Dendam Jane

Dendam Jane
Perasaan yang Berbeda


__ADS_3

Edric sedang berendam di dalam Jacuzzi sambil menikmati segelas sampanye dingin. Matanya menerawang jauh kedepan. Pikiran Edric berkelana.



Edric tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini? Ketertarikannya pada Jane Ainsley sangat di luar nalar. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa kali. Tapi entah mengapa Edric selalu ingin berada di sampingnya.


Dibandingkan dengan Vivian Kaelee, yang Edric rasakan hanyalah sebuah kewajiban yang harus ia penuhi untuk kepentingan relasi bisnis. Itu alasan mengapa Edric tidak menceraikan Vivian. Seperti menjalankan tugas yang harus ia emban dari ayahnya. Mengesampingkan semua perasaan.


Lalu Samantha? Wanita jal4ng itu hanya untuk pelampiasan sesaat. Hubungan mereka hanya berlandaskan n4fsu semata. Tak lebih.


Jane Ainsley.


Namanya seperti mantra bagi Edric. Ia ingin mengenal wanita itu lebih jauh.


Edric meraih handuk lalu melilitkannya ke pinggang. Ia hendak menghubungi Jane.


Edric Harisson: Bisa kita bertemu?


Saat itu Jane masih sibuk di lapangan kerja memantau proyek yang ia kerjakan bersama Tammy. Kemudian Jane mendengar suara notifikasi pesan masuk. Ternyata dari Edric Harisson.


Semenjak kematian Vivian, Jane selalu menghidupkan nada dering telepon dengan volume tinggi. Dan ia selalu memastikan bahwa baterai ponselnya penuh. Jane takut jika kejadian yang lalu terulang kembali pada orang lain.


Jane segera membalas pesan dari Edric..


Jane Ainsley: Aku sedang bekerja mendampingi rekanku. Maafkan aku..


Edric mengerutkan dahinya. Jane pernah bercerita bahwa ia bekerja sebagai desain interior. Kalau di pikir lagi bukankah pekerjaannya itu berhubungan erat dengan bisnisnya juga?


Bagaimana jika ia merekrut Jane ke perusahaan miliknya? Dengan begitu Edric akan lebih leluasa menghabiskan waktu berdua bersama Jane Ainsley.


Edric Harisson: Siapa nama penyelenggara proyek yang sedang kau kerjakan?


Jane menaikkan sebelah alisnya. Untuk apa Edric menanyakan hal itu?


Jane Ainsley: Tuan Taylor lah pemilik proyek ini dan dia menyewa jasaku..


Tentu Edric mengenali Taylor. Dia salah satu rekanan bisnisnya. Saat acara sosial waktu itu, Taylor pernah bercerita ia akan membangun kostel di dekat sebuah Universitas.


Baiklah. Seperti yang sudah di jelaskan, Edric tidak suka penolakan. Apa yang Edric inginkan harus terpenuhi.


Edric segera berganti pakaian.


***


Sekali lagi Jane melihat ke arah ponsel. Cukup lama Edric tidak membalas pesannya lagi. Apakah dia marah?


Benarkah ini? Edric merajuk karena tidak dituruti kemauannya? Jane tak habis pikir.


"Jane?!"


"Ada apa Tammy?"


"Kau terlalu asyik dengan ponselmu! Kau tak mendengar Tuan Taylor memanggil mu.."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hmm..Kau sudah punya pacar ya?"


Jane tak menjawab pertanyaan Tammy lalu mengalihkan pembicaraan.


"Dimana Tuan Taylor?"


"Dia sudah berjalan menuju ke ruangannya. Segeralah menyusul!"


Jane bergegas kesana. Apakah Ia sudah melakukan kesalahan?


"Tuan Taylor.."


Jane melihat Tuan Taylor masih berdiri di ambang pintu. Pria paruh baya itu pun menoleh. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan. Justru Tuan Taylor melempar senyum ke arah Jane.


"Segera kemarilah! Ada tamu yang mencarimu.."


Tamu? Alis Jane saling bertautan. Rasa penasarannya kian menjadi. Sepertinya Tuan Taylor juga mengenalnya. Dilihat bagaimana ia bersikap.


Begitu Jane masuk ke dalam ruangan, yang ia lihat adalah Edric Harisson mengenakan pakaian kasual serba hitam. Jane berani bertaruh seluruh pakaian hingga aksesori yang menempel di badan Edric merupakan barang bermerek.



Walaupun Jane membencinya. Ia akui Edric termasuk pria yang tampan. Sangat di sayangkan ketampanannya itu tidak di selingi dengan hati yang baik.


Bagaimana Edric bisa langsung mengetahui bahwa Jane sedang berada disini? Ah! Jane hampir melupakan fakta bahwa Edric Harisson seorang pebisnis sukses yang punya banyak relasi. Ia memiliki pengaruh yang cukup besar di kota ini. Pantas saja Tuan Taylor begitu terlihat ramah.


"Ya aku sudah tahu."


"Kalian saling mengenal?"


"Bisa di katakan begitu."


"Tuan Edric mengapa Anda mencariku hingga datang kemari? Apakah Anda memerlukan bantuanku?"


"Kau tidak perlu berbicara terlalu formal di hadapanku.."


Jane melirik ke arah Tuan Taylor. Pria itu menangkap sinyal bahwa mereka memerlukan ruang pribadi.


"Aku akan memantau pengerjaan para staff di luar. Silahkan dilanjutkan.."


Tuan Taylor pergi meninggalkan ruangan. Sekarang hanya ada mereka berdua.


"Aku sedang bekerja.."


"Aku sudah meminta izin kepada atasanmu."


"Aku harus tetap profesional. Jika tidak mereka akan menganggap kinerja ku buruk.."


"Tidak akan. Selama kau berada bersamaku."


"Tuan Edric Harisson. Beri aku waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku.."

__ADS_1


"Panggil aku Edric."


Yap! Inilah Edric Harisson. Dialah sang pemegang kendali. Kalau bukan karena rencana tersembunyinya , Jane sudah memaki pria itu!


"Edric, kumohon.."


Edric menyukai suara Jane ketika memanggil namanya.


"Baiklah. Aku akan menunggu tiga puluh menit, tidak dua puluh menit."


Siapa dia?!! Beraninya mengaturku!


Namun isi hati Jane tidak sama dengan ekspresi mukanya saat ini.


"Tunggu aku.."


Untuk pertama kalinya Edric mau menunggu orang lain. Terlebih yang ia tunggu seorang wanita.


Selama menunggu Jane, Ia di temani dengan Taylor.


"Aku tidak menyangka kau kenal dengan Jane Ainsley. Apa kau juga akan menyewa jasanya?"


"Seperti yang kau lihat. Bolehkah aku melihat portofolio milik Jane untuk mengerjakan proyekmu?"


"Ya, silahkan.."


Taylor menyodorkan map berwarna hijau tua kepada Edric.


Edric memeriksa pekerjaan Jane Ainsley. Kemampuan wanita itu memang di atas rata-rata. Penataan yang rapi serta pemilihan produk yang ditulis secara detail. Edric semakin ingin menjadikan Jane karyawan di perusahaannya dan mungkin sekaligus memilikinya.


Edric menyeringai. Bukankah mereka itu cocok?


"Bagaimana kau suka dengan kinerjanya?"


"Suka sekali.."


Taylor sedikit terkejut dengan tanggapan Edric Harisson yang terlihat begitu antusias. Tidak salah ia memilih bekerja sama dengan Jane Ainsley.


Tanpa sadar dua puluh menit telah berlalu. Jane kembali menemui Edric Harisson.


"Jadi sebenarnya apa tujuan mu kemari?"


"Sesuai SMS yang ku kirim tadi. Aku ingin bertemu denganmu lalu mengajakmu makan malam."


Yang benar saja?!! Lelaki ini menganggu pekerjaanku hanya untuk hal sepele!! Padahal masih ada banyak waktu! He is a crazy man!


Sepertinya Jane harus berlatih kesabaran. Hampir saja ia mengacungkan jari tengah kepada Edric. Ambil sisi positifnya, Edric sudah mulai terpikat pada Jane.


"Tuan Taylor aku pamit. Aku sudah mengarahkan pada Tammy dan yang lainnya untuk mengerjakan sisa penataan.."


"Ya ! Berhati-hatilah di jalan.."


Taylor mengamati kepergian Edric dan Jane dengan tatapan penuh tanya. Apakah mereka memiliki hubungan spesial?

__ADS_1


__ADS_2