
Sudah cukup mengingat masa lalu, sekarang kembali lagi ke masa kini. Jane masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Edric. Pria itu justru tertawa terbahak-bahak.
Apakah sebelumnya Edric Harisson memang orang yang mudah tertawa lepas seperti ini? Bahkan untuk tersenyum pun seakan sulit di lakukan.
Jane mengamati jalan di balik kaca jendela mobil. Mungkin dengan mengingat jalan yang mereka lalui dapat mempermudah untuk ia kabur nanti. Namun tanpa diingat pun Jane sudah sangat familiar dengan tempat di sekelilingnya.
Ini adalah jalan menuju ke rumah Edric dan Vivian semasa mereka masih menjadi pasangan suami istri. Dahi Jane langsung berkerut dalam-dalam. Mengapa Edric membawanya kemari?
"Tampaknya kau cukup mengenali tempat ini. Bahkan sebelumnya aku tak pernah melihatmu berkunjung kemari.."
Tentu saja, Edric tak sempat bertemu dengannya. Waktu itu Jane pernah datang berkunjung untuk sekedar mengucapkan selamat, tetapi Edric justru tak ada di rumah karena masih sibuk bekerja.
Sorot mata Jane menjadi sedih. Betapa Vivian merasa kesepian hingga memintanya untuk menginap di sana. Jane tidak segera menyadarinya. Andai waktu itu Jane lebih tanggap. Lagi-lagi Jane hanya dapat menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi jika saat itu Edric dan Jane bertemu, mungkin rencana balas dendam Jane tidak akan pernah berhasil karena Edric sudah mengenalinya terlebih dahulu.
Mobil Edric mulai memasuki pekarangan rumah. Tubuh Jane langsung menegang. Alasan Edric membawa kekasihnya kemari adalah karena Vivian sumber kelemahan Jane Ainsley. Apapun yang berhubungan dengan Vivian, Jane akan di hantui perasaan bersalah.
"Selamat datang.."
Edric mempersilahkan Jane masuk ke dalam rumah layaknya tamu kehormatan. Langkah Jane terasa berat, ia seperti sedang berjalan di atas ribuan paku yang terhampar di atas lantai. Samar-samar ingatannya bersama Vivian bermunculan. Tiba-tiba Edric menghentikan langkahnya saat mereka masih berada di ruang tamu.
"Berikan handphonemu kepadaku."
Jane menoleh ke arah Edric sambil melemparkan senyum mengejek.
"Mengapa aku harus melakukannya?"
"Lakukan saja apa yang ku perintahkan Jane Ainsley."
"Kalau aku tidak mau, apa kau akan membunuhku Edric Harisson?"
Edric segera mengambil revolvernya dari dalam kantong jaket kemudian ia menodongkannya tepat ke arah dahi Jane. Sensasi dingin dari moncong besi senjata Edric dapat Jane rasakan. Edric pun mengokang pistolnya.
__ADS_1
CKLAK!
Jane bergeming. Ia balik menatap ke arah Edric seolah sedang menantangnya.
"Tembak aku."
Tanpa ragu jemari Edric menarik pelatuk revolver.
KLIK! KLIK!
Suara selongsong peluru yang kosong menggema di udara memecah ketegangan diantara mereka, sedari awal Edric memang sengaja tak mengisi peluru pada pistolnya.
"Hahahaha! Jane Ainsley berhati-hati lah, terkadang keberanianmu itu yang membawa petaka untukmu sendiri! Aku adalah seorang mantan narapidana. Melakukan tindakan kriminal tak lagi masalah bagiku."
Edric melempar revolvernya ke lantai lalu menerjang tubuh Jane hingga mereka jatuh terjerembab di atas karpet. Jane memberontak tapi kekuatan Edric jauh lebih kuat. Dirasakannya tangan Edric mulai meraba-raba seluruh tubuh Jane.
Edric mengamankan handphone milik Jane serta benda benda yang mungkin dapat di jadikan senjata untuk melukainya.
"Setidaknya biarkan aku menghubungi nenekku sebentar untuk berpamitan!"
"Baiklah. Waktumu hanya lima menit untuk berbicara. Jika kau mengacau, tak segan-segan aku akan bertamu ke rumah nenekmu sendirian."
Perkataan Edric syarat akan ancaman. Mau tak mau Jane harus menuruti semua perkataan Edric. Ia bergegas menekan tombol dial pad. Suara deringan telepon terdengar begitu nyaring. Tanpa menunggu lama nenek Lindsay mengangkat teleponnya.
"Hallo Jane?"
Jane mengigit bibirnya, ingin rasanya ia berteriak kencang menyuruh nenek Lindsay untuk bersembunyi ke tempat yang lebih aman dan memintanya untuk menghubungi polisi. Tetapi Edric tengah mengawasinya. Jane menarik nafas dalam-dalam.
"Nek, aku tidak akan pulang ke sana untuk beberapa hari kedepan. Maafkan aku.."
"Ada apa Jane? Boleh kutahu alasannya?"
"Aku harus kembali ke kota Louisiana, keluarga Kaelee sedang memerlukan bantuanku."
Jane terpaksa berbohong.
__ADS_1
"Tidak apa apa Jane, sampaikan salamku pada keluarga Kaelee. Jika kau ingin kembali kemari, kabari aku.."
"Baik nek, terimakasih."
TUT!
Edric merebut handphone milik Jane dan segera mematikan sambungan telepon.
"Lima menit sudah berlalu. Sekarang ikuti aku."
Edric menuntunnya ke salah satu kamar yang terletak di lantai dua rumah ini. Sesaat Jane ragu untuk melangkah masuk.
"Mengapa berhenti di tengah jalan? Cepat masuk!"
Begitu masuk, mata Jane langsung tertuju pada beberapa foto Vivian Kaelee yang masih terpasang rapi di pigura. Wajah Jane memucat.
"Tolong untuk sekali ini saja, terserah kau ingin berbuat apa nanti, tapi berikan aku kamar yang lain!"
"Tidak. Sekarang, ini akan menjadi kamarmu!"
Dengan kasar Edric mendorong tubuh Jane ke atas ranjang lalu ia segera keluar kamar dan mengunci pintu.
"Edric Harisson! Br3ngs3k buka pintunya!!"
Di balik pintu Edric berkata lirih, namun suaranya masih terdengar jelas menelusup di telinga Jane.
"Kau tahu Jane Ainsley, di kamar itu lah sahabatmu menangis dan merasa terpuruk sendirian.."
Itulah terakhir kali Jane mendengar suara Edric.
Sepanjang malam Jane terus menerus menggedor pintu kamar agar di bukakan Edric. Ia juga berusaha mendobraknya, bahkan melempar kursi ke arah pintu hingga kaki kursinya patah. Jane sendiri tak yakin apakah Edric masih berada di rumah ini. Sebisa mungkin Jane membuat kegaduhan agar Edric ikut terganggu. Ia berteriak sekeras mungkin dan membanting semua barang-barang yang ada di kamar. Tapi tetap tak ada respon dari Edric.
Jane mencari celah untuk kabur, matanya melihat kesekeliling ruangan. Jendela kamar telah terkunci secara permanen, sepertinya baru-baru ini Edric memasang teralis besi. Jadi Edric memang sudah merencanakan semua ini dengan matang?
"Si4lan kau Edric! Apa maumu sebenarnya!!!"
__ADS_1
Jane mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Pada ahkirnya Jane merasa lelah dan tertidur di depan pintu kamar.