Dendam Jane

Dendam Jane
Bisikan-bisikan


__ADS_3

Edric cukup menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya. Bisikan-bisikan di telinganya terus menganggu seperti sekawanan lebah yang berdengung marah.


"Kau tidak akan bisa memiliki Jane Ainsley.."


"Jane Ainsley membencimu.."


"Tidak selamanya kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan Edric Harisson.."


"Akui saja kekalahanmu.."


"Apakah egomu terluka?"


Omong kosong! Kalau memang Edric tak dapat memiliki Jane, ia juga tak akan membiarkan orang lain memilikinya. Maka bunuh diri bersama adalah jalan keluarnya. Dengan begitu Edric tetap menjadi pemenang.


Ketika mereka berdua tenggelam dan air mulai memenuhi setiap rongga paru-parunya, Edric justru menemukan kedamaiannya sendiri. Ia mengulas senyum terbaiknya sambil menunggu ajal menjemput mereka berdua secara perlahan.


Jane Ainsley kita akan menuju surga bersama!


Namun Edric tak mengira bahwa mereka akan selamat dari maut. Ck! Para polisi itu tidak bosan-bosannya mengusik hidup Edric. Bisakah mereka membiarkannya hidup bahagia bersama sang kekasih tercinta!


"Hahahaha lihat Tuhan saja tidak menghendakimu.."


"Edric, saat ini kau hanyalah seorang pecundang!"


Lagi-lagi bisikan itu terdengar mengejek di telinga Edric, seolah mentertawakan kebodohannya.


Kalian semua salah, Tuhan sedang memberikanku kesempatan sekali lagi untuk menjalani hidup bersama Jane Ainsley. Yah, itulah alasan yang paling tepat.


Edric berusaha meyakini alasan yang ia buat sendiri agar lebih tenang.


Jane Ainsley..


Melihat sosok wanita yang dicintainya lagi di persidangan, membuat tubuh Edric bergetar hebat. Ingin rasanya Edric berlari ke arah Jane dan langsung merengkuh tubuh hangatnya itu ke dalam pelukannya. Tidak sampai di situ, ia juga ingin mencecap bibir manis Jane sampai Edric merasa puas. Sayangnya para polisi tak tahu diri ini, telah menahan Edric agar tidak pergi kemana-mana.


Tunggu aku Jane Ainsley..Tunggu aku pulang..

__ADS_1


Dimana pun Edric berada ia tetaplah Edric Harisson yang memiliki watak manipulatif. Saat ini Edric telah di tempatkan pada pusat rehabilitasi kesehatan mental.


Seorang perawat mengirimkan obat beserta makanan di atas baki untuk Edric.


Cih! Mereka benar-benar menganggapku sudah gila.


Ini semua karena ulah keluarga Wynford. Edric sudah menganggap Daniel teman baik dan memberikan pekerjaan yang menjanjikan sehingga Daniel memiliki beberapa relasi sendiri, lalu inikah balasannya? Bagaikan air susu di balas air tuba.


Edric tidak pernah meminum obat yang di berikan perawat. Ia selalu berpura-pura menelan semua pil penenang itu dan menyembunyikannya di balik lidah. Setelah perawat benar-benar pergi dari kamarnya, Edric memuntahkan obat itu ke dalam kloset.


Aku tidak gila jadi aku tidak membutuhkan obat penenang itu.


Dan bisikan-bisikan itu datang menghantui setiap malam ketika Edric hendak tidur.


"Orang-orang sedang mentertawakanmu di luar sana Edric Harisson.."


"Cepatlah keluar dari tempat busuk ini.."


"Bisa saja pacarmu bertemu orang lain saat kau disini.."


Tetapi perawat yang bernama Suster Nelly itu tak mau diajak bekerja sama, walaupun Edric mengiming-iminginya dengan uang banyak sekalipun. Ia justru mendapatkan tatapan meremehkan.


"Lihat orang itu menganggap dirimu sampah.."


"Apa kau akan diam saja Edric Harisson.."


"Singkirkan dia.."


Edric menyeringai. Lalu melangkah mendekat ke arah Suster Nelly yang sedang membereskan peralatan makan.


"Hei kau.."


Suster Nelly menoleh. Tanpa di sangka Edric merebut piring dari tangannya kemudian melemparkan ke arah Suster Nelly. Sebelum ia berteriak, Edric membungkam mulutnya.


"Keputusan yang salah menolak penawaranku.."

__ADS_1


Edric membenturkan kepala Suster Nelly ke dinding hingga pingsan. Yang Edric butuhkan adalah pakaian yang di kenakan perawat untuk menyamar. Walaupun ukurannya lebih kecil tapi Edric masih dapat menggunakannya karena tubuhnya sendiri telah mengurus.


Edric menyeret tubuh Suster Nelly ke kamar mandi. Lalu ia bergegas keluar ruangan. Tetapi Suster Nelly sadar lebih cepat. Ia berjalan keluar dengan tertatih-tatih hanya mengenakan pakaian dalam.


"Hentikan dia.."


Para perawat dan petugas keamanan berusaha menghentikan Edric yang hendak kabur. Edric murka, ia memberontak. Ternyata Edric masih memiliki tenaga yang cukup kuat.


"Akan kuingat wajah kalian satu persatu!"


"Maaf Tuan terpaksa kami harus melakukan ini.."


Sebuah jarum suntik berisikan obat bius di tancapkan ke lengan Edric. Kesadaran Edric pun berangsur-angsur menghilang.


"Dasar pecundang!"


"Sekarang kau bukanlah apa-apa Edric Harisson.."


Ketika Edric terbangun tubuhnya sudah memakai pakaian khusus yang membatasi pergerakan tangannya. Ia juga di pindahkan ke ruang pengisolasian, dimana seluruh ruangan itu tak ada benda yang mungkin di jadikan senjata yang dapat melukai orang lain maupun dirinya sendiri. Seluruh dinding dan lantainya pun di lapisi dengan karpet serta busa.




"Jane..Jane.. Tunggu aku.."


Itulah yang selalu di gumamkan Edric dari mulutnya. Bisikan-bisikan di telinganya telah menguasai Edric sepenuhnya. Ia sudah tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang sebuah halusinasi belaka. Emosi Edric pun menjadi tidak stabil, terkadang ia menangis sendiri lalu selang beberapa menit kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


Edric sudah tidak dapat mengenali orang-orang terdekatnya kecuali hanya Jane Ainsley. Namun nyatanya kekasih yang begitu ia nantikan kedatangannya tak kunjung terlihat hingga saat ini.


"Kau telah di campakkan Edric Harisson.."


Tidak. Itu tidak benar. Jane sedang menungguku di sana aku yakin itu. Kami akan menikah.


"Semua orang telah membuangmu termasuk Jane Ainsley.."

__ADS_1


Edric menangis sesenggukan di dalam kesunyian yang menyesakan batinnya.


__ADS_2