
Pada akhirnya Edric memutuskan untuk menginap di apartemen Jane lagi. Seperti waktu itu Jane akan menunggu sampai Edric benar-benar terlelap kemudian ia akan berpindah tempat.
Ketika Jane beranjak dari ranjang, lengah kokoh Edric segera melingkari pinggul rampingnya.
"Edric!"
Jane memekik ringan menutupi kekagetannya karena Edric tiba-tiba terbangun.
"Tetaplah disini.."
Edric semakin mempererat pelukannya dengan posesif.
"Apakah aku membangunkanmu?"
"Tidak, hanya saja aku bermimpi buruk.."
Jane menyeka keringat yang menetes di pelipis kekasihnya.
"Sepertinya mimpi itu cukup menganggu.."
"Ya. Aku bermimpi kau meninggalkanku.."
Mimpi yang singkat tetapi cukup membuat Edric gusar. Di dalam mimpi, ia melihat Jane berdiri ditepian sungai melihat dirinya yang perlahan tenggelam ke dasar sungai. Tangan Edric mencoba menggapai ke atas meminta pertolongan, namun Jane hanya memandangnya dengan tatapan dingin. Setelah itu Jane pergi meninggalkan Edric yang berusaha menyelamatkan diri.
Sungguh menyesakkan antara ia kehabisan nafas karena air mulai memenuhi paru-parunya dan Jane pergi begitu saja dari kehidupannya. Edric bersyukur itu hanyalah mimpi walaupun terasa sangat nyata.
Sejak kapan Jane begitu berarti untuknya?
Jane mencium lembut bibir Edric memberikan penghiburan.
"Mimpi adalah bunga tidur, tidak perlu terlalu di pikirkan."
Edric membalas ciuman Jane. Menghisapnya cukup lama hingga bibir Jane sedikit membengkak.
"Berjanjilah kepadaku kau tak akan meninggalkanku.."
"Why?"
"Mungkin aku mencintaimu.."
Jane terpaku akan pengakuan Edric.
Cinta?
Dia mengatakan cinta?
Jane menelusuri dada bidang Edric dengan jemari lentiknya. Detak jantung Edric terasa lebih cepat. Ia tidak berbohong. Jane tersenyum miring.
Edric, bagimana pun kau tetap manusia. Meskipun kau pernah bersikap kejam pada Vivian dan memandang rendah pada semuanya, kau tetap terlahir sebagai manusia.
Dan aku tahu perasaan yang paling menjijikan yang bisa dimiliki manusia. Hal mengerikan yang bahkan bisa membuat pahlawan hebat pun jadi lemah. Bisa menjadi kelemahan yang fatal jika diketahui oleh orang yang licik...
__ADS_1
Itulah perasaan cinta..
Jane menangkup rahang Edric agar berfokus kepadanya.
"Kau serius dengan apa yang kau katakan?"
"Ya aku mencintaimu.."
Entah mungkin karena pengaruh obat dari Samantha, Edric dapat mengakui perasaannya. Tapi ia tidak akan menarik kata-katanya kembali.
Edric juga tak perlu jawaban dari Jane, karena bagaimanapun caranya Jane akan menjadi miliknya. Suka ataupun tidak.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, bagiku kata cinta itu tidak boleh sembarang diucapkan. Yang jelas aku juga menyukaimu."
Kebohongan untuk kesekian kalinya.
"Tidak masalah. Lambat laun aku akan membuatmu mengatakan hal yang sama.."
Tetaplah berharap, sampai semua sandiwara ini selesai..
"Apakah besok kau punya acara?"
"Tidak.."
Sepertinya Jane harus menunda kunjungannya ke rumah sakit Jiwa untuk bertemu Mrs Nolan.
"Bagus."
"Aku ingin membelikan mu gaun."
"Gaun?"
"Kau lupa, sebentar lagi ulang tahun perusahaan."
Jane benar-benar lupa akan hal itu, padahal sejak kemarin teman-temannya sibuk membicarakan pakaian apa yang akan mereka kenakan, dengan siapa mereka akan datang.
"Aku masih memiliki gaun."
"Tidak. Aku memang ingin membelikan gaun khusus untukmu. Kau tahu ulang tahun perusahaan juga penting bagiku."
"Baiklah, jika kau memaksa."
Sangat di sayangkan Edric tidak dapat datang bersama dengan Jane karena janjinya menyembunyikan hubungan mereka. Tetapi keuntungan bagi Jane sendiri, karena setidaknya ia dapat menikmati acara tanpa gangguan Edric.
***
Edric sudah mereservasi butik agar Jane lebih leluasa memilih gaun. Pemilik tokonya pun ikut menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Beberapa gaun telah disiapkan khusus untuk Jane. Bagi Edric tak ada pakaian yang terlihat jelek saat dikenakan kekasihnya.
Jane menghela nafas panjang, sudah berapa gaun yang ia coba? Gaun-gaun ini memang terlihat cantik dan glamor, tapi begitu Jane melihat tag harganya. Hampir saja ia menjerit, nominal angkanya terlalu banyak!
Jane sangat berhati-hati memperlakukan semua gaun itu, takut jika ia tanpa sengaja merusaknya. Walaupun sebenarnya Jane juga di bantu oleh pelayan toko untuk berganti pakaian.
__ADS_1
"Apakah ada yang kau sukai?"
Jane tetap sama seperti wanita yang lainnya, tentu ia suka semua gaun bermerk yang ada disini. Tetapi ia harus memilih salah satu. Jane mengambil secara acak gaun yang di tawarkan tadi.
"Aku pilih yang ini saja.."
"Kau yakin?"
"Ya.."
Edric menyuruh pelayan toko untuk membungkusnya. Tanpa sepengetahuan Jane, Edric berpesan kepada pemilik toko untuk dibuatkan setelan jas yang senada dengan gaun yang di pilih Jane.
Setidaknya walaupun mereka tidak datang bersama, Jane dan Edric akan tampak serasi di acara ulang tahun perusahaan.
Sisa hari itu dihabiskan dengan makan di restoran hotel dan berjalan-jalan santai di sepanjang taman kota menikmati mata hari terbenam. Jane berdoa di dalam hati semoga saja tidak ada paparazi yang memotret mereka.
***
"Jane, nanti malam kau datang ke pesta bersama siapa?"
"Sendirian."
"Kau mau berangkat bersama kami? Hana menawarkan tumpangan mobil.."
"Eh? Baiklah.."
"Berikan alamat apartemenmu.."
Jika mereka tahu, Edric telah menyuruh supir pribadinya untuk menjemput Jane dengan mobil limusin, mereka pasti akan langsung terkejut. Tapi alangkah baiknya Jane berangkat ke pesta bersama teman satu divisinya. Setelah ini Jane akan mengirim pesan kepada Edric.
Untuk pertama kali Jane akan menghadiri acara ulang tahun perusahaan Harisson. Para karyawan terlihat sangat antusias menyambut acara itu. Dan pastinya yang datang tidak hanya orang-orang dari perusahaan Harisson saja.
"Oh My God!"
Jane menyesal tidak memeriksa kembali gaun yang di pilihnya kemarin. Gaun hitam dengan satu lengan, memiliki belahan yang cukup tinggi di satu sisi sehingga mempertontonkan kakinya. Gaun itu juga semakin mempertegas lekuk tubuh Jane jika di kenakan.
"Jane Ainsley, kau seperti dewi yang turun dari langit.."
"Jangan berlebihan memujiku.."
"Yang lain pasti setuju dengan penilaian ku.."
"Terimakasih, kalian juga sama cantiknya.."
"Bukankah gaunmu ini berasal dari butik ternama.."
"Benarkah? aku mendapatkannya dari temanku saat aku berulang tahun.."
Jane benar-benar tak ingin menjadi pusat perhatian orang lain agar dapat menikmati pesta secara normal. Kalau tahu seperti ini ia akan memilih gaun yang lebih tertutup dan terlihat lebih sederhana. Namun apa boleh buat, Jane adalah pemeran utama disini.
__ADS_1
" Lets go to party.."