Dendam Jane

Dendam Jane
Penyekapan 2


__ADS_3

Ketika Jane membuka matanya kembali, ia sudah berpindah di atas ranjang dengan kondisi berselimut. Kamarnya pun telah tertata rapi seperti semula. Samar-samar Jane juga mencium aroma masakan yang lezat di sajikan di atas meja.


Apakah Edric yang menyiapkan semua ini? Bahkan Jane tidak menyadari keberadaannya sama sekali.


Rasa lapar mengesampingkan egonya sejenak. Jane menyantap semua makanan yang telah di sajikan oleh Edric dengan lahap karena sejak kemarin sore tak ada satupun makanan yang masuk ke perutnya.


Ia harus makan yang banyak untuk mengumpulkan tenaga agar dapat menghadapi Edric. Setelah ini Jane akan mencari-cari benda yang mungkin dapat di jadikan senjata.


Jane memandang kesela-sela jendela yang terbuka. Langit begitu terang di musim yang dingin. Ia tak tahu saat ini pukul berapa, tak ada jam terpasang atau petunjuk waktu lainnya di dalam kamar.


Apakah Edric akan mengantarkan makanan lagi untuknya?


Edric memang melakukannya. Ia selalu memberikan makanan di jam jam tertentu. Jane bingung, haruskan ia merasa senang karena Edric masih memperhatikannya dan tidak membiarkan Jane mati kelaparan atau ia justru harus merasa tersinggung karena dirinya seperti hewan peliharaan yang dikurung.


"Senang melihatmu menurut dan menghabiskan semua makanan yang kuberikan."


Puji Edric sambil mendekati Jane yang berdiri di ambang jendela. Jane sengaja memalingkan mukanya karena tak mau melihat wajah Edric.


Edric meraih dagu Jane dan langsung di tepis dengan kasar.


"Apa tujuanmu mengurungku di sini?"


Edric menyeringai.


"Kau akan tahu dengan sendirinya nanti.."


Jadi benar, Edric telah merencanakan sesuatu. Jane sempat berpikir bahwa Edric membawanya kemari hanya untuk menghukumnya.


Edric membereskan sisa sisa peralatan makan kemudian ia berjalan keluar dan mengunci pintu kembali.


Tidak. Tidak boleh. Apapun rencana Edric, ia harus menggagalkannya. Jane merogoh saku celananya, kemarin malam ia sengaja mengambil salah satu garpu makan secara diam diam.


Sebaiknya untuk saat ini Jane harus menuruti semua perintah Edric agar kewaspadaannya mengendur. Begitu Edric lengah Jane akan langsung menyerangnya.


Waktu pun terus berjalan Jane berusaha mengamati setiap kebiasaan Edric. Terkadang di siang hari kekasihnya itu pergi entah kemana. Suara deru mobilnya terdengar hingga ke kamar. Sesekali Edric juga menelepon seseorang, sangat di sayangkan Jane tidak dapat mendengarnya dengan jelas.


Apakah Edric masih aktif bekerja dalam perusahaan Harisson? Bukankah ayahnya melarang Edric untuk turun tangan? Jane hanya dapat menerka-nerka tanpa tahu jawaban yang pasti apa yang tengah dikerjakan Edric.


Hari-hari Jane terasa sangat panjang. Entah sudah berapa kali siang berganti malam dan malam berganti pagi.


Rasa bosan dan penat mulai menghantui. Tak ada apapun yang dapat dijadikan penghiburan. Untuk mengalihkan kekosongan terkadang Jane berlama-lama melihat pemandangan dari balik jendela atau ia berbicara sendiri di depan foto Vivian.


"Hai, Vi apa kabarmu di sana?"


Tentu tak ada jawaban sama sekali tetapi Jane tetap melanjutkan ocehannya.

__ADS_1


"Rasanya aku hampir gila! Bolehkah aku melukai suamimu itu?"


Hening, Jane terdiam cukup lama lalu tiba-tiba ia tertawa hambar.


"Hahahaha aku seperti dapat mendengar suara tawamu di sana!"


Jane mentertawakan kekonyolannya sendiri.


Bila terus begini Jane benar-benar akan menjadi gila. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi. Maka malam ini, ketika Edric mengantarkan makanan untuknya Jane akan melakukan perlawanan kepada kekasihnya itu.


***


Jam dinding menunjukan pukul setengah delapan malam saatnya mengantarkan makanan kepada Jane.


Ahkir-ahkir ini kekasihnya itu menjadi lebih penurut dari biasanya. Hal itu justru menimbulkan berbagai pertanyaan di benak Edric. Apakah Jane sedang merencanakan sesuatu atau mungkin ia memang pasrah kepada keadaan?


Berhadapan dengan Jane bagaikan membuka kotak pandora, Ia akan menemui kejutan-kejutan tak terduga.


Ketika Edric membuka pintu, ia tidak mendapati sosok Jane di dalam kamar. Suara gemericik air langsung mengalihkan perhatiannya. Rupanya Jane sedang mandi.


Edric meletakkan makanan di atas meja dengan perlahan, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Terlihat siluet tubuh Jane di bawah pancuran air.


Sudah lama Edric tidak menikmati tubuh itu. Tubuh yang sangat ia damba kehangatannya. Dan sebentar lagi akan menjadi milik Edric seutuhnya.


"Kau kah itu Edric?"


Edric tidak menjawab pertanyaan Jane, tangannya terulur hendak memeluk tubuh kekasihnya itu. Siapa sangka Jane tiba-tiba berbalik dan langsung menyerangnya menggunakan garpu makan.


Edric berkelit, garpu itu justru mengenai bahunya. Ia mengerang kesakitan.


"Apa yang kau lakukan!"


Tak mau kehilangan kesempatan, saat perhatian Edric teralihkan, Jane menyemprotkan shower dengan tekanan tinggi ke arah mukanya. Edric refleks mengjegal kaki Jane.


Genangan air membuat lantai menjadi lebih licin, Jane terpeleset lalu terjatuh. Kepalanya terantuk pinggiran bathtub. Darah segar pun mengalir dari pelipis Jane.



"Cukup bermain-mainnya!" Geram Edric marah.


Jane berusaha bangkit tetapi sepertinya tidak hanya kepalanya yang terluka, kakinya pun ikut terkilir.


"Si4l!!"


Pengelihatan Jane mulai berkunang-kunang. Ia menengadah, Edric masih berdiri di sana tengah memandangnya dengan tatapan dingin. Seolah sedang menunggu detik detik kematian hewan yang di burunya.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, keberanianmu itu justru membawa petaka untukmu sendiri Jane Ainsley."


Saat ini Jane memang tampak begitu menyedihkan, ia menggeliat di lantai dengan keadaan masih tel4nj4ng bulat dan bersimbah darah.


Perlawanannya sia-sia belaka.


"Bersabarlah sedikit, hingga waktunya tiba."


Suara Edric terdengar semakin jauh. Air mulai terasa dingin. Jane tidak sadarkan diri.


***


Lagi-lagi Jane terbangun dengan keadaan sudah berpindah di atas ranjang. Rasa pening yang hebat langsung menyerang kepalanya. Selain mengganti pakaian dengan yang baru, Edric juga telah membalut lukanya dengan perban.


Sudah berapa hari Jane tertidur? Tubuhnya terasa lemas. Jane masih mengingat kejadian waktu itu.


"Kau sudah siuman.."


Terdengar suara orang yang sangat dibencinya. Jane tak menyadari sedari tadi Edric telah duduk di sudut ruangan.


"Waktunya untuk makan.."


Edric meletakkan baki di atas nakas samping ranjang. Tetapi Jane langsung melempar baki tersebut hingga seluruh makanannya jatuh berceceran.


"Lebih baik kau bunuh saja aku Edric Harisson!"


Suara Jane terdengar parau.


Edric membereskan pecahan piring itu. Kemudian ia mengambil makanan lagi dari dapur.


"Aku akan menyuapimu."


"Enyah saja kau!"


"Jane Ainsley jika kau seperti ini terus, terpaksa aku akan menggunakan cara kasar."


"Bukankah kau sudah melakukannya?"


"Baiklah."


Edric langsung menangkup rahang Jane agar mulutnya terbuka lebar lalu ia menyuapinya dengan penuh paksaan. Tak diragukan lagi Edric memang orang yang memiliki masalah kepribadian. Terkadang ia dapat bersikap sangat lembut lalu seketika berubah menjadi pria yang kasar seperti saat ini.


Jane memuntahkan seluruh makanan yang memenuhi mulutnya. Edric pun berhenti menyuapinya.


"Sekarang bertingkahlah sesukamu. Tetapi ketika kau sudah resmi menjadi istriku, kebebasanmu ada ditanganku seutuhnya."

__ADS_1


__ADS_2