Dendam Jane

Dendam Jane
Posesif


__ADS_3

Episode ini mengandung konten dewasa, diperuntukkan untuk umur 18 tahun keatas. Mohon pembaca bijak dalam menyikapinya.


"Tuan Edric apakah anda masih ingin melihat pameran?"


"Tidak."


Jane berusaha mengikuti langkah lebar Edric menuju ke arah mobil yang terparkir. Suasana hati Edric sedang tidak baik. Apakah Jane harus menghibur Tuan muda di sampingnya ini?


"Pasang sabuk pengamanmu."


Tanpa disuruh pun Jane akan tetap melakukannya. Setelah mobil berjalan, barulah Jane mengerti mengapa Edric mengingatkannya kembali.


Edric mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Menyalip beberapa mobil dan juga truk di jalanan. Jane tak tahu Edric akan membawanya kemana. Pandangannya fokus kedepan dengan mulut tertutup rapat.


Tempramennya buruk sekali..


Jane memejamkan mata, karena sebenarnya ia juga merasa takut, mengingatkan akan kecelakaan mobil yang Jane alami bersama kedua orang tuanya saat masih kecil.


"Siapa pria kurang ajar tadi?"


"Dia karyawan temanku, Alex menjabat sebagai kepala toko."


"Apakah kau pernah dekat dengannya sebelum ini?"


"Tidak sedekat itu."


"Mengapa kau tidak menghindar saat pria br3ngsek itu menyentuhmu? Kau menikmatinya?"


Jane tersinggung dengan perkataan Edric. Sekarang ia merasa marah.


"Apakah di matamu aku ini wanita murahan?"


Suara Jane meninggi.


Edric langsung membelokkan mobilnya ke pinggir jalan dan ia menginjak pedal rem secara mendadak hingga menimbulkan suara decitan ban. Tubuh Jane terpanting. Ia memekik kaget.


"Edric! Kau mau membunuhku?! Aku akan turun disini!"


Jane melepaskan sabuk pengamannya. Tapi Edric telah mengunci pintu mobil. Ia tak bisa keluar.


Edric menarik pergelangan tangan Jane hingga mereka saling berdekatan.


"Ingat baik-baik Jane Ainsley, sekarang kau adalah wanitaku. Jika aku sampai melihatmu bersama dengan pria selain aku, kau akan tahu akibatnya."


Sesaat Jane merasa merinding. Tatapan mata Edric begitu dingin. Ia seperti sedang di ancam. Pergelangan tangannya menjadi memar karena cengkraman Edric yang sangat kuat.


Vivian, bagaimana bisa kau mencintai pria berbahaya seperti dia?


Edric melepaskan tangan Jane, kemudian ia melanjutkan perjalanan.


Jane memilih diam. Saat ini pepohonan di pinggir jalan terlihat lebih menarik. Mereka seakan dapat menghipnotisnya. Kelopak mata Jane semakin berat. Ia pun jatuh tertidur.


***


Angin berhembus lembut memainkan anak rambut Jane. Begitu Jane membuka matanya, ia disambut dengan pemandangan laut di malam hari.


Sudah berapa lama ia tertidur?


Edric masih duduk di sampingnya sambil menciumi pergelangan tangan Jane yang memar akibat ulahnya sendiri. Sepertinya ia sengaja tidak membangunkan Jane.


"Maafkan aku telah bertindak kasar Jane Ainsley.."


Suara dan sorot matanya terlihat penuh penyesalan sangat berbeda saat ia marah tadi.


"Sekarang kita ada dimana?"

__ADS_1


"Ujung kota Louisiana, Mandeville Lakefront.."


"Mengapa kau membawaku kemari?"


"Aku sedang menagih janjimu."


"Bahkan ini belum hari Minggu. Aku pun belum berkemas."


"Tak perlu khawatir tentang itu, aku akan menyediakan semua kebutuhanmu."


Cuaca dingin seperti ini Edric memilih berlibur di pinggir pantai? Apa yang dia pikirkan?


Edric sudah memesan villa. Disini Jane benar-benar di manjakan layakan tuan putri. Makan malam mewah dengan menu hidangan laut sudah tersedia.


Biasanya Jane membeli lobster di saat akan merayakan hari penting. Tapi Edric tak segan-segan mengeluarkan uang untuk sekedar mengenyangkan perutnya.


Orang kaya memang berbeda..


Pemilik Villa pun menganggap mereka adalah pasangan yang sudah menikah. Edric juga tak menyangkal hal itu.


"Bagaimana jika aku berniat melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius?"


"Edric bahkan aku belum memikirkan hingga kesana!"


"Mulai sekarang pikirkanlah."


Jane menggenggam erat pisau makannya. Betapa mudahnya pria ini berbicara. Makam Vivian masih terbilang baru, ia sudah membahas tentang pernikahan lagi.


Selera makan Jane langsung menghilang.


"Aku sudah selesai makan. Kau lanjutan saja makan malamnya. Aku ingin melihat pemandangan laut dari lantai dua."


"Aku akan mengambil anggur lalu segera menyusulmu."


Jane terus berjalan menaiki tangga.


Laut terlihat sangat gelap. Bagaimana kalau Jane menenggelamkan Edric di dalam sana?


Sepasang lengan kokoh melingkari tubuh Jane. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai tak menyadari kedatangan Edric ke ruangan ini.


"Masuklah ke kamar telingamu mulai mendingin.."


Edric menggigit perlahan daun telinga Jane lalu berlanjut menciumi tengkuknya.


"Sebentar lagi.."


"Apa yang kau lamunkan?"


Cara untuk mendorongmu jatuh kesana..


"Edric.."


Tangan Edric menyusup dibalik piyama Jane dan menangkup buah miliknya.


"Aku akan menghangatkanmu.."


Jemari Edric menyusuri pinggang Jane turun kebawah menuju inti miliknya.


"Renggangkan kakimu.."


Edric mengelus titik sensitif Jane secara perlahan untuk mer4ngs4ngnya.


"Edric, kita masih di luar balkon.."


"Tak ada siapapun disini selain kita.."

__ADS_1


Edric menopang tubuh Jane lalu melakukan pemanasan untuk menyenangkan wanitanya.


"Kau sudah mulai basah Jane Ainsley.."


"Emm.."


"Kau ingin berpindah tempat?"


"Ya.."


Edric langsung mengangkat tubuh Jane dan membawanya masuk kedalam kamar. Ia pun segera melanjutkan aksinya, Edric berlutut diantara kaki Jane yang tengah terbuka lebar.


Jane pernah mengira untuk masalah s3x Edric pria yang cukup egois, hanya mementingkan kepuasannya tersendiri. Ternyata dia benar-benar pandai menyenangkan wanita.


Jane mencengkram rambut Edric dan mengangkat pinggangnya lebih tinggi, merasakan lidah Edric bermain-main di sana. Sesekali Edric menyesap kuat inti dari Jane.


"Edric.."


Edric berhenti mencumbu Jane. Ia ingin mencapai kenikmatan bersama. Milik Edric sudah siap memberikan kehangatan untuk Jane. Maka Edric pun menyusul naik keatas ranjang dan mulai memenuhi Jane dengan miliknya. Jane merangkul leher Edric menantikan pelepasannya.


Suasana menjadi panas. Peluh mereka bercucuran seperti habis berlari maraton.


"Jane aku akan keluar.."


Edric menghujamkan miliknya lebih dalam hingga menumpahkan seluruh isinya.


Padahal Edric sudah cukup terpuaskan, tetapi ia masih ingin melakukannya lagi. Edric memberikan jeda sejenak untuk Jane.


Malang bagi Jane, malam ini ia akan di buat lelah oleh Edric.


***


Tubuh Jane terasa kaku. Terutama bagian pinggang kebawah. Ini semua karena pria yang sedang berbaring di sampingnya. Bahkan pria itu masih sempat melemparkan senyuman mesra kearah Jane.


Tiba-tiba Edric melontarkan pertanyaan aneh..


"Kau menyukai tipe rumah seperti apa Jane?"


"Tidak perlu rumah bertingkat, tetapi memiliki kebun dan halaman yang luas. Rumah bergaya eropa klasik kuno.."


"Aku akan mewujudkannya. Tinggal lah bersamaku.."


Hampir saja Jane memberikan penolakan langsung. Tetapi otaknya segera berpikir cepat. Bukankah ini kesempatannya untuk mencari kelemahan Edric?


Jane akan lebih leluasa memainkan perannya.


"Ide yang menarik.."


Jawaban yang memiliki arti ganda.


Kemarin Jane masih merasa bingung dengan rencana balas dendamnya. Sekarang Edric justru menyodorkan kemudahan tanpa diminta.


Anggap saja ia seperti memelihara kucing..


Itu sama saja dengan menyuruhku duduk dipangkuannya untuk bermanja-manja lalu aku akan menancapkan kuku tajam di kulitnya sebagai tanda rasa sukaku kepada majikan..


***


NB:


Penjelasan untuk kata terakhir, mungkin untuk para pecinta bintang langsung paham. Contoh aku ambil dari pelihara kucing, Kadang orang lain merasa heran, kok bisa ya sudah dicakar/digigit kucing sedemikian rupa sampai berdarah darah, ngerusak barang masih mau di pelihara. Kucingnya kok gak dipukul/dilepasin aja malah dielus-elus.


Sebenarnya ada contoh lain seperti teman saya, yang pelihara ular piton, sampe di patok saat diberi makan 😶


Mungkin ini yang dinamakan hubungan 'toxic' dengan binatang. Karena udah sayang jadi di biarin, malah dianggap lucu dan nganggep itu bentuk tanda sayang dari hewan peliharaan.

__ADS_1


Aku ambil perumpamaan dari sini.


spoiler dikit, sebentar lagi mau ketemu saingannya Edric 😬


__ADS_2