Dendam Jane

Dendam Jane
Permintaan Maaf


__ADS_3

Saat ini Jane Ainsley memilih tinggal di New Orleans bersama dengan Nenek Lindsay. Ia perlu menjernihkan pikirannya kembali dengan meninggalkan kota Louisiana. Kota kelahirannya yang justru penuh dengan kenangan pahit.


Masih terngiang-ngiang di benak Jane bayangan dirinya saat tenggelam ke dasar sungai. Untuk sementara waktu Jane menghindari kegiatan berenang atau sejenisnya yang berhubungan dengan air. Namun anehnya ketika Jane melihat lautan yang terbentang luas, ia menemukan ketenangan sendiri. Tak dapat dipungkiri kota New Orleans sangat berdekatan dengan laut.


Dua minggu yang lalu ketika Jane sedang menyiangi rumput di pekarangan rumah, ia dikejutkan dengan kedatangan mobil sedan berwarna putih yang berhenti tepat di depan rumah Nenek Lindsay. Dahi Jane langsung berkerut dalam. Apakah hari ini Neneknya akan menerima tamu?


Pintu mobil pun terbuka, seorang wanita paruh baya dengan setelan bermereknya turun dari mobil. Wajahnya tampak begitu familiar.


"Jane Ainsley.."


Wanita itu mencarinya bukan Nenek Lindsay?


"Siapa Anda?"


Wanita paruh baya itu mengulas senyum.


"Aku Anna Harisson, bisakah aku meminta waktumu untuk berbicara.."


Barulah Jane menyadari, sepintas wanita yang ada di hadapannya memang mirip dengan Edric Harisson. Jane langsung melemparkan pandangannya ke arah mobil yang di kendarai Anna Harisson. Seolah mengerti apa yang di pikirkan Jane, Anna Harisson angkat bicara.


"Aku hanya datang bersama supir pribadiku, tidak ada yang lain."


"Baiklah silahkan masuk.."


Jane ragu membukakan pintu, selain enggan berurusan dengan keluarga Harisson lagi, ia juga takut akan respon Nenek Lindsay. Benar saja dugaannya, Nenek Lindsay secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Anna Harisson.


"Kalian berdua berbicaralah, aku akan mengawasi dari pojok ruangan. Aku tak mau cucuku dalam bahaya lagi, padahal kami masih berada satu atap." Tandas Nenek Lindsay tanpa bisa di bantah.


Anna Harisson tersenyum maklum, bagaimana pun juga keluarganya lah yang bermasalah. Cukup lama mereka terdiam dan duduk berhadapan. Teh Rosella yang di sajikan pun mulai mendingin.


Walaupun wajah Anna Harisson dihiasi dengan guratan-guratan halus di setiap sudut mata dan bibirnya, ia masih terlihat cantik. Sekarang Jane tahu darimana Edric memperoleh ketampanannya.


"Apakah kalian akan tetap diam sampai esok hari!"


Teriakan Nenek Lindsay memecah keheningan diantara mereka berdua. Barulah Anna Harisson membuka percakapan.

__ADS_1


"Maafkan atas kelancangan suamiku.."


"Untuk apa?"


"Aku tahu, sebelum persidangan putraku, Gil menemuimu untuk melakukan penawaran agar kau mencabut gugatan Edric.."


Jane terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Anna Harisson pun melanjutkan bicara.


"Jika kau sulit memaafkannya aku tidak akan memaksamu melakukan itu, tapi mengenai Edric kali ini aku benar-benar memohon agar kau mengampuninya.."


Rahang Jane mengeras. Matanya berkilat marah.


"Apakah Anda juga akan membayarku?"


"Tidak. Itu akan melukaimu setelah apa yang diperbuat Edric.."


"Anda pasti sudah tahu jawabanku. Sebaiknya Anda tidak perlu membuang-buang waktu lagi disini. Bergegaslah pulang.."


Jane mengusir Anna Harisson secara halus. Ia memalingkan mukanya. Anna segera beranjak dari kursi. Jane pikir wanita paruh baya itu benar-benar akan pulang karena tersinggung dengan ucapannya. Tetapi Anna Harisson justru melakukan hal yang tak pernah Jane sangka. Ia berlutut di depan kaki Jane.


Walaupun Anna Harisson adalah orang kaya dan cukup terpandang di kota Louisiana, ia tetaplah seorang Ibu. Seburuk apapun perbuatan Edric, Anna Harisson rela membuang jauh-jauh harga dirinya demi kebaikan putranya.


"Berdirilah! Anda tidak bisa begini.."


Jane Ainsley, menahan tubuh Anna Harisson agar tetap berdiri tegak.


"Aku tahu ini tidak akan cukup, kau boleh meminta apapun dariku. Kumohon Jane Ainsley temui Edric sebentar saja.."


Air mata keluar dari pelupuk mata Anna Harisson. Jane menghela nafas panjang. Ia masih sulit memutuskan.


"Duduklah kembali! Aku akan membuatkan teh Rosella yang baru."


Nenek Lindsay mengambil cangkir berisi teh yang sudah dingin. Ia juga menyeduh teh yang baru.


"Kuharap kali ini kau meminum tehnya."

__ADS_1


Tangis Anna Harisson pun pecah. Di tengah isak tangisnya ia menceritakan keadaan Edric yang kian memburuk. Kata permohonan maaf sering ia ucapkan berkali-kali.


Lagi-lagi Jane membenarkan perkataan Daniel. Balas dendam bukanlah suatu penyelesaian masalah. Ia akan menimbulkan luka yang baru. Hingga mungkin orang yang ikut terluka merencanakan pembalasan serupa. Sungguh, siklus yang tidak akan ada habisnya.


Lalu apakah Jane akan menemui Edric? Yang jelas tidak untuk sekarang ini.


***


Tak terasa semusim telah terlewati. Jane Ainsley memutuskan untuk merintis usaha dari awal kembali. Uang tabungannya sudah cukup untuk menyewa tempat. Tetapi selalu saja ada masalah yang menghambat.


Jane tidak akan heran bahwa Gil Harisson lah yang mempersulit setiap langkahnya. Ia sudah memperkirakan itu sebelumnya. Sekeras apapun istrinya mencegah Gil Harisson agar tidak bertindak seenaknya, namun tetap saja ia akan kalah.


Seperti saat ini, pemilik ruko yang akan Jane temui tiba-tiba membatalkan janjinya. Tidak hanya satu dua kali Jane gagal melakukan kesepakatan dalam urusan penyewaan tempat. Selalu saja ada alasan bagi pemilik ruko untuk tidak menemui Jane.


"Memang uang dapat mempengaruhi segalanya.."


Jane tidak akan patah semangat. Ini adalah konsekuensi yang harus ia hadapi. Gil Harisson bukanlah Tuhan. Suatu saat Jane pasti menemukan solusinya.


Jane berjalan perlahan sambil menikmati suasana sore hari di kota New Orleans. Matahari yang tenggelam di ufuk barat memberikan warna jingga pada langit. Jane akan merekam pemandangan indah ini di otaknya.



Di depan sudah terlihat gang rumah Nenek Lindsay. Seorang pria dengan perawakan tinggi telah berdiri di sana. Begitu ia melihat Jane, pria itu melambaikan tangan seraya melempar senyuman.


"Jane Ainsley.."


"Daniel? Mengapa kau bisa ada di sini?"


"Apa aku tak boleh mengunjungimu?"


Jane cukup sadar bahwa Daniel Wynford sedang berusaha mendekatinya. Ahkir-ahkir ini Daniel sering mengirim pesan singkat kepadanya. Ia juga memberikan perhatian perhatian kecil kepada Jane. Siapa pun yang melihat pasti akan dapat mengetahui bahwa Daniel tertarik kepada Jane Ainsley.


"Baiklah. Mau pergi menuju caffe di dekat sini?"


"Ya biar aku yang traktir.."

__ADS_1


Mereka pun berjalan beriringan menghampiri sebuah caffe yang dekat dengan jalan raya.


__ADS_2