
Tanpa sadar Vivian telah sampai ke rumah Ibu mertuanya.
Rumah Anna Harisson sangatlah besar. Ketika membuka pintu gerbang, Vivian langsung disuguhi pemandangan taman yang terawat. Furniture yang mahal berjajar rapi di setiap sudut ruangan. Desain rumah bergaya modern klasik seperti berada di resort mewah tempat pariwisata.
"Kau tak perlu merasa sungkan, anggaplah di sini rumah mu sendiri.."
Vivian tersenyum kikuk.
Yah, dirinya juga putri dari pengusaha sukses, tetapi kekayaan keluarga Harisson dua kali lipat.
Tidak. Ralat.
Mungkin bisa jadi tiga kali lipat lebih besar dari harta keluarga Kaelee.
Lalu setelah ini Vivian harus melakukan apa?
Selagi Anna Harisson berganti pakaian, Vivian mengamati foto keluarga yang terpajang di dinding.
Sejak kecil Edric memang tampan. Dia sangat mirip dengan mendiang kakak lelakinya, Garrix Harisson.
"Tak terasa Edric sudah menjadi pria dewasa sekarang.."
Anna Harisson berdiri di samping Vivian, ada nada kesedihan dalam ucapannya.
"Aku tidak menyadari ibu sudah berada disini.."
"Karena kau sedang fokus melihat foto anakku.."
Vivian tersipu malu.
"Apa Ibu sudah makan?"
"Belum, mau makan bersama?"
"Aku ingin memasakkan makanan untuk ibu.."
"Kau bisa memasak?"
"Sedikit yang ku kuasai, tapi aku akan berusaha membuat makanan yang enak khusus untuk ibu.."
Ada untungnya Vivian mengikuti kursus memasak.
"Aku punya ide bagaimana jika kita memasak bersama untuk diberikan kepada Edric?"
"Eh?"
"Ya, Edric pasti akan senang jika kau mengantarkan masakan buatanmu sendiri ke kantornya.."
Niat Vivian semula untuk mengatasi kecanggungan antar mertua dengan cara memasak untuknya justru menjadi bumerang bagi Vivian.
"Tapi Ibu.."
"Tidak apa-apa, ayo ke dapur.."
Mengapa jadi begini??
"Edric suka sekali dengan makanan seafood, terutama cumi asam manis dan juga scalop..Tapi aku hanya punya cumi di dalam kulkas.."
Anna Harisson menyiapkan bahan makanan. Vivian mengikuti.
"Kau bagian cuminya, aku yang akan meracik bumbu.."
__ADS_1
"Baik Ibu.."
Ketika Vivian membersihkan cumi, bau amis mulai menyengat, hingga memicu rasa mual. Ia memegang pisau erat-erat menahan diri untuk tidak muntah.
Tahan sebentar saja.
Keringat dingin mulai bermunculan. Sedari tadi Vivian menahan nafas saat memotong cumi.
"Kau sudah selesai nak?"
"Ya sedikit lagi.."
"Kemari aku bantu.."
Ahkirnya perasaan lega membanjiri.
Begitu persiapan selesai Vivian segera izin ke kamar mandi. Untuk meredam suara muntahanya ia menghidupkan keran air. Sangat disayang kan obat anti mual nya berada di dalam tas yang ia letakan di atas sofa.
Aroma masakan tercium saat Vivian keluar dari kamar mandi.
"Vivian, coba kau cicipi apakah rasanya sudah pas?"
Vivian berjalan mendekat. Ia akui masakan Anna Harisson sungguh enak tidak kalah dengan ibunya.
"Enak sekali.."
"Itu bukan basa-basi kan.."
"Aku tidak berbohong ibu.."
"Kalau begitu kau berikan ini pada Edric, aku akan menyuruh supirku untuk mengantarmu ke kantor nya.."
Anna Harisson mengambil tempat makan kemudian mulai mengemas masakan tadi.
Bahkan sejak hari itu Vivian tak pernah berbicara dengan Edric. Ketika mereka berpapasan pun Edric hanya memandang nya dalam diam.
Jika tiba-tiba Vivian ke kantor Edric dan membawakan makanan kesukaan nya, apakah ia akan luluh? Atau kemungkinan lebih buruk lagi Edric akan marah karena merasa terganggu.
"Selesai! Edric pasti suka dengan kejutan ini. Bersiaplah aku akan panggilkan supir."
Vivian mematung di tempat. Sekarang ditangannya terdapat bekal makanan untuk Edric.
Tuhan, untuk kali ini saja tolong aku. Semoga diantara kami tak ada lagi pertengkaran kecil..
***
Tetapi Tuhan seolah tidak mendengar doa dari Vivian.
Sejak awal pernikahan Vivian tak pernah sekalipun datang ke kantor tempat Edric bekerja. Para karyawan yang ada di sana menyambut kedatangan Vivian dengan ramah.
"Apakah Edric ada di ruangan nya?"
"Ya, Mari saya antarkan.."
"Tidak perlu cukup kau tunjukan di lantai berapa letak kantornya.."
"Baiklah , kantor Tuan Edric terletak di lantai enam berada di bagian sisi barat."
"Terimakasih."
Vivian tak ingin merepotkan karyawan yang sedang sibuk bekerja. Dan juga ia tak mau mengambil resiko jika Vivian dan Edric bertengkar lalu disaksikan oleh orang lain.
Sesampainya di depan ruangan yang tertulis "Presiden Direktur" , Vivian mengambil nafas panjang. Ia menyiapkan mentalnya.
__ADS_1
Dengan perlahan Vivian mendorong pintu yang sudah terbuka sedikit semenjak tadi. Namun langkah Vivian terhenti seketika. Ia melihat Edric sedang membelakangi pintu dan di hadapannya ada wanita itu!!
Mengapa ia bisa ada diruangan Edric?
Wanita itu menyadari kehadiran Vivian. Ia pun tersenyum penuh kemenangan, sedetik kemudian wanita itu berjinjit dan mencium Edric Harisson
Menyaksikan langsung sebuah perselingkuhan di depan mata ternyata lebih menyakitkan dari Vivian duga. Tempo hari ia mengira airmatanya telah mengering. Tapi kini tanpa permisi mengalir begitu saja.
Vivian meletakan bekal makanan di depan pintu. Ia pun pergi tanpa sepatah kata.
***
"Apa yang kau lakukan Samantha!?"
Edric mendorong tubuh sekertaris nya agar menjauh darinya. Wanita yang bernama Samantha itu tersenyum.
"Hanya sedang ingin menciummu saja.."
"Sudah ku peringatankan jangan lakukan saat jam kantor!"
"Aku mengerti tadi itu salahku.."
"Keluar dari ruangan ku."
Samantha melenggang meninggalkan kantor Edric. Tak berapa lama ia muncul kembali.
"Aku menemukan sebuah kotak bekal makanan di depan pintu ruangan mu.."
"Dari siapa?"
"Aku tak tahu. Tak ada orang yang terlihat."
Samantha mengangkat bahunya. Edric menaikan sebelah alisnya.
TINNGG!
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Edric. Ternyata dari ibunya sendiri.
Anna Harisson: Vivian akan datang ke kantor untuk membawakan makanan kesukaan mu. Sambut dia dengan baik..
"Cepat bawa kemari bekal makanan itu!"
Samantha meletakan bekal itu di atas meja kerja Edric.
"Aku ingin tahu siapa yang mengirim ini.."
"Pergilah sekarang."
"Baiklah.."
Begitu Edric benar-benar sendiri di ruang nya. Ia mengumpat keras-keras.
"Si*l! Apa dia melihat aku berciuman?!"
Edric mengebrak meja. Sebaiknya ia segera menghubungi Vivian.
TUTT! TUTT!! TUT!!
Berulang kali Edric menelepon tidak ada jawaban satu pun. Karena kesal Edric membanting ponsel nya ke lantai hingga layarnya retak.
Kemana dia?
Tanpa berpikir panjang, Edric langsung mengambil kunci mobil.
__ADS_1
Huh!? Seandainya Garrix tidak mati, aku tak akan pernah menemui masalah seperti ini.