Dendam Jane

Dendam Jane
Sandiwara


__ADS_3

Vivian memasang anting mutiara berwarna putih gading di telinganya. Persiapan hampir selesai, tapi yang jadi masalah sekarang ia sedang kesulitan menarik resleting gaun di belakang punggung. Tangannya berusaha menggapai ujung pengait.


Vivian melirik ke arah jam dinding, kurang tiga puluh menit lagi acara sosial akan di mulai. Ia mulai panik.


"Kau sudah selesai?"


Tiba-tiba Edric masuk ke kamar. Untuk sesaat ia tertegun melihat Vivian tampak cantik mengenakan gaun yang Edric berikan.


"Sedikit lagi.."


Vivian ragu untuk meminta pertolongan pada suaminya. Edric pun cukup tanggap melihat kesulitan Vivian.


"Berbalik lah.."


Vivian menurut. Kemudian Edric membantunya menarik resleting gaun. Sesaat jemari Edric mengenai kulit punggung Vivian. Sentuhan ringan itu mampu membuatnya bergelenyar.


Wajah Vivian memerah. Ternyata Ia begitu mendambakan sentuhan dari Edric. Seandainya waktu dapat di putar ulang Vivian ingin merasakan kemesraan dengan Edric seperti dulu.


"Selesai."


"Te.. terimakasih.."


"Segera masuk ke mobil." perintah Edric.


Di dalam mobil tercipta suasana canggung. Mereka hanya diam selama di perjalanan sibuk dengan pikiran masing-masing. Edric fokus menyetir sedangkan Vivian memperhatikan orang yang sedang berjalan.


Acara sosial itu berlangsung di salah satu hotel bintang lima kota Louisiana. Hotel mewah penuh gemerlap dihadiri oleh orang-orang kalangan atas. Tak ada satupun pengunjung berpakaian lusuh di sana.


Sebelum mereka turun dari mobil, Edric menahan lengan Vivian.


"Mainkan peranmu sebagai istri yang baik, jangan bertindak konyol di tengah acara."


Edric memperingatkan Vivian.


"Ya.." Jawab Vivian lirih.


Edric menarik pinggang ramping Vivian agar mendekat kearahnya kemudian meletakkan tangannya di sana. Vivian pun menggandeng lengan kokoh Edric. Mereka berjalan beriringan layaknya pasangan harmonis.


Sandiwara di mulai!


"Selamat datang Tuan Edric Harisson, silahkan lewat sebelah sini.."


Edric menganggukkan kepalanya sambil mengikuti arahan dari Guest service menuju ballroom hotel.


Nuansa kemewahan bangunan hotel begitu kentara. Langit-langit ballroom dihiasi dengan lampu gantung yang indah, cahaya nya berkerlap kerlip seperti bintang malam. Karpet yang lembut dengan ukiran cantik menutupi seluruh lantai ruangan. Meja dan kursi berjajar rapi.



Sudah ada beberapa tamu undangan yang hadir. Mereka langsung memberi salam kepada Edric begitu ia datang. Vivian mencoba tersenyum seramah mungkin.


Semoga senyumannya tidak terlihat kaku.


"Selamat sore Edric, kalian sungguh terlihat serasi.."


"Terimakasih, senang mendengarnya.."


"Kau sudah tau dimana tempat dudukmu?"


"Yah, barisan ketiga dari depan."


"Sangat disayangkan meja kita berjauhan.."

__ADS_1


"Tidak masalah, kita bisa berbicara di luar acara.."


"Kalau begitu selamat menikmati acara sosial nya.."


Fiuh, hanya mendampingi Edric saja, sudah membuat Vivian gugup. Ia bernafas lega ketika menjauh dari kerumunan. Edric memang pintar berbaur dengan orang lain. Pantas ia memiliki banyak relasi.


Ternyata pembagian meja sudah ditentukan. Vivian dan Edric di tempat kan satu meja dengan kedua orang tua mereka. Anggap saja ini seperti acara keluarga.


Begitu melihat Johana Kaelee, Vivian langsung menghambur ke pelukannya. Betapa ia merindukan ibunya.


"Ma, senang berjumpa denganmu.."


"Hai sayang kau terlihat cantik sekali.."


"Terimakasih Ma.."


Kemudian Vivian menyalami kedua orang tua Edric yaitu Gil Harisson dan Anna Harisson.


"Selamat sore Ibu, bagaimana kabarmu?"


"Vivian lama tidak bertemu, kabarku baik baik saja, Mengapa kau tak pernah mampir ke rumah kami?"


"Maaf ibu, aku belum sempat.."


"Sering-seringlah bermain kesana bersama Edric.."


"Jangan mendesaknya Mom."


"Aku hanya ingin lebih dekat dengan menantuku.."


Vivian tersenyum lembut. Andai mereka tahu hubungan nya saat ini dengan Edric telah retak. Apakah mereka akan marah besar?


Lewis Kaelee dan Gil Harisson sedang asyik berbincang sendiri membahas bisnis mereka masing-masing.


"Mengenai rumah tangga kalian, Kapan mau berencana memiliki anak?"


Anna Harisson menatap Vivian penuh harap. Johana Kaelee pun memiliki perasaan yang sama.


"Ya, benar. Aku sudah tidak sabar menimang cucu dari kalian berdua.."


Sesaat Vivian terdiam. Pikiran nya berkecamuk.


Apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan kehamilan nya?


Ini akan menjadi kejutan sekaligus berita gembira bagi mereka.


Mata Vivian berbinar karena menemukan kesempatan.


"Sebenarnya aku.."


Tiba-tiba Edric langsung memotong perkataan Vivian yang belum sempat terselesaikan.


"Sebenarnya kami masih ingin menikmati waktu berdua saja."


Raut kekecewaan terpancar dari kedua orang tua mereka dan juga Vivian. Tanpa sadar ia meremas napkin erat-erat, memilinya hingga tak berbentuk.


"Sangat di sayangkan..Memang pasangan muda masih menggelora.."


Anna Harisson tertawa ringan memaklumi jawaban dari anaknya.


"Tetapi jangan terlalu lama menunda.." imbuh Johana Kaelee.

__ADS_1


"Yes Mam. Jika sudah waktunya kami akan kedokter untuk konsultasi program kehamilan.."


Tanpa perlu bertanya lagi, jawaban dari Edric Harisson sudah sangat jelas. Ia belum menginginkan kehadiran seorang anak di kehidupannya. Vivian semakin tidak berani mengungkapkannya.


Lalu bagaimana dengan janin yang ada diperutnya? Haruskah ia menggugurkannya?


"Vivian kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat?"


Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Rasa mual mulai datang.


"Aku ingin ke kamar mandi. Permisi.."


Vivian setengah berlari menuju ke kamar mandi.


"Hati-hati nak! Perhatikan langkahmu!"


Namun Vivian sudah melesat jauh. Entah ia mendengar nya atau tidak.


" Edric kau tak ingin menyusul istrimu? Seperti nya dia terlihat sakit?"


"Setelah ini, tunggu pembukaan acara selesai."


Dahi Edric sedikit berkerut.


Untung lah di kamar mandi wanita masih terlihat sepi mungkin karena mereka semua sedang mengikuti acara berlangsung sehingga tidak akan ada orang yang mendengar ia sedang muntah.


"Uhuk..uhuk..hoek.."


Entah apakah nanti Vivian dapat menikmati hidangan di acara sosial ini. Semoga saja tidak ada yang sadar dirinya sedang mengandung. Vivian mencari obat anti mual di dalam tas kecilnya.


"Apa anda baik baik saja miss?"


Vivian menoleh ke sumber suara, seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang tampak mengkhawatirkan nya.


"Ya aku baik-baik saja.."


Mengapa Vivian merasa tidak asing dengan wanita di hadapan nya ini? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?


"Maaf , karena tadi aku mendengar anda sedang muntah. Jika perlu bantuan aku siap menolong.."


"Terimakasih atas tawaran nya ,aku masih bisa sendiri.."


"Baiklah kalau begitu saya permisi.."


Wanita itu mengulas senyum lalu beranjak meninggalkan kamar mandi.


Vivian memoleskan lipstik ke bibirnya. Kemudian merias ulang wajahnya agar tidak terlihat pucat. Samar samar ia mendengar orang berbicara dari luar.


"Jaga sikapmu di sini, banyak mata melihat."


Suara Edric?


"Baiklah hari ini aku mengalah, besok kau jadi milikku.."


"Terserah kau."


"Sampai jumpa sayang.."


Vivian segera berlari keluar untuk memastikan.


Wanita yang baru saja menawarkan bantuan kepada Vivian tengah bertukar pandang dengan Edric.

__ADS_1


__ADS_2