Dendam Jane

Dendam Jane
Proyek Hotel-Mall


__ADS_3

Hanya tinggal lima hari lagi pembangunan proyek Hotel-mall akan dimulai. Edric pun semakin sibuk, terkadang saat hari libur ia masih masuk ke kantor untuk bekerja.


Jane memasangkan dasi pada kerah kemeja Edric. Ia sendiri masih mengenakan piyama tadi malam.


"Semangat bekerja.."


Jane mengecup ringan bibir Edric sebelum masuk ke dalam mobil.


"Kali ini akan aku usahakan pulang lebih awal.."


"Tak perlu memikirkanku, tetaplah fokus bekerja.."


"Sayangnya aku selalu memikirkanmu sesibuk apapun itu.."


Jane tertawa.


"Segeralah berangkat.."


Begitu Edric menghilang dari pandangan bersama dengan mobilnya. Sorot mata yang hangat berubah menjadi dingin.


Sebentar lagi aku akan terbebas dari semua sandiwara ini.


Selama Edric tak ada di rumah, Jane tidak serta merta duduk diam menikmati kesendiriannya tanpa Edric. Ia telah mengunjungi orang-orang yang telah menjual tanahnya pada perusahaan Harisson dengan keterpaksaan.


Berbagai respon diterima oleh Jane. Ada yang langsung menutup pintu dengan keras di depan mukanya adapula yang menjamunya dengan baik seperti tamu yang telah ditunggu kedatangannya.


Setidaknya Jane dapat mengumpulkan beberapa informasi tambahan untuk menguatkan bukti.


Terkadang sempat terlintas pertanyaan di benak Jane, apakah tindakannya ini sudah tepat? Ia juga teringat perkataan dari Daniel.


Ck! Menyebalkan!


Ia tidak membunuh Edric, hanya memberikan penghukuman. Mungkin Tuhan sedang mengirimkan karma melalui Jane Ainsley.


***


Daniel Wynford sedang memainkan pensil sambil memperhatikan penjelasan dari Edric di depan layar proyektor. Temannya itu masih terlihat baik-baik saja. Sebenarnya apa rencana balas dendam Jane Ainsley?


Daniel meyakini bahwa hal itu ada kaitannya dengan proyek pembangunan kali ini. Tetapi Jane belum menunjukan 'serangan' apa pun.


Daniel menghela nafas panjang. Seharusnya ia merasa antusias akan proyek baru ini, karena lagi-lagi dirinya lah yang dipercayakan Edric Harisson untuk merancang gambar bangunan dan juga memimpin proses berjalannya proyek Hotel-mall. Tetapi Daniel justru merasa risau.


Ia menjadi lebih waspada.


Begitu proyek pembangunan dimulai, Daniel mengawasi keamanan pekerja dengan ketat. Memeriksa setiap peralatan kerja dengan teliti apakah terdapat kerusakan. Lalu memastikan adakah pekerja gelap yang menyusup.



"Ada apa dengannya?"


"Aku juga tidak tahu."


"Biasanya Daniel bekerja dengan santai tapi kali ini ia tampak begitu ketat pada peraturan. Apakah proyek ini sangat berarti untuknya?"


"Bisa jadi Daniel Wynford masih memiliki masalah pribadi di rumah.."

__ADS_1


"Dia melihat kemari, ayo kembali bekerja."


Itulah beberapa tanggapan orang lain mengenai perubahan sikap Daniel yang sangat drastis. Biar saja, ini juga demi keselamatan mereka. Anggap mereka berhutang nyawa kepada Daniel tanpa disadari.


***


Tak terasa tiga bulan telah berlalu. Pembangunan proyek Hotel-mall dalam tahap penyelesaian terahkir. Disaat inilah para desain interior merealisasikan proposal kerjanya.


Edric Harisson yang biasanya hanya mengawasi dari kantor kini ikut turun tangan ke lapangan. Karena ia ingin melihat secara langsung bagaimana kekasihnya bekerja.


Begitu juga dengan Daniel Wynford, ia mengawasi setiap pergerakan Jane Ainsley dengan maksud yang berbeda.


Hah! Ada apa dengan pria pria ini, Jane seperti satwa langka yang sedang dipamerkan. Kedua sahabat itu bagaikan cctv berjalan!


Jane hanya ingin bekerja dengan tenang, walaupun nanti hasil kerja ini akan dihancurkan.


Ketika Jane sedang memberikan pengarahan kepada beberapa pekerja tiba-tiba ada orang yang mengantarkan satu gelas kopi kepadanya serta sekotak sandwich daging telur.


"Untukmu Nona.."


Jane tidak perlu menebak siapa yang membelikan kopi tersebut, sudah pasti orangnya adalah Edric Harisson.


"Terimakasih."


Yeah, ini lebih baik di bandingkan tingkah Daniel Wynford yang justru membuat Jane jengkel. Kemana pun Jane pergi pria itu selalu mengekor diam diam layaknya penguntit.


Ketika Jane hendak pergi ke toilet, Daniel masih mengikutinya. Jane sengaja memutar jalan lalu tiba-tiba berbelok dan bersembunyi diantara dinding penyekat. Benar saja Daniel langsung mencarinya.


"Berhenti mengikutiku seperti anak ayam mencari induknya!"


"Apa kau juga akan masuk kedalam kamar mandi wanita bersamaku??"


"Jika kau mengijinkan.."


Daniel tersenyum menggoda.


"Sinting!"


"Aku hanya memastikan kau tidak melakukan hal yang mencurigakan untuk mencelakai seseorang."


"Lagi-lagi kau membicarakan hal yang tak penting hingga aku bosan mendengarnya."


Jane pergi meninggalkan Daniel. Tapi pria itu masih tetap mengikutinya. Terserah saja!


Jane sengaja berlama-lama mencuci tangannya lalu membenahi riasan di wajah.


"Kau tidak pingsan di dalam kan Nona?"


Daniel berteriak dari luar. Hening tak ada sahutan.


"Jane?"


Masih tak ada jawaban sama sekali dari Jane Ainsley. Daniel menautkan kedua alisnya. Dengan ragu-ragu ia melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi wanita.


SROTT!!

__ADS_1


"Kena kau!"


Jane menyemprotkan air ke arah Daniel. Tidak hanya wajahnya yang basah tetapi juga seluruh pakaian Daniel basah kuyup hingga menempel ke tubuhnya yang berotot.


"Biar kuajarkan cara bermain air yang benar! Nona"


Daniel hendak membalas Jane, tapi wanita itu pintar berkelit.


"Urus saja dirimu sendiri dulu!"


Jane berlari ringan meninggalkan Daniel dengan keadaan kacau. Tawanya menggema merasuk ke dalam relung hati Daniel. Seperti anak kecil yang masih polos.


DEG! Lagi desiran aneh datang tanpa permisi.


Mengapa kau bertemu dengan Edric terlebih dahulu..


Rasanya sesekali Daniel ingin menjadi egois. Fakta Jane begitu membenci Edric membuatnya sedikit terhibur.


Bolehkah Daniel mencoba mendekati Jane setelah semua rencana balas dendamnya tercapai?


BRAK!


Daniel memukul pintu kamar mandi. Bodoh! Sama saja ia mendukung Jane untuk mencelakai temannya sendiri. Daniel membasuh mukanya dengan air dingin agar tetap terjaga akal sehatnya.


***


"Jane Ainsley? Kau darimana saja?"


Senyum Jane seketika menghilang. Ia tampak kaget melihat kemunculan Edric di depan matanya secara tiba-tiba.


"Aku baru saja dari kamar mandi.."


Edric merasa heran, mengapa kekasihnya seriang itu? Siapa yang baru saja ia temui?


"Apakah pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sebagian dan juga aku ingin mengucapkan terimakasih atas kopi yang kau berikan tadi.."


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku yang mengirimnya?"


"Tentu saja tau, kau kekasihku, siapa lagi kalau bukan kau?"


"Kau tak menyadari bahwa kau begitu menarik untuk di kagumi.."


Edric mendekat ke arah Jane.


"Edric kau selalu melanggar perjanjianku!"


"Baiklah, kali ini aku menurut. Tapi malam ini kau milikku.."


Edric mengalihkan ciumannya pada telapak tangan Jane.


Mereka pun kembali ke ruang kerja bersama-sama. Untuk terahkir kalinya Edric menoleh ke arah Jane tadi berasal. Hanya terdapat lorong yang sepi.


Mungkin Jane hanya melihat sesuatu yang lucu?

__ADS_1


__ADS_2