Dendam Jane

Dendam Jane
Penyekapan 3


__ADS_3

Tak perlu di pertanyaankan lagi, Edric memang berniat menikahi Jane Ainsley. Karena pernikahan adalah salah satu cara untuk 'mengikat' seseorang secara resmi. Keuntungan baginya, Edric tinggal di negara bebas, dimana persyaratan pernikahan tidak terlalu dipersulit.


Segala sesuatunya telah Edric persiapankan, itulah alasan mengapa Edric belakang ini tampak sibuk. Edric sudah tidak sabar untuk memiliki Jane Ainsley seutuhnya. Lagipula melangsungkan pernikahan bersama Jane Ainsley juga dapat memuaskan obsesinya.


Berbanding terbalik dengan Jane Ainsley sendiri. Setelah ia mendengar pernyataan dari Edric tempo lalu Jane semakin merasa putus asa. Tak ada celah untuknya berlari. Jane menjadi pesimis.


Jane menolak semua makanan yang diberikan oleh Edric Harisson. Apabila dipaksa ia akan langsung memuntahkannya. Tatapan matanya menjadi sayu. Apakah ini yang dirasakan Vivian Kaelee?


Jane berlama-lama memandang foto Vivian dalam keheningan yang memilukan.


Mungkin bila aku bunuh diri sama sepertimu, keinginan Edric tak akan pernah terwujud..


Itulah yang selalu di pikiran Jane Ainsley ahkir ahkir ini. Jane menganggap tindakan tersebut cara yang paling baik untuk menentang Edric daripada melakukan perlawanan yang sia-sia lagi.


Suatu ketika Jane terbangun dari tidurnya untuk yang kesekian kali, ia mendapati sebuah kotak berwarna jingga telah bertengger di atas ranjang tepat di samping kakinya. Jane pun membuka kotak tersebut.


Sedetik kemudian setelah melihat isi kotak berwarna jingga tersebut Jane langsung melemparnya sejauh mungkin dari jangkauannya. Isi dari kotak itu adalah gaun pengantin beserta seperangkat perhiasaan.


"Kupikir kau akan suka dengan hadiah yang kuberikan. Bukankah wanita selalu senang dengan hal-hal yang seperti itu terutama dari sang kekasih?"


"Tidak berlaku jika itu darimu."


"Kau masih tetap saja keras kepala Jane Ainsley."


"Berhenti menyebut namaku dengan mulutmu itu."


"Mulutku ini sebentar lagi juga akan menjadi milikmu. Besok aku akan memanggil dokter untuk memeriksa luka di kepalamu itu."


Ironis, Edric yang menyebabkan luka di kepala Jane lalu ia juga yang berusaha menyembuhkannya.


Keesokan harinya, sesuai perkataan Edric, seorang dokter wanita datang memeriksa luka di kepala Jane. Dokter itu datang sendirian dan tidak di dampingi oleh Edric. Mungkin ia sudah diperingatkan agar Jane tidak boleh meninggalkan kamar dengan alasan tertentu.


"Perbannya sudah dapat di lepas namun luka jahit ini akan berbekas. Jika nanti wajahmu akan dirias mintalah perias itu untuk menutup lukamu dengan plester terlebih dahulu agar tetap steril."

__ADS_1


Jane memandang dokter yang bernama Cathy itu dengan tatapan skeptis.


"Bukankah kalian akan menikah dalam waktu dekat? Tunanganmu yang mengatakannya."


Sepertinya Dokter Cathy tidak tahu bahwa Jane saat ini sedang menjadi tawanan Edric Harisson.


"Sekarang dimana tunanganku?"


"Yang kutahu tadi ia sedang menerima telepon di teras. Edric mengatakan akan segera menyusul kemari."


"Aku ingin bicara dengannya sebentar.."


"Perlu bantuan untuk berjalan ke lantai bawah?"


"Terimakasih tawarannya, tetapi aku bisa melakukannya sendiri.."


Tubuh Jane sedikit terhuyung saat turun dari ranjang karena ia terlalu lama berbaring. Dokter Cathy melemparkan tatapan kekhawatiran.


"Aku tidak apa-apa.." jelas Jane.


Yang dipikirkan Jane pertama kali saat mendapat kesempatan langka ini adalah bagaimana cara menyelamatkan neneknya terlebih dahulu. Mustahil bagi Jane langsung kabur meninggalkan rumah ini karena Edric sedang berada di lantai bawah. Maka Jane secepat mungkin mengitari ruangan yang ada di lantai dua mencari benda yang mungkin berguna.


Terdapat satu kamar lain berdampingan dengan kamar yang ia tempati, lalu ada juga ruang santai yang terhubung langsung dengan balkon dan terakhir ruang baca dekat dengan tangga. Mata Jane langsung terfokus pada telepon rumah yang terletak di meja ruang baca. Syukurlah!


Sebaiknya siapa yang akan Jane hubungi terlebih dahulu? Polisi atau neneknya?


Pikiran Jane berkecamuk, apakah menelepon polisi adalah langkah yang tepat? Bagaimana bila Edric memberikan alibi palsu, mengingat ia dengan mudah membayar para penegak hukum itu agar terbebas dari penjara. Mungkin bagi Edric berurusan dengan polisi adalah hal yang tak perlu di takutkan lagi.


Lalu jika ia menelepon neneknya? Ketakutan terbesar Jane adalah respon dari neneknya, Jane harus menjelaskan dengan sangat hati-hati dan itu pasti membutuhkan waktu lama. Jane takut setelah mendengar ceritanya, nenek Lindsay akan terkena serangan jantung.


Ditengah dilema, tiba-tiba Jane mendengar suara Edric kian mendekat. Tampaknya Edric sedang berdiri di ujung tangga dan masih menerima telepon. Jane harus bergerak cepat!


Tangan Jane menjadi licin karena berkeringat, di tambah ia sedikit gemetaran karena terlalu gugup. Sesekali matanya melirik ke arah letak tangga berada. Jane menjadi tidak fokus, ia pun tanpa sengaja menyenggol buku catatan nomor telepon.

__ADS_1


Jangan sampai Jane membuat kegaduhan hingga Edric curiga. Jane memungut buku tersebut, sepintas ia melihat nama Daniel Wynford tertulis disana.


Aneh, selanjutnya Jane menekan nomor Daniel Wynford untuk meneleponnya. Mungkin Jane terlalu kalut hingga ia memutuskan menelepon seseorang yang bahkan sebelum ini tidak terlalu dekat dengannya sama sekali untuk dimintai pertolongan.


Tanpa menunggu lama pada deringan pertama Daniel Wynford langsung mengangkat telepon dari Jane dengan suara khasnya.


"Edric? Ada apa?"


Daniel sempat terheran nomor telepon rumah Edric yang lama tiba-tiba menghubunginya. Apakah temannya itu butuh penghiburan setelah keluar dari penjara dengan mengajaknya minum bersama?


Tetapi yang menjawab bukanlah Edric melainkan suara wanita yang selama ini ia cari keberadaannya karena tiba-tiba menghilang bagai di telan bumi.


"Tolong aku Daniel..."


Daniel sempat tak mempercayai indera pendengarannya sendiri. Suara Jane tampak begitu putus asa.


"Jane Ainsley?"


"Tolong selamatkan nenekku, pindahkan dia di tempat yang lebih aman, aku akan sebutkan alamat lengkapnya.."


Jane terus meracau tanpa jeda seolah sedang di buru seseorang. Daniel pun kebingungan.


"Tunggu Jane! Kau ada dimana sekarang? Apa yang terjadi padamu?"


Daniel menuntut penjelasan.


"Kau pasti cukup tahu aku menggunakan telepon siapa!? Aku sudah berikan alamat lengkap nenekku. Cepat tolong dia!"


"Jelaskan dulu pa~"


TUT!


Belum sempat Daniel bertanya lebih lanjut sambungan telepon telah di putus secara sepihak. Daniel cukup sadar bahwa ada yang tidak beres. Yang jelas Daniel menjadi tahu bahwa kemungkinan besar Jane berada di rumah Edric yang dulu di tempati bersama mendiang istrinya.

__ADS_1


"Ma, sepertinya aku akan merepotkanmu lagi.."


Ibu Daniel, Rene Wynford memandang putranya dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2