
Jane berusaha bersikap tenang. Ia tidak mau menimbulkan kegaduhan hingga menarik perhatian neneknya. Sambil masih menjaga jarak aman ia angkat bicara.
"Sebaiknya kita mencari tempat lain untuk berbicara.."
Edric menyeringai. Ia memasukan kedua tangannya kedalam kantong jaket. Hal itu justru menimbulkan pikiran negatif untuk Jane. Apakah Edric sedang menyembunyikan senjata di dalam sana?
"Kenapa? Apa kau takut aku akan melukai nenekmu?"
DEG!
Jantung Jane terasa berhenti berdetak untuk sesaat. Edric mengetahui isi pikirannya. Jane kehabisan kata-kata.
Edric terkekeh.
Lihat mata ketakutan wanita yang dicintainya itu! Justru memunculkan g4ir4h Edric. Sudah lama ia tidak merasakan gelenyar aneh pada dirinya. Mungkin Edric memang merindukan Jane.
Tangan Edric sudah tidak sabar untuk menyentuhnya. Edric menutup jarak diantara mereka kemudian merengkuh wajah kekasihnya itu.
Tubuh Jane tersentak kaget, tanpa sadar ia mundur ke belakang. Tapi Edric segera menahannya. Ia mencengkram pinggul Jane erat-erat agar tetap melekat pada tubuhnya.
"Tenanglah sayang, jika kau menurut aku tidak akan melukaimu maupun nenekmu.."
Suara Edric terdengar parau di telinga Jane. Sedetik kemudian Edric mencium bibir Jane dengan penuh penekanan. Ia seolah tak ingin melepaskannya hingga Jane kehabisan nafas.
Begitu Edric memberi jeda agar ia dapat menghirup udara, Jane langsung menyeka mulutnya untuk menghilangkan rasa jijik.
"Apa maumu Edric! Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Kemana pun kau pergi, aku akan selalu dapat menemukanmu Jane Ainsley. Karena kau adalah milikku."
"Yang benar saja, hubungan kita sudah berakhir!"
Sorot mata Edric berubah menjadi dingin. Edric mendorong tubuh Jane ke dinding dengan kasar lalu jemari panjangnya mencekik leher Jane.
"Jangan pernah katakan itu lagi. Aku sudah memaafkanmu walaupun kau telah membuat hidupku sengsara."
"Uhuk!Uhuk!!"
Jane langsung terbatuk ketika Edric melepaskan cekikannya. Paru-parunya seperti terbakar karena kekurangan oksigen. Matanya pun ikut berair
"Jane kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Jangan keluar nek, kumohon tetap di dalam kamar!
"A..aku baik-baik saja, hanya tersedak minuman.."
"Hmm.. berhati-hatilah.."
Nenek Lindsay merasa ada yang janggal. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Entah sepertinya ia juga pernah melihat wajah Edric di suatu tempat. Apakah Nenek Lindsay harus menghubungi polisi?
"Nenek.."
Sebuah kebetulan tiba-tiba cucunya memanggil, hal itu bisa dijadikan kesempatan untuk melihat keadaan. Maka nenek Lindsay berjalan keluar menuju keruang tamu.
Terlihat Edric dan Jane berdiri berdampingan, tangan Edric yang satu merangkul pinggang Jane untuk menutup revolver yang sedang ia genggam.
"Aku akan pergi bersamanya.."
Sedapat mungkin Jane bersikap normal dan tidak menunjukkan raut muka ketakutan agar neneknya tidak khawatir.
"Mengapa begitu terburu-buru, makan malamlah di sini terlebih dahulu.."
Ck! Nenek tua ini benar-benar menghalangi! Edric mengeratkan pegangannya. Keringat dingin menetes di pelipis Jane, ia takut bila Edric menarik pelatuknya.
"Ya sudah, jangan pulang terlalu larut malam.."
Jane sendiri tak yakin apakah ia dapat kembali pulang ke rumah neneknya dengan selamat?
"Ya.."
Jane hanya dapat menjawab lirih. Setidaknya Nenek Lindsay akan aman bila mereka pergi. Edric menuntun Jane masuk ke dalam mobilnya.
Tidak, lebih tepatnya menggiring secara paksa.
Kira-kira Edric akan membawanya kemana? Apakah Jane masih bisa selamat bila ia melompat keluar ke jalanan lalu berteriak meminta tolong pada yang lainnya?
"Coba kutebak, pasti kau sedang berpikir untuk melompat dari mobil. Benar begitu bukan Jane Ainsley?"
Ternyata Edric tengah mengamati Jane dari kaca spion dengan sorot mata yang tajam seolah dapat menembus tengkoraknya.
__ADS_1
Jane tahu idenya tadi sangat konyol. Tentu Edric pasti sudah mengunci pintu mobil. Dan jika ia nekat lompat ke jalanan yang ramai, tubuhnya bisa saja cedera parah. Kepanikan membuat otaknya menjadi tumpul.
Percuma melawan Edric saat ini, lebih baik Jane mengikuti apa yang ia mau. Sekarang Jane sudah dapat mengendalikan ketakutannya.
Jane mengambil nafas dalam-dalam, kemudian ia melontarkan pertanyaan kepada Edric.
"Bukankah seharusnya kau masih berada di dalam penjara?"
Pertanyaan yang terlalu berani. Rahang Edric mengeras, ia mencengkram kemudi mobil erat-erat hingga buku jarinya memutih. Kemudian Edric tertawa sumbang.
"Hahahaha! Inilah yang kusuka darimu sejak dulu Jane Ainsley!"
Sepertinya Edric Harisson benar-benar menjadi gila.
Benak Edric kembali mengingat saat insiden peresmian proyek Hotel-Mall perusahaan Harisson. Waktu itu ketika keadaan semakin kacau, tak perlu mengira-ngira siapa pelaku di balik semua ini. Edric sudah dapat menemukan jawaban. Orang tersebut adalah Jane Ainsley, kekasih yang ia cintai.
Sejak kapan Edric mengetahui bahwa Jane merencanakan sesuatu? Semenjak Jane mengambil laptop miliknya di dalam laci.
Laptop kerjanya menyimpan banyak informasi penting. Tentu hanya dia yang boleh mengakses, Edric pun tak pernah meminjamkan pada siapapun.
Setelah rasa sakit kepalanya hilang karena 'mabuk'. Edric lebih memilih untuk memeriksa pekerjaannya sebentar daripada melanjutkan istirahat. Ia membuka laci tapi tangannya langsung terhenti.
Walaupun letak laptop dan barang yang ada di sekitarnya tetap sama, namun ada satu hal yang berubah yaitu batang tusuk gigi yang sengaja Edric letakan pada tepian laci telah patah dan terjatuh ke lantai. Hal itu menandakan ada yang membuka laci selain dirinya.
Sepele namun cukup berguna sebagai petunjuk.
Kemungkinan besar orang yang mengambil laptopnya yaitu antara Daniel Wynford atau Jane Ainsley. Karena hanya mereka berdua yang ada di rumah saat Edric mabuk berat.
Siapa yang berpura-pura mabuk pada waktu itu?
Jika di pikirkan kembali kalau memang Daniel berniat mengkhianatinya sudah sedari dulu Daniel akan melakukannya. Mereka pernah satu kamar saat keluar kota untuk tugas kantor. Daniel bisa mengambil laptopnya saat itu juga.
Terlebih saat Edric baru tersadar dari mabuknya, ia sempat mencoba memindahkan tubuh Daniel ke atas sofa. Tapi temannya itu tetap tak bergeming seperti orang mati karena mabuk parah.
Maka Jane lah yang bersandiwara.
Sedari awal kehadiran Jane memang sangat tiba-tiba, diperkuat dengan latar belakangnya yang membuat Edric semakin yakin bahwa kekasihnya itu merencanakan sesuatu.
Edric sengaja membiarkan Jane Ainsley bertindak sesuka hati. Lagipula laptopnya telah terkunci dengan kode password.
Edric ingin tahu apakah rubah cantiknya ini cukup cerdik?
__ADS_1