Dendam Jane

Dendam Jane
Sandiwara 2


__ADS_3

"Edric? Apakah dia.."


Vivian berjalan mendekat ke arah mereka. Edric langsung menahan langkahnya.


"Pergilah."


Sebelum wanita itu benar-benar pergi, ia sempat melempar kan senyum kepada Vivian. Entah apa arti dari senyumannya itu. Sebuah sikap ramah atau sedang mengejek?


Sekarang Vivian ingat, wanita itu adalah orang yang sama ia lihat sewaktu di Mall. Wanita yang berjalan bermesraan dengan Edric.


Jadi tuduhan Vivian benar adanya? Mengapa Edric saat itu menyangkal dan justru menyalahkan dirinya?


"Berhenti aku butuh penjelasan!"


Edric segera mencekal tangan Vivian lalu menyeretnya menjauh dari ballroom tempat acara sosial berlangsung.


"Ikuti aku!!" Geram Edric murka.


"Lepaskan aku Edric, kau menyakitiku!"


Vivian berusaha melepaskan cekalan tangan Edric. Tetapi tenaga Edric jauh lebih kuat dua kali lipat di banding dirinya.


Edric memperhatikan keadaan sekitar dan juga melirik letak cctv gedung berada. Ia harus mencari tempat sepi yang tidak terdeteksi oleh siapa pun.


Pada ahkirnya Edric membawa Vivian masuk ke dalam tangga darurat. Cctv hanya terpasang di sekitar bagian pintu masuk maupun pintu keluar saja.


"Apa yang kau lakukan Edric?!"


"Diam!"


Edric membungkam mulut Vivian dengan telapak tangan. Kemudian menekannya lebih kuat hingga Vivian kesulitan bernapas. Seketika mata Vivian membulat. Lagi, Edric memperlakukan nya begitu kasar. Rahang Vivian mulai terasa sakit.


"Aku sudah memperingatkan mu, jangan membuat keributan disini."


Barulah Edric melepaskan bungkamnya. Vivian segera mengambil nafas panjang.


"Wanita tadikah yang menjadi selingkuhan mu?"


"Kau tidak perlu tahu."


"Aku berhak tahu karena aku masih menjadi istrimu Edric.."


"Kita hanya menikah karena perjodohan bisnis."


Memang benar perkataan Edric, mereka menikah karena kehendak orang tua masing-masing. Namun apa arti dari sikap Edric yang begitu manis waktu awal pernikahan? Apakah semua itu hanya sandiwara semata?


"Edric selama ini apakah kau pernah memiliki perasaan kepadaku walaupun sedikit saja?"


Rahang Edric mengeras lalu ia menatap tajam ke arah Vivian.


"Mungkin tidak."


Tangan Vivian terkulai lemas, ia menundukan kepalanya tak mau membalas tatapan Edric. Berulang kali Vivian berharap dan berulang kali pula ia tersakiti.

__ADS_1


"Kalau begitu mengapa kau tidak menceraikan ku saja kemudian menikahi wanita itu.."


TAKK!!


Tiba-tiba pintu tangga darurat terbuka, seorang Guest service hotel muncul dari balik pintu. Dengan sigap Edric menahan Vivian agar tidak bergerak, memperangkap tubuh Vivian antara dinding dengan badannya sendiri. Lalu Edric menciumnya secara paksa.


Ciuman yang kasar penuh penekanan sampai membuat bibir Vivian lecet.


"Oh! Maaf Tuan dan Nyonya telah menganggu privasi Anda. Saya mengira tidak ada orang di sini."


Edric mengangguk tanda memaklumi.


Guest Service itu membungkukkan badan sebagai ungkapan permintaan maaf. Ia segera pergi meninggalkan Edric dan Vivian sendirian.


"Saya akan lewat jalan lain.."


Pintu tertutup kembali.


Keheningan melingkupi.


"Aku antarkan kau pulang ke rumah sekarang."


"Tapi acara sosial belum selesai?"


"Aku akan mengatakan kepada yang lainnya bahwa kau sedang tidak enak badan."


"Kumohon Edric biarkan aku disini lebih lama, aku ingin menemui ibuku."


Edric membentak Vivian hingga ia terdiam. Terungkap sudah watak asli dari seorang Edric Harisson. Dibalik sikap sempurna yang selalu ditunjukkan pada publik ternyata semua itu hanya kedok. Edric lelaki tempramental dan penuntut.


Sesampainya di rumah Vivian segera berbaring di atas ranjang. Entah mengapa ia begitu merasa lelah. Tidak hanya fisik tetapi juga batin. Handphone milik Vivian terus berdering. Pesan dari orang tuanya, Johana Kaelee dan Anna Harisson saling bersahutan.


Johana Kaelee: Edric memberi kabar kalau kau kurang enak badan sayang? Perlu kukirimkan makanan enak ke tempatmu?


Anna Harisson: Segera lah berobat nak mintalah Edric untuk membawamu ke dokter, semoga lekas sembuh..


Vivian mengabaikan pesan pesan itu. Ia menghela nafas panjang. Sampai kapan Vivian harus berpura-pura kepada semuanya?


Berbohong itu cukup menguras tenaga.


***


Hari-hari berlalu dan waktu tetap berjalan tidak peduli keadaan buruk sekali pun. Vivian mulai terbiasa tinggal sendirian di dalam rumah.


Duduk di meja makan sendiri.


Menonton acara televisi tanpa di temani siapa pun. Membersihkan ruangan Edric walaupun jarang di pakai. Dan masih banyak lagi kegiatan yang sering ia lakukan untuk mengisi kekosongan.


Rumah yang megah ini seperti tak ada kehidupan.


Sunyi. Sepi.


Di kala hujan Vivian meringkuk di atas sofa ruang tamu. Melamun tentang pernikahan nya.

__ADS_1


Pertanyaan Vivian waktu itu belum sempat terjawab. Mengapa Edric tidak menceraikan Vivian lalu menikahi wanita selingkuhannya saja?


Disini Vivian bagaikan tawanan.


Sekarang airmatanya pun seolah mengering. Vivian berusaha menerima keadaan.


Lalu bagaimana dengan janin yang ada di perutnya? Tiap hari kian bertumbuh, perut Vivian mulai sedikit membuncit.


Pernah terlintas untuk menggugurkan bayi ini. Meminum obat-obatan yang dapat meluruhkan daging.Tetapi Vivian tak sampai hati membunuh anaknya sendiri.


Ketika jadwal periksa ke dokter tiba, Vivian melihat pengunjung lain tampak bahagia menunggu kehadiran buah hati mereka bersama dengan pasangan masing-masing. Hanya dirinya lah yang datang sendirian.


Terbersit rasa iri di hati.


Jika anaknya lahir, ia akan menemui keadaan kedua orangtuanya tengah berselisih. Ayah yang suka berselingkuh dan seorang Ibu yang sedang mengalami depresi. Sungguh Vivian tak ingin itu benar-benar terjadi. Tetapi kenyataan berkata lain.


Vivian memperhatikan foto hasil USG janinnya. Begitu kecil masih seukuran jeruk lemon begitu kata Dokter Sullivan.


Vivian berdiri di pinggir trotoar sedang menunggu taksi lewat. Ia sengaja tidak menyuruh Mike untuk mengantarkannya ke dokter. Karena Vivian benar-benar menutupi perihal kehamilan nya sendiri , termasuk Jane sahabat Vivian sekalipun.


"Vivian Kaelee!!"


Ada yang memanggil namanya, Vivian menoleh ke arah sumber suara. Anna Harisson tengah melambaikan tangan dari dalam mobil. Vivian segera mendekati.


"Mengapa kau berdiri di pinggir jalan? Dimana supir pribadimu?"


"Em..aku baru saja dari Mall dan sedang ingin jalan-jalan sendirian.."


Vivian menjadi gugup mencari alasan yang tepat.


"Kau baru saja sembuh dari sakit lain kali jangan begini!"


"Baik Ibu.."


"Masuklah ke dalam mobil."


Vivian menurut.


"Mau mampir ke rumahku? Sudah lama kau tidak mengunjungi ku.."


Jika sudah di desak seperti ini Vivian tidak dapat menolak lagi.


"Ya, aku akan berkunjung.."


Sepanjang perjalanan Anna Harisson terus bercerita tentang anak lelaki nya Edric Harisson. Vivian pun menyimak dengan baik dan berusaha tidak menampilkan wajah sedih.


Betapa Anna menyayangi Edric Harisson.


Di matanya, Edric anak yang patuh dan juga pintar.


Bagaimana jika Vivian ikut bercerita bahwa anaknya itu telah berselingkuh dan memperlakukan Vivian dengan semena-mena?


Pasti Anna Harisson tidak akan percaya.

__ADS_1


__ADS_2