Dendam Jane

Dendam Jane
Kode Password


__ADS_3

Jane memainkan jari telunjuknya di atas keyboard laptop, sesekali ia melihat ke arah pintu memastikan dua orang pria yang ada di ruang santai masih tertidur pulas.


Kemarin ia begitu yakin melihat Edric mengetik angka angka tersebut. Tapi ternyata dirinya salah.


Jane tak habis akal, ia mengkombinasi nomor nomor tersebut. Memindahkan urutan letak angka dan huruf.


Kode password salah.


Kode password salah.


Kode password salah....


Berkali-kali tanda silang merah muncul karena kode yang di masukan Jane selalu salah. Empat puluh lima menit pun terbuang sia-sia.



Huft! Jane menarik nafas dalam-dalam. Ia harus tetap tenang.


Mari berpikir! Apakah kode tersebut merupakan tanggal lahir seseorang? Siapa kira kira?


Yang jelas ini bukan tanggal lahir Edric. Apalagi tanggal lahirnya sendiri. Jane tak akan besar kepala, menganggap Edric akan mencantumkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal pribadinya hanya karena ia mencintai Jane.


Justru Jane sempat mengira angka tersebut ada kaitannya dengan Vivian karena kemungkinan huruf V dan H singkatan dari Vivian Harisson.


Tetapi ketika Jane memasukan tanggal lahir Vivian, tanggal pernikahan, bahkan tanggal kematian sahabatnya itu tidak ada satupun yang cocok.


Apakah Vivian memang tidak begitu berarti bagi Edric selama ini?


Kemudian Jane mengambil ponselnya dan segera membuka pencarian internet. Ia mendikte satu persatu-satu tanggal lahir anggota keluarga Harisson dari Gil Harisson, Anna Harisson, termasuk mendiang kakak Edric, Garrix Harisson. Tentu mencari informasi orang terpandang sangatlah mudah.


Tetapi hasilnya tetap nihil.


"Apakah Edric hanya mengacak kode password dengan sembarangan?!"


Rasanya tak mungkin. Edric orang yang sistematis, pasti ia benar-benar memikirkan dengan matang untuk membuat sebuah kode password.


Jane menyugar rambutnya ke belakang. Siapa orang terdekat Edric selain keluarganya? Atau itu adalah sebuah plat nomor kendaraan?


Sekilas Jane melirik pencarian terahkirnya di website yang tertera di layar ponsel miliknya.


Garrix Harisson putra pertama dari Gil dan Anna Harisson. Lahir di kota Louisiana pada tanggal 3 Maret 19xx hingga wafat tanggal 17 Desember 19xx karena kecelakaan mobil.

__ADS_1


Tunggu!


Jane telah menyadari sesuatu. Ia memperhatikan lebih seksama pada tanggal kematian Garrix Harisson.


17 Desember 19xx.


1712 VH.


Tanggal 17 bulan Desember, bulan ke dua belas. Jane yakin angka password yang ia lihat sudah benar. Lalu huruf V dan H?


"Oh! Sh*iitt!!"


Jane mengganti huruf V menjadi G. Sehingga password berubah 1712 GH.


Enter.


Kode berhasil.


Bukan huruf V tapi G.


G dan H kepanjangan dari Garrix Harisson. Edric memilih tanggal kematian kakaknya karena di saat itulah kehidupan yang ia jalani benar-benar berubah. Hari dimana Edric untuk pertama kali kehilangan orang yang paling ia sayangi sekaligus ia harus menanggung semua beban yang diberikan oleh ayah kandungnya sendiri.


Hanya karena letak huruf V dan G saling berdekatan sudah membuat kesalahan yang fatal.


Seolah tak mempercayai mata kepalanya sendiri, semua foto Jane dalam berbagai kegiatan ada di sana. Sejak kapan semua foto ini diambil, Jane tak pernah menyadarinya? Bahkan foto ketika mereka belum bertemu seperti foto semasa ia sekolah, ikut di simpan.


Tubuh Jane merinding. Sejauh mana Edric mengetahui tentang dirinya?


Pikirkan nanti!


Jane menancapkan flashdisk ke laptop Edric. Banyak sekali informasi penting disini. Salah satunya data para investor saham yang bekerja sama dengan perusahaan Harisson serta data orang-orang pemilik tanah yang telah di gusur Edric untuk pembangunan proyek. Lalu juga terdapat beberapa laporan serta proposal penting meliputi pembangunan proyek yang akan datang.



Jane hendak menyalin hal-hal yang ia anggap bermanfaat. Ingin rasanya Jane ikut menghapus folder yang berisi semua fotonya tadi. Tapi jika Jane melakukannya, ia akan langsung ketahuan.


Waktu terus berjalan. Ternyata berkas yang di salin cukup memakan banyak memori. Progresnya pun berjalan sangat lambat. Masih mendapat sekitar 73 %. Semoga Jane tidak kehabisan waktu atau yang lebih buruk kedua pria yang tertidur itu terbangun lebih awal.


"Ayolah! Cepat!!"


Tanpa sadar Jane memainkan jemarinya karena gelisah.

__ADS_1


***


Begitu terbangun Edric langsung mengernyitkan dahi. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat seolah ada ratusan ton batu di dalamnya. Edric mencoba mengingat kejadian terakhir yang ia alami.


Sebenarnya anggur jenis apa yang di bawa Daniel hingga dapat membuat mereka semua mabuk seperti ini? Karena biasanya Edric dan Daniel cukup kuat minum sampai empat atau lima botol anggur.


Edric melihat tubuh Daniel yang masih terkapar di atas lantai. Sungguh memalukan, mereka adalah orang-orang dewasa tetapi mengapa mereka mabuk hingga sedemikian rupa seperti remaja kemarin sore. Edric mentertawakan kekonyolan yang terjadi.


Lalu dimana sekarang Jane Ainsley? Edric tidak melihat sosok kekasihnya itu.


"Jane?"


Tidak ada sahutan. Edric beranjak dari sofa dengan tertatih. Saat berdiri, barulah ia melihat tubuh Jane meringkuk di atas karpet tertutup oleh meja. Edric pun segera menghampirinya.


"Jane bangunlah.."


"Hmm..Sepuluh menit lagi.."


Jane bergumam lirih. Ternyata Ia juga mabuk. Untuk sejenak Edric mengamati wajah Jane. Secara perlahan jemarinya menelusuri anak rambut serta bibir Jane.


"Kau bisa sakit bila terlalu lama tidur disini.."


Walaupun kakinya masih lemas, dengan sisa tenaga Edric membopong tubuh Jane dan memindahkannya ke dalam kamar. Edric mencium singkat bibirnya kemudian menyelimuti tubuh Jane.


"Selamat tidur."


Hening sesaat, kemudian terdengar suara pintu ditutup.


BLAM!


Satu.


Dua.


Tiga.


Empat.


Lima.


Jane berhitung di dalam hati. Edric tidak kembali lagi kemari. Ia pun membuka matanya lebar-lebar sambil merogoh kantung bajunya. Flashdisk berisi salinan data penting dari laptop Edric telah berada di genggamannya.

__ADS_1


Jane berhasil.


Ia tidak kuasa menahan senyum.


__ADS_2