
Episode ini mengandung konten sensitif dan membuat ketidak nyamanan untuk sebagian orang. Mohon untuk bijak dalam menyikapi.
Sudah tidak ada tempat yang nyaman untuk kembali pulang.
Apa itu rumah?
Vivian pikir ia masih menjadi bagian dari keluarga Kaelee. Tetapi ternyata mereka semua seakan menendangnnya. Vivian lebih diakui sebagai istri Edric Harisson.
Gerimis mulai turun. Beberapa orang mulai berjalan cepat mencari tempat berteduh. Kecuali Vivian yang justru memandang ke arah langit. Gedung-gedung tinggi itu seolah sedang ikut menghakimi dirinya.
Vivian terus berjalan walau hujan semakin deras. Tidak peduli orang lain memandang nya dengan tatapan aneh.
Haruskah Vivian pulang ke rumah Edric? Tetapi saat ini menginap di hotel jauh lebih menarik.
Dan di sinilah sekarang, Vivian sedang berada di dalam lift hotel menuju kamar yang telah di pesannya. Vivian terhanyut dalam pikirannya sendiri hingga tak sadar letak lantai kamarnya sudah terlewati.
Seharusnya Vivian berhenti di lantai tiga, namun justru terbawa sampai ke lantai tujuh
TING!
Pintu lift terbuka. Suara riuh terdengar. Rombongan tamu pesta dari arah Ballroom hotel ini hendak turun ke lantai dasar. Vivian mengalah untuk mereka. Sebaiknya ia menunggu sampai lift sepi, terlebih pakaian yang Vivian kenakan dalam keadaan basah.
Sambil menunggu, Vivian mengamati tempat sekitarnya. Di samping lift terdapat tangga menuju atap gedung hotel dengan bertuliskan "staff only" tertempel pada pintu.
Sejenak terlintas dibenak Vivian untuk naik ke atas atap gedung. Mungkin di sana ia dapat melihat pemandangan yang indah kemudian perasaannya akan lekas membaik.
Sebuah kebetulan pintu tangga tidak di kunci. Sekali lagi Vivian memastikan tak ada pegawai yang melihatnya naik ke atap gedung.
Yah, benar perkiraan Vivian. Di atap gedung ia mendapat pemandangan yang menakjubkan. Semua hal tampak mengecil dari atas sini. Kota Louisiana seperti berada dalam jangkauannya. Lampu kota berkerlap kerlip layaknya bintang.
Namun, justru Vivian semakin merasa sedih. Bagaimana tidak, dihadapannya terdapat papan reklame dan juga Videotron menampilkan iklan sebuah real estate di bintangi oleh Edric Harisson.
Edric terlihat sangat sempurna dengan setelan jas yang elegan. Ia menunjukkan senyum terbaiknya.
"Nyatanya aku tidak dapat menggapaimu.."
Vivian memandang foto Edric dengan tatapan kosong, ia menjulurkan tangannya ke depan seolah ingin meraih Edric dari dalam gambar. Vivian lupa bahwa lantai masih licin akibat hujan.
Dan terjadilah..
Kaki Vivian tergelincir. Tubuhnya tidak seimbang.
Vivian terjatuh.
Mungkin bisa saja, Vivian berpegang pada pagar pembatas untuk menyelamatkan diri. Tapi entah mengapa ia tak ingin melakukan nya dan membiarkan tubuhnya terjun bebas ke bawah.
Bukankah orang-orang sudah tak menginginkanku lagi?
Langit semakin menjauh darinya.
Walaupun ini bukanlah gedung tertinggi di kota Louisiana, rasanya tak mungkin Vivian akan selamat setelah terjatuh dari lantai tujuh. Jika ia masih hidup, itu adalah sebuah mukjizat untuknya.
Apakah ini ahkir dari hidupku?
__ADS_1
Vivian memejamkan mata menunggu raganya menghantam tanah dengan keras. Sebelum itu ia tersenyum dan bergumam lirih.
"Selamat tinggal semua.."
BRAAKKKKK!!!
"Aaaaa!!"
"Apa itu?!"
"Seperti nya ada orang terjatuh dari atas gedung!!"
"Aku tidak berani mendekat!!"
"Cepat panggil ambulans dan juga polisi!!"
Di suatu sudut kota Louisiana, terjadilah kegemparan.
Vivian Kaelee meninggal di tempat karena jatuh dari atas gedung hotel.
***
Edric paling benci menunggu. Dan sekarang ia sedang melakukan hal yang di bencinya itu. Sejak tadi siang Edric menantikan kepulangan Vivian.
"Samantha br3ngsek! Sepertinya dia sengaja mencium ku!"
Edric menyugar rambutnya. Kemana lagi ia harus mencari Vivian?
Handphone miliknya telah rusak, untuk saat ini ia tak dapat menghubungi siapa pun. Edric melirik ke arah telepon rumah yang terletak di atas meja ruang tamu.
Setidaknya ia masih dapat menggunakan itu!
"Selamat malam Pa.."
"Ya, ada apa Edric?"
"Apakah Vivian sedang berkunjung ke sana?"
"Baru setengah jam yang lalu dia pulang. Apakah anak itu tidak berpamitan denganmu? Biar aku yang menegurnya nanti!"
"Tidak perlu Pa. Terimakasih.."
"Apa kau sudah makan malam nak?"
"Aku sedang tidak berselera makan.."
"Kau harus tetap menjaga kesehatan mu baik-baik..."
Selanjutnya adalah percakapan basa-basi belaka dari Lewis Kaelee. Terpaksa Edric mendengar kan semua omong kosong darinya.
TOK! TOK! TOK!
Ahkirnya Vivian pulang. Tapi aneh jika itu Vivian mengapa ia harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Maaf Pa telepon akan kumatikan, sepertinya Vivian sudah kembali.."
__ADS_1
"Baiklah. Jangan lupa lain waktu bermainlah ke tempat kami."
Dengan langkah cepat Edric membukakan pintu rumah.
"Darimana saja kau?!"
"Selamat malam Tuan. Maaf menganggu waktu Anda."
Dahi Edric berkerut. Bukan Vivian yang datang tetapi dua orang petugas polisi telah berdiri di teras rumahnya.
Jika seorang aparat tiba-tiba berkunjung tanpa undangan sudah dapat di pastikan mereka akan membawakan kabar buruk.
"Kami mendapat laporan dari warga bahwa istri anda terjatuh dari atap gedung hotel dan langsung meninggal di tempat. Untuk penyebabnya masih kami selidiki lebih lanjut. Anda dapat mengikuti kami ke rumah sakit untuk memastikan bahwa yang kami bawa benar-benar jasad istri Anda ."
Edric tidak tahu ia harus memasang ekspresi seperti apa. Walaupun hubungan terakhir dia dan Vivian cukup buruk. Tak berarti Edric akan tertawa karena merasa senang.
"Baiklah."
Edric mengikuti para polisi itu menuju ke rumah sakit. Jika benar itu Vivian, pasti esok hari akan ada banyak wartawan berkumpul di depan kantor maupun rumah untuk mengorek informasi. Membayangkan saja sudah terasa melelahkan.
Edric menghela nafas panjang.
Mengapa sampai ahkir pun kau masih saja merepotkan yang lainnya?
***
Huft! Ternyata menjalankan proyek besar juga harus membutuhkan tenaga ekstra. Ini hampir tengah malam. Jane baru saja pulang dari pekerjaannya. Setelah ini ia akan mandi terlebih dahulu kemudian langsung tidur.
Jane memeriksa handphone nya sejenak. Ada lima panggilan tak terjawab, satu sms dan juga satu pesan suara, begitu ia akan membaca semua isi pesan itu terdengar suara peringatan baterai.
Si4l!
Handphonenya langsung mati karena baterai habis. Jane mencari charge. Sudahlah di lihat saja sehabis mandi.
Kira-kira siapa yang mencarinya hingga mengirimkan pesan sebanyak itu?
Apakah nenek menyuruh Jane untuk menjenguknya atau itu dari Vivian?
Mandi membuat tubuh Jane segar kembali. Ia mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kering.
Baterai terisi 35%
Jane mulai menghidupkan Handphonenya. Memang pesan itu Vivian lah yang mengirimnya.
Vivian Kaelee: Jane kau dimana? Aku berada di depan apartemen mu.
Vivian? Alis Jane yang indah bertautan. Kemudian ia menekan pesan suara.
"Jane tolong aku.."
DEG!
Firasat buruk melingkupi. Suara Vivian terdengar begitu putus asa.
###
__ADS_1
Maaf telat , padahal udah saya update awalan, tulisan nya sih berhasil tapi saya cek belum muncul ke publik 🙃
Internet lancar lho 😶