
Jane mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari para customer dan juga rekan kerja nya yang turut hadir di dalam meeting. Presentasi dengan klien mengenai proyek yang akan di kerjakan berjalan lancar. Jane pun membungkukkan badan sebagai tanda ucapan terimakasih.
"Selamat Jane, penjelasan mu sungguh menarik untuk diikuti.."
Tammy salah satu rekan bisnis nya ikut memberikan selamat. Ia adalah pemilik toko furniture yang sering di jadikan langganan Jane.
"Terimakasih, kau juga sudah banyak membantu ku.."
"Bagaimana kalau kita rayakan, aku yang akan traktir, berkatmu juga aku mendapat keuntungan yang besar.."
"Tapi aku harus..."
Tammy segera memotong perkataan Jane.
"Kumohon Jane sekali ini saja, Kau selalu menolak jika diajak berkumpul bersama.."
Yah, karena mereka selalu mencoba menjodohkan dirinya dengan seorang pria. Apakah salah tetap melajang di usia dua puluh tujuh tahun? Seolah itu sebuah aib besar. Nyatanya Jane dapat merasa bahagia dengan kehidupan nya sekarang.
Tammy terus mendesak Jane, yang lain pun ikut membujuk. Jane menghela nafas panjang.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama.."
"Kau dengar itu ,Jane menyetujui nya.."
Terdengar sorak sorai.
Apakah kehadiran nya begitu di nanti nantikan banyak orang?
Dua minggu kemarin Jane selalu lembur. Ia ingin beristirahat. Pupus sudah rencana tidur lebih awal
Selamat tinggal tempat tidurku yang nyaman..
***
Tak segan-segan Tammy mengajak Jane di salah satu bar bernuansa caffe kelas atas dengan menyajikan minuman dan daging kualitas nomor satu. Beginilah caranya orang yang memiliki banyak uang menghabiskan hartanya. Bahkan satu porsi daging mencapai ratusan ribu. Itu pun belum anggur mahal yang di belinya.
"Mari bersulang, Jane kau harus makan yang banyak.."
Suara dentingan gelas beradu. Jane menyesap anggurnya. Hmm kali ini tak buruk juga ia menuruti kemauan Tammy. Kapan lagi Jane dapat menikmati anggur seenak ini.
Alex, kepala toko salah satu outlet Tammy duduk mendekati Jane. Sedari dulu Alex sudah tertarik kepada Jane.
"Hai Jane, senang sekali kau mau ikut perkumpulan, biasanya kau selalu menolak.."
Jane beringsut menjauhi Alex untuk menjaga jarak.
__ADS_1
"Yeah, setelah aku menghabiskan makananku aku akan pulang.."
Alex menggeser tubuhnya lagi agar lebih dekat dengan Jane.
"Mengapa begitu terburu-buru, tetap disinilah lebih lama.."
"Alex jaga sikap mu!" Tammy menegur karyawan nya.
"Maafkan aku Bos! Aku hanya membujuk Jane menikmati acara ini hingga selesai.."
"Benar Jane! Pulanglah nanti bersamaku.."
Jane memutar kedua bola matanya. Ia menuangkan anggur di gelasnya sendiri sampai penuh. Dalam satu kali tegukan Jane menghabiskannya hingga tak bersisa. Memang alkohol selalu membuat perasaan Jane jauh lebih baik.
"Aku sudah selesai!"
Jane berdiri. Tubuhnya sedikit limbung. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan beberapa gelas anggur hingga membuat nya sedikit mabuk.
"Secepat itu? Ayolah Jane duduk kembali.."
Jane tak menggubris perkataan Alex. Ia mulai melenggang pergi.
"Tammy terimakasih atas jamuannya, aku akui anggur yang kau pesan enak. Aku pulang dulu."
"Baiklah kalau kau bersikeras, Hati hati di jalan Jane.."
Entahlah apakah Jane masih dapat menyetir mobilnya sendiri dengan keadaan seperti ini. Atau ia harus memesan taksi? Jalanan terlihat berputar-putar.
Huh! Mengapa orang ini menganggu sekali! Alex menyusul Jane hingga ke parkiran.
"Ada apa."
"Sepertinya kau mabuk. Aku akan mengantarmu pulang.."
Alex merangkul Jane dan mencoba membantunya berjalan.
Walaupun Jane sedang mabuk. Tapi ia tidak kehilangan otaknya dan Jane cukup sadar atas tindakan tidak sopan dari Alex.
"Lepaskan tanganmu! Aku bisa pulang sendiri!"
Alex tetap memaksa.
"Aku hanya berniat menolong agar kau sampai ke rumah dengan selamat Jane.."
"Aku bisa melakukannya sendiri!"
Jane melihat tempat di sekitar nya. Bahkan parkiran ini sudah seperti kuburan. Pantas saja pria tak tahu diri ini berani berbuat nekat.
__ADS_1
Apakah Jane bisa melawan?
Bagaimana pun juga Alex memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar seperti beruang hutan.
Mungkin beruang jauh lebih baik sekarang di banding Alex.
"Jane kau pasti cukup sadar kan aku sudah menyukaimu sejak dulu, beri aku kesempatan.."
Jika ia kembali ke atas menemui Tammy pasti Alex tetap mengikutinya. Atau lebih baik Jane ceritakan saja perilaku tidak menyenangkan yang Jane terima dari salah satu karyawan nya. Namun walaupun Alex pria brengs*k, dalam bekerja ia cukup kompeten. Tammy pun begitu mempercayai Alex.
Tolong siapa saja lewat lah kemari.
Dan keberuntungan masih berpihak kepadanya, permintaan Jane langsung terkabul. Sepasang pria wanita berjalan menuju ke salah satu mobil yang terparkir.
Ini kesempatan Jane untuk menghindari Alex.
Tapi, mengapa pria itu tampak begitu familier?
Jane mengerjapkan matanya yang indah supaya pengelihatan nya lebih jernih.
Edric Harisson?
Benarkah itu dia? Suami Vivian? Dalam keadaan apa pun Jane akan tetap dapat mengenali Vivian. Namun wanita yang sekarang sedang diciuminya bukanlah Vivian Kaelee.
Cukup sulit berlari menggunakan hak tinggi dalam keadaan setengah mabuk. Jane ingin memastikan lebih jelas bahwa itu bukan Edric Harisson.
"Jane kau mau kemana?!"
Alex terkejut karena tiba-tiba Jane berlari meninggalkannya begitu saja lalu ia berteriak berulang kali memanggil nama Jane.
Perset*n dengannya!!
"Hei tunggu!!!"
Jane berusaha menghentikan mereka yang sudah masuk ke dalam mobil. Tetapi terlambat mobil itu mulai melaju keluar parkiran menuju jalan raya.
Jane masih berusaha mengejar sambil melambaikan tangan nya ke atas berharap agar orang yang di dalam mobil melihat nya dari spion.
Dan usahanya itu sia-sia saja. Nafas Jane tersengal-sengal. Mobil itu terus berjalan sampai menghilang di tikungan.
Jane mencari ponselnya di dalam tas. Haruskah ia menelepon Vivian?
Jane masih ragu untuk menekan dial pad.
Jika ia salah mengenali orang dan Vivian terlanjur menaruh rasa curiga kepada suaminya. Jane akan merasa bersalah karena turut andil menyebabkan perselisihan rumah tangga mereka.
Huft! Sudahlah mungkin hanya orang yang mirip dengan Edric Harisson. Atau Jane masih dalam pengaruh alkohol. Bukankah dua hari yang lalu Vivian bercerita hubungan nya dengan Edric sangat harmonis.
__ADS_1
Berkat itu, Jane dapat kabur dari Alex.
Sebaiknya ia segera memanggil taksi. Jane sangat lelah. Biar mobilnya diantar dengan jasa towing.