
Sepasang kekasih berjalan mendekat ke arah Jane dan Daniel. Sontak mereka berdua segera bersembunyi di balik semak yang cukup lebat sambil menunggu pasangan itu lewat. Tapi sayang kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu berhenti di depan gazebo taman yang kebetulan berada di dekat sana.
Karena pepohonan yang cukup rimbun sehingga menimbulkan banyak bayang-bayang menjadikan gazebo taman itu terlihat gelap.
"Kita lakukan disini saja Jeremy.."
"Kau yakin?Mengapa kita tidak memesan kamar saja di hotel.."
"Aku ingin suasana yang lebih menantang. Lagipula disini tak ada siapapun selain kita.."
Hening sesaat entah mereka sedang melakukan apa. Daniel dan Jane masih diam tak berkutik di dalam semak menunggu mereka melanjutkan pembicaraan. Alih-alih sebuah kata-kata yang muncul justru terdengar suara decapan orang saling berciuman.
Jane dan Daniel saling berpandangan, berharap mereka salah mendengar. Tapi apa yang ada di pikiran mereka segera terjawab. Beberapa menit kemudian suara erangan mulai terdengar saling bersahutan.
"Ah! Jeremy kau hebat sekali, terus lakukan.."
"Kau juga Tiana! Aku suka dengan milikmu.."
Yang benar saja! Mereka melakukan hal 'itu' ditempat seperti ini! Apakah urat malu mereka sudah putus??
Wajah Jane menjadi merah padam.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Jane.
"Tunggu sebentar, mungkin mereka tak akan lama.."
Nyatanya hampir setengah jam lebih kedua pasangan itu belum selesai juga berc1nt4. Kaki Jane mulai terasa pegal.
Jika mereka menyeruak keluar dari semak-semak tidak hanya kedua pasangan itu yang akan kehilangan muka tetapi Daniel dan Jane juga akan merasa malu, walaupun mereka tak melakukan apapun. Kemungkinan terburuk mereka akan mendapatkan tuduhan yang tak diinginkan.
Rasanya antara ingin menangis atau tertawa. Mengapa Jane dan Daniel selalu terjebak dalam situasi yang tak mengenakan? Seperti saat waktu pertama kali mereka bertemu.
Tiba-tiba Daniel memberikan jasnya kepada Jane.
"Udara semakin dingin pakai ini.."
Jane tak menyadari tangan dan telinganya sudah menjadi dingin. Setiap ia berbicara pun akan mengeluarkan uap udara.
"Jadi apa yang akan kau katakan tadi mengenai aku?"
__ADS_1
"Apakah kita harus membicarakannya sekarang?"
"Aku rasa ini waktu yang tepat, daripada kita harus mendengarkan suara erangan mereka.."
Daniel menarik nafas panjang.
"Mengapa kau tak ingin Edric mengetahui bahwa kau datang ke rumah itu lalu apa yang sedang kau cari di sana? Bukankah kau juga akan menempati rumah itu?"
Ekspresi wajah Jane seketika berubah menjadi dingin.
"Untuk apa kau ingin tahu? Bukankah aku sudah mengatakannya itu bukan urusanmu."
"Jika kau seperti itu justru aku akan semakin mencurigaimu."
Suasana yang tadi sempat menghangat kini menjadi kaku.
"Lalu kau akan terus mengawasiku sampai kau puas mendapatkan jawaban?"
"Mungkin iya."
Mereka berdua saling menatap tajam.
"Aku tak dapat menceritakan intinya saat ini. Kalau kau sangat ingin tahu, temui aku di jalan Cleveland minggu depan pukul delapan pagi. Kuharap kau tepat waktu!"
"Kyaaa!! Ada orang!"
"Siapa disana?!"
Jane tidak memperdulikan mereka lagi, ia melempar jas milik Daniel lalu berjalan cepat masuk ke dalam gedung dan pergi meninggalkannya sendirian.
"Hei kau! Sejak kapan kau ada disitu! Kau sedang mengintip kami!!"
"Aku bisa jelaskan.."
Daniel tersenyum kecut.
***
Jane tidak mau mengambil resiko melewati pintu utama, lebih baik ia memutar menuju ke pintu samping gedung yang dekat dengan toilet. Bukankah ia tadi berpamitan pergi ke kamar kecil kepada yang lainnya?
__ADS_1
Tetapi pilihannya salah, siapa sangka Edric Harisson telah berdiri diujung lorong seolah menunggu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Jane Ainsley.
Jane melambatkan langkahnya, ia tidak tahu harus bersikap apa. Mulut Edric membentuk garis lurus, tak ada senyuman sedikit pun ketika melihat ke arah Jane.
Apakah Edric telah melihat dirinya sedang bersama dengan Daniel Wynford?
"Tuan Edric..." Suara Jane mengecil seperti tikus yang mencicit.
"Darimana saja? Aku mencarimu."
Edric memang mencari Jane. Selama acara ia tak melihat sosok kekasihnya sama sekali, padahal Edric ingin mengajaknya berdansa. Tapi Edric juga tak dapat langsung pergi keluar karena dia adalah bintang utama acara pesta ini. Edric berpura-pura menanyakan kelengkapan tim desain interior yang terlihat kekurangan satu orang yaitu Jane Ainsley.
Olivia memberitahukan bahwa Jane sedang berada di toilet. Maka saat jeda acara Edric menunggu Jane di ujung lorong, karena tak mungkin ia berdiri di depan toilet wanita.
"Aku mencari udara segar di taman.."
Edric menarik tangan Jane masuk ke dalam toilet khusus untuk disabilitas, karena kamar kecil itu sangat jarang digunakan.
Bilik kamar mandi terasa sangat sempit di tempati oleh dua orang dewasa terlebih tubuh Edric yang tinggi terlihat begitu mendominasi. Edric memperangkap Jane di bawah lengan kokohnya.
Tiba-tiba tangan Edric menjulur ke depan, Jane langsung menunduk dan memejamkan mata, ia pikir Edric akan menamparnya.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan ditaman hingga kau tak menyadari ada sehelai daun menempel di rambutmu."
Fiuh! Jane bernafas lega, sepertinya Edric memang tidak tahu bahwa ia bertemu dengan Daniel Wynford.
"Tidak ada. Hanya duduk saja di bangku taman."
"Selama itu? hingga tubuhmu menjadi dingin."
"Aku merasa bosan."
Edric menatap tajam ke arah Jane, lebih tepatnya melihat kearah lengan gaun miliknya. Terdapat seutas benang menempel disana, warnanya sangat kontras dengan pakaian yang dikenakan Jane. Milik siapa?
Apakah berasal dari gaun para temannya? Edric akan mencocokannya nanti.
"Setelah acara selesai, temui aku di swimming pool lantai paling atas."
Edric membuka pintu kamar mandi dan mempersilahkan Jane keluar terlebih dahulu. Ia mengamati Jane dari belakang dengan seksama.
__ADS_1
Sisa acara pun berlangsung dengan lancar hingga penutupan. Dibalik senyuman, Edric menyembunyikan kemarahannya. Tak ada warna yang sama antara benang yang menempel di gaun milik Jane dengan gaun para temannya. Bahkan Edric memeriksa warna jasnya sendiri untuk memastikan bahwa benang itu bukan berasal dari dirinya sendiri.
Jane telah menyembunyikan sesuatu di belakang Edric.