Dendam Jane

Dendam Jane
Depresi


__ADS_3

Mulanya Vivian berjalan cepat saat meninggalkan kantor Edric, kemudian ia mulai berlari kencang begitu sudah keluar dari gedung.


Vivian terus berlari tak tentu arah tanpa memperhatikan keadaan sekitar hingga ia menabrak pejalan kaki lainnya.


BRUKK!!


"Hei!! Hati hati!! Perhatikan langkahmu!!"


"Ma..maaf aku tidak sengaja.."


Pejalan kaki itu hendak marah kepada Vivian tapi begitu melihat wajahnya yang tampak pucat dengan mata berkaca-kaca ia mengurungkan niatnya.


"Kau tidak apa-apa? Apa kau sedang sakit?Wajahmu pucat sekali.."


"Aku baik-baik saja, sekali lagi saya minta maaf.."


Vivian segera berlalu. Pejalan kaki itu pun menatap kepergian Vivian dengan khawatir.


"Dia yang menabrakku. Aku yang merasa bersalah.."


Jane. Ia ingin bertemu Jane untuk menceritakan semua keluh kesahnya. Karena pikiran Vivian sudah penuh dan harus ditumpahkan. Vivian bagaikan bom atom yang siap meledak.


Tetapi sialnya tempat kerja Jane di tutup. Kemana dia? Apakah hari ini sedang libur?


Vivian mengambil ponsel. Tujuh belas panggilan tak terjawab dari Edric Harisson.


Ia sengaja mengalihkan semua panggilan telepon dari Edric. Vivian masih tak ingin mendengarkan penjelasan dari suaminya lagi karena pastinya hanya berujung pada pertengkaran.


Apakah Jane sedang berada di apartemen nya? Vivian segera memesan taksi untuk pergi kesana.


Namun sepertinya Jane juga tidak ada di rumah. Berulang kali Vivian memencet bel pintu tak ada sahutan dari dalam. Vivian mencoba menghubungi nomor telepon Jane.


"Nomor yang Anda hubungi tidak menjawab. Silahkan tinggalkan pesan suara setelah bunyi Bip..."


"Jane..."


Vivian bergumam lirih, ia terduduk lemas di depan apartemen Jane. Vivian harus pergi kemana lagi?


Ia tidak ingin pulang ke rumah. Jika Vivian melihat wajah Edric sekarang dadanya akan terasa sesak karena teringat kejadian tadi.


Bibir Edric yang pernah mencium setiap jengkal tubuh Vivian ternyata juga di miliki orang lain.


Awan hitam menggantung di langit. Angin berhembus dingin, sebentar lagi pasti akan hujan. Vivian tak tahu kapan Jane akan pulang.


Tunggu sebentar lagi, mungkin saja Jane akan segera datang.


Nyatanya hampir satu jam berlalu sahabat Vivian belum juga terlihat batang hidungnya. Ia pun berjalan gontai.


Apakah hari ini adalah hari si4l ku?


***


Johana Kaelee sedang menyeduhkan kopi untuk suaminya. Leon Kaelee pun turut serta berkumpul di ruang keluarga bersama. Tidak seperti biasanya Leon berada di rumah. Ahkir-ahkir ini cuaca sedang tidak bersahabat, ia memilih menetap di rumah terlebih dahulu daripada melakukan traveling.

__ADS_1


"Sudah mulai musim penghujan.."


"Sebaiknya kau tak pergi kemana-mana."


"Lihat aku sudah di rumah semenjak kemarin.."


"Berhentilah melakukan hal-hal yang tak berguna. Kapan kau akan menurut kepada ayah."


"Huft! Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan ini lagi.."


"Mengapa sulit sekali mendidikmu. Contoh lah kakakmu Vivian."


Leon memutar kedua bola matanya. Ia sudah siap mendengar ceramah yang akan di lontarkan dari mulut Lewis Kaelee. Ini lah salah satu alasan Leon tidak betah berlama-lama berada di rumah.


TING!! TUNG!!


Seketika wajah Leon menjadi ceria. Ia terselamatkan dari ocehan ayahnya dan sangat berterima kasih pada tamu yang datang.


"Biar aku yang buka kan pintu.."


Leon membuka pintu.


"Kakak??"


"Hai Leon..Apa kabar?"


"Siapa?"


Johana Kaelee melongokkan kepalanya. Vivian langsung tersenyum.


Vivian segera memeluk ibunya erat-erat.


"Aku sangat rindu.."


Ya aku sangat rindu tinggal di sini bersama dengan kalian, hingga tak ingin kembali ke rumah Edric Harisson..


"Kau datang sendiri? Dimana suamimu?"


Lewis mencari keberadaan Edric. Untuk sesaat tubuh Vivian menegang. Ia harus berbohong.


"Edric masih sibuk bekerja, aku tak ingin menganggunya.."


Leon lah yang menangkap kejanggalan pada kakaknya. Ia menaikkan sebelah alis dan memasang wajah skeptis.


"Sayang sekali.."


"Nanti suruh dia untuk menjemput mu.."


"Ya papa.." Jawab Vivian ragu-ragu.


"Kalau begitu beristirahatlah di kamarmu yang dulu, ketika waktu makan malam tiba aku akan memanggilmu.."


"Baik Ma.."

__ADS_1


Saat ia sudah sendirian di dalam kamar Vivian menghela nafas panjang. Rasanya sulit sekali berbohong kepada orang tua.


Kamar yang begitu ia rindukan. Tak ada perubahan yang mencolok pada kamar miliknya. Andai Vivian dapat kembali kemari. Tidur di sini lebih nyaman daripada di rumah Edric.


Vivian membuka laci kedua meja belajar. Di bagian bawah loker, terdapat pengait kecil. Jika di tekan akan ada ruang tersembunyi untuk menyimpan barang. Hanya Jane dan dirinya saja yang mengetahui tempat ini.


Vivian menyimpan buku diary nya di dalam sana. Dengan cepat Vivian mengambil hasil foto Usg dan juga testpack dari dalam tas. Kemudian ia menyelipkan di antara lembaran buku diary.


Vivian pun mulai menuliskan keluh kesahnya. Pena yang ia kenakan seolah menari-nari di atas kertas. Ini sedikit membantu mengurangi beban pikiran.


Tak terasa jam makan malam telah tiba. Vivian dapat mendengar Johana Kaelee mulai memanggilnya untuk berkumpul di ruang makan. Ia pun menyimpan kembali diary itu ke tempat semula.


Benar kata pepatah, masakan ibu adalah makanan terenak di banding apapun. Vivian makan dengan lahap. Sangat menyenangkan bisa makan bersama seperti ini lagi.


"Vivian hubungi suamimu ajak dia makan malam di sini. Bukankah jam kantor telah selesai?"


N4fsu makan Vivian langsung menghilang begitu Lewis Kaelee menyinggung soal Edric. Karena ia harus menyusun kebohongan sedemikian rupa menutupi retaknya hubungan rumah tangga Vivian.


"Edric sedang lembur Pa.."


"Lain kali jangan datang sendirian, ajaklah dia.."


Yah, Lewis Kaelee sangat antusias jika menyangkut tentang Edric Harisson, menantu kesayangannya. Sekarang percakapan di dominasi dengan pertanyaan seputar Edric. Leon pun merasa jengah, ia cepat-cepat menghabiskan makan malamnya lalu pamit ke kamar terlebih dahulu. Selain malas mendengarkan cerita Lewis, Leon tak ingin melihat kakaknya yang tampak terpojok seperti kelinci buruan.


"Kapan kau memiliki anak. Tidak baik menunda-nunda terlalu lama."


DEG!!


"Semoga saja cucu pertamaku seorang anak lelaki yang mirip dengan ayahnya."


DEG!! DEG!!


"Kau harus berbaik-baik dengan Edric.."


DEG!! DEG!! DEG!!


"Jadilah istri yang pintar. Layani suamimu sebaik mungkin."


Edric, Edric, Edric. Semua tentang Edric Harisson. Bahkan sejak awal kedatangan Vivian ayahnya tidak menanyakan kabar putrinya sendiri sekalipun.


BRAKK!


Tanpa sadar Vivian menggebrak meja hingga Lewis dan Johana Kaelee terkejut. Garpu dan sendok berjatuhan di lantai.


"Maaf aku tak sengaja.."


"Kurangi sikap ceroboh mu itu di depan Edric."


Lagi.


"Sebaiknya aku segera pulang sebelum Edric tiba di rumah.."


"Ya. Hati-hati di jalan. Titip salam untuk Edric."

__ADS_1


"Baik Pa.."


Vivian tersenyum kecut. Niatnya kemari untuk memulihkan perasaan. Tetapi ia justru mendapatkan luka baru.


__ADS_2