanya, benarkah kalian tidak memiliki perasaan satu sama lain?"
Jane termangu. Kapan terakhir kali Daniel menyatakan perasaannya kepada Jane? Sepertinya sudah cukup lama. Tanpa sadar mereka telah menjalani hubungan tanpa status. Yang jelas Daniel menyukainya, tetapi bagaimana dengan Jane?
Lily dapat membaca situasi. Tampaknya Jane perlu dorongan untuk menyadarkan perasaannya sendiri.
"Kau tahu Jane, dengan hanya melihat sorot mata Daniel, Aku sudah dapat menebak bahwa dia menyukaimu. Tidak, mungkin justru mencintaimu.."
Jane tidak pernah menceritakan perihal hubungannya dengan Daniel kepada siapapun. Tetapi tebakan Lily sangat tepat sasaran.
"Aku tidak tahu, apakah aku juga menyukainya.."
Jane tampak meragu.
"Apa kau tidak keberatan bila perhatiannya yang selama ini hanya ditujukan kepadamu suatu saat akan berpindah pada wanita lain.."
Jane seolah di pukul dengan palu godam seberat seratus ton. Memori tentang Daniel bermunculan di benaknya.
Daniel yang selalu membelikannya kopi di pagi hari.
Daniel yang selalu menyelimutinya ketika ia tertidur di meja.
Daniel yang selalu menyelesaikan pekerjaannya ketika ia terlalu lelah.
Daniel yang tak pernah memaksanya melakukan hal yang tidak di sukai Jane.
Daniel yang dapat membuatnya tertawa dengan tingkah jahilnya.
__ADS_1
Dan masih banyak perhatian-perhatian kecil lainnya yang tak pernah Jane sadari. Jika semua itu menghilang dan beralih kepada wanita lain...
Sial! Kemana saja aku selama ini!