Dendam Jane

Dendam Jane
Sebuah Tawaran


__ADS_3

Tidak tanggung-tanggung, Edric membawa mobil BMW seri M5 warna hitam. Mereka pun menjadi pusat perhatian. Terlebih proyek yang dikerjakan Jane dekat dengan sebuah universitas. Sebagian besar para mahasiswa yang kebetulan lewat langsung melirik dan berbisik.


"Keren sekali! Aku ingin naik mobil seperti itu!"


"Aku pernah dengar mobil itu seharga 5 miliyar untuk satu unit!"


"Siapa kira-kira pemilik mobil itu?"



Edric membukakan pintu mobil.


"Terimakasih.."


"You're welcome."


Apakah Jane tersanjung dengan semua ini? Mungkin jika ia tidak mengenali Edric sama sekali, Jane akan merasa bangga mempunyai teman kencan kaya raya lalu memamerkan hubungan mereka kepada orang lain.


Mobil yang tak dapat dibeli Jane walaupun mengumpulkan bayaran selama satu tahun penuh. Dalam hati Jane menggerutu.


Sedang pamer kekayaan Mister Rich? Kau akan kuanggap oke jika mau menaiki mobil suv bututku..


Mobil Edric mulai berjalan keluar dari pelataran parkir. Jane mengamati tangan Edric yang begitu lihai menyetir memainkan kemudi.



"Kita mau makan dimana?"


"Kau akan tahu nanti."


"Apakah ini kejutan?"


"Kau suka dengan kejutan?"


"Mmm, tergantung, jika kejutan itu dapat membuatku senang sudah pasti aku akan suka.."


"Jawaban yang cerdik.."


Berbicara dengan Jane cukup membuat Edric terhibur. Ia tidak pernah merasa bosan dengan topik pembicaraan Jane.


Edric mengajak Jane makan malam di salah satu restoran hotel bintang lima. Tentu makanan yang di sajikan terbilang mewah dan mahal. Begitu melihat menu, yang dilihat Jane pertama kali bukanlah nama makanannya tetapi harga yang tertera di samping menu.


Matanya yang indah hampir melotot, ia buru buru mengendalikan ekspresinya. Sambil menutup buku menu, Jane tersenyum kepada Edric.


"Samakan saja pesanan ku seperti pilihanmu.."


Edric mengangkat tangan untuk memanggil waiters. Dengan cakap ia menyebutkan menu satu persatu. Steak daging grade A5 tingkat kematangan medium, sebotol white wine dan wafel sebagai makanan penutup.

__ADS_1


Entah berapa banyak uang yang di keluarkan Edric untuk semua pesanan?


Sekelebat pikiran terlintas di benak Jane. Apakah setelah makan malam usai Edric akan mengajaknya bercint4 di kamar hotel? Siap kah ia melakukan "itu" bersama Edric?


Jane Ainsley bukanlah gadis polos seperti Vivian Kaelee. Ia juga bukan tipe wanita rumahan. Sejak masuk kuliah Jane memilih hidup mandiri dan bekerja sambilan untuk menyewa apartemen. Ia bebas bergaul dengan siapa saja, tak ada yang melarang ini dan itu.


Sudah banyak orang yang ia temui. Begitu pula mengenai pasangan, Jane pernah berkencan dengan beberapa pria. Namun itu hanya selingan. Jane masih tak ingin terikat perkawinan, terlebih belum ada pria yang benar-benar cocok dengan dirinya.


Seharusnya bercint4 dengan Edric adalah hal yang biasa, tapi nyatanya tidak segampang itu. Edric adalah mantan suami Vivian, sahabatnya sendiri!


Bagaimana mungkin Jane dapat bercumb* dengan Edric, tentu saja pria itu juga pernah melakukannya bersama Vivian. Membayangkannya saja cukup membuat Jane merasa mual!


TUK! TUK! TUK!


Suara ketukan jemari Edric di atas meja membuyarkan lamunan Jane.


"Apa yang kau pikirkan Nona? Makanan sudah tersaji."


"Maaf. Aku teringat pekerjaanku.."


Sudahlah. Sebaiknya Jane menikmati makan malamnya terlebih dahulu. Kapan lagi ia dapat merasakan daging dengan kualitas terbaik.


Tiba-tiba Edric menukar piring Jane dengan piring miliknya sendiri. Dagingnya sudah terpotong rapi menjadi beberapa bagian. Jane tinggal memakannya saja tanpa perlu repot mengiris lagi.



"Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan."


Pria gentleman. Apakah Edric juga memperlakukan Vivian sebaik ini semasa hidupnya?


"Berbicara mengenai pekerjaan, aku ingin mengajukan tawaran kepadamu.."


"Tawaran?Apa itu?"


"Aku sudah melihat kinerjamu dari portofolio proyek milik Taylor. Itu sangat bagus sesuai dengan apa yang kucari. Bergabunglah di perusahaan milikku.."


Jane tidak langsung menjawab. Lebih tepatnya ia terkejut. Edric pun melanjutkan bicara.


"Tentu aku akan menggajimu dua puluh juta perbulan atau mungkin lebih.."


Itu bayaran yang cukup besar. Sangat menggiurkan. Apakah ia memang memiliki kemampuan yang hebat sehingga Edric ingin merekrut Jane?


Orang lain pasti akan merasa iri kepadanya karena Jane dengan mudah dapat masuk ke salah satu perusahaan terbesar di kota Louisiana.


Tetapi di sisi lain, Jane sangat menyayangkan akan meninggalkan usaha yang sudah ia bangun susah payah. Bagaimana awalnya Jane menyewa toko kecil untuk dijadikan kantor tempat ia bekerja. Sulitnya mencari klien pertama hingga Jane mendapat kepercayaan dari pelanggan.


Walaupun bayarannya tak seberapa di banding tawaran dari Edric, bekerja dari usaha sendiri lebih terasa nyaman daripada terikat kontrak milik perusahaan orang lain.

__ADS_1


Namun ada pepatah mengatakan dekati musuhmu untuk mengetahui kelemahannya.


"Aku perlu berpikir terlebih dahulu.."


Jika Jane menolak tawaran dari Edric, biarkan uang yang berbicara. Edric akan membeli komplek pertokoan tempat Jane bekerja. Selain ia mendapat keuntungan dari para penyewa, mau tak mau Jane akan bekerja di bawah naungannya.


Tak ada pilihan bagi Jane Ainsley.


Syukurlah, setelah selesai makan malam Edric tidak mengajaknya menginap di hotel, justru pria itu langsung mengantarkan Jane pulang ke apartemennya.


"Terimakasih atas makan malamnya yang lezat. Lain kali aku yang akan traktir walaupun tak semahal kau mengajakku.."


Jane melepaskan sabuk pengaman lalu ia hendak turun dari mobil. Edric dengan sigap mencekal pergelangan tangan Jane.


"Tunggu.."


Tenaga Edric begitu kuat. Tubuh Jane tertarik hingga mereka saling berdekatan. Jane memandang Edric dengan tatapan penuh tanya.


"Ada apa Edric? Apakah ada barang yang tertinggal?"


Lensa mata Jane yang berwarna hijau kebiruan terpampang begitu jelas.


"Jane Ainsley aku menyukai mu.."


Cukup lama Edric melihat Jane dengan intens, kemudian ia mulai menunduk dan menciumnya. Ciuman yang lembut. Mata Jane melotot antara terkejut dan belum siap. Haruskah ia membalas ciuman Edric?


Jane tak merasakan getaran apapun di dalam hati saat berciuman dengan Edric. Tapi Jane teringat bahwa ia harus bersandiwara. Tangannya pun memeluk tubuh kekar Edric. Aroma parfum maskulin memenuhi indra penciumannya.


Menilik respon dari Jane, Edric menyimpulkan bahwa Jane juga tertarik kepadanya.


"Kau mau menjadi wanitaku?"


Jane tersenyum. Senyuman yang misterius.


"Aku akan menjawab bersamaan dengan tawaran yang kau berikan tadi.."


"Berapa lama?"


"Mungkin tiga hari?"


"Kau tahu Nona aku tak suka menunggu. Tapi hanya demi dirimu aku mau melakukannya dan aku tak ingin mendengar penolakanmu."


Nada bicara Edric seperti sedang mengultimatum.


"Tunggu saja nanti. Selamat malam Edric Harisson.."


Sambil mengelus bibirnya Edric mengamati Jane masuk ke gedung apartemen hingga menghilang di balik pintu. Barulah ia pergi.

__ADS_1


Jane layaknya merpati. Sulit di tangkap namun mudah dijinakkan. Edric tak sabar untuk memilikinya.


__ADS_2