Dendam Jane

Dendam Jane
Perselingkuhan


__ADS_3

Kesabaran Edric telah habis.


Perkara di kantor cukup membuat kepala Edric sakit ditambah Vivian menuduhnya sedang selingkuh karena pulang terlambat.


Ck! Wanita benar-benar merepotkan.


"Aku tidak habis pikir, aku lelah bekerja siang dan malam lalu kau menuduhku berselingkuh?"


Barulah Vivian tampak menyesal . Tetapi Edric sudah tidak peduli, ia terlanjur sakit hati dengan ucapan istrinya. Walaupun Vivian meminta maaf sambil menangis, Edric pergi meninggalkan Vivian begitu saja. Ia pun memilih tidur di kamar tamu dibanding sekamar bersama Vivian.


Hari hari berikutnya suasana hati Edric kian memburuk. Ia malas berlama-lama berada di dalam rumah. Edric selalu berangkat lebih pagi dari biasanya saat Vivian masih tertidur. Terkadang Edric juga tidak pulang sama sekali dan tinggal di salah satu apartemen nya.


Samantha cukup tanggap atas perilaku Edric. Bagaimana pun juga permasalahan di kantor sudah dapat teratasi walaupun berjalan lambat. Lalu apa yang membuat Edric selalu berwajah muram dan bersikap tidak bersahabat?


Tentu saja ia memiliki masalah dalam rumah tangganya!


Ini akan menjadi kesempatan emas bagi Samantha untuk mendekati Edric.


"Kopi untukmu Tuan Edric.."


Samantha menyajikan secangkir kopi berserta kudapan ringan tanpa di minta. Edric hanya melirik dari balik meja kerjanya.


"Apakah Anda memerlukan bantuan yang lain?"


"Tidak."


"Belakangan ini Anda tampak tidak baik-baik saja, Sepertinya Anda butuh sedikit liburan?"


Jika harus memilih, Edric lebih baik mengalihkan pikiran dengan pekerjaan daripada pergi berlibur keluar kota.


"Atau mungkin setelah pulang bekerja ada tempat yang ingin anda kunjungi? Aku bisa menemani Anda.."


Perkataan Samantha begitu lembut namum membujuk. Yah, sudah lama Edric tidak mampir ke Bar favoritnya. Terakhir ia kesana setelah kematian Garrix Harisson. Mungkin minuman keras dapat membantu memperbaiki suasana hatinya.


"Tepat pukul 5, di Basement."


Jawaban yang singkat tapi cukup membuat Samantha girang. Ia seperti di beri lampu hijau.


"Baik Tuan."


Begitu jam kantor telah usai, Samantha segera merias diri. Ia menebalkan warna lipstiknya kembali. Ternyata Edric telah menunggunya di dalam mobil.


"Cepat naik."


Samantha bertekad hari ini ia harus mendapatkan Edric bagaimana pun caranya.


Bar tampak lebih ramai dari biasanya walaupun ini merupakan hari biasa. Ada beberapa orang yang mereservasi sebagian meja.


"Tequila.."

__ADS_1


Edric langsung memesan minuman begitu mendapat tempat duduk.


"Tempat yang nyaman dan mewah. Apa kau sering kemari?"


"Jika aku ingin."


"Ajak aku lagi lain waktu.."


Edric hanya diam. Samantha harus bersabar.


Selama satu setengah jam Samantha yang lebih banyak bercerita. Edric hanya menikmati minuman yang ia pesan. Tanpa sadar Edric sudah menghabiskan beberapa gelas hingga membuatnya mabuk. Ia hendak menelpon supir pribadinya.


"Mau menelpon siapa?"


"Supirku."


"Aku bisa menyetir mobil dan mengantarmu pulang."


"Kau tidak mabuk?"


"Aku hanya minum satu gelas."


Edric tampak menimbang.


"Akan lebih cepat jika aku yang mengantar, daripada harus menunggu supirmu kemari. Kebetulan rumah kita satu arah.."


"Aku akan membantumu berjalan.."


Samantha memapah Edric. Tubuh mereka saling menempel. Samar-samar Samantha dapat mencium aroma parfum milik Edric. Orang dapat mengira Samantha dan Edric adalah sepasang kekasih yang sedang berangkulan.


"Kenakan sabuk pengaman.."


Samantha memastikan sabuk pengaman yang dikenakan Edric terpasang dengan benar. Wajah mereka pun berdekatan.


Samantha sudah tidak dapat menahan diri lagi. Ia meraih wajah Edric agar lebih dekat kemudian menciumnya. Samantha kira ia akan menerima penolakan dari Edric. Tetapi Edric justru membalas ciumannya.


"Maafkan aku telah bersikap lancang. Aku hanya ingin menghiburmu.."


"Lakukan lah.."


Edric butuh pelampiasan. Bagaimana pun juga Ia adalah lelaki yang memiliki hasr4t lalu ada wanita dengan sukarela menawarkan.


Samantha memagut bibir Edric kembali. Mereka seolah berbagi nafas.


"Mau mampir ke rumahku terlebih dahulu?"


"Ya, terserah.."


Samantha tidak sabar menyambut Edric di atas ranjangnya. Sekilas ia memperhatikan spion, ada wanita yang sedang berlari mengejar mobilnya. Tetapi Samantha tak begitu peduli, mungkin saja itu orang aneh. Yang terpenting mereka segera sampai ke rumah.

__ADS_1


Begitu membuka pintu, Edric langsung mendorong tubuh Samantha ke atas sofa.


"Kunci dulu pintunya.."


Selagi Samantha mengunci pintu, Edric memasang kond0m. Ia tak mau mengambil resiko memiliki anak di luar nikah.


Dan sejak hari itu Edric mulai berselingkuh dengan Samantha. Mereka bercint4 dengan hebat. Bagi Samantha Edric sangat perkas4. Tak henti-hentinya ia berteriak karena nikmat yang diberikan Edric.


Betapa Tuhan menciptakan Edric dengan sempurna. Dari fisik, kecerdasan hingga kemampuan s3ksnya seperti tidak ada cela.


Samantha tak ingin melepaskan Edric begitu saja. Walaupun ia pria yang sudah menikah sekalipun. Sebagai peringatan kecil Samantha meninggalkan tanda ciuman di dada bidang Edric agar istrinya melihat.


Apa yang diharapkan Samantha pun benar terjadi. Akibat bekas lipstik yang menempel di tubuh Edric cukup membuat pasangan suami istri itu bertengkar hebat.


Hari-hari berikutnya Edric lebih sering berkunjung ke rumah Samantha untuk bercint4. Terkadang mereka memesan hotel.


Samantha merasa selangkah lebih maju di banding Vivian. Sangat di sayangkan Edric menyuruhnya menyembunyikan hubungan terlarang mereka kepada orang lain. Terutama di kantor.


Samantha akan menunggu sampai Edric dan Vivian berpisah. Mungkin barulah ia akan di akui di depan publik.


Lagi-lagi seolah Tuhan mendengar doanya, mereka benar-benar berpisah untuk selamanya. Vivian Kaelee mati secara konyol. Samantha menyeringai. Kini saatnya mengambil alih tempat mendiang istri Edric.


***


Kembali di masa sekarang..


Upacara pemakaman berlangsung dengan khidmat. Sebenarnya Jane ingin menyampaikan rasa berbelasungkawa kepada Edric Harisson atas meninggalnya Vivian. Tapi ia mengurungkan niat tersebut. Karena Edric sedang dikerumuni banyak wartawan.


Mungkin lain kali?


Jane belum pernah berkenalan dan berbicara secara langsung dengan Edric. Padahal dia adalah suami sahabatnya sendiri. Sangat lucu bukan?


Untuk beberapa hari kedepan, Jane akan tinggal di rumah Johana dan Lewis Kaelee sampai masa berkabung selesai. Jane akan menghibur ibu Vivian yang tampak terpuruk.


Ia sudah meminta izin untuk tidur di kamar Vivian yang dulu sambil mengenang masa lalu.


Dulu sebelum Jane memilih hidup mandiri, ia pernah tinggal di sini. Terkadang Jane juga berbagi kamar bersama Vivian.


"Vi, mengapa kau pergi secepat ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Andai waktu itu aku segera mengangkat telepon mu. Kau tak akan..."


Jane pun mulai menangis mengingat sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri.


Jane menelusuri kamar Vivian. Masih tampak seperti dulu. Kamar yang di dominasi warna ungu, warna kesukaan Vivian.


Apakah Vivian juga masih suka menyimpan buku diary nya di ruang tersembunyi yang ada di dalam laci?


Jane menekan tombol pengait. Ia langsung tersenyum kecil. Ternyata benar, buku diary Vivian ada di sana. Jane mengambil nya.


Sebuah foto terjatuh ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2