
Sudah lama Mrs Nolan Merdiez tidak menerima tamu di kediamannya. Semenjak insiden waktu 'itu', ia mulai dikucilkan oleh masyarakat dan juga kerabatnya. Mrs Nolan pun ikut menutup diri. Ia sengaja membiarkan rumput liar tumbuh lebat di pekarangan depan agar para mata-mata dari perusahaan Harisson maupun wartawan sulit mengintai ke dalam rumah. Para tetangga pun juga pasti enggan untuk sekedar berkunjung.
Dan sekarang secara terang-terangan orang-orang dari perusahaan Harisson datang kemari. Apa yang mereka mau? Semua hal yang berharga telah direnggut dari genggamannya secara paksa kecuali Natalia Merdiez, putrinya. Ia masih bersyukur, 'mereka' tidak menganggu anaknya.
"Langsung saja katakan, aku tidak suka berbasa-basi. Mengapa kau mencariku?"
"Saya ingin mendengar cerita anda tentang insiden waktu itu dari sudut pandang Anda sendiri.."
Permintaan yang cukup mengejutkan dari orang asing yang baru saja bertemu.
"Mengapa tidak kau tanyakan langsung pada atasanmu? Bukankah orang-orang dari perusahaan Harisson memiliki cerita versi mereka sendiri mengenai aku?"
"Yang saya inginkan adalah cerita dari Anda Mrs Nolan, bukan melalui mulut orang lain.."
"Mengapa aku harus melakukannya, berikan aku alasan yang masuk akal.."
Jane merogoh tasnya untuk mengambil buku diary milik Vivian.
"Bagaimana bila ku tunjukan ini.."
Mrs Nolan memicingkan matanya untuk mengamati benda yang ada di tangan Jane. Hanya sebuah buku biasa, apa istimewanya?
"Pasti Anda sudah tak asing dengan nama Vivian Kaelee bukan?"
Televisi usang milik Mrs Nolan masih berfungsi dengan baik, ia memang sering melihat acara berita dari sana. Tentu Mrs Nolan mengetahui siapa Vivian Kaelee.
Begitu tersiar kabar istri Edric Harisson meninggal, Mrs Nolan tidak serta merta merasa gembira mengenai hal itu. Justru ia menganggap Vivian Kaelee adalah wanita yang malang.
Mengapa Mrs Nolan dapat beranggapan seperti itu?
Saat melihat acara prosesi pemakaman Vivian, mungkin orang lain akan menganggap Edric sangat terpukul atas kepergian mendiang istrinya. Tetapi mata tua nya tak dapat di bohongi untuk kedua kalinya.
Raut wajah itu tidak menunjukan rasa penyesalan sama sekali tetapi Edric menganggap kematian Vivian adalah suatu hal yang merepotkan sehingga membuat Edric tampak begitu kelelahan.
Seperti dulu ketika Edric menghancurkan hidupnya, tak ada perasaan bersalah sedikit pun dari pria itu. Justru Edric menganggap Mrs Nolan sebagai hambatan dalam karirnya.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan Vivian Kaelee?"
"Keluarga Kaelee mengadopsiku karena truk dari perusahaan mereka mengalami kecelakaan hingga menewaskan kedua orang tuaku. Aku dan Vivian di besarkan bersama. Kami menjadi akrab dan sudah seperti saudara kandung sendiri. Tentu Anda sudah dapat menarik kesimpulannya bukan?"
Mrs Nolan meraih buku diary tersebut dan mulai membacanya lembar demi lembar. Hingga ia terpaku pada foto USG milik Vivian.
"Lalu dimana bayi ini sekarang?"
"Masih berada di dalam rahim ibunya dan tidak ada orang yang tahu.."
Suara Jane bergetar saat menjawab pertanyaan Mrs Nolan.
Benar-benar manusia keji. Bayi yang tak berdosa pun telah menjadi korbannya. Tapi apakah ini benar adanya dan bukan rekayasa?
Mrs Nolan tidak mau percaya begitu saja, ia melirik ke arah Jane dan langsung mendapati tatapan mata wanita itu penuh dengan kebencian seperti dirinya.
Apakah ini waktunya untuk menuntut balas atas perbuatan Edric Harisson kepadanya?
"Ceritaku mungkin akan terdengar membosankan di telinga kalian.."
Natalia masih belum percaya sepenuhnya kepada Jane.
"Anda boleh membawa buku itu bila Anda mau.."
"Untuk apa sebuah buku diary milik orang lain kami bawa!"
"Karena buku tersebut adalah salah satu bukti untuk dapat menjerat Edric!"
Mrs Nolan ahkirnya menengahi.
"Sudahlah Natali, apa yang diuntung kan dari cerita lama ini.."
Dengan berat hati Natali mengikuti bujukan ibunya. Setelah merasa lebih tenang Mrs Nolan mulai bercerita.
Kurang lebih lima tahun yang lalu dalam kepemimpinan yang baru di jabat oleh Edric Harisson pada perusahaannya, ia berhasil melakukan pembangunan proyek real estate dan apartemen di beberapa titik pusat kota Louisiana. Tempat-tempat yang dipilih dekat dengan pusat perbelanjaan, akses kesehatan dan juga terjangkau dalam daerah wisata.
__ADS_1
Banyak warga antusias dengan pembangunan proyek tersebut, karena perusahaan Harisson telah membukakan lapangan pekerjaan yang baru, dan juga meramaikan kota dari wisatawan sehingga ekonomi di kota Louisiana meningkat.
Kemudian investor saham tertarik untuk mengajak Edric bekerja sama dalam pembangunan baru Hotel-mall.
Mimpi buruk Mrs Nolan di mulai dari situ...
Rumah yang ia tinggali berada pada area yang cukup menguntungkan apabila dibangun proyek baru tersebut. Edric pun memulai dengan melakukan tawaran jual beli tanah kepada sang pemilik.
Pro dan kontra tidak dapat dihindari. Ada yang langsung menerima harga yang ditawarkan, ada yang meminta untuk membayar lebih tinggi, adapula yang berniat untuk menyewakan tanah saja agar dapat meraup keuntungan lebih besar. Dan yang terakhir ada orang-orang yang menolak untuk menjual tanah miliknya dengan alasan sentimentil. Termasuk Mrs Nolan Merdiez.
Menyulitkan. Mengapa mereka tidak langsung menerima uangnya saja lalu pergi secara baik-baik daripada harus berdebat dengan alot bersama Edric terlebih dahulu. Uang yang ia berikan terbilang cukup banyak. Pasalnya Edric akan menyingkirkan apapun yang dapat menghalangi bisnisnya. Entah dengan cara kekerasan sekali pun.
Alasan Mrs Nolan sendiri menolak menjual rumah miliknya adalah, karena rumah tersebut warisan dari orang tua suaminya yang telah tiada. Banyak kenangan yang tersimpan di sini. Walaupun Edric menyodorkan satu koper penuh uang, Mrs Nolan tidak tertarik sama sekali.
"Keputusan yang salah Mrs Nolan. Aku sudah memberikan tawaran yang terbaik untukmu, bahkan aku menaikan harga jual dari tanah yang kau tempati. Untuk terakhir kalinya aku memberikan kesempatan untuk memilih."
Waktu itu Edric berkunjung sendiri ke rumah Mrs Nolan, ia terlihat begitu angkuh dan percaya diri.
"Terimakasih tawarannya. Tetapi aku tetap pada pendirianku untuk tidak menjual rumah ini.."
Edric tersenyum miring sambil memainkan jemari lentiknya.
"Baiklah. Aku sudah kehabisan waktu. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu dan tidak menyesal di kemudian hari.."
Kata-kata yang tersirat. Mrs Nolan tidak tahu seberapa bahaya arti dari ucapan tersebut, ia mempersilakan Edric dengan sopan.
Hari-hari berlalu, masih belum terjadi apa pun, namun disekitar area komplek rumahnya sudah diturunkan alat mesin berat. Mungkin kedepannya akan ada gangguan suara pembangunan.
Malam itu Mrs Nolan hendak memeriksa pintu belakang rumahnya apakah sudah terkunci dengan benar. Waktu menunjukan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit, Natalia sudah tertidur di kamar lantai dua. Langkahnya melambat ketika mendengar sesuatu yang janggal.
Seperti ada seseorang mengitari rumahnya dari luar. Pencuri?
Tiba-tiba tercium bau menyengat. Bau yang sangat kuat.
Bau bensin.
__ADS_1