
Pesta telah usai, ruang pertemuan dirumah Vivian tampak lebih lengang. Hanya ada beberapa segelintir orang berlalu lalang tidak lain adalah para pelayan yang membersihkan ruangan.
Hadiah ulang tahun menumpuk di kamar Vivian. Ini akan menjadi malam yang panjang untuk Jane dan Vivian.
"Aku lelah sekali, hari ini harus terus tersenyum pada ratusan orang!" Vivian merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Hanya sekali setahun dan kau masih hutang penjelasan padaku!"
Jane menginap di rumah Vivian. Ia meminjam piyama milik vivian.
"Yeah! Aku bingung harus mulai bercerita darimana.." Vivian memejamkan matanya.
"Bagaimana kau bisa kenal dengan Edric Harisson, aku tidak pernah melihat kau dekat dengannya? " Jane ikut berbaring di samping Vivian. Tumit nya terasa pegal karena berdiri terlalu lama menggunakan hak tinggi.
"Kau pasti bisa menebaknya Jane.."
"Ini pernikahan atas dasar bisnis..?" Jane menaikan sebelah alisnya.
"Tepat!"
Selama ini Jane mengenal sosok Vivian yang sangat romantis. Vivian pernah bercerita bahwa keinginannya kelak dapat menikah dengan orang yang ia cintai. Apakah Vivian mencintai Edric?
"Dan kau menerimanya begitu saja? atau kau memang menyukai Edric?"
Vivian terdiam cukup lama hingga Jane mengira ia tertidur.
"Aku tidak tahu apakah keputusan ini tepat.. Aku semakin dewasa dan kedua orang tuaku semakin menua.. Perusahaan harus segera diwariskan tetapi aku tidak mahir dalam bidang ini.."
"Bagaimana dengan adikmu Leon?"
"Kau tahu sendiri ia suka kebebasan, bahkan saat ini dia sedang menjelajah keliling dunia..Jika aku menunggu orang yang kucintai datang aku takut akan sangat terlambat."
Ini memang kenyataan yang harus dihadapi Vivian. Seandainya ia bisa dengan bebas mengungkapkan keinginannya seperti adiknya Leon mungkin ini akan jadi cerita lain.
Vivian adalah putri sulung, sejak kecil ia selalu menuruti apa kata orang tuanya berbeda sekali dengan adiknya. Vivian harus menjaga image di depan relasi ayahnya. Ia tumbuh menjadi wanita terdidik dan penuh etika agar menyenangkan orang tua Vivian.
__ADS_1
Sering kali Leon membangkang dan bertengkar dengan ayah nya. Vivian lah yang selalu menengahi mereka. Sehingga kedua orang tuanya selalu menaruh harapan besar pada Vivian yang justru membuat Vivian seperti boneka mereka.
Hanya di depan Jane, Vivian dapat menunjukan jati diri yang sebenarnya.
Tiba-tiba Jane memeluknya karena merasakan kemurungan dalam suara Vivian.
"Hei masih ada aku! Jika suami mu itu nanti menyakitimu datang lah kepadaku dan aku akan menghajarnya!" Itulah ciri khas Jane hingga membuatnya tertawa.
Mereka tidak tahu bahwa perkataan Jane saat itu akan menjadi kenyataan kelak.
***
Hari pernikahan semakin dekat, Vivian di sibukan dengan berbagai persiapan menjelang menikah. Dan selama itu Edric cukup membantu.
Edric ikut memilihkan gaun dan dekorasi ruangan. Bukankah lelaki biasanya akan malas dengan hal hal seperti ini?
Vivian berpikir mungkin menikah dengan Edric Harisson bukanlah hal yang buruk. Ia tampan berkharisma banyak wanita melirik kearah Edric serta dia pria yang pintar dalam memainkan bisnisnya.
Mungkin saja ini keuntungan bagi Vivian dan Edric juga dapat mengelola perusahaan ayahnya nanti. Vivian mencoba berpikir postif dan berusaha menjalaninya.
Lambat laun jika mereka terus saling bersama pasti juga akan saling mencintai satu sama lain.
***
Jane sudah menerima undangan Vivian. Namun sayangnya tanggal pernikahannya bertepatan dengan jadwal pertemuan klien pentingnya.
Mungkin Jane tidak bisa datang, pasti Vivian akan sangat marah padanya, tetapi ia juga sudah berjanji dengan klien nya jauh jauh hari. Pasti Vivian akan memahami.
Jane akan datang berkunjung kerumahnya setelah mereka pulang berbulan madu saja dan sebelumnya Jane akan mengirimkan hadiah pernikahan yang cantik untuk sahabatnya.
***
Pernikahan Vivian berlangsung dengan meriah, sangat di sayangkan sahabatnya Jane tidak datang ke acaranya.
Jane sudah menceritakan alasanya mengapa ia tidak datang. Vivian dapat mengerti itu. Sebagai gantinya Jane Mengirimkan bingkisan hadiah beserta satu buket bunga kesukaan untuknya.
__ADS_1
Hari ini namanya telah berganti bukan Vivian kaelee lagi tetapi menjadi Vivian Harisson. Ia sudah menjadi istri resmi Edric.
Semua orang bertepuk tangan saat Edric selesai mengucapkan ikrar sumpah setianya sebagai suami Vivian.
Ibunya menangis terharu menyaksikan moment berbahagia ini, Vivian pun ikut menangis.
Adiknya Leon Kaelee menyempatkan untuk datang melihat kakaknya menikah.
"Hai kak aku turut berbahagia atas pernikahanmu! Tentu ini bukan karena paksaan ayah dan ibu kan.." Leon memeluk Vivian erat erat.
"Dasar bocah ini selalu saja membuat kesal orang lain! Jika kau tak datang aku sudah bersiap mencoret namamu dari daftar keluarga!"
Mereka pun tertawa bersama.
Adiknya sekarang jauh lebih tinggi darinya. Mereka berdua sangatlah mirip, Leon seperti versi lelaki dari Vivian.
Edric datang menghampiri Vivian dan merangkul pinggangnya.
"Sayang..saatnya kita turun untuk berdansa.." bisik Edric ditelinga Vivian.
Entah mengapa ada perasaan tidak suka saat Leon melihat Edric, padahal mereka tak saling mengenal. Tetapi firasatnya yang berbicara.
"Sepertinya aku menganggu waktu mu dengan suami mu kak, aku pergi dulu sampai jumpa." Leon menyalami mereka berdua dengan senyum di paksa kan.
Semoga firasatnya tidak lah benar untuk kali ini.
Vivian dan Edric turun ke lantai dansa dan pasangan yang lain mulai mengikuti. Terdengar irama musik mengalun mengiringi.
"Kau tampak cantik sekali istriku.."
Vivian tersipu malu saat Edric merayu nya.
"Terimakasih pujiannya.."
"Aku tidak sabar untuk malam ini.." Edric berbisik ditelinga Vivian lalu merapatkan tubuhnya. Jantung Vivian berdetak kencang wajah nya memerah.
__ADS_1
Dilihat dari dekat Edric memang tampan dan sangat manis dihadapannya. Tidak membutuhkan waktu lama Vivian luluh dalam pelukan Edric yang memesona.
Saat itu Vivian bersyukur mungkin Edric pria yang dicarinya selama ini. Vivian mulai mencoba mencintai dan menerimanya setulus hati.