Dendam Jane

Dendam Jane
Tamu Tak di Undang


__ADS_3

Dan di sinilah sekarang Jane Ainsley tinggal satu atap bersama Edric Harisson. Tidak dapat di pungkiri mereka sudah seperti sepasang pengantin yang baru saja menikah.


Walaupun mereka tidur di kamar terpisah, Edric kerap kali menyambangi kamar Jane atau pria itu yang membawa Jane ke kamarnya sendiri.


Berbagi kamar mandi, menaruh barang-barang pribadi bersisian, bergantian memasak atau menyiapkan makanan, semua itu sudah menjadi hal yang biasa. Hanya satu yang kurang yaitu ikatan pernikahan yang sesungguhnya.


Lalu tunggu apalagi?


Malam ini hujan turun sangat deras, Edric sedang sibuk mengoreksi laporan keuangan di ruang santai. Jane berinisiatif membuatkan secangkir kopi dan menyiapkan sepiring kudapan.


"Ini untukmu Tuan Edric Harisson.."


Jane menggoda Edric dengan mencium tengkuknya dari belakang.


"Terimakasih.."


Lalu Jane mengambil posisi duduk tepat di belakang Edric sambil merangkulnya.


"Sesibuk apakah Anda, sampai mengabaikanku.."


"Setelah ini aku akan memanjakanmu sampai pagi menjelang.."


Jane terkekeh, ia sengaja mengajak Edric berbincang ringan sambil diam-diam memperhatikan ke arah layar laptop Edric. Ya, tujuan sebenarnya memang itu, mencari tahu kode password laptop maupun telepon genggam Edric.


Jemari Edric mengetik dengan cepat di atas keyboard, sekilas Jane melihat ia menekan angka satu tujuh satu dan dua lalu huruf V dan H. Entah itu benar atau salah Jane akan mencobanya nanti.


Tapi kapan waktu yang tepat untuk melakukannya?


Edric selalu membawa laptopnya kemana pun ia pergi. Kesempatannya hanya saat Edric berada di rumah karena di sinilah ia tidak sepenuhnya menggunakan laptop. Jane harus mencari waktu yang benar-benar tepat.


"Jane Ainsley?"


"Ya?"


"Sekarang kau yang tidak memperhatikanku.."


"Maaf, aku sedang memikirkan menu sarapan untuk besok pagi.."


"Aku saja yang membuatnya. Aku sudah selesai mengoreksi pekerjaan.."


Edric merenggangkan tubuhnya.


"Saatnya untuk tidur.."


"Selamat malam.."


Edric mengecup bibir Jane sebagai ucapan selamat malam.


***


"Jane, dia Daniel Wynford teman kuliahku, dia juga yang membangun rumah ini.."


Jane tersenyum kaku ketika Edric memperkenalkan Daniel Wynford kepadanya. Pria itu datang kemari untuk bertamu sambil membawa dua botol anggur mahal.


"Selamat atas rumah barumu kawan!!"


Daniel tampak ceria serta melemparkan senyum konyol. Sedangkan Jane semakin ingin memukulnya.


"Duduklah dimana pun kau suka..".


Edric mempersilahkan Daniel.

__ADS_1


"Apa kau betah tinggal disini?"


"Dimanapun aku akan betah bila ada kekasihku."


"Kau memang sudah dibutakan oleh cinta bung!"


"Hmm! Aku akan menyiapkan minuman!!"


Tanpa sadar Jane menatap sinis ke arah Daniel seolah hendak membunuhnya.


"Bagaimana kalau kita menikmati anggur yang kubawa ini?"


"Ide bagus! Berikan kepadaku biar aku yang urus."


Daniel menatap skeptis ke arah Jane seolah berkata 'kau tak akan meracuni kami kan'.


Jane hanya memutar kedua bola matanya.


Ketika Jane menyiapkan minuman untuk 'tamu' tersebut, Edric datang menyusul ke dapur. Ia meraih pinggang ramping Jane dari belakang.


"Apakah sebelumnya kau pernah bertemu dengan Daniel?"


Jane menghentikan kegiatannya.


Bahkan aku dan temanmu itu pernah berdansa bersama dan mengunjungi musuh terbesarmu..


"Tidak pernah."


"Tapi kenapa kau tampak tak suka dengan kehadirannya?"


Jane menghela nafas panjang, ekspresi mukanya menunjukan kejengkelan.


"Karena dia telah menganggu waktu kebersamaan kita."


Voila!! Setelah itu Jane dapat mengakses laptop milik Edric.


Tapi Daniel Wynford selalu datang dan mengacau di saat Jane akan melancarkan aksinya. Apakah pria itu sengaja? Bagaimana bisa Jane bersikap biasa saja kepadanya.


Jane menyesal telah bercerita masalah balas dendamnya kepada Daniel. Ingin rasanya ia memukul kepala Daniel sekeras mungkin agar pria itu hilang ingatan.


"Tak perlu khawatir, aku dapat meluangkan waktu untukmu lain kali."


Edric mengigit telinga Jane lalu membalikan tubuhnya agar mereka saling berhadapan.


"Masih ada temanmu di ruang tamu.."


Jane menahan tubuh Edric untuk mendekat ke arahnya, tapi Edric menyingkirkan tangan Jane.


"Sebentar saja.."


Edric memagut bibir Jane dengan rakus, beberapa menit berselang tidak ada tanda-tanda ia ingin melepasnya.


"Apakah masih ada orang disini??"


Tiba-tiba Daniel berteriak dari luar.


"Ternyata benar ucapanmu, dia memang menganggu."


Mereka pun tertawa bersama.


***

__ADS_1


Empat gelas..


Lima gelas..


Enam gelas..


Tujuh setengah..


"Aku tidak tahu kalau anggur yang kubawa ini cukup memabukan.."


"Ya, aku juga mulai merasa pening.."


Jane memegangi dahinya.


BRUK!!


Tubuh Daniel terhuyung kelantai sedangkan Edric sudah tidak sadarkan diri diatas sofa empuk.Dua orang pria telah tumbang di hadapan Jane.


Satu jam yang lalu Jane merubah pikirannya. Ketika ia hendak menyiapkan gelas dan es batu untuk menikmati anggur yang di bawa Daniel Wynford, Jane merogoh kantongnya untuk mengambil obat tidur.


Mengapa tidak sekarang saja ia lakukan?


Maka diam-diam Jane membubuhkan obat tidur yang sudah dihaluskan ke dalam salah satu botol anggur. Kemudian Jane mengajak mereka berdua bermain game tebak kata, siapa yang tidak dapat menjawab mereka harus meminum anggur.


Keuntungan bagi Jane, sejak dulu ia ahli dalam bermain kata. Waktu kuliah, teman-temannya selalu berebut untuk menjadi satu tim dengannya. Dan sekarang jika Jane kalah Edric dengan sikap gentelmannya akan menggantikan ia minum.


Dan inilah hasilnya. Jane melambaikan tangan di depan mata Edric dan Daniel. Tak ada respon. Obat tidur itu telah bekerja sepenuhnya.


Jane tersenyum sambil menari riang.



"Oh! Ini bukan saatnya menari girang!!"


Jane terlalu senang padahal ia hanya memiliki waktu kurang lebih enam sampai tujuh jam hingga efek obat tidur itu habis. Jane segera berjalan menuju kamar Edric.


Darimana ia harus mulai mencari?


Jane melirik ke arah nakas di samping ranjang lalu membukanya satu persatu. Dan langsung ketemu.


Jane pikir Edric akan menyimpannya di tempat yang lebih tersembunyi.


"Oke baiklah! Tenang Jane mereka sedang tertidur lelap dan bermimpi indah.."


Jane mengusap telapak tangannya yang berkeringat. Tindakannya bisa di katakan cukup nekad hingga membuatnya gugup. Tapi ia juga harus bergerak cepat.


Jane menekan tombol power untuk menghidupkan laptop.


Silahkan masukan kode password.


Jane memasukan angka dan huruf yang sempat ia lihat kemarin


1 7 1 2 V H.


Enter.


Kode password salah.


Gambar tanda silang merah menghiasi layar laptop.


"Apa?!!"

__ADS_1


Seharusnya Jane tahu bahwa hal ini tak akan mudah.


__ADS_2