Dendam Jane

Dendam Jane
Pengaruh Obat


__ADS_3

Samantha sudah menantikan hal ini. Rencana semula ia ingin menjebak Edric ketika acara ulang tahun perusahaan Harisson tiba. Namun ternyata kesempatan datang lebih cepat. Ia membeli obat per4ngs4ng dari temannya yang bekerja di club malam.


"Maafkan aku Edric, aku hanya ingin memilikimu dengan caraku sendiri.."


Mobil terus berjalan menuju ke rumah Samantha.


"Ini bukan apartemenku!"


Edric menjauhkan diri dari Samantha, tetapi kepalanya semakin berdenyut. Ia pun berpegang pada kusen pintu.


"Sementara beristirahatlah disini sampai kau pulih karena rumahku yang paling dekat jaraknya.."


Samantha membaringkan Edric di atas sofa.


"Cepat nyalakan pendingin ruangannya!"


"Maaf AC di rumahku masih dalam perbaikan."


Edric sudah tidak tahan lagi, ia mulai melepas kemejanya.


"Biar aku bantu melepaskan pakaianmu.."


Samantha hendak melucuti pakaian Edric, sembari memberikan sentuhan sentuhan kecil di atas kulitnya agar semakin ter4ngs4ng.


Lekukan pinggang yang indah berujung pada 'senjata' milik Edric. Samantha sudah memperhitungkan masa suburnya. Jika sekarang mereka berc1nt4, peluang untuk hamil sangatlah besar. Dengan cara mengandung anak biologis dari Edric, Samantha dapat mempertahankan haknya.


Apabila nanti Edric tidak mengakui anaknya, Samantha akan mengajukan banding dengan tes DNA. Ia juga akan memanggil para wartawan untuk konferensi pers. Edric tak akan bisa mengelak lagi karena selama ini ia tak pernah terlibat skandal apa pun.


Kini Samantha melepas pakaiannya sendiri.


"Apa yang kau lakukan?!"


Edric mulai menyadari ada yang salah pada dirinya. Sebisa mungkin ia tetap menjaga kesadaran. Sepertinya Samantha telah mencampurkan sesuatu pada minumannya hingga dapat membuat Edric bertindak impulsif. Gelagat wanita itu juga sangat aneh.


"Edric kau masih menginginkanku bukan?"


Samantha mencoba merayunya kembali. Tapi di benak Edric hanya ada Jane, ia ingin segera bertemu dengan kekasihnya.


Tiba-tiba Edric teringat cerita tentang Samantha yang memanipulasi para karyawan lain untuk menjatuhkan Jane. Apakah sekarang si J4l4ng ini hendak menjeratnya juga?


Begitu tahu niat dari Samantha, dengan sekuat tenaga Edric mendorong tubuh wanita itu ke lantai.


"Berhenti merendahkan dirimu sendiri Samantha!"


Samantha terkejut. Bagaimana mungkin Edric bisa melawan pengaruh obat yang ia berikan? Jika tahu seperti ini ia akan menambah dosisnya lebih tinggi.


"Edric, aku terpaksa melakukan ini.."


"Alasanku tidak memecatmu selama ini adalah karena aku masih menghargai loyalitasmu sebagai karyawanku. Tapi sekarang aku tak perlu berbelas kasihan lagi!"


"Edric jangan keluarkan aku dari perusahaan!Kumohon!!"

__ADS_1


"Salah kan dirimu sendiri!"


Edric memakai kemejanya lagi dengan ala kadarnya lalu berjalan tertatih meninggalkan Samantha yang masih dalam keadaan setengah tel4nj4ng.


Edric terus berjalan dengan langkah terseok-seok. Tanpa menunggu lama, ia segera menghentikan taksi yang lewat karena tak mungkin baginya menyetir dengan keadaan seperti ini. Kemudian ia memberitahukan alamat apartemen Jane kepada supir taksi.


Dengan mata nanar Samantha memandang kepergian orang yang dicintainya. Lalu ia segera meraih telepon genggamnya dan menghubungi nomor seseorang.


"Kali ini siapa orang yang ingin kau cari?"


"Jane Ainsley. Cari dia.."


"Kau sudah tahu kan bayarannya.."


"Berapa pun itu.."


"Setelah ini kirimkan foto orang tersebut.."


TUTT!


Samantha mematikan teleponnya. Mudah saja ia mendapatkan foto Jane karena ia juga memegang sebagian besar dokumen Edric.


Sejak awal, Samantha merasa kehadiran Jane di kehidupan Edric sangat janggal. Wanita itu seolah menyembunyikan sesuatu. Mungkin setelah Samantha menerima informasi dari temannya, ia akan tahu siapa sebenarnya Jane Ainsley.


***


Jane di buat kaget dengan kehadiran Edric yang begitu tiba-tiba. Ia segera mematikan laptop dan juga menyembunyikan buku diary milik Vivian ketempat semula.


"Edric?"


"Jane Ainsley, aku menginginkanmu.."


Edric mendekatkan wajahnya ke arah Jane untuk memperoleh ciuman. Jane segera menahannya.


"Kau mabuk?"


Namun tak tercium bau alkohol sedikit pun dari nafas Edric. Lalu mengapa tingkah lakunya sangat aneh? Matanya pun terlihat sayu serta tak fokus seperti orang yang sedang kerasukan?


"Tubuh ku panas sekali!!"


Edric mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu-satu, termasuk melepaskan sepatu.


Jangan-jangan memang benar kerasukan..Hhiii...


"Tunggu! Kau tak bisa melakukannya di sini!!"


Edric sudah bertelanjang dada, celananya tidak di kancingkan dan hanya menggantung di pinggang dengan keadaan sedikit melorot. Ia pun menoleh ke arah Jane.


"Jane kau cantik sekali. Beri aku ciuman atau aku yang akan memaksamu.."


"Edric kau membuatku takut?!"

__ADS_1


Edric tidak memperdulikan ucapan Jane dan malah menerjangnya. Ini karena obat per4ngs4ng yang di berikan oleh Samantha masih bekerja.


"Edric berhen~ mmh.."


Edric membungkam mulut Jane dengan bibirnya. Jane berusaha mendorong tubuh Edric tapi sia-sia saja, Edric benar-benar tidak memberikan celah sedikitpun. Hingga nafas Jane tersengal-sengal karena kehabisan nafas barulah Edric melepaskannya.


Ada perasaan lega setelah Edric mencium Jane.


"Sepertinya kau dalam keadaan yang tidak baik? mau ku ambilkan air dingin?"


Edric mengangguk karena ia memang membutuhkannya. Tenggorokan Edric terasa kering. Benar saja, begitu Edric menenggak satu botol penuh air putih dingin, tubuhnya mulai membaik, hanya masih sedikit pusing.


"Terimakasih. Sekarang aku tidak apa-apa.."


"Apa yang terjadi denganmu?"


"Ceritanya panjang. Kau tidak akan suka mendengarnya.."


"Ceritakan!"


"Aku sedang tak ingin bertengkar denganmu."


"Terserah kau saja. Jangan ajak aku bicara."


Edric menarik tubuh Jane dan mendudukkannya dia atas pangkuan Edric.


"Well, ini menyangkut Samantha.."


Jane menunggu Edric melanjutkan ceritanya. Edric pun mulai bercerita.


Kini waktunya bermain peran menjadi pacar yang sedang cemburu.


"Aku sudah memperingatkanmu, Samantha wanita yang berbahaya. Ternyata kau tidak mempercayai ku dan lebih memihaknya?"


"Tenang lah, aku berpikir untuk memecatnya."


Keputusan yang baik. Satu penghalang telah disingkirkan tanpa perlu repot turun tangan. Jane pikir Samantha cukup pintar, ternyata ia terlalu dibutakan oleh perasaannya sendiri terhadap Edric.


Selamat tinggal B1tch!


"Kau senang?"


"Sedikit, bagaimana pun juga ia sudah lama bekerja untukmu. Ini bukan karenaku kan?"


Jane berharap masih dapat menyembunyikan wajahnya yang terlihat begitu bahagia.


"Itu kehendakku sendiri."


Tanpa sadar Jane menyeringai, untung saja ia duduk membelakangi Edric.


Kini ia akan lebih leluasa melancarkan tujuannya, Jane berencana akan menjalin pertemanan yang baik dengan sekertaris Edric yang baru nanti.

__ADS_1


__ADS_2