Dendam Jane

Dendam Jane
Rahasia Vivian


__ADS_3

Jane segera memungut foto yang terjatuh dari lembaran buku diary Vivian. Seketika matanya membelalak lebar. Ini adalah foto USG.


Milik siapa?


Jane memeriksa foto itu lebih teliti. Terdapat tulisan :


Ny Vivian Kaelee, 27 thn


Usia kandungan tiga belas minggu


25 Oktober 20xx


Dr Sullivan, Rumah sakit XY


Foto itu diambil tepat pada hari kematian Vivian.


Tunggu?! Pasti Jane salah membaca. Ia membolak-balik kertas foto USG tersebut, tetapi tulisannya tetap tidak berubah.


Jane merogoh laci kembali. Ia menemukan alat testpack dengan indikasi positif.


Vivian hamil?


Benarkah?


Kepada siapa lagi Jane akan bertanya jika orang yang bersangkutan telah tiada? Apakah suami dan keluarganya tahu perihal kehamilan Vivian?


Mengapa Vivian tidak bercerita apa pun kepadanya?


"Maaf Vi, aku telah lancang membaca buku diary mu, aku ingin tahu kebenarannya.."


Jane membuka lembaran buku terakhir ia langsung menemukan kenyataan yang mengejutkan.


Edric Harisson telah berselingkuh...


Jane terus membaca. Vivian menuliskan semua keluh kesahnya di sini mengenai hubungan rumah tangganya bersama Edric. Bagaimana mulanya Vivian mencurigai suaminya hingga mereka bertengkar hebat. Lalu Vivian sengaja menyembunyikan kehamilan nya karena Edric tak menginginkan seorang anak.


Jane menangis lagi, ia dapat merasakan betapa frustasinya Vivian menghadapi masalah yang menimpanya. Dan Vivian berusaha berjuang sendirian.


"Dasar lelaki br3ngsek!!"


Jadi Vivian di kubur bersama dengan janin di dalam kandungannya dan tak ada orang-orang yang mengetahui?


Edric Harisson harus di beri pelajaran. Jane akan menuntutnya karena secara tidak langsung telah membunuh dua nyawa!


Ia harus segera memberitahukan isi buku diary Vivian kepada seluruh keluarga Kaelee. Tetapi langkah Jane seketika terhenti saat sampai di ambang pintu.

__ADS_1


Bisakah Jane menyeret Edric ke dalam penjara hanya dengan satu buku diary ini saja? Jane cukup sadar bukti yang ia punya masih lemah.


Polisi sudah membuktikan kematian Vivian murni karena kecelakaan. Bukan Edric yang mendorong nya. Jika pun ternyata Vivian bunuh diri, hal itu tetap tak dapat menjadikan Edric seorang tersangka apapun alasannya karena korban melakukan itu atas kemauan sendiri.


Salah-salah Jane yang akan di laporkan kembali atas pencemaran nama baik. Yang lebih buruk mereka menganggap buku diary ini hanyalah rekayasa buatan Jane sendiri untuk menjatuhkan Edric Harisson.


Jane juga tak yakin, menunjukkan buku diary milik Vivian kepada Johana Kaelee. Mungkin bisa jadi Ibu Vivian langsung syok dan mengalami serangan jantung.


TOK! TOK!


"Jane? apa kau sudah tidur?"


Itu suara Leon Kaelee. Jane buru-buru memasukan buku diary Vivian beserta foto USG dan alat testpack ke dalam tas.


"Belum. Tunggu sebentar.."


Setelah menghapus bekas air mata barulah Jane membukakan pintu kamar.


"Ada apa Leon?"


"Kau habis menangis?"


Leon melihat mata sembab Jane tampak begitu kentara.


"Umm. Begitulah.."


"Kau tidak perlu berusaha kuat di hadapan kami. Kalau ingin menangis , menangis lah.."


Jane membalas pelukan Leon sambil mengelus punggungnya. Ternyata adik Vivian sudah bertambah dewasa.


"Terimakasih Leon. Kau juga.."


Beberapa menit mereka berpelukan dalam diam. Saling menghibur satu sama lain, ahkirnya Leon angkat bicara.


"Aku menemuimu untuk berpamitan kepadamu Jane.."


"Kau mau pergi lagi?"


"Ya. Aku tak bisa berada disini lebih lama lagi. Hatiku terasa sesak saat melihat ayahku sendiri kemudian aku jadi teringat dengan Vivian."


"Setidaknya tunggu sampai cuaca lebih membaik. Lalu bagaimana dengan ibumu? Ia pasti merasa sedih.."


"Aku perlu memulihkan perasaanku dengan mengunjungi tempat-tempat yang kuinginkan. Sampai aku dapat memaafkan diriku sendiri dan juga ayahku.."


Leon memang menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Vivian. Kakaknya itu telah menggantikan posisinya di bawah kekangan Lewis Kaelee. Namun ia juga tak ingin menjadi Vivian kedua.

__ADS_1


"Kalau kau sudah bertekad dan memutuskan seperti itu aku tak dapat mencegah lagi. Yang perlu kau ingat semua ini bukanlah salah mu Leon.."


Leon tersenyum.


"Jaga dirimu baik-baik Jane. Sampai bertemu di lain waktu.."



(Leon Kaelee)


Jane memandang kepergian Leon. Rasanya ia ingin berteriak bahwa semua ini bukan salahnya melainkan ulah Edric Harrison.


Tangannya mengepal erat-erat.


Tunggu sampai ia mengungkap dan membalas perbuatan Edric Harisson! Walaupun Jane harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia tidak peduli. Demi Vivian dan anaknya di dalam kubur!


***


Masa berkabung telah usai. Jane kembali ke apartemen nya. Tanpa membuang waktu ia menghidupkan laptop dan mulai mencari profil tentang Edric Harisson.


Pebisnis kaya raya atau juga dapat di sebut konglomerat yang memiliki kemampuan luar biasa. Media benar-benar menilai Edric begitu tinggi.


Untung saja Jane tidak bertindak gegabah. Lawan nya begitu kuat. Lalu bagaimana caranya ia dapat menjatuhkan Edric?


Mana mungkin Jane datang dadakan ke kantor Edric dan langsung menuntut serta memakinya sedemikian rupa. Ia bisa dianggap gila.


Jane berpikir keras. Mungkin cara yang benar adalah mendekati Edric dengan perlahan lalu menghancurkannya secara diam-diam. Hanya saja Jane cukup sadar ia hanyalah orang biasa.


Tiba-tiba Jane teringat, ia pernah melihat Edric di parkiran bar bersama seorang wanita. Jadi yang ia lihat waktu itu benar Edric sedang berselingkuh. Jika waktu dapat diputar kembali. Jane pasti akan memecahkan kaca mobil mereka.


Tentu Jane juga akan mencari tahu siapa wanita yang menjadi selingkuhan Edric.


Inilah kuncinya.


Kemungkinan besar Jane dapat menemui Edric di Bar itu lagi. Jane hanya dapat mengandalkan keberuntungannya. Berharap ahkir pekan Edric datang kesana.


Jane mulai memikirkan rencana yang akan ia lakukan ketika bertemu Edric. Apakah Edric akan mengenalinya?


***


Cukup lama Jane mematut diri di depan cermin. Ia tak tahu Edric memiliki tipe wanita seperti apa. Apakah Edric suka wanita dengan perangai lembut? Atau wanita yang santai?


Sudahlah. Yang paling penting Jane menemui Edric terlebih dahulu. Masalah suka atau tidak itu urusan nanti. Jane akan menyesuaikan.


Jane memakai gaun terusan berwarna biru gelap dengan sedikit belahan di kaki. Rambutnya di buat ikal menggantung. Terpaksa ia berdandan demi pria br3ngsek itu agar mendapatkan kesan baik untuk pertama kali.

__ADS_1


Jane sudah berlatih tersenyum. Sentuhan terakhir ia memakai sepatu high heels yang tidak terlalu tinggi dengan warna senada.


Sekarang ia siap berperang.


__ADS_2