Dendam Jane

Dendam Jane
Persidangan Edric


__ADS_3

Jane tak mengira bahwa persidangan Edric akan dihadiri banyak orang termasuk para wartawan. Mereka berbondong-bondong datang dan merekam untuk memperoleh berita eklusif. Skandal Edric yang sempat meredup kini mencuat kembali di media sosial. Kali ini Jane juga ikut terseret dalam kasus sebagai korban.


Jane berusaha menutupi wajahnya dengan syal yang ia kenakan. Tetapi wartawan terus mendesak Jane untuk menjawab beberapa pertanyaan.


"Apa hubungan Anda dengan Edric Harisson?"


"Sejak kapan Anda mengenali Edric Harisson?"


"Benarkah Anda di sekap dalam sebuah rumah?"


Tiba-tiba sepasang lengan kokoh menaungi Jane dari puluhan blitz kamera. Daniel Wynford membantu Jane memasuki ruang sidang disusul dengan Rene Wynford yang ada di belakangnya. Jane pun menghela nafas lega.


"Beri jalan masuk! Sidang akan segera dimulai!"


Ketua dan anggota hakim telah duduk di kursinya masing-masing. Begitu juga Edric Harisson sudah duduk di kursi terdakwa di dampingi dengan pengawas. Ketika Jane masuk ke dalam ruangan, mata Edric berbinar menatap kekasihnya itu. Tanpa sadar ia menggumamkan nama Jane.


"Jane.."


Namun Jane memalingkan mukanya, ia terus berjalan tanpa menoleh ke arah Edric sedikitpun.


Sidang pun di mulai.


"Benarkah terdakwa Edric Harisson telah melakukan penembakan kepada saudara Daniel Wynford?"


"Ya."


"Tidak ada sanggahan?"


"Tidak."


Hakim pun melanjutkan membaca dakwaan Edric.


"Benarkah terdakwa Edric Harisson telah melakukan penyekapan pada saudari Jane Ainsley selama 34 hari di kediaman terdakwa?"


Edric terdiam cukup lama, hakim pun mengulangi pertanyaannya.


"Saya ulangi, benarkah terdakwa Edric Harisson telah melakukan penyekapan pada saudari Jane Ainsley selama 34 hari di kediaman terdakwa?"


"Mungkin tidak.."


Beberapa orang yang hadir di persidangan saling melempar pandangan.


"Mohon diperjelas jawaban dari terdakwa."


"Apakah merawat dan memberi makan seseorang dapat di katakan sebagai penyekapan?"

__ADS_1


Jane mengeratkan giginya, ia tidak sabar menunggu hakim memberikan waktu kepadanya untuk menyanggah pernyataan dari Edric Harisson.


"Ada sanggahan?"


Jane segera bangkit dari kursi.


"Edric Harisson telah mengurung dan mengunciku di dalam kamar. Ia tidak membiarkanku keluar. Bahkan ia memasang teralis besi di jendela agar aku tidak dapat kabur!"


"Sebenarnya hal itu hanya sebuah kesalahpahaman, kami adalah sepasang kekasih yang akan menikah."


"Dua jawaban berbeda dari terdakwa dan korban. Silahkan menunjukan bukti untuk memperkuat jawaban masing-masing."


Jane hendak memberikan bukti bahwa Edric juga melakukan penganiayaan terhadapnya, walaupun itu tidak di sengaja karena Jane duluan yang menyerangnya. Bekas luka di kepalanya ternyata akan berguna di saat seperti ini. Tetapi tiba-tiba Daniel ikut bangkit berdiri dan angkat bicara.


"Interupsi, saya akan memberikan kesaksian dari pihak saudari Jane Ainsley.."


"Saudara Daniel Wynford di perkenankan memberikan kesaksian."


Daniel pun menceritakan semuanya, dimulai dari ia mencoba menghubungi Edric untuk mengajak bertemu namun selalu ditolak hingga Daniel menaruh rasa curiga kemudian berinisiatif datang ke rumah Edric sendiri. Ia juga mengaku telah membobol rumah Edric secara paksa karena akan menyelamatkan Jane, diakhiri dengan penembakan Edric terhadapnya.


Daniel memperlihatkan bukti pesan singkatnya yang ia kirim ke Edric kepada hakim dan juga rekaman telepon Jane yang meminta pertolongan kepada Daniel.


"Saksi memberikan bukti yang memberatkan terdakwa."


Tatapan mata Edric sulit diartikan ketika melihat kearah Daniel Wynford, yang jelas ia tidak akan pernah melupakan pengkhianatan ini. Dan Edric justru tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahahahaha..".


"Saudara Edric Harisson?"


"Tunggu, biarkan aku tertawa, ini sangat lucu.."


Para hakim kebingungan. Rene Wynford pun segera berjalan mendekati hakim untuk menjelaskan keadaan Edric saat ini. Ia juga menyerahkan surat hasil tes kejiwaan Edric Harisson. Maka hakim segera memutuskan dakwaan Edric.


"Dengan ini saudara Edric Harisson dinyatakan bersalah pasal percobaan pembunuhan terhadap saudara Daniel Wynford dan Saudari Jane Ainsley, di perberat dengan pelanggaran lalu lintas. Hukuman yang di terima adalah penjara kurang lebih selama dua puluh tahun lamanya.."


TOK!


Ketua hakim mengetuk palu tanda bahwa keputusan sidang telah disetujui. Karena Edric mengalami gangguan kejiwaan, ia akan menjalani masa tahanannya di tempat rehabilitasi dengan pengawas ketat.



Selesai sudah.


Untuk terahkir kalinya Jane menatap kepergian Edric diiringi dengan beberapa polisi. Edric masih saja bergumam tidak jelas.

__ADS_1


"Jane Ainsley..tunggu aku..tunggu aku pulang.."


Jane menengadahkan kepalanya untuk menahan tangis. Tetapi tetap saja air mata sialan ini mengalir tanpa permisi di pipi Jane. Rasanya satu beban berat telah terangkat di pundak Jane. Daniel pun melihat Jane menangis di samping gedung persidangan. Ia sengaja menunggu Jane menumpahkan semua emosinya.


Selamat tinggal kekasihku..


***


Tak terasa musim dingin telah berlalu digantikan dengan musim semi. Matahari pun bersinar hangat. Bunga-bunga mulai bermekaran dengan indahnya di sepanjang jalan. Natalia Merdiez sedang mendorong kuris roda milik Mrs Nolan Merdiez di jalan setapak.


"Mama yakin akan mengunjungi pria itu?"


"Sudah berapa kali kukatakan iya."


"Aku masih tidak suka melihatnya."


"Kau cukup tunggu di luar saja."


Tempat yang di tuju Mrs Nolan adalah rehabilitasi Edric Harisson berada. Waktu berkunjung pun sangat di batasi, ia diperbolehkan berbincang dengan Edric hanya dalam waktu sepuluh menit, tentu dengan di dampingi seorang pengawas


Lorong yang panjang dengan banyak pintu di setiap sisinya mengingat Mrs Nolan akan masa kelamnya dulu ketika ia berada di rumah sakit jiwa Miracel karena ulah Edric sendiri. Dan kini Tuhan seolah membalikan keadaan. Edric telah mendapatkan karmanya.


"Sebelah sini."


Pengawas yang mengantar Mrs Nolan menunjukkan salah satu kamar. Kamar yang di tempati Edric Harisson. Wanita tua itu melongokkan kepalanya pada jendela kecil berjeruji untuk melihat keberadaan Edric.


"Edric Harisson.."


Mrs Nolan memanggil nama pria yang begitu di bencinya. Tetapi tak ada sahutan sama sekali.


"Apa kau sudah tuli Edric Harisson."


Terdengar suara langkah kaki mendekat, tiba-tiba muncul wajah Edric dari balik jendela. Siapa pun yang melihat tentu akan langsung terkejut. Edric melotot ke arah Mrs Nolan.


"Kau bukan Jane.."


Entah Mrs Nolan harus merasa iba atau tertawa menyaksikan keadaan Edric yang tampak menggenaskan. Pipi Edric terlihat sangat tirus, matanya pun menjadi cekung dengan pandangan tak fokus, yang lebih buruk tubuh Edric dibebat dengan pakaian khusus yang penuh dengan ikatan tali sehingga ia tidak dapat bergerak bebas.



Apa yang sebenarnya telah Edric lakukan sehingga petugas di sini memasangkan pakaian yang tampak menyiksa itu?


Kesan Edric yang dulu terlihat begitu arogan telah menghilang menjadi sosok yang menyedihkan. Kini Edric tidak dapat diajak berbicara secara normal lagi. Hati Mrs Nolan terketuk, pintu maafnya terbuka. Wanita tua itu sudah puas menyaksikan Edric menerima ganjaran yang setimpal.


"Semoga dengan kejadian ini, kau dapat memetik pelajaran.."

__ADS_1


__ADS_2