Dendam Jane

Dendam Jane
Menyelamatkan Jane


__ADS_3

Sebelum Daniel bertindak, ia ingin memastikan keberadaan Jane terlebih dahulu. Maka Daniel menghubungi Edric Harisson untuk memperoleh informasi.


"Edric sudah lama kita tidak bertemu, aku ingin sekali mengunjungimu. Kau ada dimana sekarang?"


"Maaf Daniel, belakangan ini aku sedang sibuk. Lain waktu saja."


"Ayolah! Hanya sebentar, aku yang akan menghampirimu.."


"Carilah teman yang lain untuk di ajak bermain."


Tidak hanya sekali Daniel menghubungi temannya itu, setiap hari ia berusaha membujuk Edric untuk mengajaknya bertemu walaupun cuma sesaat. Tetapi Daniel selalu menerima penolakan.


Edric seolah memang menghindarinya. Hal itu justru semakin membuat Daniel curiga. Sebenarnya apa yang telah di lakukan Edric terhadap Jane?


Daniel teringat akan fakta-fakta yang terungkap mengenai Edric Harisson. Bagaimana temannya itu dapat berperilaku kejam terhadap orang lain. Ini menyangkut nyawa seseorang. Terlebih Jane Ainsley sudah meminta pertolongan terhadap dirinya. Daniel justru akan merasa bersalah bila di kemudian hari muncul kabar buruk mengenai Jane Ainsley di pemberitaan.


Biarlah ibunya marah besar karena ia selalu ikut campur dalam urusan orang lain. Malam ini Daniel berniat untuk menyusup ke rumah Edric. Semoga saja ia tidak terlalu terlambat.


Sedangkan Jane memang menunggu kehadiran Daniel. Tiga hari yang lalu setelah ia meneleponnya tak ada kabar dari Daniel sama sekali. Apakah Jane telah salah mengambil keputusan, mengingat Daniel adalah teman Edric? Bagaimana dengan nenek Lindsay?


Seharusnya waktu itu ia menghubungi Leon Kaelee. Tetapi di sisi lain Jane tak mau melibatkan keluarga Kaelee lagi.


Haruskah Jane pasrah menjadi istri Edric Harisson? Jane yakin, begitu surat tanda menikah mereka telah di cetak, pria br3ngs3k itu tidak akan segan-segan menguasai Jane dan bertindak semena-mena sesuka hatinya.


Deru mesin mobil Edric terdengar dari kamar yang di tempati Jane. Hal itu menandakan bahwa Edric sedang pergi. Jane menghela nafas panjang, berada satu rumah dengan Edric selalu membuatnya merasa sesak. Apalagi jika mereka tinggal bersama setiap hari seumur hidup. Membayangkannya saja sudah membuat Jane merasa mual.


Mari segera ahkiri penderitaan ini.


Sedetik kemudian terdengar suara kaca beradu dengan lantai keramik memecah kesunyian malam itu. Jane membanting pigura foto milik Vivian. Serpihan kacanya berhamburan, berkilau seperti permata karena terkena sinar lampu. Jane memungut salah satu dari serpihan itu.



Jane tersenyum miring.


"Apa kau akan kecewa bila melihatku mati Edric Harisson? Atau mungkin kau justru tertawa menyaksikanku merenggang nyawa.."

__ADS_1


Jane menekan serpihan kaca itu di nadinya, ia memberikan luka sayatan pada pergelangan tangannya sendiri. Namun belum terlalu dalam luka yang ia torehkan tiba-tiba Jane mendengar seseorang memanggil namanya dari balik pintu.


"Jane Ainsley? Kau berada di dalam kamar ini?"


Akibat suara pecahan kaca tadi, Daniel langsung mengetahui keberadaan Jane. Ia berlari secepat kilat menuju ke lantai atas, ke arah sumber suara berpusat.


"Daniel? Bagaimana bisa kau ada di sini?"


Fokus Jane terpecah, ia berjalan mendekat ke arah pintu.


"Ceritanya cukup panjang.."


Daniel diam-diam datang kemari tanpa sepengetahuan Edric. Ia menunggu cukup lama di luar gerbang sampai Edric pergi. Mobil Daniel terparkir di tempat tersembunyi yang sekiranya Edric tak akan bisa melihat. Daniel sempat meragu karena Edric tak kunjung keluar dari rumahnya. Hampir saja ia memutuskan untuk pulang dan kemari esok lagi.


Namun penantiannya tidaklah sia-sia, tak berapa lama Daniel melihat mobil Edric melaju keluar gerbang. Ia menunggu sampai mobil Edric menghilang di tikungan. Setelah itu Daniel bergegas keluar dari tempat persembunyiannya sambil membawa linggis.


Tak perlu salah sangka, ia bisa di katakan seorang pekerja bangunan. Barang seperti linggis, palu, gunting besi dan alat-alat serupa selalu ada di dalam bagasi mobilnya. Tapi kali ini alatnya ia gunakan untuk keperluan lain.


Daniel memanjat gerbang. Ia cukup mengetahui seluk beluk rumah Edric, karena Daniel jugalah yang membangun rumah ini.


Begitu ia sampai di ruang tamu, Daniel mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari lantai dua. Dan berkat itu Daniel dapat segera menemukan Jane Ainsley.


"Apakah pintu ini terkunci?"


"Bagaimana bisa kau melontarkan pertanyaan bodoh di saat seperti ini!"


Bahkan saat keadaan mereka terdesak, Jane dan Daniel masih saja berdebat tidak penting. Daniel sendiri tak habis pikir Edric benar-benar menyekap Jane di dalam kamar ini.


"Baiklah. Menjauhlah dari pintu, aku akan mencongkel engselnya!"


Jane menuruti perkataan Daniel. Linggis Daniel bekerja dengan semestinya, pintu kamar berhasil dibuka.


"Apa yang kau lakukan Jane Ainsley?!"


Daniel terkejut saat melihat serpihan kaca di lantai serta luka sayatan kecil di pergelangan tangan Jane yang mengurus. Jane mengigit bibirnya menahan tangis mengingat ia tadi begitu frustasi hingga berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ini bukan seperti dirinya yang selalu pantang menyerah.

__ADS_1


"Maaf aku tak bermaksud membentakmu, pasti kau telah melalui hal yang berat. Aku akan mencari plester terlebih dahulu untuk menutup lukamu."


Jane menarik ujung jaket Daniel. Tangannya gemetaran.


"Jangan tinggalkan aku sendirian. Aku masih takut."


Pertahanan Daniel runtuh. Kali ini Jane tampak begitu rapuh, sangat berbeda saat mereka bertemu sebelumnya. Rasa ingin melindungi muncul seketika. Daniel berbalik lalu memeluk tubuh Jane dengan lembut.



"Aku sudah ada di sini."


Tangis Jane pecah. Ia merasa aman di dalam pelukan Daniel. Hampir sebulan Jane dikurung dalam kamar ini, ia selalu merasa was-was dengan tindakan Edric yang tak terduga.


Mereka cukup sadar bahwa mereka tak dapat berlama-lama disini, tetapi Daniel membiarkan Jane menenangkan dirinya sejenak. Setelah tangis Jane mereda barulah Edric mengobati luka Jane.


"Apakah nenekku baik-baik saja?"


"Tenanglah beliau aman bersama ibuku.."


Dahi Jane berkerut.


"Bagaimana caranya kau membujuk nenek?"


"Mudah saja, ibuku seorang polisi, walaupun berpangkat rendah, tapi ia mahir dalam membujuk orang."


"Aku tak menyangka ibumu seorang polisi.."


"Bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian, teman.."


Tiba-tiba sebuah suara berat menyela pembicaraan mereka berdua. Seketika tubuh Jane dan Daniel menegang. Tanpa menoleh pun mereka cukup mengenali siapa pemilik suara ini.


"Daniel Wynford ahkirnya kita bertemu, walaupun dalam keadaan tak menguntungkan.."


Edric Harisson menodongkan pistol ke arah Daniel. Kali ini pistol yang di pegangnya benar-benar terisi dengan peluru.

__ADS_1


__ADS_2